
...🍀🍀🍀...
Setelah pembicaraan itu dan keesokan harinya, Amayra pergi ke rumah besar Calabria tanpa Zayn dan Zahwa. Niatnya adalah untuk memutuskan tentang Zahwa dan Rey, bagaimana hubungan kedua orang itu untuk kedepannya.
Amayra berpesan pada anaknya untuk tidak pergi kemana-mana ataupun bertemu dengan Rey sebelum para orang tua memutuskan. Karena Amayra tau kalau Rey hari ini pulang ke Indonesia setelah perjalanan bisnisnya.
Zahwa pun sendiri di rumah karena kakaknya Zayn juga pergi untuk makan siang bersama Aini dan beberapa staf kantornya, dalam acara merayakan keberhasilan proyek mereka di perusahaan.
"Zahwa, gak apa-apa kamu sendiri di rumah? Ah...atau aku telpon Bi Dewi buat nemenin kamu ya?" tawar Zayn sambil mengenakan jam tangan di tangan kirinya.
"Gak apa-apa kak, lagian aku udah biasa sendiri di rumah. Kayak aku anak kecil aja hehe." Zahwa terkekeh sendiri. Zayn selalu saja menganggapnya seperti anak kecil, terkadang saudara kembar yang ini sangat protektif kepadanya. Apalagi sejak Zahwa jatuh ke jurang.
"Ya udah, kalau ada apa-apa telepon aku ya. Aku gak akan lama kok, udah makan siang aku langsung pulang."
"Ah...gak usah langsung pulang juga nggak apa-apa kok. Kakak habiskan waktu saja dengan Aini,"
Seketika wajah Zayn yang memiliki kulit putih bersih itu, menjadi bersemu merah mendengar nama Aini disinggung oleh adiknya. "Aini? Kenapa kamu sebut si woman Hulk itu?"
"Alah....jangan gitu, aku tau kakak suka kan sama Aini?" godanya pada Zayn yang wajahnya tersipu itu. Tapi dia tetap bertahan dengan raut wajah dinginnya.
"Kamu ngaco deh, Mana mungkin aku suka sama cewek yang banyak makan gitu!"
"Hahaha...kak, jangan jaim-jaim deh jadi orang. Nanti kalau Aini diambil orang, kakak bakal nyesel dan gigit jari!" kata Zahwa memanasi kakaknya.
"Hah! Kenapa aku harus gigit jari? Aku aja gak suka sama dia! Huh!" cetus Zayn sambil berdecih, seolah dia benar-benar tak suka dengan Aini. "Lagian cowok mana yang mau sama cewek yang banyak makan gitu sama kayak kamu?"
"Wah... Kakak jangan meremehkan cewek yang banyak makan ya! Mereka sangat mempesona, sama kayak aku dan kata siapa gak ada yang mau sama Aini? Aini itu banyak yang suka kak!" Zahwa tersenyum, dia berusaha memancing kakaknya yang jaim dan malu-malu kucing itu. Padahal dia suka pada Aini, tapi ia kamu tak mengakuinya.
"Banyak yang suka? Oh...aku gak percaya tuh." Lagi-lagi Zayn tersenyum meremehkan.
"Jadi kakak gak tau ya? Aku pernah lihat loh, kalau ada cowok yang naksir Aini dan minta nomor teleponnya."
Siapa yang minta nomor telpon si woman Hulk?
Seketika Zayn langsung menoleh ke arah Zahwa dengan wajah tegang. Sungguh, Zahwa sangat puas melihat raut wajah kakaknya yang saat ini sedang ketar-ketir tak menentu. "Jadi kakak mau tau?"
"Gak! Gak mau tau sama sekali! Udah ah aku mau berangkat....yuk.... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab Zahwa sambil tersenyum melihat kepergian kakaknya yang berwajah malu-malu itu.
__ADS_1
"Pepet terus woman Hulk-nya kak! Ayo! Semangat!" teriak Zahwa pada kakaknya yang sudah akan menaiki mobil.
Zayn bersiap tancap gas meninggalkan rumahnya. Zayn tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia begitu terganggu dengan ucapan Zahwa yang mengatakan bahwa ada seseorang yang meminta nomor telepon Aini dan menyukai gadis itu. Hatinya menjadi resah, gelisah dan tidak tenang.
"Siapa juga yang suka sama cewek woman Hulk modelan Zahwa sama dia? Siapa juga cowok itu sampai minta nomor telpon segala? Haihh....kenapa juga aku penasaran?" gumam Zayn sambil memikirkan Aini.
*****
Sementara itu di rumah besar Calabria, para orang tua tengah berkumpul di ruang tengah. Suasana di sana layaknya sidang skripsi yang sangat menegangkan. Apalagi untuk Rey yang baru saja pulang dari Singapore, dia langsung dihadapkan dengan tatapan para orang tua yang tajam padanya.
Terlihat Nilam duduk di kursi roda dan Diana ada didekatnya. Terlihat juga wajah Rey yang tampak lelah karena kurang tidur semalaman.
"Rey, kami sudah bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk hubungan kamu dan Zahwa." Bram memulai pembicaraan mereka.
Rey mendongak menatap papanya. "Iya pa."
Sebagai anak tertua di keluarga Calabria, Bram memimpin pembicaraan mereka. "Kami sudah mengambil keputusan, tapi sebelum menyampaikan keputusan kami... ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu Rey."
"Ya pa, silahkan tanyakan saja!" Rey terlihat tenang seperti biasanya, walau sebenarnya di dalamnya. Jantung Rey berdegup begitu kencang.
"Rey, apa kamu benar-benar mencintai Zahwa?"
"Ya pa." jawab Rey mantap tanpa ragu.
"Iya Tante, aku berjanji pada tante dan semuanya yang ada di sini. Aku tidak akan pernah menyakiti Zahwa dan aku akan membuat Zahwa bahagia. Mungkin ini terdengar seperti kata-kata manis dan janji semata, tapi aku akan tunjukan bukti dan kalian bisa lihat.... betapa aku serius ingin menikahinya."
Atensi semua orang kini tertuju pada Rey, mereka mendengarkan sekaligus meneliti apa yang dikatakan oleh pria itu. Pria yang begitu berani menyatakan cintanya dan memperjuangkan cintanya pada Zahwa. Tentu saja waktu 14 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Rey menyimpan rasanya pada Zahwa.
Amayra kemudian menangis disertai dengan senyuman tipis di bibirnya. "Rey, kemarilah... mendekatkan, Tante mau bicara sama kamu nak..." ucapnya parau.
Kemudian Rey berjalan mendekati tantenya, lalu dia duduk jongkok didepan wanita paruh baya itu. Ditatapnya mata Amayra yang berkaca-kaca itu. "Tante...kenapa Tante nangis?"
"Rey, taukah kamu nak? Bahwa selama ini Tante selalu menganggap kamu sebagai anak tante sendiri, sebagai Reyndra Aqmar Calabria. Tapi...mungkin setelah ini semuanya akan berbeda," kata Amayra sambil terisak.
Pria itu menatap Amayra dengan mata melebar dan kening yang mengerut. Sebenarnya dia belum mengerti apa yang dikatakan Amayra, jadi dia saat ini hanya bisa mendengarkan.
"Zahwa pernah terluka karena batalnya pernikahannya dengan Raihan, dia juga pernah di fitnah oleh orang yang tidak bertanggung jawab! Saat itu dia sangat terluka....Tante sampai tidak sanggup melihatnya terpuruk, Rey. Melihat anak perempuan satu-satunya menangis, sungguh hati Tante ikut terluka. Tapi Tante akan berharap besar dari kamu, Tante ingin kamu berjanji pada tante...bahwa kamu tidak akan menyakiti Zahwa lagi. Kamu akan selalu membuat bahagia dan Tante mau kamu buktikan semua itu! Tante...gak mau Zahwa terluka karena cinta lagi,"
Tiba-tiba tubuh Rey lemas, pandangannya begitu terkejut. Sampai Rey terduduk di lantai karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Akhirnya ia paham semua yang dikatakan Amayra adalah persetujuan, jalan menuju halal.
__ADS_1
"Tante...." lirih Rey dengan mata yang berembun.
Ya Allah, apakah semua yang kudengar ini benar? Apakah semua orang sudah setuju aku meminang Zahwa?
"Rey, Tante bisa percaya karena orangnya adalah kamu. Tapi, kalau kamu berani membuat anak Tante menangis, Tante gak akan segan-segan memberikan kamu pelajaran... sekalipun kamu anak Tante sendiri..."
Rey memegang tangan Amayra, dia menangis dan mencium punggung tangan wanita itu. Sungguh, dia sangat bahagia dengan kepuasan Amayra dan semua orang.
Diana, Nilam, Anna, Ken, Fania dan Bima juga ikut tersenyum haru melihat pemandangan itu. Mereka tidak berdaya akan kekuatan cinta dan mereka juga tahu benar bagaimana sifat Rey. Anak itu dewasa, bisa menjaga Zahwa lebih baik dari pria manapun di dunia ini dan plusnya Rey juga sudah mengenal Zahwa dari kecil. Dia sudah tau semuanya tentang sikap Zahwa, mereka sudah tau sama satu lain.
"Rey janji Tante, Rey akan menjaga Zahwa seumur hidup Rey. Rey akan membahagiakan dia, makasih Tante...makasih udah kasih Rey kesempatan. Alhamdulillah ya Allah...." ucap Rey penuh rasa syukur, disertai dengan bulir bulir hangat yang menjatuhi punggung tangan Amayra.
"Kamu tidak boleh hanya berjanji, tapi kamu harus buktikan juga Rey! Sekarang juga!"
"Iya Tante...tapi sekarang juga?" Rey mendongakkan kepalanya, atensinya melihat Amayra dengan bingung.
"Contohnya... panggil Tante, MAMA...mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan itu, Rey."
"Mama...." Rey memeluk Amayra dengan perasaan bahagia, akhirnya dia akan segera menikah dengan orang ia cintai. Setelah perjuangan yang dia lakukan selama ini.
Dari mulai cara liciknya menghancurkan pernikahan Zahwa dan kerjasamanya dengan Salimah. Rey hanya bisa berharap, bahwa semua fakta tentang pernikahan Zahwa tidak terbongkar, biarlah semua itu menjadi rahasia saja.
"Eh...tapi tidak semudah itu. Kamu harus melamar Zahwa secara resmi dan om yang akan jadi wali kamu untuk melamar Zahwa, nanti." celetuk Bima yang membuat Rey mengurai pelukannya pada Amayra.
"Hah? Ada lamaran juga, om?"
"Iya dong! Jangan mentang-mentang kalian hidup bersama dari kecil, terus tidak ada prosedur seperti ini? Tidak mungkin! Kamu harus tetap melalui prosedur untuk menikahi Zahwa." Celoteh Bima dengan tegas.
"Iya Rey, om Bima dan Tante Fania akan jadi wali kamu. Kita akan siapkan lamaran bagus untuk Zahwa."
"Haha...baiklah, aku sebagai wali dari Zahwa akan menantikan itu." sahut Bram sambil tertawa.
Suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi penuh canda tawa dan kembali santai. Mereka bahkan menggoda Rey yang akan segera menikah dengan Zahwa. Tentunya dia akan menyiapkan lamaran terbaik untuk Zahwa dan kali ini dengan cincin sungguhan.
*****
Rumah Zahwa⛪
Sementara itu Zahwa bosan dirumah hanya menonton tv, makan dan itu itu saja. Akhirnya dia mengambil ponselnya yang baru saja beres di charger. Dia melihat media sosial Fb nya, siapa tau ada yang menarik. Namun ia malah melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
"ASTAGFIRULLAHALADZIM!"
...*****...