
...🍀🍀🍀...
Gadis itu meninggalkan kakaknya di rumah donat dan pergi ke toilet yang ada di mall itu. Toilet yang letaknya cukup jauh berada di ujung lantai tersebut.
Wajahnya memerah, entah mengapa ada sesuatu yang bergemuruh di dalam hatinya. Ia merasakan ada getaran aneh disana.
"Perasaan aku gak punya penyakit jantung deh! Kenapa jantungku begini? Dag Dig dug gimana gitu...huft..." Zahwa mengusap-usap dadanya yang terasa aneh, dia menghela nafas panjang. Lalu ia menatap dirinya di cermin besar dalam toilet tersebut.
Kak Rey kenapa ya? Kenapa aku berasa kalau sikap Kak Rey itu berbeda?
Usai menuntaskan urusannya di toilet, ia pun membersihkan tangannya di wastafel. Tepat saat dia selesai membersihkan tangannya, dia melihat seorang pria masuk ke toilet tersebut. Pria yang memakai anting, dengan celana robek-robek dan jaket jeans warna hitam.
"AHHH!! Dasar mesum!!" Zahwa berteriak, lalu dia memukul pria itu dengan tas selempangnya.
"Woy! Apa apaan sih Lo? Woy!" teriak pria itu terkejut karena Zahwa tiba-tiba memukulnya.
"Kamu gak sopan banget ya masuk ke toilet cewek, dasar mesum kamu! Aku laporin kamu sama polisi ya, dasar penguntit!" cerocos gadis itu, tangannya masih memukul si pria dengan tasnya.
"Siapa? Gue? Gue gak pernah ya masuk ke toilet cewek, Lo yang salah masuk....nona Aisyah!" Tangan pria itu mencengkram tangan Zahwa. Matanya melotot tajam pada Zahwa.
"Aku? Kamu ini udah salah malah nyalahin aku! Lepasin aku, aku laporin kamu sama petugas keamanan! Dasar cowok mesum!" seru Zahwa kesal.
"Apa Lo bilang? Gue mesum?!" Pria bertubuh tinggi itu berdecih mendengar ucapan Zahwa yang menuduhnya. Matanya memicing menatap gadis cantik dibalik hijab putihnya.
Pria itu pun memegang tangan Zahwa, menyeret gadis itu keluar dari toilet. Dia melirik ke arah papan nama yang ada di pintu toilet. "Lihat itu nona Aisyah!"
"Apaan?!" tanyanya dengan suara yang meninggi.
"Lo bisa baca kan," ucapnya sarkas.
Kemudian Zahwa pun melirik ke arah papan nama di depan pintu toilet itu. Alangkah terkejutnya dia melihat papan nama bertuliskan toilet pria.
Astagfirullah , ternyata aku yang salah masuk.
"Tulisannya TO-ILET- PRI-A, jelas?!"
"Iya...aku minta maaf ya, aku yang salah."
"Enak aja Lo minta maaf setelah lo nuduh gue dan mukulin gue kayak gini!" protes pria itu marah dan tak mau melepaskan tangan Zahwa.
"Aku kan udah minta maaf...dan orang baik selalu berhati lapang memaafkan orang lain." ceramah Zahwa pada pria itu yang masih memegang tangannya.
"Sorry, gue bukan orang yang baik berhati lapang!" Deva tersenyum menyeringai, melihat gadis yang tinggi tubuhnya jauh lebih pendek darinya.
"Kamu--"
"Hey Dev! Cepetan, kita harus naik ke lantai atas." ujar seorang temannya pada pria bernama Deva itu.
Deva kemudian melepaskan cengkeramannya dari tangan Zahwa. "Awas kalau sampai gue ketemu sama Lo lagi, mampus Lo nona Aisyah!" ucapnya pada Zahwa, sebelum dia berjalan pergi dari sana.
"A-apa? Namaku bukan Aisyah!" Teriak Zahwa kesal.
Tak lama kemudian, Zahwa kembali dari toilet dan hendak menghampiri kakaknya di rumah donat. Tampak pria tampan itu sudah duduk menunggunya disana dan terlihat beberapa gadis disana melihat sosok Rey dengan tatapan terpesona. Bahkan kebanyakan dari mereka memakai seragam putih abu.
"Ganteng banget si Kakak itu! Apa dia artis?"
"Gue mau nomor hpnya."
"Lo berani gak minta?"
__ADS_1
"Minta fotonya aja yuk?"
Zahwa mendengar perbincangan gadis-gadis muda itu tentang kakaknya Reyndra. "Kak Rey populer banget sih, bahkan anak SMA aja naksir sama dia. Kenapa dia bilang kalau dia sulit sekali menaklukkan cewek itu? Segitu perfect kah cewek itu sampai dia menolak kak Rey?" gumam Zahwa heran.
Saat beberapa gadis SMA mendekati Rey, pria itu terlihat cuek dan bahkan tidak merespon. Ya, Rey memang bukan tipe pria yang tenar pesona pada wanita di sekitarnya, walaupun banyak yang naksir padanya.
"Mo! Sini!" panggil Rey pada Zahwa yang masih berdiri dibelakang pintu. Dia terlihat lega melihat Zahwa, karena dia merasa sesak didekati gadis-gadis itu.
Zahwa berjalan mendekat ke arah kakaknya. "Nah, maaf ya adek adek...kakak udah punya istri, ini istri kakak. Nanti dia cemburu," ucap Rey yang sontak saja membuat Zahwa dan gadis-gadis itu tersentak kaget.
Istri? Kak Rey ngomong apa sih? Ya Allah.
Terlihat wajah gadis-gadis itu yang kecewa dengan keberadaan Zahwa. Kemudian mereka pun pergi dari sana meninggalkan Rey dan Zahwa.
Zahwa pun duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Rey duduk. Di atas meja sudah tersaji berbagai makanan kesukaan Zahwa, cheesecake keju, minuman float moccha dan ada sebungkus nasi disertai lauk pauk sederhana juga disana.
"Kak, kenapa sih kakak ngomong kayak gitu sama mereka? Gak lucu tau bercanda kayak gitu, nanti kalau gebetan kakak marah gimana coba?"
"Kalau aku gak bercanda, gimana?" tanya Rey sambil memakan makanan di depannya.
"Hem....kakak..." desah gadis itu keheranan dengan sikap kakak sepupunya yang aneh ini.
"Sudahlah, habiskan makananmu dulu. Kita belanja,"
Suasana makan menjadi hening, Zahwa juga tak banyak bicara, Rey pun sama. Dia mencoba mendesak Zahwa agar peka, tapi apalah dayanya. Zahwa tidak mudah memahami perasaannya.
Mereka berdua pun pergi belanja bersama di mall, belanja kebutuhan Zahwa. Bahkan Rey memberikan tas gendong baru untuk Zahwa yang sesuai dengan seleranya. Rey yang membayar semua belanjaan Zahwa. Rey juga memberikan kartu kreditnya pada Zahwa.
"Nanti aku minta uang deh sama kakak atau mama, buat ganti uang kakak."
"Gak usah lah! Aku ikhlas kok dan juga kamu boleh ambil ATM nya buat belanja kebutuhan kamu yang lain," ucapnya santai.
"Kodenya tanggal ulang tahun kamu."
Aduh Zahwa please lah, peka...aku udah kasih kamu kode sebanyak ini. Harusnya kamu udah peka sekarang.
"Hem, apa jangan-jangan ulang tahun calon kakak juga sama kayak tanggal ulang tahun aku?" tanyanya polos.
"Aih...." dengus Rey menahan emosi, giginya gemertuk gemas dengan sikap gadis yang tengah berdiri disampingnya ini.
"Kakak...kenapa sih?"
"Udah, kamu ambil aja ATMnya, aku punya banyak. Kodenya ulang tahun kamu!" katanya dengan suara yang tegas.
Zahwa tiba-tiba terdiam, dia mengalihkan atensinya pada sebuah toko perhiasan. Sebelumnya dia tidak tertarik dengan perhiasan, bahkan memakai gelang saja tidak. Tapi kali ini dia tertarik dengan salah satu perhiasan yang dipajang disana.
Rey melihat Zahwa tengah memperhatikan sebuah gelang di toko perhiasan itu. Rey tersenyum menyeringai, entah apa yang ia pikirkan. Tiba-tiba saja Rey menarik tangan Zahwa dan masuk ke dalam toko perhiasan itu.
"Kak! Mau ngapain kesini?"
Tanpa menjawab pertanyaan Zahwa, Rey langsung berbicara dengan penjaga toko dan minta diambilkan gelang berhiaskan permata yang terpanjang di depan toko. "Mbak, tolong ya...ambilkan gelang yang ada di depan sana, yang warna merah itu!" ujarnya sambil meletakkan kantong berisi barang belanjaan Zahwa di atas kursi disana.
"Oh baik, Mas." jawab si penjaga toko itu ramah. Kemudian ia pergi ke depan sana mengambil gelang yang terpajang di lemari kaca.
"Kak....kenapa kakak..."
Rey tersenyum saja, tanpa bicara. Padahal saat ini Zahwa sedang bingung karena dirinya. Tak lama kemudian, si pelayan toko itu membawakan gelangnya. Rey mengambil gelang itu kemudian meminta Zahwa merentangkan tangan kirinya. "Tangan kamu, mo!"
"Eh?"
__ADS_1
"Sini tangan kamu," ucapnya lembut.
Zahwa menurut saja, dia menyodorkan tangan kirinya. Kemudian Rey memasangkan gelang itu pada tangan Zahwa, tak lama setelah itu senyuman Rey mengembang indah.
"Gimana mbak? Cocok ditangannya kan?" tanya Rey meminta pendapat pelayan toko itu.
"Cocok banget mas," jawab si pelayan itu seraya tersenyum tulus.
Sementara Zahwa masih terdiam dalam bingung, mencerna apa yang sedang dilakukan Rey saat ini. Tapi dia sadar ada yang aneh dengan Rey.
"Zahwa, kamu suka ini?"
"Eungh..."
"Jawablah!"
"Bagus kok, cocok buat calon istri kakak!" celetuk Zahwa sambil tersenyum, ia masih mencoba berpikir positif dengan sikap aneh Rey.
"Iya memang cocok." jawab Rey. Lalu dia bicara pada pelayan toko lagi. "Mbak berapa harganya?"
"2 juta 4 ratus ribu, mas." jawab si pelayan toko itu. Harganya lumayan karena permata gelang itu adalah permata asli.
"Saya gak ada uang cash, bisa gesek juga kan?" tanya Rey sambil mengeluarkan kartu kreditnya yang lain.
"Iya Mas,"
"Oh ya mbak, bisa lihat cincinnya juga?" tanya Rey.
Cincin? Apa kakak mau beli cincin buat calon istrinya? Ini kak Rey kenapa sih?
Pelayan toko itu mengambilkan beberapa model cincin bersama wadahnya. Lalu Rey bertanya pada Zahwa, mana cincin yang disukainya. "Kamu suka yang mana?"
"Eungh---itu---a-aku."
Rey melihat wajah Zahwa yang terlihat kebingungan. Rey paham kenapa Zahwa begitu.
Maaf Zahwa, aku buat kamu bingung. Aku harap dengan kodeku ini, kamu jadi peka.
"Mas, menurut saya cincin yang ini...cocok untuk pacar mas." si pelayan toko itu menyarankan sebuah cincin dengan motif bunga, karena Zahwa terlihat kebingungan untuk memilih cincin tersebut.
Zahwa langsung melotot. "Maaf mbak, saya bukan pa--"
"Iya yang ini bagus," Rey mengambil cincin itu dan berharap semoga cincinnya cocok untuk Zahwa. Lalu ia memakaikan cincin bermotif bunga berhiaskan permata putih itu di jari manis Zahwa. "Pas banget, alhamdulillah." ucap Rey.
Zahwa dibuat terdiam oleh Rey, dia tidak paham dengan sikap kakak sepupunya yang aneh ini.
Kenapa kak Rey seperti mendesak ku akan sesuatu? Tapi apa?
"Mbak, sama cincinnya juga ya. Jadi berapa?"
Tanpa mereka sadari ada beberapa anak berpakaian berseragam SMA melihat Zahwa dan Rey. "Sel! Bukannya itu kakak Lo?"
"Iya Sel, dia sama siapa kok pasang cincin itu? Pacarnya?"
"Ah...gila, gue patah hati deh pangeran gue diambil sama tuh cewek."
Selina mendengar ocehan teman-temannya, matanya menatap ke arah kakaknya dan Zahwa di toko perhiasan itu. "Itu kakak sepupuku, kak Zahwa." lirihnya.
...*****...
__ADS_1