Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 121. Perubahan Selina


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Selina membuka matanya bahkan tangannya terus memegang erat tangan Attar. Betapa bahagianya Attar, Zahwa dan Aini melihat Selina sudah sadar dari komanya.


Kini dokter lain dan juga perawat datang memeriksa kondisi Selina. Dokter menyatakan bahwa kondisi Selina hanya tinggal pemulihan saja dan saat ini kondisinya masih lemah.


Dengan perasaan bahagia Zahwa segera memberitahu semua keluarganya bahwa Selina sudah siuman. Semua keluarga besar Calabria datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan gadis itu.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Ya Allah... terimakasih kau sudah menolong anakku," Diana dan Bram memeluk Putri mereka dengan rasa haru dan bahagia. Setelah beberapa Minggu mengalami koma, akhirnya Selina kembali pada mereka.


Tak hentinya semua keluarga Calabria mengucapkan syukur atas keselamatan Selina.


"Alhamdulillah..." Amayra dan Zahwa tersenyum haru melihat Selina.


Namun senyuman itu menghilang saat Selina menanyakan sesuatu yang membuat suasana di ruangan itu menjadi tegang.


"Ma, pa...bayiku baik-baik saja kan?" tanya Selina pada kedua orang tuanya yang kini malah terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mereka bingung mau menjawab apa.


Selina melihat pada anggota keluarganya yang lain, dia kembali menanyakan pertanyaan yang sama. "Tante Amayra, Oma, om Bima, kak Anna, kak Ken, Tante Fania...kak Rey, kak Zayn, kak Aini...kak Zahwa, kak Rey...kenapa kalian gak mau jawab? Bayiku--gak apa-apa kan?"


Semua nama yang ada disana dia sebutkan, masih dengan pertanyaan yang sama. "Bayiku--dia--"


Entah kenapa Selina merasa feeling-nya tidak baik melihat semua orang yang diam saja. Dia memegangi perutnya yang datar. Terakhir kali ia ingat, bagaimana Rivano meracuninya dengan cairan yang tak tahu apa. Hingga dia merasakan sakit luar biasa di perut, kepala, bahkan di sekujur tubuhnya.


Ketika dia bangun, bayinya yang pertama ia tanyakan. Jujur, ia sangat takut terjadi sesuatu pada bayinya. "Kak Zahwa, kakak pasti mau jawab kan? Bayiku...dia selamat kan kak?" Selina menatap pada Zahwa, kakak perempuan yang paling dekat dengannya. Pasti Zahwa akan menjawab pertanyaannya.


"Kak...jawab aku...aku mohon kak!" pinta Selina mendesak Zahwa untuk bicara.


Semua orang kepada Zahwa untuk mengatakannya pada Selina. Setelah menghela nafas dan menghembuskannya, Zahwa mulai membuka mulutnya untuk bicara.


Tak lupa tangannya menggenggam tangan Selina. "Sel... kamu harus kuat ya kamu harus tenang, bayi kamu...sudah berada disisi Allah."


"A-apa? Apa maksudnya kak?" Selina terperangah dan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Sel, anak kamu... dia tidak selamat."


"A-APA?!!" Teriak Selina terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zahwa kepadanya.


Hatinya berdebar, dadanya terasa sangat sesak. Bayinya yang bahkan belum lahir ke dunia, kini sudah tiada. Air mata Selina pun luruh, dia memegang dadanya. "Ba-bayiku...bayiku tidak selamat? I-ini tidak mungkin...bayiku... TIDAK!"


Semua orang yang ada di ruangan itu, cemas melihat Selina yang menangis dan berteriak histeris. "Gak! Ini gak mungkin...bayiku gak mungkin!! Huaaahhh....bayiku.... Rivano jahat, Rivano BRENGSEK!" Selina mengumpat nama ayah dari bayi yang telah tiada itu. "Bayiku..."


Diana dan Amayra, berusaha menenangkan Selena dengan menepuk-nepuk pundaknya. "Istighfar sayang... istighfar..."


"Tenanglah Sel, kamu baru saja siuman nak." ucap Diana sambil memegangi tangan Selina.


"Anakku! Kasihan...kasihan..." Selina pun jatuh tidak sadarkan diri dan membuat semua orang panik.


Setelah Selina siuman, mentalnya agak terguncang dengan berita kematian bayinya. Dia sudah keluar dari rumah sakit, namun gadis itu terlihat begitu murung dan selalu mengurung dirinya didalam kamar. Setiap hari Attar dan kedua sahabatnya selalu mengunjunginya untuk memberikan selamat.


Selina merasa seperti tidak semangat hidup, makan dan tidur sekedarnya saja ketika dia ingin. Tapi ada satu hal baik yang berubah dari Selina, dia jadi tidak meninggalkan shalat dan lebih dekat pada Tuhan-nya.


"Sel, makan dulu ya sayang." kata Diana sambil melihat Selina baru saja melepas mukenanya.


"Sayang, kamu belum makan malam." Diana selalu memaksa anaknya untuk makan tepat waktu dan juga menyemangatinya.


Akhirnya Selina pun datang ke meja makan dan berkumpul bersama keluarganya. Nilam, Bram menyambut Selina dengan ramah.


Mereka senang karena Selina sudah mau ikut makan bersama. Dan terlihat penampilannya yang kini sedikit berbeda, biasanya ketika akan tidur Selena selalu memakai hot pants dan juga tanktop. Tapi kali ini dia memakai piyama yang panjang dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah dan tangan.


"Sayang, sini nak! Kita makan bersama ya!" ajak Nilam pada cucunya.


"Iya Oma."


Alhamdulillah ya Allah, Selina sudah mau bicara. Biasanya dia selalu diam bila ditanya. Nilam mengusap dadanya,ia bersyukur dengan satu kata yang diucapkan Selina.


Setelah bangun dari koma, Selina memang jarang berbicara ataupun menjawab pertanyaan. Tapi hari ini dia terlihat sangat berbeda.

__ADS_1


Kini semuanya sudah duduk di meja makan dan memakan masakan yang telah disediakan oleh Bi Dewi, yang kebetulan menginap malam itu di sana.


Selina makan dengan lahap, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Diana dan Bram, tentunya senang melihat perubahan ini. Bahkan tidak jarang, mereka melihat Selena melaksanakan salat tahajud dan Dhuha. Padahal dulu melaksanakan salat wajib saja dia kesulitan dan jarang.


"Ma...pa, Oma, aku mau bicara sesuatu sama kalian." ucap Selina setelah selesai menghabiskan makanannya.


Nilam, Bram dan Diana menatap Selina. "Kamu mau bicara apa nak?" tanya Nilam lebih dulu.


"Oma, mama...papa...aku minta maaf selama ini karena aku sudah membuat kalian semua malu. Aku setelah berbuat dosa yang sangat besar, aku tau aku sudah kotor. Tapi--Aku ingin memperbaiki diriku...sebelum itu, Aku ingin menyelesaikan masa lalu. Aku harap kalian mengizinkannya." Selina melihat pada keluarganya dengan mata yang berembun.


"Kamu mau minta izin apa sayang?"


"Izinkan aku bertemu dengan kak Rivano."


Nilam, Bram dan Diana tersentak kaget mendengar permintaan Selina. Jelas mereka tidak setuju dengan permintaan Selina untuk bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Tidak! Papa tidak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan bajingan itu!" Bram menolak dengan tegas.


"Pa, Selina mohon izinkan Selina bertemu dengannya untuk menyelesaikan masa lalu. Bukankah Kak Rivanno ingin bertemu dengan Selina?"


"Mama sama papa, gak mau kamu ketemu sama dia!"


"Ma, pa, Oma, ada yang harus aku katakan padanya besok. Please...ini harus diselesaikan." kata Selina pada keluarganya.


Bram, Diana dan Nilam akhirnya setuju walau mereka sedikit berat hati mengizinkan Selina untuk bertemu dengan Rivano.


Keesokan harinya, pagi itu Selina turun dari lantai dua. Nilam, Bram dan Diana tercengang melihat penampilan Selina yang Masya Allah.


"Sel...Selina..." Nilam dan Bram terpana melihat penampilan putrinya saat ini.


"Masya Allah, anak mama." decak Diana kagum, melihat Selina memakai setelan gamis dan memakai kerudung berwarna merah muda.


"Assalamualaikum Ma, pa, Oma...selamat pagi." lirih Selina seraya tersenyum sembari mengucapkan salam dengan sopan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2