
...🍀🍀🍀...
Teriakan Deva sontak membuat semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arahnya dengan rasa penasaran tinggi. Apa yang terjadi pada vokalis band terkenal itu? Saat menyanyi suaranya merdu, tapi saat berteriak suara Deva melengking dengan cempreng.
"Aaaaaaakkkkkkhhhhhh! Suster SAYA gak mau MATI!" teriak Deva dengan majas metafora yang amat berlebihan, menyiratkan ketakutannya.
"Aduh kak Deva, santai dong kak!" suara Selina terdengar berusaha menenangkan Deva.
Suara itu juga mengalihkan perhatian Zahwa yang tadinya sedang mengobati luka di tangan kakaknya. "Si toilet kenapa?" Zahwa hendak memalingkan wajahnya dan tangannya bergerak untuk membuka tirai itu, namun satu tangan Rey menyentuh dagunya dan memalingkan wajah Zahwa menghadap padanya.
Ngapain sih Zahwa merhatiin dia? Gak akan aku biarin.
"Nemo, kamu belum selesai mengobati tanganku...kamu harus fokus, kalau enggak aku laporin loh sama dokter tutor kamu!" Ancam Rey yang sebenarnya tidak mau Zahwa perhatian pada pria lain. Rey merasa bahwa Deva adalah ancamannya yang lain setelah Raihan usai.
"Ya udah laporin aja sana, lagian ini bukan kerjaanku! Aku calon dokter gigi bukan dokter bedah," Zahwa menaikkan alisnya, bibirnya mengerucut beberapa centimeter.
Senyuman mengembang di bibir Rey, dia gemas melihat raut wajah Zahwa. "Bisa aja kamu, dokter ya tetap dokter...kalau kamu lalai ngurus aku bisa tuntut kamu."
"Memangnya kakak berani?"
"Mana berani aku nuntut kamu, aku cuma ingin kamu cepat-cepat jawab aku." Gumam Rey dengan wajah memelas.
Sejujurnya aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri kak. Disatu disisi aku berdebar dekat denganmu tapi disisi lain aku merasa ini salah.
"Kak aku tidak bisa kak," jawab Zahwa seraya menggelengkan kepalanya memberikan penolakan terhadap perasaan Rey.
"Aku kan suruh kamu pikir-pikir dulu." Rey mengambil nafas berat, dia tidak terima dengan penolakan.
"Siapa yang barusan suruh aku cepat-cepat jawab?"
"Ehem...cepet ka-kamu obati tanganku, ini sakit."
"Iya, tinggal di perban kok." Zahwa lanjutkan kegiatannya untuk mengobati tangan Rey dengan perban.
Kalau gini caranya, gimana aku bisa buat kamu cepat jawab aku Zahwa...kamu aja langsung menolak aku tanpa berpikir. Apa yang bisa membuatmu sadar kalau aku sangat mencintaimu?
Selagi Zahwa membalut perban di jari Rey, pria itu memperhatikan wajah cantiknya tanpa berkedip.
Saat Zahwa akan menyelesaikan tugasnya, tirai disampingnya terbuka. Terlihat Deva sedang meronta-ronta sambil berteriak, terlihat juga seorang suster memegang jarum suntik.
"Tenang aja mas, ini gak sakit kok!" Suster itu tersenyum dan berusaha membujuk Deva untuk disuntik.
"Gak mau suster, sama gak mau disuntik! Saya gak kena rabies kok, saya sehat cuma luka luar doang...gak perlu disuntik sus!" tegasnya pada suster yang berusaha membujuknya itu.
Apa kata dunia kalau mereka tau Deva Andara takut di suntik? Untung gak ada wartawan disini, haha...Batin Selina menertawakan Deva yang menolak disuntik.
"Mas, mas harus disuntik supaya mas bisa--"
__ADS_1
"Pokoknya saya gak MAU! Saya mau pulang aja." Deva beringsut dari ranjang itu dengan wajah panik dan keringat dingin bercucuran padahal lukanya belum di obati semua.
"Haha...disuntik aja takut, cemen!" ledek Rey sembari menertawakan Deva dan bermaksud meremehkan pria itu di depan Zahwa.
Sontak Deva pun menoleh ke arah Rey, disana juga ada Zahwa dan dia sempat lupa bahwa Zahwa disana.
Ah sial! Malu sekali, gimana bisa tadi aku teriak-teriak begitu....dia pasti denger kan?
"Saya gak takut disuntik tuh," ucap Deva lalu duduk patuh di atas ranjangnya kembali. Dia tidak mau terlihat pengecut didepan Rey. Harga dirinya terluka ditertawakan oleh Rey begitu, padahal dia juga tidak tau Rey siapa.
Tapi dalam dua kali pertemuan saja, Deva sudah memiliki perasaan tidak enak pada Rey seolah dia ancaman.
"Oh ya? Tapi barusan aku denger kamu teriak?" Zahwa terkekeh geli juga melihat Deva yang mengamuk takut disuntik.
Glek!
Deva menelan ludah saat mendengar pertanyaan Zahwa. Benar saja wanita itu memang mendengar dia berteriak-teriak seperti anak kecil.
"Nggak kok! Gue gak takut,"
"Ya udah kalau gak takut, pasti kamu mau kan disuntik?" tantang Zahwa pada pria itu.
"I-iya gue mau, tapi gue mau disuntiknya sama Lo!" Deva melirik pada Zahwa seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.
Rey langsung melotot mendengar ucapan Deva, dia berdecih menahan marah. Ingin sekali rasanya dia memukul pria itu sekarang juga tapi dia harus terlihat baik didepan Zahwa. "Manja banget sih! Jangan modus sama Zahwa ya." ucap Rey kesal.
"Aku calon su--hmph--"
Lagi-lagi Zahwa kembali membungkam mulut Rey dengan satu tangannya, dia tahu Rey mau berbicara yang tidak-tidak. Mau mengaku calon suami tepatnya.
Kenapa kak Rey ini...kenapa dia jadi vulgar begini sejak dia mengatakan cintanya padaku.
Mata cantik wanita berhijab itu melotot pada Rey dan memintanya untuk diam. Rey terlihat kecewa, dia cemburu dan kesal juga.
"Dia kakakku," jawab Zahwa yang lagi-lagi menusuk hati Rey. Tapi itu memang benar karena status mereka masihlah kakak adik.
Dan disisi lain Selina merasa kasihan pada Rey yang belum dapat kepastian dari Zahwa padahal Rey sudah melakukan banyak usaha untuknya. Perhatian, keberanian, Rey sudah melakukan semua itu namun Zahwa belum menyadari perasaannya.
Kak Zahwa ini masih abu-abu deh, tapi aku yakin kok dia suka kak Rey. Terus kak Deva juga kayaknya suka sama kak Zahwa? Gimana bisa ya?
"Oh kakak...maaf ya kak, saya gak sopan sama kakak...hehe. Perkenalkan saya Deva, kak."
Sikap Deva langsung berubah ramah 360 derajat saat Zahwa mengatakan bahwa Rey adalah kakaknya. Rey tidak suka dan mengabaikan itu.
Setelah drama yang cukup panjang, Zahwa akhirnya mengambil alih pekerjaan suster yang akan menyuntik Deva.
"Pelan-pelan...sakit..." Deva takut melihat jarum suntik di tangan Zahwa yang bersiap diarahkan pada tangannya.
__ADS_1
"Aku bahkan belum mulai!" Sergah Zahwa sambil melihat raut wajah yang pucat pasi itu.
"PFut...haha..." Rey tertawa lagi melihat Deva yang ketakutan.
"Kak, jangan suka ngetawain orang. Bukannya kakak juga takut disuntik?" celetuk Selina pada kakaknya yang terdengar oleh Zahwa dan Deva.
"A-aku gak takut..." Rey gugup dia menyangkal, dia kesal melihat Deva yang diam-diam pasti menertawakannya dalam hati. Dilihat dari senyumannya itu.
Aduh Selina kok pakai buka kartu didepan si Deva sih, malu dong.
"Kakak juga harus disuntik kata dokter Irwan, takutnya ada infeksi." celetuk Zahwa pada Rey yang membuat pria itu menjadi tegang. Rey juga sebenarnya takut di suntik, walau dia orangnya tenang. Tapi bukankah setiap orang memiliki rasa takutnya sendiri?
Zahwa pun meminta Deva untuk rileks, "Ambil nafas dalam-dalam...gak akan sakit kok, kayak digigit semut aja. Jangan lihat jarumnya, rileks ok?"
Kelembutan Zahwa membuat Deva patuh, dia menganggukkan kepalanya lalu menatap Zahwa. "Kenapa dia malah lihatin aku? Ah sudahlah, aku kerjakan saja tugas ini...aku sudah lapar, perutku sudah demo."
Tak lama kemudian cairan di jarum suntik itu habis, kegiatan suntik menyuntik sudah selesai. Hanya terasa sedikit sakit untuk Deva, benar-benar seperti digigit semut. Suster dan dokter disana sangat berterimakasih banyak karena Zahwa telah membantu menenangkan pasien yang rewel itu. Tak lama kemudian Deva jatuh tertidur dan di dipindahkan ke ruang rawat dari UGD untuk memulihkan kondisinya.
Padahal dia dokter gigi, bukan tugasnya melakukan ini dan kalau diingat-ingat dua hari lagi Zahwa akan sidang skripsi.
"Nah sekarang giliran kak Rey yang disuntik," ucap Zahwa lalu melirik ke arah Rey.
"Ah--tiba-tiba aku ada kerjaan mendesak di kantor, ayo Niko!" ajak Rey pada sekretarisnya yang baru saja datang.
"Tangan kakak emang udah gak apa-apa? Bukankah ada patah tulang?" tanya Zahwa curiga karena tadi dokter Irwan mengatakan kalau tangan Rey patah tulang tapi menurut Zahwa tangan Rey baik-baik saja.
Ya, dokter itu memang telah disuruh berbohong oleh Rey dengan mengatakan tangannya patah tulang pada Zahwa.
"Hahaha...siapa yang patah tulang? Nggak kok, cuma luka biasa...gak apa-apa. Gak usah disuntik, aku gak apa-apa." Rey tertawa canggung karena dia sadar telah berbohong.
Selina menahan tawa melihat raut wajah kakaknya yang seperti ke gep selingkuh itu. "Makanya jangan banyak drama kak,"
"Jadi kakak bohong--"
Belum sempat Zahwa menyelesaikan ucapannya, Rey dan Niko sudah buru-buru pergi dari sana. Namun sebelum itu dia mendekat pada Zahwa dan berbisik padanya.
"Jangan dekat-dekat sama dia, kakak gak suka...kakak cemburu. Kakak pergi kerja dulu, Nemo....assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Zahwa pelan, kepalanya tertunduk. Dia merasakan ada desiran aneh di dalam hatinya.
Selina melihat raut wajah Zahwa lalu dia tersenyum. Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di dalam kepala Selina, sebuah ide yang ia yakini bisa menyatukan Rey Zahwa.
Ahah! Aku punya ide biar kak Zahwa cepat menyadari perasaannya.
...*****...
Aku mau up satu lagi, 😁 mana komennya nih...😁😁
__ADS_1