
...🍀🍀🍀...
Hati Selina merasa aneh menangkap pemandangan tidak biasa itu. Lagi-lagi dia menyadari pemandangan yang mengherankan dari kakak dan kakak sepupunya.
"Eh serius itu kakak sepupu Lo? Kak Zahwa kan?" tanya Maya salah satu teman kelas Selina.
"Iya." jawab Selina datar dengan mata yang masih tertuju pada Rey dan Zahwa yang sedang berpegangan tangan saling melihat cincin.
"Kok kesannya mereka kayak couple-an loh!" celetuk salah seorang teman Selina memberi pendapat.
"Gue setuju, kalau gue atau orang lain yang gak tau mereka sepupuan...pasti nyangkanya mereka pacaran." kata Angel seraya tersenyum.
"Hahaha...itu gak mungkin, kak Rey emang sayang sama kak Zahwa tapi itu hanya sebagai kakak dan adik saja kok, gak lebih!" Selina tertawa menahan rasa aneh dalam dirinya sendiri.
Beberapa hari sebelumnya Selina pernah melihat di atas nakas kamar kakaknya, sebuah buku yang berisi beberapa puisi. Dia melihat semua puisi itu tertuju untuk nama K. Sedangkan nama K, adalah nama depan Zahwa. Kalima Zahwa Jawharah. Selina berusaha menepis pikiran anehnya itu terhadap Rey, mungkin saja orang berinisial K itu bukan Zahwa melainkan orang lain.
"Oke gitu ya, ya udah kita mau samperin aja nih kakak sama sepupu Lo?" tawar Nia pada Selina.
"Gak usah! Kalau kita samperin mereka yang ada nanti kak Rey marahin aku, kita kan mau senang-senang lihat band Langit!" Selina tersenyum, mengingat kembali tujuannya datang ke mall itu adalah untuk menonton konser band Langit, Band favoritnya bersama teman-temannya.
"Oke...kalau gitu kita have fun!" ajak Maya sambil merangkul tubuh Selina. Selina dan ketiga temannya, kemudian pergi dari sana menuju ke lantai paling atas mall itu.
Beberapa anak SMA memang sedang mangkal disana dan mall terlihat ramai karena ada band langit itu.
****
Di depan toko perhiasan, Zahwa dan Rey baru saja keluar dari sana. Zahwa terus memandangi cincin di jari manisnya dengan bingung.
"Kak, kenapa kakak kasih aku cincin? Kita kayak..."
Rey langsung memangkas ucapan Zahwa. "Tangan kamu polos banget, jadi aku kasih cincin sama gelang. Ya walaupun harganya murah." Rey tersenyum sambil melihat Zahwa yang bingung.
Maaf Zahwa, karena kamu sudah agak peka. Maka biarkan aku yang akan bicara cinta, pria harus mengungkapkannya lebih dulu dan kamu selalu mau itu. Waktunya akan segera tiba, Zahwa. Aku akan mengganti cincin itu nanti untuk kamu dan memasangkan yang baru.
Hanya melihat Zahwa melihat cincin yang ia beli saja dan cincin itu tersemat di jarinya, Reyndra begitu bahagia.
Zahwa menatap heran pada kakaknya."Ini gak murah kak, ini harganya mahal. Aku seharusnya gak--"
"Kita pulang yuk! Kamu harus siap-siap berkemah kan?"
Lagi-lagi Rey memotong ucapan Zahwa untuk ke sekian kalinya. Zahwa benar-benar bingung dengan perasaan aneh yang dia buat.
__ADS_1
Mereka menyudahi pembicaraan mereka , kemudian menaiki mobil bersama. Tidak ada obrolan antara Rey dan Zahwa, keduanya sama-sama terdiam. Padahal biasanya Zahwa banyak bicara, Rey merasa bahwa ini adalah hal bagus agar Zahwa beradaptasi dengan perasaannya.
Ia akan meyakinkan dirinya, bahwa ia bukan seorang kakak sepupu melainkan seorang pria dan Rey ingin tau Zahwa tau itu.
Sore itu Zahwa pergi bersama teman-temannya naik bus untuk pergi ke daerah pegunungan. Tujuannya untuk refreshing sebelum sidang. Ya, harusnya refreshing dilakukan setelah sidang tapi ini dilakukan sebelum sidang.
Di bus itu hanya berisi 25 orang saja, ada beberapa orang yang masih tidak suka dengan Zahwa karena masalah foto-foto yang tersebar itu. Tapi Zahwa tak peduli, karena dia masih memiliki teman-teman yang baik padanya.
"Hati-hati disana, jangan nakal! Jangan keluyuran, inget shalat, ingat mandi." celetuk Zayn pada adiknya sambil mengelus kepala Zahwa dibalik balutan hijab segiempat berwarna mustard itu.
"Mandi sama shalat kan kewajiban gak perlu diingetin lagi." cicit Zahwa dengan bibir mengerucut.
"Hati-hati disana ya nak, jaga diri." Amayra memeluk putrinya, dia sebenarnya setengah hati mengizinkan Zahwa pergi. Akan tetapi Zahwa juga perlu kebebasan.
Zahwa mengurai pelukan mamanya, setelah menepuknya pelan. "Ya ma, insya Allah...mama juga jaga diri ya."
"Assalamualaikum Zahwa! Assalamualaikum Tante Amayra!" sapa Aini sambil berlari menghampiri Amayra, Zahwa dan Zayn yang ada disana. Ia mengucapkan salam pada Amayra dan Zahwa tapi tidak pada Zayn.
Zayn berdecih kesal dengan kelakuan Aini.
"Waalaikumsalam," jawab Amayra dan Zahwa kompak.
"Kamu ikut juga Aini?"
"Iya tante, Zahwa yang ajakin aku!"
"Cih...gitu aja bangga, kasihan banget...pasti yang lain gak ada yang ngajakin." sindir pria itu pada Aini.
"Apaan sih piktor, nyambung mulu kayak kabel!" balas Aini tak mau kalah dari Zayn.
"Apaan? Dasar cewek emosian, cewek hulk makannya banyak!" ejek Zayn pada Aini.
"APA?" Aini melotot ke arah Zayn, sementara Zayn menjulurkan lidah mengejek Aini.
Cowok ini rese banget, kalau bukan kakak nya Zahwa...udah pasti aku... gumam gadis itu dalam hati.
"Hahaha...kenapa sih kalian tuh masih aja berantem? Kayak kucing sama tikus..." Amayra menggelengkan kepalanya, sambil tertawa.
"Awas loh berantem terus, nanti malah jodoh," ucap Zahwa sambil terkekeh melihat kakaknya dan teman baiknya setiap bertemu pastilah berdebat.
"Cih! Amit-amit!" kata Zayn dan Aini kompak memalingkan wajah.
__ADS_1
"Heh! Jangan gitu ah, nanti aamiin aamiin loh..." goda Zahwa pada kakaknya dan Aini yang kompak.
Zahwa dan Aini pun berpamitan, saat akan berjalan melangkah ke dalam bus. Ekor mata Aini dan Zahwa melihat sosok Raihan sedang bersama Zainab, dia mengantar Zainab yang ternyata akan pergi kemah juga.
Ya Allah, kenapa hatiku masih sakit? Ayo Zahwa, sadar...mereka sudah suami istri. Wajar kan kalau berdua seperti itu dan pergi kemana-mana bersama. batin Zahwa dengan tangan sambil memegang dada.
"Zahwa, ayo!" ajak Aini sambil menggandeng tangan temannya, ia tau perasaan Zahwa tidak akan mudah bila bertemu lagi dan lagi dengan Zainab dan Raihan. Melupakan orang yang dia cintai begitu lama, tidaklah mudah.
"Aku berangkat dulu, Rai... maksudku mas." dengan kaku Zainab mencium tangan suaminya.
"Iya, kamu hati-hati. Nanti pulangnya aku jemput, kalau ada apa-apa kamu telpon aku." ucap Raihan datar tanpa perasaan. Ekor matanya menatap sang mantan yang berjalan masuk ke dalam mobil bus.
Aku tau ini salah, ya Allah....aku sudah menikah dengan Zainab, tapi aku masih cinta sama kamu Zahwa.
"Ya," jawab Zainab.
Zainab juga biasa saja, sebab dia belum ada rasa pada Raihan. Hubungan mereka juga datar, bahkan mereka belum melakukan hubungan suami istri.
Setelah melihat Zainab pergi ke dalam bus, Raihan langsung menghampiri Amayra dan Zayn yang masih berada disana. "Mau apa kamu kemari?" tanya Zayn sinis.
"Zayn..." lirik Amayra pada putranya.
"Assalamualaikum Tante Amayra, Zayn, apa kalian ada waktu? Saya ingin bicara dengan kalian berdua." ucap Raihan lembut.
Amayra dan Zayn tidak langsung menjawab, mereka masih menatap tajam pada Raihan. Pria yang sudah menyakiti Zahwa dengan begitu dalam. Apakah mereka mau bicara dengan Raihan? Dan apa yang mau dikatakan pria itu?
*****
Sementara itu di tempat lain, Reyndra masih sibuk di kantor dengan segudang pekerjaan. Ia sengaja mengerjakan pekerjaan itu lebih awal karena dia sudah merencanakan akan pergi menyusul Zahwa ke kemahnya.
"Pak, apa anda yakin akan lembur? Semua ini mungkin tidak akan selesai sampai besok pagi pun." ucap Niko yang sudah akan muntah melihat tumpukan dokumen di atas meja presdirnya.
"Iya, kalau tidak ku kerjakan sekarang. Aku tidak bisa ambil libur."
"Tapi anda akan sakit pak," tegur Niko pada Rey.
"Itu urusanku, ayo cepat siapkan perbekalan begadang kita!" ujar Rey pada Niko.
Setelah urusan ini selesai, aku akan mengatakan cintaku sama kamu, wa...
...*****...
__ADS_1