Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 50. Modus dua pria


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Selina buru-buru menghampiri Zahwa dan Deva, jangan lupa disana juga banyak wartawan dan penggemar Deva yang ingin ikut masuk melihat keadaan Deva dari dekat. Beberapa dari wartawan itu ada yang memotret Deva dan mereka berkerumun di ruang UGD.


"Beneran Deva Andara!" gumam Selina yang sedang berusaha menggapai Zahwa dan Deva, namun kesulitan karena banyak orang disana.


Beberapa saat kemudian, Selina berhasil sampai didekat Zahwa yang tangannya masih dipegang oleh Deva. "Lepasin saya! Kamu--"


"Suster, saya gak mau masuk ke ruang UGD kalau gak ada Aisyah!" ucap Deva dengan manja dan bibir memonyong.


Zahwa tersentak kaget dengan permintaan tidak tahu malu dari Deva padanya. Tidak kenal tapi sudah berani memegang tangan dan minta ditemani. "Hey! Kamu--" Zahwa akan marah namun seorang suster menginterupsinya.


"Zahwa, kamu temenin dia dulu...kamu lihat banyak wartawan didepan? Bisa jadi heboh nantinya kalau Deva terus disini."


"Ta-tapi..."


Siapa pria ini? Apa dia artis sampai diikuti wartawan?


"Udah ayo!" suster itu buru-buru menarik brankar dimana Deva terbaring disana. Zahwa juga ikut ke dalam ruang UGD karena Deva tidak mau melepaskan tangannya.


Sementara itu Selina tidak bisa mengikuti Zahwa karena banyak orang dan pintu ruang UGD itu tertutup, tidak sembarang orang bisa masuk kesana.


"Woah...kenapa kak Zahwa bisa kenal sama kak Deva? Padahal kak Zahwa bilang dia gak suka band band kayak gitu...huh. Eh...tapi-tapi, kayaknya kak Deva manggil kak Zahwa dengan nama Aisyah, apa kak Deva salah kenal ya?" gumam Selina berpikir. Tiba-tiba saja dia mengambil ponselnya dan segera menelpon seseorang.


Telpon itu tidak dijawab jawab dan membuat Selina kesal. "Ih! Ini si kakak kemana sih? Aku kan mau kasih info penting, awas aja kalau nanti kakak balik telepon aku dan aku malas angkat!" Gerutu Selina sambil mengetikan sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya.


Sementara itu di dalam ruang rapat, Reyndra terlihat fokus memperhatikan persentase salah satu karyawannya. "Jadi untuk penjualan bulan ini--"


Dreett...


Sedari tadi Rey mengabaikan ponselnya yang berbunyi, karena ia pikir Selina menelpon untuk uang jajan dan dia juga sedang sibuk di ruang rapat. Namun kali ini hanya pesan yang masuk, jadi dia lihat sebentar pesan itu tanpa membukanya.


...Kak, kak Zahwa mau diambil orang? Kakak mau itu terjadi?...


Seketika darah didalam tubuh Rey berdesir dan jantung berdegup kencang, ia pun panik melihat isi pesan dari adiknya. Semua orang sontak menoleh ke arah Rey yang tiba-tiba panik, bahkan pria yang sedang persentase didepan jadi diam.


"Ada apa ya? Apa ada masalah gawat di perusahaan kita sehingga pak Reyndra jadi seperti itu?" bisik seorang karyawan keheranan dengan wajah Rey saat ini.


"Iya benar, apa ada yang gawat ya? Tidak biasanya pak Rey seperti ini." ucap seorang karyawan lain membenarkan.


Ya, ada yang gawat tapi bukan masalah perusahaan tapi masalah hati Rey. Masalah wanita yang ia cintai, ini benar-benar darurat untuknya. Tidak akan dia biarkan penantiannya selama 14 tahun terakhir berakhir sia-sia.


Rey mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia menyuruh semua orang untuk bubar dari sana padahal rapat belum selesai. Orang-orang disana berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang gawat sampai Rey menghentikan rapat karyawan, biasanya Rey selalu profesional. Zahwa telah menganggu profesionalitas nya.


"Pak, ada apa? Kenapa bapak--" Niko akan berkomentar namun gerakan tangan Rey menginterupsinya, meminta Niko untuk diam.


Rey menelpon Selina, satu dua kali tidak diangkat. Selina disebrang sana tersenyum senyum melihat panggilan di ponselnya yang tidak diangkatnya itu. "Hehe...rasain." Selian cengengesan.


Diseberang sana Rey resah karena telponnya tidak diangkat. Lalu Rey mengirim pesan pada Selina dengan kesal dan ketika pedas.


...Kalau kamu gak angkat, kakak gak akan kasih kamu uang jajan lagi! Dan kakak akan kasih tau mama papa kalau kamu udah bolos sekolah 3 hari....


Kali ini giliran Selina yang terbakar oleh Rey, gadis itu panik dan langsung menelepon kakaknya. "Assalamualaikum kakak!"


"Waalaikumsalam."


"Kakak jangan bilang-bilang sama mama sama papa!"


"Tergantung sikap kamu," ucap Rey ketus.


Selina akhirnya mengalah. "Oke..oke fine, aku mau kasih tau kakak Zahwa lagi sama cowok, tadi tangannya ditarik-tarik sama cowok terus masuk ke ruang UGD."


"APA? Siapa cowok itu? Raihan?"


"Bukan kak, dia tuh penyanyi--"


"Stop! Kakak gak mau denger soal siapa pria itu, tapi yang penting sekarang kamu harus bantu kakak!"


"Mau aku bantu? Tapi gak gratis dong kak." Selina terkekeh.


"Oke, kakak bakal kasih apa yang kamu mau...sekarang dengerin kakak!"


Entah apa yang direncanakan oleh adik dan kakak itu. Mereka berbincang-bincang di telpon lalu tak lama kemudian Rey menutup telponnya.


Tiba-tiba saja Rey menjepit tangannya sendiri dengan hekter hingga tangannya berdarah dan memukul tangan kanannya sendiri dengan tangan yang lain. Niko melihat Apa yang dilakukan oleh Rey.

__ADS_1


"Aduh..."


"Pak! Apa yang bapak lakukan?"


"Cepat Niko, antar saya, saya harus ke rumah sakit.... sepertinya tangan saya patah!" Seru Rey dengan wajah panik yang dibuat-buat.


Niko terdiam sejenak, dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya yang sedang bermain drama. Pasti drama ini tunjukkan untuk wanita yang dia cintai, siapa lagi kalau bukan Zahwa.


"Baik pak, ayo kita pergi..."


"Niko, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan saat kita tiba disana nanti?"


"Iya pak, saya akan panggil Bu Zahwa." Niko sudah sepaham dengan rencana Rey. Dia tahu Rey begitu mencintai Zahwa, tapi ia tidak menduga bahwa demi wanita itu Rey rela terluka berkali-kali. Kadang dia berpikir bosnya ini sudah kelewat bucin pada Zahwa yang statusnya adalah sepupunya sendiri.


*****


Di dalam ruang UGD, dokter dan suster masih mencoba mengobati luka-luka di wajah dan tangan Deva. Zahwa juga masih berada disana karena Deva tidak mau diobati kalau tidak ada Zahwa. Gadis itu jadi sebal karenanya.


Apalagi saat beberapa suster di dalam ruangan itu menatapnya dengan sinis, sementara menatap Deva dengan terpesona. Beberapa pasien di ruang UGD juga melihat Deva dengan kagum.


Gak pasien, gak dokter gak suster, semuanya lihatin cowok toilet ini. Memangnya dia siapa? Artiskah? Kok aku gak tau?. Zahwa menggerutu dalam hatinya.


"Aduh...duh...sakit dokter!" rintih Deva kesakitan untuk ke sekian kalinya. Tangannya masih menggenggam tangan Zahwa dan gadis itu cuek saja melihat Deva merintih kesakitan.


"Sabar ya," dokter pria itu mengolesi obat merah di dekat pelipis Deva. Dilihat dari lukanya, Deva seperti habis berkelahi.


"Saya gak mau diobati sama dokter...saya mau diobati Aisyah." Deva menoleh ke arah Zahwa yang berdiri tepat disamping ranjangnya, tapi gadis itu melihat ke arah lain.


Aku ini artis, masa iya dicuekin kayak gini.


Deva keki sebab semua orang memperhatikannya dan ingin dekat dengannya tapi tidak dengan Zahwa.


"Maaf mas, namanya Zahwa bukan Aisyah." dokter pria itu tersenyum seraya menjawab pertanyaan Deva.


"Zahwa? Bagus juga nama Lo Aisyah." celetuk Deva sambil terkekeh.


"Apaan sih?" Zahwa ketus padanya.


"Dokter saya mau diobati sama dia aja dok," ucap Deva pada dokter itu.


"Maaf dokter Irwan, tapi saya ada urusan sama--"


"Tolong ya Zahwa, cuma obati wajah sama tangan doang dikit lagi nih. Saya bukannya mau membebankan tanggung jawab kepada kamu, tapi kalau mas Deva berada disini lebih lama bisa bahaya!" dokter itu setengah berbisik kepada Zahwa.


Zahwa tidak punya pilihan lain, dia mendengus kesal dan menuruti perintah dokter senior itu, ia sadar diri dengan posisinya sebagai dokter magang. Ya, lagipula hanya mengobati wajah dan tangan saja.


Kini Zahwa sudah duduk di dekat Deva, dia mengambil alih tugas dokter senior itu untuk mengobati Deva. Perlahan-lahan Zahwa mengoleskan sedikit obat merah dengan Cutton Bud pada sudut-sudut bibir Deva yang terluka.


"Kamu ngapain sih?"


"Akhirnya Lo mau ngomong sama gue juga." Deva tersenyum, ia menatap Zahwa yang fokus mengobati wajahnya.


"Aku tanya kamu ngapain sih? Narik narik tangan aku, suruh aku ngobatin kamu, apa maksud kamu?"


"Kenapa ya Lo ngomong gini kesannya kayak gue suka dekat sama Lo? Bukannya Lo yang suka deket-deket sama gue?"


"APA?" Zahwa terdiam sejenak dari aktivitas yang mengobati wajah Deva. Dia menatap Deva dengan kesal, kesal dengan kepercayaan dirinya.


"Ngaku aja deh, Lo berdebar kan saat deket gue kayak gini? Gak semua orang loh bisa dekat sama gue, Lo cewek beruntung." goda Deva seraya tersenyum nakal pada Zahwa, senyum yang menunjukkan ketertarikan kepada gadis itu.


"Hah! Sepertinya kepalamu juga terbentur, perlu pemeriksaan CT scan juga kayaknya...daleman kepala kamu!" ketus Zahwa pada Deva.


"Hahaha...jangan jaim gitu deh, gue tau ini salah satu trik Lo buat narik perhatian gue. Dan Lo berhasil,"


"Apa? Berhasil apaan?"


"Lo berhasil narik perhatian gue," jawab Deva jujur dari dalam lubuk hatinya. Tapi Zahwa sama sekali tidak tergerak dengan apa yang diucapkan oleh Deva.


"Apaan sih?" gadis itu malah gusar mendengarnya. Deva mengerutkan kening melihat reaksi Zahwa yang cuek itu. Padahal selama ini fansnya terutama kaum wanita pasti akan berebut ingin dekat dengannya, apalagi mendapatkan perhatian, sayangnya Zahwa sama sekali tidak termasuk di dalamnya. Dia bahkan tidak tertarik dengan band band seperti itu, dia lebih suka drakor.


"Yang ini sakit, pelan-pelan dong." keluh Deva sambil memegang tangan Zahwa dan mengarahkannya pada sudut bibir Deva. "Yang ini obatin!"


"Kamu jangan modus ya!" Zahwa mulai kesal dengan sikap Deva yang dirasa kurang ajar itu dan entah kenapa dia tiba-tiba saja dia teringat dengan Rey.


Brak!

__ADS_1


Seketika pintu ruang UGD semakin terbuka lebar manakala seorang gadis berseragam SMA membukanya dengan keras.


"Kakak! Kak Zahwa! Tolongin kak Rey!"


Suara cemprengnya sudah begitu khas ditelinga Zahwa, dia adalah Selina. Selina datang bersama dengan Rey dan Niko, pria itu dipapah oleh Niko.


Atensi Rey tercuri manakala dia melihat tangan pria lain menyentuh tangan Zahwa. Matanya kini dipenuhi oleh kabut yang bernama amarah dan rasa cemburu yang menggebu.


Cowok itu! Bukankah dia cowok yang bersama Zahwa tempo hari?


"Sel! Kak Rey kenapa?" tanya Zahwa cemas melihat tangan Rey yang memar dan berdarah-darah. Zahwa segera menepuk-nepuk ranjang kosong tepat disebelah ranjang Deva, mengarahkan Rey untuk berbaring disana.


"Astagfirullah...ini sakit sekali." Rey meringis kesakitan sambil memegang tangan kanannya.


"Kak Rey...dia...dia..." Selina malah gelagapan saat ditanya apa yang terjadi pada Rey.


Aku harus jawab apa nih? Pakai alasan apa ya?


Niko akhirnya yang bicara. "Pak presdir tadi jatuh dari tangga terus ketiban benda berat, jadi tangannya kayak gini!"


"Innalilahi, kalau gitu aku panggil perawat atau dokter lain ya."


Saat Zahwa akan beranjak dari tempat duduknya, Deva memegang tangan Zahwa dan menahan gadis itu. "Lo belum selesai obatin gue,"


Rey melotot melihat pemandangan itu, lalu Selina pun membantu meredam amarah kakaknya dan dia bergerak menjauhkan tangan Deva dari Zahwa dan genggamannya terlepas.


"Biar aku yang obatin kak Deva ya! Aku dengan senang hati ngobatin kakak," Selina tersenyum dan langsung mengambil kotak obat dari tangan Zahwa.


"Maaf...gue maunya diobatin Aisyah." tolak Deva.


"Ayolah kak! Sama aku saja sini," bujuk Selina yang kini sudah duduk disamping Deva. Selina dengan sengaja mendorong tubuh Zahwa mendekat pada Rey.


"Aku panggilkan dokter ya kak," ucap Zahwa yang hendak melangkah pergi dari sana.


"Ahh...aduh...duh..." Rey meringis kesakitan lagi dan kembali membuat Zahwa menoleh padanya.


"Kak! Kakak kenapa?" Terlihat Zahwa begitu mencemaskan Rey, ia mendekat pada Rey.


"Bu Zahwa, lebih baik cepat diobati sekarang! Kasihan pak presdir kesakitan." Niko pun membantu Rey bicara. Niko pandai juga dalam bersandiwara.


Bagus Niko, bonus kamu tambah bulan ini. Batin Rey senang melihat sekretarisnya yang cekatan ini.


"Ta-tapi..."


"Biar saya yang panggil perawat, Bu Zahwa disini saja temani pak presdir!" Seru Niko lalu berlari pergi meninggalkan ruangan itu dengan alasan mencari dokter.


Akhirnya Zahwa menemani Rey disana dan dia berinsiatif mengobati luka luar di jari jempol Rey dengan obat merah. Dalam hati Rey berteriak bahagia karena Zahwa sangat mencemaskannya.


"Kenapa bisa kayak gini kak? Kenapa kakak gak hati-hati? Lihat tuh kulit jempol kakak bolong kayak kena paku atau apalah..." gumam Zahwa dengan mata yang masih fokus memasang perban di jari jempol kanan Rey.


Sementara disisi lain Selina bertugas sebagai penghalang antara Deva dan Zahwa, dia menutup tirai di ruangan itu agar Deva tidak melihat Zahwa. Deva juga diobati oleh perawat disana.


"Aku lagi gak fokus, jadi kayak gini deh." Pria itu terus saja tersenyum dari tadi.


"Gak fokus kenapa? Masalah kerjaan ya?"


"Bukan."


"Terus kakak gak fokus gara-gara apa?"


"Gara-gara menunggu jawaban kamu, aku jadi gak fokus."


Ucapan Rey sontak membuat fokus Zahwa buyar, ditatapnya pria itu dengan berat. "Kak...tolong jangan buat ini sulit."


"Kamu tinggal bilang IYA saja, maka semuanya akan berjalan mulus. Nemo...kamu cinta kan sama aku?" Tanya Rey sambil memegang tangan Zahwa dengan tangan kirinya.


"Kak, gak ada perasaan seperti itu diantara adik dan kakak." Zahwa menepis pertanyaan dari Rey termasuk perasaannya sendiri.


"Ada! Aku lihat ada cinta dimata kamu untuk aku, bukan cinta seorang adik pada kakaknya...dan kita juga sudah ciu--"


Zahwa membungkam mulut Rey dengan tangannya. "Stop kak! Mari kita lupakan saja semuanya, aku akan anggap kalau kakak tidak pernah--"


"ACK!! Gak mau suster, JANGAN!"


Suara teriakan Deva membuat Zahwa menghentikan ucapannya. Zahwa dan Rey menoleh ke arah tirai yang tertutup itu. Ada apa dengan Deva?

__ADS_1


...*****...


__ADS_2