
...🍁🍁🍁...
Setelah shalat isya dan mengantar Aini ke kosannya, Amayra, Zayn dan Zahwa berangkat ke rumah keluarga Calabria. Zahwa terlihat tegang, dia tidak tahu apa yang terjadi disana dan kenapa semua orang dipanggil kesana, terutama dirinya.
Apa ini ada hubungannya dengan Rey dan dirinya? Ya Allah, semoga saja bukan hal yang buruk. Zahwa tidak mau suudzan lebih dulu, tapi hatinya cemas, mengingat apa yang terjadi tadi sore di rumah besar keluarga Calabria, perihal masalah Diana.
"Zahwa!"
"Ehh...i-iya ma." sahut Zahwa dengan wajah yang tegang.
"Kamu kenapa? Dari tadi kamu kelihatan resah?" feeling seorang ibu memang tidak salah, dia yakin bahwa ada seseorang yang salah dengan Zahwa. Sedari tadi Zahwa terlihat tegang, pasti ada sesuatu.
"Gak apa-apa kok Ma."
Zayn yang sedang menyetir, melihat Zahwa dari kaca kecil didepan mobil. Tatapannya seakan tau apa yang terjadi pada Zahwa.
Setelah itu semuanya hening, walau Amayra bertanya-tanya apa yang terjadi pada Zahwa dan Zayn yang terlihat tegang seperti ada yang salah dengan keadaan ini. Tapi apa? Amayra juga tak tau. Mungkin di rumah Calabria dia akan menemukan jawabannya.
Sesampainya di rumah besar keluarga Calabria, Amayra dan kedua anaknya mengucap salam, lalu masuk ke rumah itu. Di ruang tengah mereka melihat seluruh keluarga tengah berkumpul. Bahkan ada Bima, Fania, Ken dan Anna tapi tidak bersama anak-anak mereka.
Wajah mereka semua terlihat tegang, bahkan ketika Amayra dan kedua anaknya masuk ke dalam rumah itu. Ketegangan bertambah, ditambah sorot mata tajam kepada Rey.
Sungguh Zahwa berdebar dengan apa yang akan terjadi disana, apalagi sorot mata Diana tampak begitu tajam padanya. Sungguh tidak bersahabat seperti biasanya
"Maaf memanggil kalian malam-malam begini, tapi katanya ada yang ingin disampaikan oleh Rey pada semua orang." ucap Bram pada Amayra dan kedua anaknya.
Pasti Rey akan menyampaikan tentang pernikahannya dan Cleo. Batin Bram.
Mereka bertiga pun duduk di sofa panjang yang ada di depan sofa tempat duduk Bram, Bima dan Rey.
Rey mengambil nafas berat, kemudian dia mulai membuka mulutnya. "Mama, papa, Oma, om dan Tante semuanya...maaf Rey memanggil kalian semuanya kemari. Rey ingin menyampaikan sesuatu."
Pria itu melihat Zahwa yang duduk berhadapan dengannya. Dia menatap Zahwa dengan dalam, lalu tersenyum tipis. Semua orang menjadi penasaran dengan apa yang akan Rey sampaikan, pastinya hal ini sangat penting sampai semua orang diminta datang kesana. Semua keluarga besarnya.
Zahwa, kita harus mengambil resiko dan setiap kemungkinan.
Kak, apa yang akan kakak lakukan?. Zahwa terlihat tegang, dia tidak tahu apa yang akan Rey lakukan.
Rey berjalan mendekati Zahwa didepan sana, Diana langsung berteriak. "Rey! Jangan! Hentikan semua ini!"
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Bram heran melihat istrinya yang tiba-tiba berteriak marah pada Rey. Tidak hanya Bram yang heran, tapi semua orang yang ada disana juga bertanya-tanya ada apa dengan Rey dan Diana.
"Reyndra Aqmar Calabria!" teriak Diana sambil berdiri dari tempat duduknya.
Pria itu tidak mendengarkan Diana, dia tetap berjalan mendekat ke arah Amayra. Lalu berdiri didepan tantenya itu. Amayra menatapnya dengan heran.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan pada kalian semua, bahwa aku akan menikah dan aku ingin meminta restu pada semuanya." ucap Rey sambil melirik semua keluarganya satu persatu.
"Woaw...itu berita yang bagus Rey! Siapa calon kamu?" tanya Anna semangat mendengar kabar baik itu.
"Kami pasti akan kasih restu, malah ini berita yang bagus..." kata Bima sambil tersenyum.
"Makasih om Bima, makasih kak Anna, aku memang sangat membutuhkan restu kalian. Mengenai wanita yang ingin aku nikahi, kalian sudah mengenalnya dengan baik."
Jantung Zahwa semakin berpacu dengan cepat, ketika Rey mengatakan itu sambil menatapnya. Tangannya gemetar, tiba-tiba keringat membasahi wajahnya.
"Calon istriku adalah--"
"Rey! Jangan!!" teriak Diana lagi.
Rey menarik tangan Zahwa, hingga gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berada didalam dekapannya. "Kakak..." lirih Zahwa sambil menatap kakaknya dengan sendu, jujur dia sangat takut.
"Calon istriku Zahwa, aku akan menikahinya."
Semua orang disana langsung beranjak dari tempat duduk mereka, sungguh mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rey. Jelas ucapan pria itu bukanlah sebuah candaan, apalagi Rey terlihat begitu intim dengan Zahwa, tatapannya penuh cinta.
"A-apa yang kamu katakan Rey? Kamu itu akan menikahi Cleo, kenapa jadi Zahwa?" Nilam bersuara lebih dulu sebelum semua orang bicara. Dia sepertinya syok.
"Rey... sebenarnya kamu bicara apa sih?" Ken ikut bicara karena dia bingung dengan ucapan Rey yang ambigu. Masa iya Rey mencintai Zahwa? Gadis yang selama ini hidup seperti adiknya.
"Maafkan Rey, Oma, papa, semuanya....Rey tidak pernah berniat menikahi Cleo. Kami hanya pura-pura, wanita yang Rey cintai adalah Zahwa." kata Rey sambil memegang tangan Zahwa dengan erat dan penuh keberanian.
Amayra menarik tangan Zahwa dari Rey tapi Rey tetap menggenggamnya erat. "Lepaskan tangan kamu Rey! Lepaskan tanganmu dari Zahwa!"
"Maaf Tante, Rey tidak bisa melepaskan Zahwa. Mohon izin Tante, agar kami bisa menikah--"
Brugh!
Bram melayangkan tamparan keras ke wajah Rey, hingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai. Tangannya dan Zahwa pun terlepas.
"Om..om jangan..." Zahwa tidak tega melihat ada setetes darah di sudut bibir Rey. Amayra menahan tubuh anaknya, dia tidak mau Zahwa dekat dengan Rey.
"Zahwa, ini gak boleh...kamu tidak boleh memiliki perasaan seperti itu pada kakakmu!"
"Mama...tapi kak Rey..."
"Bicara apa kamu Reyndra Aqmar Calabria!!" bentak Bram emosi, dia menarik kerah baju Rey hingga pria itu terangkat ke atas.
Rey menatap papanya tanpa takut. "Pa...Rey cinta sama Zahwa, tolong kasih restu buat--"
Bugh!
__ADS_1
Lagi-lagi bogem mentah mendarat di wajah Rey, lalu diperutnya dari tangan Bram. Seumur hidup, Bram tidak pernah memukul Rey dan ini adalah pertama kalinya. Bagi Bram, Rey adalah anak baik dan penurut. Dia cerdas dan selalu menjadi kebanggaan semua keluarga Calabria. Rey tidak pernah punya banyak permintaan, tidak pernah juga dia meminta sesuatu. Tapi kali ini dia meminta sesuatu pada kedua orang tuanya.
"Rey mohon pa....Rey minta Zahwa untuk menjadi istri Rey, Rey mohon...." pinta Rey dengan lirih dan sangat memohon, berharap papanya luluh.
"Kamu boleh minta apapun pada papa tapi tidak dengan MENIKAHI sepupumu sendiri Rey! Bagaimana bisa kamu memiliki perasaan seperti itu pada Zahwa?!" teriak Bram sambil memukuli Rey tapi Rey tidak melawan.
Rey sudah tau bahwa akan seperti ini jadinya.
Zahwa menangis, dia meringis ikut merasakan rasa sakit Rey saat ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Amayra dan Diana menahan dirinya, meminta Zahwa untuk diam dan dia takut.
Disisi lain, Nilam memegang dadanya yang sesak, kepalanya pusing sekali. Anna memegangi tangan omanya.
"Kak Bram hentikan! Kak!" Bima akhirnya turun tangan dan mencoba menghentikan Bram untuk memukuli Rey.
"Om...stop!" Ken dan Zayn juga ikut menghentikan Bram.
"Lepas! Biarkan aku memberikan pelajaran kepada anak ini! Bagaimana bisa dia mempunyai perasaan seperti itu pada sepupunya SENDIRI! Sungguh kotor!" Bram berdecih, di matanya ada kecewa yang besar.
"Pa, aku sama Zahwa bukan sepupu...aku juga tidak ada hubungan darah dengan keluarga ini!"
"Apa kamu bilang?" Bram melotot mendengar ucapan Rey. "KAMU!" Bram hendak menendang Rey dengan kakinya, namun Zahwa menghadang didepannya sehingga Bram tidak jadi melakukan itu.
"Om...Zahwa mohon, jangan pukuli kak Rey lagi... please!" Teriak Zahwa sambil terisak.
"Zahwa, minggir! Biarkan kakak yang selesaikan ini," titah Rey pada Zahwa.
"Mana mungkin aku membiarkan kamu sakit dan berjuang seorang diri kak, hubungan itu di jalin oleh dua orang bukan sendiri." jelas Zahwa sambil menatap pria itu dengan mata berembun, bahkan sebagian air matanya sudah menetes.
Rey menatap Zahwa dengan terharu, ternyata perjuangannya selama ini tidak sia-sia untuk membuat Zahwa luluh. Cintanya terbalas dengan mahal.
Bram dan Amayra semakin marah melihat kedua orang itu berdekatan. Dengan cepat Amayra menarik tangan Zahwa menjauh dari Rey.
"Mama...please, bukan hanya kak Rey saja yang cinta sama aku tapi aku juga sayang sama kak Rey!" tegas Zahwa.
"Cukup ZAHWA!"
Plakkk!
Kali ini Zahwa yang terkena tamparan dari mamanya.
Keadaan disana menjadi tegang, semua orang tua nampaknya tidak menerima hubungan Rey dan Zahwa. Keadaan semakin tegang, manakala Nilam tiba-tiba saja jatuh pingsan.
Brugh!
"Oma!! Oma!!" teriak Anna panik sambil memeluk omanya yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Semua orang berhamburan menghampiri Nilam dengan panik dan cemas.
...*****...