
...πΉπΉπΉ...
Pagi itu, seperti biasanya Zainab menyiapkan makanan untuk suaminya, menyediakan baju yang sudah disetrika, dia selalu melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Akan tetapi, semua yang dilakukan oleh Zainab tidak bisa membuat Raihan jatuh cinta padanya. Bayang-bayang sang mantan membuat Raihan tak bisa atau belum bisa menyerahkan hatinya pada Zainab.
Tapi tidak pernah sekalipun Raihan mengabaikan tugasnya sebagai seorang suami, dia selalu memberikan nafkah lahir dan batin untuk istrinya. Namun tadi malam Raihan benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya, sampai kata talak hampir saja terucap dari bibirnya. Dalam hati Raihan terus mengucap istighfar, bisa-bisanya kata-kata itu muncul dalam hatinya.
Saat melihat Zainab dan pernikahan mereka, Raihan selalu teringat Alm abahnya dan juga ustad Burhan yang sudah menitipkan putri bungsunya pada Raihan. Zainab adalah amanat, seharusnya dia tidak boleh menyakiti amanah itu dan menjaganya. Raihan pikir setelah menikah dengan Zainab, ia akan melupakan Zahwa tapi nyatanya dia hanyalah manusia biasa yang serakah akan cinta. Dia juga ingin memiliki Zahwa.
Perang dingin pun kembali diantara mereka karena kejadian semalam. Ketika semua orang berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, suasana juga tampak dingin.
"Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Anisa seraya melirik pada Zainab dan Raihan yang terlihat tidak bicara di pagi itu.
"Gara-gara Zahwa lagi?" kata Salimah yang membuat suasana semakin panas saja. Raihan tidak bergeming, tapi Zainab yang menjawab karena dia sangat terganggu dengan pertanyaan dari ibu dan adik dari suaminya itu.
"Kami tidak bertengkar, apalagi karena Zahwa." jawab Zainab sambil menyeruput air minum didalam gelas.
Tidak ada pertanyaan lagi dari Anisa maupun Salimah kepada Zainab, mereka memilih bungkam sebab urusan rumah tangga Raihan tidak boleh dicampuri oleh pihak lain.
Setelah sarapan bersama, Zainab mengantar suaminya sampai ke depan rumah. Bersamaan dengan Salimah yang akan berangkat kerja ke kantor. Salimah merasa hubungan kakaknya ini sangat buruk, bahkan tidak ada interaksi di antara keduanya.
"Kakak ipar, harusnya kakak lebih baik lagi...aku kasih saran ya kak, kakak harus sedikit licik dan bermain cantik untuk mendapatkan apa yang kakak mau." bisik Salimah pada Zainab sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Zainab terdiam, dia menghela nafas berat dan sedikit berpikir. Apakah dia bisa mendapatkan hati suaminya? Apakah sikapnya pada Zahwa memang salah?
*****
Pagi itu juga di rumah besar keluarga Calabria. Di dapur tampak heboh dengan kedatangan Cleo yang membuat sarapan untuk semua orang, padahal tadinya Zahwa yang akan melakukan itu karena setiap menginap, dia selalu memasak untuk semua orang.
"Maaf ya Zahwa, kali ini aku yang masak...hehe."
"Gak apa-apa kak," jawab Zahwa sambil tersenyum kecut. Dalam hati ia merasa dongkol, timbul rasa ingin bertanya pada Cleo tentang hubungannya dan Reyndra.
Kenapa aku jadi penasaran sama hubungan kak Cleo dan kak Rey? Aku ini kenapa sih? Bukannya bagus ya kalau kak Rey punya pasangan, lagian aku gak cinta sama kak Rey. Aku gak cinta!
"Zahwa, kamu kenapa melamun?"
"Gak apa-apa kok kak."
"Kata Rey kamu itu orangnya ceria dan suka bawel, tapi kok aku lihat kamu kayak pendiam ya sekarang?" tanya Cleo sambil membawa sarapan nasi goreng ke atas piring. Zahwa membantunya menyiapkan minum.
"Apa kak Rey bilang gitu?"
"Ya, dia selalu cerita tentang adik kesayangannya, yaitu kamu." Cleo mengulas senyum simpul.
Cleo terus berbicara tentang hubungannya dan Rey, meski Zahwa tidak menanyakannya. Entah kenapa seperti ada yang terbakar di dalam hatinya.
Apalagi saat melihat Rey jalan bersama dengan Cleo, rasanya Zahwa tidak senang dengan kebersamaan mereka. Dia menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bicara seperti sebelumnya.
Zahwa pikir Rey mengatakan cinta dan sampai menciumnya hanya untuk mempermainkan hatinya saja.
__ADS_1
πππ
Suatu hari setelah sidang kelulusan, semua keluarga Calabria hadir untuk merayakannya di sebuah restoran mewah sambil makan siang bersama. Namun Rey tidak terlihat hadir disana. Padahal semua orang memberikan ucapan selamat padanya.
"Kak Rey...mana?" tanya Zahwa yang tidak melihat kakaknya berada di sana.
"Zahwa, maafkan Rey ya...hari ini Rey sama Cleo lagi ketemu sama orang tuanya Cleo." jelas Diana yang membuat hati Zahwa lagi-lagi seperti di hantam benda berat.
"Oh...iya Tante gak apa-apa." Zahwa mengepalkan tangannya dengan erat.
Apa hubungan kakak sudah sejauh ini sama kak Cleo? Jadi Kakak cuma mainin aku...tapi kenapa aku begini? Kenapa aku marah...kenapa aku Cem-bu-ru?
"Iya, katanya mau ngobrolin masalah soal pernikahan." kata Selina memanasi. "Oh ya kak Rey katanya mau ke rumah sama kak Cleo setelah kak Rey bicara dengan orang tua kak Cleo."
"Alhamdulillah ya kalau gitu," ucap Amayra sambil tersenyum senang karena Rey sudah menemukannya jodohnya.
Gak bisa gini, aku harus temuin kak Rey! Aku harus bicara sama dia sekarang.
Selina tersenyum melihat raut wajah kesal dan bingung kakak sepupunya saat ini. Dia yakin tujuannya semakin cepat.
"Aku pergi dulu ya, kalian makan saja dengan tenang...maaf...semuanya... assalamualaikum."
Zahwa tiba-tiba saja pergi meninggalkan keluarga besarnya yang masih duduk dan makan disana. Dia bahkan lupa membawa tas gendongnya dan pergi begitu saja.
"Zahwa! Kamu mau kemana?" Tanya Bram heran melihat Zahwa terlihat buru-buru. Namun Zahwa sudah menghilang dari sana.
Selina tersenyum lalu mengambil ponselnya, dia mengirimkan pesan.
Send~~kepada Kakak kantong uang
Gadis itu terkekeh setelah mengirim pesan pada kakak yang disebutnya sebagai kantong uang.
****
Rey berada didepan rumahnya, sebenarnya dia tidak pergi bersama Cleo ke rumahnya dan hanya melakukan perintah adiknya untuk berdiam diri di rumah saja. Saat menerima pesan dari Selina, dia terdiam dan mengerutkan keningnya.
Baru saja dia mengantarkan Cleo pulang naik taksi. Tak lama setelah dia masuk ke dalam rumah dalam keadaan bingung, terdengar suara di belakangnya.
"Assalamualaikum kakak!"
"Waalaikumsalam, Zahwa...kenapa kamu--"
"Kakak jahat banget...hiks..."
"Kamu kenapa nangis?" Rey mengerutkan keningnya melihat Zahwa menangis didepannya.
"Kakak benaran mau nikah sama kak Cleo?"
"Kalau aku nikah sama dia, emangnya kenapa. Kamu juga nolak aku kan? Kamu gak cinta sama aku, jadi lebih baik aku nikah sama orang lain aja." kata Rey dengan wajah cuek, berpura-pura tidak peduli pada Zahwa.
__ADS_1
Gadis itu semakin terisak, Rey semakin tak tega melihatnya. Tapi seperti kata Selina dia harus membuat Zahwa yang mengatakannya. Dan Rey berharap kalau dugaan Selina tidak salah.
"Kenapa kakak mau menikah dengannya? Katanya...kakak cinta sama aku, lalu pengakuan kakak waktu itu apa?"
Entah kenapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya, saat ini hatinya yang bicara. Dan hatinya ingin mengungkapkan sesuatu. Pertanyaan Zahwa sontak saja membuat Rey berdebar, apakah ini waktunya?
"Kamu yang bilang sendiri kalau kita gak mungkin, jadi lebih baik kita saling melupakan saja kan?"
SELINA, awas saja kalau sampai Zahwa tidak seperti apa yang kamu pikirkan...kakak gak akan kasih kamu uang jajan tambahan. Rey sudah mewanti-wanti dalam dirinya, kalau Selina salah maka dia tak mau memberi uang jajan tambahan lagi padanya.
"Jadi...kakak mau melupakan aku?" katanya yang masih terisak.
"Kamu kan yang mau aku lupain kamu." kata Rey tegas, walau dalam hati meringis tak tega dengan bulir air mata yang tumpah itu.
"Kalau... aku mau kakak gak mau lupain aku, apa masih bisa kak?"
"Maksudnya?" Rey terperangah dengan pertanyaan Zahwa, jantungnya berdebar kencang saat ini.
"Aku....aku tidak tahu apa yang aku rasakan sama kakak tapi aku gak mau kakak menikah dengan orang lain. Aku cemburu." ucapnya jujur.
"Katakan yang jelas Zahwa, kamu cemburu kan? Jadi apa yang kamu rasakan sama kakak?" Perlahan Rey mendekat pada wanita itu yang tengah berdiri di ruang tengah yang sepi karena tidak ada siapapun disana selain mereka berdua. Semua orang sedang pergi keluar.
"Aku...a-aku..." gadis itu menundukkan kepalanya.
"Zahwa!" seru Rey yang tak sabar mendengar ucapan Zahwa selanjutnya. Tangannya menyentuh dagu Zahwa dengan posesif, seraya menatapnya dengan retoris. "Nemo!"
"Aku sayang kakak, aku sepertinya mencintai kakak!" Kata gadis itu dengan sekali tarikan nafas.
Deg!
Sungguh Rey tidak menyangka, hatinya seperti akan meledak saat ini juga. Seperti ada bunga bermekaran disana, hingga senyuman indah mengembang dibibirnya. Membuat kedua lesung pipinya tercetak disana.
"A-apa ini sungguhan? Kamu--ini artinya kamu terima kakak?"
"Iya kak, aku sadar kalau aku mencintai Kakak lebih dari seorang adik sayang pada kakaknya. Jadi kakak gak boleh nikah sama kak Cleo, kakak udah ambil first kiss ku...jadi kakak harus tanggung jawab." ucap Zahwa sambil menatap Rey dengan tatapan cinta, sungguh tatapan yang berbeda dari biasanya.
Akhirnya...
Penantian Rey berakhir juga dengan jawaban memuaskan dari Zahwa.
"Aku gak akan nikah sama orang lain, aku kan udah bilang kalau aku... cuma mau nikah sama kamu. Kakak cinta kamu, Zahwa...kakak cinta." Rey mendekap tubuh gadis itu dengan lembut dan erat. Dia benar-benar bersyukur kepada Allah SWT, bahwa doa-doanya di sepertiga malam telah terjawab dan terkabul. Hati Zahwa telah terbuka padanya dan kini tinggal restu orang tua.
Terhanyut dalam suasana, Zahwa dan Rey yang seharusnya tidak boleh berpelukan sebelum muhrimnya. Mereka berpelukan mesra, sampai mereka tidak sadar dengan seseorang yang kini berdiri di ambang pintu.
"Ka...kalian...apa yang kalian LAKUKAN?!"
Mendengar suara lantang itu, sontak saja Zahwa dan Rey mengurai pelukan mereka, kemudian melihat siapa yang datang.
...*****...
__ADS_1
Mau up lagi, komennya mana ππβΊοΈ jangan lupa ini hari Senin, minta gift, vote nya ya...nanti aku up 3 π