
...πππ...
"Hahahaha..."
[Mo...kenapa kamu malah ketawa?] Tanya Rey heran dari seberang sana.
"Kak, kakak gak boleh gitu ih...kakak gak boleh bilang kayak gini sama aku."
[Emangnya kenapa?]
"Kakak hanya boleh bilang kayak gini sama calon istri kakak nanti dan kakak hanya boleh selalu ada waktu buat istri kakak nanti. Nanti dia bisa cemburu, kak." tegur Zahwa pada kakak sepupunya itu.
[PFut.... hahahaha.]
Terdengar gelak tawa dari seberang sana, Zahwa keheranan karena Rey tiba-tiba tertawa dengan ucapannya. "Kakak, emangnya ada yang lucu ya?"
[Kamu benar Zahwa, aku hanya bilang seperti ini sama CALON istriku nanti]
"Apa?"
[Kamu dengar gak? Aku hanya bilang seperti ini sama calon istriku kelak.] ucap Rey serius.
"Hahahaha..." kali ini giliran Zahwa yang tertawa. "Kakak ini bercandanya berlebihan deh, ah udah deh...ini aku mau pergi dulu, aku mau cek pasien."
[Zahwa aku gak bercanda]
"Kak jangan gitu dong, nanti calon istri kakak marah kalau tau kakak bilang gini sama aku. Ini tidak lucu kak. Udah ya, aku kerja dulu.... assalamualaikum." Zahwa menyudahi pembicaraan dengan kakaknya di telepon karena dia memiliki banyak pekerjaan sebelum dipulangkan lebih awal.
[Waalaikumsalam]
*****
Di ruang Presdir.
Rey terdengar menghela nafas berat, setelah bicara dengan Zahwa. Gadis polos yang sudah memikatnya dari usianya 13 tahun. "Ya Allah, susah sekali bicara dengan Zahwa...padahal aku sudah kasih kode tapi dia tidak peka dan malah menertawakan ucapanku."
"Bagaimana kalau bapak nyatakan cinta saja padanya?" saran Niko, sekretaris Rey sambil menyerahkan beberapa dokumen ke atas meja kerja presdir.
"Apakah kamu tidak dengar barusan? Aku baru aja menyatakan cintaku padanya, tapi dia--"
"Pak... maksud saya bukan menyatakan cinta dengan cara seperti itu. Kalau orangnya tidak peka, maka cara yang harus kita lakukan pun harus sedikit ekstrim."
"Ekstrim? Apa maksudmu?"
"Ya, bapak harus menunjukkan cinta bapa dalam berupa kata dan sikap secara bersamaan. Bapak tau tidak kata mendorong maju lebih dulu?" Niko menatap presdirnya yang terlihat kebingungan itu. Selama ini Niko sama sekali tidak pernah melihat Rey kebingungan seperti ini karena seorang wanita.
Bosnya juga adalah tipe setia, tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan seorang wanita. Mungkin dekat pernah, tapi tidak sampai berhubungan ke tahap pacaran. Baru beberapa hari yang lalu bosnya itu mengatakan bahwa dia sudah menyukai seseorang untuk waktu yang lama dan dia berniat ingin segera melamarnya. Akan tetapi wanita itu sama sekali tidak peka dan juga keluarga mereka tak akan mudah memberikan restu. Tapi Rey tidak pernah menyebutkan kepada Niko siapa wanita yang dia maksud.
"Maju dan dorong lebih dulu bagaimana?" tanya Rey dengan kening yang berkerut.
Niko membisikan sesuatu ke telinga bosnya, entah apa yang dibisikan oleh pria itu hingga membuat Rey terperangan dengan mata melebar. "Ah! Gila ya kamu! Aku belum halal dengannya, mana berani aku melakukan itu."
Aku memang pernah melakukan kesalahan dengan mencium Zahwa saat dia tertidur, aku tau itu salah dan aku tidak mau melakukannya lagi. Lalu apakah aku harus melakukannya agar Zahwa peka? Tidakkah dia akan marah padaku kalau aku menyentuhnya.
__ADS_1
"Pak, tapi ini hanya satu-satunya cara agar dia peka! Wanita seperti ini, benar-benar sulit ditaklukkan pak,"
"Apa tunanganmu juga begitu?" Rey terlihat berat kalau memikirkan masalah Zahwa.
"Kalau tunangan saya sih, dia langsung peka karena kami kan memang saling mencintai sejak awal, pak. Jadi saat saya mengatakan cinta saya kepada tunangan saya, dia langsung menerima saya." tutur Niko yang menjelaskan tentang masalah percintaannya dengan kekasihnya, yang kini sudah resmi bertunangan. Ya, bisa dilihat dari cincin yang tersemat di jari manis Niko.
"Cinta? Ya, kamu sih emang saling cinta dengan tunangan kamu...tapi dia, sepertinya di hatinya ada pria lain."
"Pria lain? Wah pak, apa jangan-jangan bapak suka sama istri orang?" tuduh Niko dengan mata melebar disertai pandangan curiga.
Rey langsung melotot ke arah sekretarisnya itu. "Sembarangan aja kamu kalau ngomong! Dia masih single dan orang yang dia sukai juga baru menikah dengan orang lain."
"Hehe maaf pak, saya hanya asal tebak saja. Tapi jika itu benar, bukankah ini kesempatan untuk bapak berada di sisinya dan mengambil posisi pria itu. Saya yakin hatinya akan berpindah," Niko menasehati dan menyemangati Presdirnya.
"Insya Allah semoga aku bisa." gumam Rey sambil menatap wallpaper Zahwa di ponselnya. Selama ini tidak ada yang pernah melihat ponselnya, jadi tidak ada yang tau apa isi ponsel Rey. Semuanya penuh dengan foto Zahwa, dari mulai foto Zahwa waktu masih bayi, anak-anak, remaja, hingga saat ini.
*****
Di tempat lain, Zainab terlihat sedang melamun di tempat magangnya bersama dokter Diana. Diana melihat Zainab yang tidak seceria sebelumnya, padahal Zainab adalah pengantin baru.
"Zainab, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Diana seraya menepuk pundak gadis berkacamata hitam dan memiliki wajah yang cantik itu.
"Maaf dokter Diana, saya..." Zainab terlihat seperti akan menangis, dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat di pahanya.
Diana duduk disampingnya, menghadap ke arah gadis itu. "Zainab, kamu kenapa?"
Wanita itu tak bisa menahan air matanya lagi, ia melepas kacamatanya. "Hiks...dokter Diana maafkan saya,"
"Kenapa kamu minta maaf pada saya? Memangnya apa salah kamu?"
"Semuanya sudah terjadi, tidak apa-apa Zainab...saya yakin Zahwa memaafkanmu, dia juga akan move on. Tolong ya, jangan sedih... jalanilah pernikahanmu dengan bahagia."
"Tapi saya dan Raihan kami benar-benar tidak memiliki rasa cinta sedikit pun, Raihan masih mencintai Zahwa... saya juga masih menyukai mas Reyndra."
Diana terkejut manakala dia mendengar pengakuan dari Zainab, bahwa ternyata Zainab menyukai putra sulungnya dan itu serius. Diana pikir bahwa perasaan Zainab hanya suka biasa saja, ternyata perasaannya pada Rey cukup dalam.
"Maafkan saya Zainab, saya tidak bisa membantu apa-apa soal perasaan kamu.Tapi, kamu harus ingat... kamu adalah wanita yang sudah menikah, kamu adalah seorang istri dan Raihan adalah seorang suami, kalian yang sudah sama-sama berjanji di hadapan Allah bahwa kalian akan menjalin rumah tangga. Saya yakin kamu akan segera menemukan kebahagiaan kamu. Tentang Zahwa, kamu jangan pikirkan itu.... pikirkan saja rumah tanggamu sendiri, lakukan tugas sebagai istri." ucap Diana menasehati Zainab.
"Hiks...hiks..." Zainab menangis, Diana pun iba dan memeluknya, guna untuk menghibur.
"Sudah ya...jangan menangis lagi. Bismillah, saya yakin diantara kamu dan Raihan akan tumbuh cinta, meski sekarang belum."
Zainab menangis tersedu-sedu, ada penyesalan dalam dirinya. Mengapa ia tidak menolak atau kabur saja saat dia disuruh menikahi Raihan. Jika saja ini tak terjadi, mungkin saja tidak akan ada hati yang terluka karenanya.
#FLASHBACK
Beberapa jam sebelumnya, di dekat tempat parkir rumah sakit. Terlihat Zainab dan Raihan, melihat Zahwa buru-buru masuk ke dalam gedung rumah sakit. Mereka menatap Zahwa dengan mata berembun.
"Raihan, kita harus jelaskan padanya!"
"Sudahlah Zainab, biarkan saja dia sendiri dulu. Dia pasti sangat terluka saat ini," desah Raihan sedih.
"Raihan..."
__ADS_1
"Zainab, apa yang dikatakan Zahwa memang benar, bahwa kita sudah melakukan janji suci dihadapan orang tua kita, dihadapan Allah. Aku adalah suamimu, kita suami-istri...maka aku akan memperlakukanmu seperti istri, tapi--kamu tidak bisa mengatur hatiku. Aku tetap akan menikahi Zahwa, meski kita tidak bercerai."
"Aku paham Raihan, aku juga akan bersikap seperti istrimu. Soal Zahwa terserah kamu mau menikahi dia atau tidak, tapi sebaiknya kamu ceraikan aku dulu!" pinta Zainab pada suaminya.
"Perceraian dibenci oleh Allah, apalagi aku sudah berjanji pada alm abah. Kita akan selalu jadi suami-istri dan kita tidak boleh mempermainkan ikatan pernikahan."
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Aku akan melamar Zahwa sebagai istri kedua." jawab Raihan yang sudah bulat dengan keputusannya, tak peduli dia mau dihujat atau di perlakukan seperti apapun. Dia akan mendapatkan cintanya dan memenuhi janjinya pada Zahwa. Apalagi masih besar rasa cinta itu di hati Raihan untuknya.
"Aku tidak masalah, aku setuju saja kamu menikahi Zahwa...nah itu pun jika Zahwa setuju." ucap Zainab tanpa hati. Dia menyetujui suaminya menikah lagi dengan Zahwa.
#ENDFLASHBACK
Diana masih memeluk Zainab dan menenangkannya, memang sulit jika ia berada di posisi Zainab. Serba salah, apalagi menyakiti hati sahabatnya sendiri walau tak sengaja.
Zahwa maafkan aku...seharusnya aku tidak pernah setuju menikah dengan Raihan. Aku minta maaf. Aku menyesal...
πππ
Siang itu Rey sudah berada di rumah sakit, 10 menit sebelum janji temunya dengan Zahwa. Dia menangguhkan semua jadwalnya kepada Zayn dan Niko terlebih dahulu. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Zahwa lebih lama.
Inilah saat yang tepat baginya untuk berada disisi Zahwa, saat gadis itu membutuhkan seseorang untuk menghiburnya. Usai kabar yang membuat galau hatinya, pernikahan Raihan dan Zainab.
Setelah melaksanakan shalat Zuhur, usai berdoa, Rey keluar dari masjid yang ada di rumah sakit lalu dia melihat Zahwa yang kebetulan baru keluar dari masjid juga, hanya saja beda pintu.
"Kakak!" Zahwa tersenyum melihat kakaknya berada disana.
"Nemo." balasnya memanggil sapaan Zahwa.
"Kakak, kok udah ada disini aja?"
"Sekalian shalat Zuhur disini,"
"Presdir kok kayak nganggur ya?" gumam Zahwa heran, mengapa kakaknya akhir-akhir ini selalu saja ada waktu luang dengannya.
"Kan aku udah bilang, kalau buat kamu aku bisa jadi nganggur. Aku akan selalu ada waktu buat kamu," ucapnya tanpa filter.
"Kak, aku kan udah bilang jangan bilang gitu."
"Why?"
"Gebetan kakak nanti cemburu kalau kakak terlalu deket sama aku, kelak kakak tuh harus lebih sayang sama istri kakak!" tegur Zahwa pada sikap kakaknya yang selalu nempel dengannya.
"Dia gak akan cemburu, orang aku Deket sama orang yang aku sayang." Rey menatap Zahwa dengan tatapan tajam.
"Ah...kakak ini." Zahwa menghindari tatapan itu, dia memalingkan wajah lalu tak sengaja dia tersandung semen trotoar pembatas di tempat parkir. "Innalilahi!" pekik Zahwa terkejut begitu tubuhnya oleng ke depan.
Dengan cepat Rey melingkarkan kedua tangannya dan menangkap tubuh Zahwa agar tidak jatuh. Tatapan mereka tak sengaja bertemu pandang.
Ada desiran aneh didalam tubuh Zahwa saat melihat kakaknya yang saat ini berada dalam posisi memeluknya.
...****...
__ADS_1
**Hai Readers maaf author gak up kemarin βΊοΈ hari ini mau up 2 apa 3 deh, buat gantiin yang kemarin...jangan lupa komennya ya biar triple up nya jadi** π