Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 24. Sindiran Raihan


__ADS_3

...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Kenapa kak Rey menatapku begitu? Apa ada yang salah denganku?


Memang dasar wanita itu tidak peka dengan apa yang diisyaratkan oleh Rey saat ini. Gadis yang dia maksud adalah dirinya. Rey sudah menduga itu, apalagi ketika Zahwa tiba-tiba mengajukan pertanyaan lagi padanya. Siapa nama gadis yang telah memikat hati kakak sepupunya itu?


Rey kesal, jelaslah dia tidak menjawab. Oke fine, dia paham Zahwa seperti ini karena Zahwa belum paham dengan perasaannya. Tentu saja karena selama ini mereka sudah hidup sebagai saudara, lalu tiba-tiba berubah menjadi cinta, bukankah akan ada banyak perubahan nantinya?


Setelah mengantar Zahwa ke rumahnya, Rey dan Diana bergegas pulang ke rumah mereka. Rumah besar keluarga Calabria.


Di sepanjang perjalanan Diana terus mendesak anaknya untuk mengatakan siapa gadis pujaan hatinya dan membawanya ke rumah. "Siapa sih wanita itu Rey? Mama penasaran banget!"


"Nanti mama juga tau," jawab Rey.


"Apa mama kenal?"tanyanya lagi.


"Iya, mama kenal banget." jawab Rey sambil tersenyum, dengan tangan yang masih sibuk menyetir.


"Siapa sih? Ah kamu ini bikin Mama penasaran aja... pokoknya kalau kamu suka sama seseorang, kamu harus langsung nikahi dia jangan pakai pacar-pacaran dulu."


"Iya ma, lagian dalam Islam itu gak ada yang namanya pacaran. Adanya ta'aruf, khitbah, nikah."


"Hem...mama gak percaya deh. Bukannya di Singapore, kamu pernah pacaran dengan beberapa perempuan di sana?" tuduh Diana pada Rey.


"Bukan pacaran Ma, cuma deket aja."


Sebenarnya Rey dekat dengan wanita wanita itu, agar dia melupakan perasaannya pada Zahwa tapi semuanya tak aga gunanya. Tetap saja dimana pun dia berada selalu kepikiran Zahwa.


*****


Mari kita perhatikan, bahaya poligami yang gagal. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu โ€˜Anhu, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:


ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ุฅูู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽุงู†ู ููŽู…ูŽุงู„ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฅูุญู’ุฏูŽุงู‡ูู…ูŽุงุŒ ุฌูŽุงุกูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽ ุดูู‚ู‘ูู‡ู ู…ูŽุงุฆูู„ู.


โ€œBarangsiapa yang mempunyai dua istri lalu ia condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan punggungnya miring.โ€ (HR. At Tirmidzi dan Abu Daud)


ุงู„ู’ุฌูŽุฒูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุฌูู†ู’ุณู ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู


โ€œGanjaran (balasan) itu sesuai dengan jenis amal perbuatan.โ€


Anda di dunia tidak adil kepada istri Anda yang telah anda poligami, maka pada saat itu di akhirat, Andapun tidak akan pernah rata (punggungnya). Harus dipahami baik-baik oleh semua laki-laki yang berpoligami. Bahwa, kewajiban paling utama bagi suami yang berpoligami adalah bersikap adil. Sikap adil ini hukumnya wajib. Dan kewajiban itu berdasarkan ijmaโ€™ (kesepakatan para ulama).


Disebutkan oleh para ulama rahimahumullaahu taโ€™ala, diantaranya Imam As Syafiโ€™i, ulama Islam abad ke-3 Hijriyah, beliau mengatakan;


ูˆุฏู„ุช ุณู†ุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุŒ ูˆู…ุง ุนู„ูŠู‡ ุนูˆุงู… ุนู„ู…ุงุก ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุฃู† ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌู„ ุฃู† ูŠู‚ุณู… ู„ู†ุณุงุฆู‡ ุจุนุฏุฏ ุงู„ุฃูŠุงู… ูˆุงู„ู„ูŠุงู„ูŠ


โ€œTelah ditunjukkan untuk sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan apa yang merupakan pendapat keumuman ulama kaum muslimin bahwa kewajiban seorang lelaki untuk membagi bagi para istrinya berdasarkan jumlah hari dan malam (siang dan malamnya harus sama)โ€


Wahai Anda yang berpoligami, siang dan malamnya harus sama!


Kemudian beliau mengatakan;


ูˆู„ู… ุฃุนู„ู… ู…ุฎุงู„ูุง ููŠ ุฃู† ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฑุก ุฃู† ูŠู‚ุณู… ู„ู†ุณุงุฆู‡ ููŠุนุฏู„ ุจูŠู†ู‡ู†


โ€œAku tidak mengetahui ada yang menyelisihi hal ini; bahwa seorang lelaki yang berpoligami wajib untuk membagi bagi para wanitanya (istri-istrinya), kemudian dia berbuat adil di antara mereka.โ€


Lihatlah penjelasan Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla:

__ADS_1


ูˆุงู„ุนุฏู„ ุจูŠู† ุงู„ุฒูŽู‘ูˆุฌุงุช ููŽุฑุถุŒ ูˆุฃูƒุซุฑ ุฐู„ูƒ ููŠ ู‚ุณู…ุฉ ุงู„ู„ูŠุงู„ูŠ


โ€œAdil di antara para istri itu wajib. Dan hal itu terjadi kebanyakan pada pembagian giliran malam dimana Anda bermalam.โ€


Hei, dimana Anda bermalam? Jangan kau hanya bermalam di istri pertama. Ketika Anda telah memiliki istri yang kedua, ketiga, atau bahkan keempat, itu semua adalah istri Anda. Tidak ada istri muda maupun istri tua. Tidak ada. Istri pertama tidak lebih berhak dibandingkan istri kedua, begitu selanjutnya. Semuanya harus sama.


Wahai Anda yang berpoligami. Jika tidak ingin, Anda akan miring nanti pada hari kiamat.




Raihan baru saja selesai mengisi halaqah para santri di mesjid usai shalat isya. Halaqah itu sendiri berasal dari Bahasa Arab halaqo, yahluqo, dan halqotan yang berarti lingkaran. Secara maksud arti dari halaqah ialah perkumpulan antara dua orang atau lebih yang membahas urusan agama. Secara istilah halaqah berarti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar.



Ketika Raihan keluar dari mesjid, ustad Iqbal dan ustad Arifin berada dibelakangnya, lalu ustad Iqbal menepuk pundaknya pelan.



"Raihan!"



"Ya, Abi?"



"Kenapa kamu ceramah tentang poligami begitu?" tanya ustad Arifin dengan tatapan tajam pada cucunya. Cucu laki-laki satu-satunya. Sekilas dia terlihat marah pada Raihan.




"Kamu berani nyindir Abah sama abimu?!" Rahangnya mengeras, ustad Arifin mulai emosi.



"Aku gak nyindir, ini faktanya. Aku hanya ingin satu wanita di dalam hidupku, bah, Abi."



"Kalau kamu hanya ingin satu wanita, maka nikahilah Zainab, bukan anak dari keluarga Calabria itu karena dia sudah tidak suci lagi!" seru ustadz Arifin yang tetap kekeh menjodohkan cucunya dengan anak sahabatnya. Dia bahkan menjelek-jelekkan sosok Zahwa, ya itu karena masalah foto.



"Abah! Zahwa masih suci dan aku percaya itu! Jadi tolong, Abah sama Abi jangan bicara seperti itu soal calon istri Raihan. Besok, akan melamar Zahwa dan Raihan gak perlu kehadiran Abah dan juga Abi." ancam Raihan pada Abah dan abinya, dia menggertak agar kedua orang itu mau mendengarkannya dan memberikan restu padanya.



"Beraninya kamu Raihan--ughhh.." Tiba-tiba saja pria tua itu memegang dadanya, tubuhnya oleng.



"Abah!"


__ADS_1


Raihan dan Iqbal panik melihatnya, mereka langsung memegangi tubuh ustadz Arifin yang sudah tidak sadarkan diri itu.



"Abi...aku akan siapkan mobil, kita harus ke rumah sakit!" ujar Raihan pada abinya.



Iqbal mengangguk dengan wajah panik. Ia tak menyangka bahwa ustadz Arifin akan kumat lagi penyakit jantungnya.



Mereka pun membawa ustad Arifin ke rumah sakit, dengan Raihan yang menyetir mobilnya.



\*\*\*\*\*



Sementara itu di sebuah kamar bernuansa ungu dan putih, Zahwa baru saja menyelesaikan shalat isya. Dia melepaskan mukenanya, lalu melihat ponselnya yang berada di atas nakas. Ada beberapa pesan masuk dari Raihan untuknya.



Gadis itu tersenyum simpul, dia sangat bahagia melihat isi pesan dari Raihan yang romantis.



...*Aku pasti akan melamarmu lagi besok, semoga semua keluargamu setuju Zahwa*....



...*Jangan lupa mimpikan aku dalam tidurmu, selipkan namaku di setiap doamu. Karena aku juga melakukan hal yang sama. Zahwa, mas Raihan sayang kamu*....



Hanya kata-kata saja bisa membuat Zahwa meleleh. Ya begitulah wanita yang selalu mengedepankan perasaan dibandingkan logika.



"Ehem! Kamu belum tidur?"



Suara Amayra membuat Zahwa gugup, dia buru-buru menyimpan ponselnya ke atas ranjang. "Ehm...belum ma. Baru beres sehat isya."



Amayra mendekati putrinya dan duduk tepat disebelahnya. "Zahwa, mama katakan ini demi kebaikan kamu...tolong kamu lupakan Raihan. Kamu tidak akan bahagia bersamanya, nak."



Kedua mata Zahwa melebar seketika saat mendengarnya.



...\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2