Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 78. Kebohongan terbongkar


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Rencana hanya rencana, pertemuannya dengan klien bisnisnya tidak berlangsung dengan cepat seperti apa yang ia inginkan. Pertemuan bisnisnya dan kesepakatan itu baru selesai setelah 1 Minggu. Waktu yang cukup lama dari yang Rey targetkan yaitu 3 hari.


"Pak, jangan marah-marah terus pak...nanti cepet tua." kata Niko mengingatkan bosnya karena selalu marah-marah beberapa hari ini.


Kini Rey dan Niko sudah duduk di dalam kursi pesawat VIP. Tapi masih saja Rey menyilangkan kedua tangannya di dada dengan kesal.


"Padahal aku ingin berada 3 hari saja disini, tapi kenapa malah jadi 1 Minggu? Terus kenapa penerbangan harus ditunda 2 hari. Arggggh....sial!" gerutu Rey kesal. Entah bagaimana reaksi Zahwa kalau melihat kakka tersayangnya marah-marah seperti ini.


"Sabar pak, nanti udah pulang kita nikah ya."


"Siapa yang mau bilang KITA? Saya gak mau nikah sama kamu, saya masih normal."


"Wah si bapak...jangan ledekin saya yang masih jomblo ini dong kak." Niko terkekeh kecil.


"Makanya kamu cepat punya pacar dong, biar kamu tau bagaimana rasanya jadi saya! Saya ini resah, pengen cepat nikah..." ucap Rey sambil mendesah kesal.


Niko hanya terdiam tidak membalas ucapan bosnya, padahal dia yang duluan pacaran tapi Rey sok menasehati dirinya yang baru putus. Ah sudahlah biarkan saja, bos memang selalu benar.


Niko memuji dengan kesetiaan Rey, meski ada beberapa perempuan yang mendekati Rey selama di Bali. Mungkin para perempuan itu rela memberikan diri mereka untuk Rey, secara sukarela pun jadi. Tapi Rey menolak semua itu bahkan sampai mengancam membatalkan kerja sama dengan kliennya kalau klien bisnisnya itu membawa perempuan.


Nona Zahwa sangat beruntung, masalah kesetiaan pak Reyndra tidak diragukan lagi. Dan juga dia kuat iman.


****


Di Jakarta, rumah sakit tempat Zahwa bekerja. Dari tadi pagi, Jakarta sudah hujan deras, tidak seperti biasanya yang cerah. Zahwa baru saja selesai memeriksa pasiennya yang rata-rata adalah seorang anak kecil. Ya, mungkin karena profesinya sebagai dokter gigi.


Sore itu Zahwa bersiap akan pulang, dia melihat asistennya suster Erin sedang masih membereskan beberapa data pasien. "Sudah, biarkan saja disitu dan segera pulanglah sus!"


"Tapi dok, tugas saya belum selesai." ucap Erin seraya menoleh ke arah Zahwa.


"Tidak apa-apa, biar saya saja yang selesaikan. Bukannya kamu bilang kalau anak kamu sedang sakit? Sana pulanglah suster Erin."


"Tapi..."


"Tidak apa, lagian dikit lagi kan?" tanya Zahwa sambil melihat beberapa dokumen masih menumpuk didepan Erin. Dia kasihan pada Erin yang harus bekerja di usia muda dan sudah mempunyai anak karena hamil di luar nikah, dia jadi teringat dengan mamanya di masa lalu. Apalagi Erin adalah single parent.


Akhirnya Erin menurut pada Zahwa karena dia juga resah meninggalkan anaknya di rumah bersama ibunya. Sebelum pulang Zahwa memberikannya uang untuk ongkos. Erin sangat berterimakasih dan mendoakan kebaikan untuk Zahwa. Terutama dalam pernikahannya nanti. Zahwa juga mendoakannya agar anak Erin cepat sembuh.


2 jam kemudian Zahwa selesai memeriksa dokumen pasien, Zahwa melepaskan jas putihnya dan menyimpannya di ruangan itu. Setelahnya dia membawa tas gendong dan pergi keluar dari ruangannya. Lorong terlihat sepi, pasti para dokter spesialis sudah banyak yang pulang jam segini. Hari itu sudah malam juga.


Tepat saat dia membuka pintu, ia melihat Zainab sedang bicara dengan salah satu dokter kandungan di rumah sakit itu. Zainab menyerahkan amplop berwarna coklat pada dokter itu.


"Makasih ya dok, dokter sudah membantu saya menutupi kehamilan palsu saya." ucap Zainab yang terdengar oleh Zahwa dan membuat gadis itu terbelalak.

__ADS_1


"Iya dokter Zainab, terimakasih juga uangnya. Saya harap dokter Zainab cepat hamil agar suami dokter Zainab tidak jadi meminta cerai lagi."


"Iya dok, semoga ya... bismillahirrahmanirrahim." Zainab menghela nafas, ia tersenyum kecut setelah membayar dokter itu untuk berbohong.


Setelah obrolannya dan Zainab selesai, dokter itu kembali ke ruangannya yang tak jauh dari ruangan tempat Zahwa bekerja. Wajah Zainab memucat saat dia melihat Zahwa berdiri disana dengan gugup. Tanpa mereka sadari Salimah juga ada disana, namun dia bersembunyi ketika melihat Zainab berjalan mendekati Zahwa, ia memperhatikan dua wanita itu dari jauh.


"Kamu udah la-lama berada disini?" tanya Zainab gelagapan, sungguh dia sangat takut pembicaraannya dan dokter itu diketahui oleh Zahwa.


"Iya kak." jawab Zahwa jujur.


"A-apa kamu dengar semuanya?" tanya Zainab semakin takut.


"Iya kak, Kakak tenang aja...aku pasti merahasiakan ini. Tapi dokter itu, dia salah karena telah melanggar kode etiknya." cetus Zahwa dengan sorot mata yang dingin.


"Zahwa...aku mohon jangan--" Tangan Zainab gemetar ketika


"Iya kak, aku akan rahasiakan ini. Aku akan anggap tidak mendengar apapun, tapi aku hanya mengingatkan sesama kaum muslim. Kak berbohong itu tidak baik, Allah jelas melarang kebohongan dalam surat An-nahl ayat 105 dan pangkal dosa adalah kebohongan kak. Semakin kita berbohong, pasti akan ada kebohongan yang lain. Aku harap kak Zainab lebih baik jujur saja." tutur Zahwa mengingatkan pada Zainab untuk jujur pada Raihan.


Zainab malah tersenyum sinis disertai dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu gak usah ikut campur Zahwa, jangan sok mengingatkanku. Kamu gak mengerti perasaanku, karena untuk mempertahankan saja sangat sulit untukku! Sedangkan kamu, apapun yang terjadi padamu dan apapun yang kamu lakukan, selalu ada yang mencintaimu." ucap Zainab terisak.


"Maaf kak, aku bukannya mau ikut campur tapi aku cuma mengingatkan kak. Kalau kakak tidak mau mendengar ya sudah."


Tiba-tiba saja seseorang memeluk Zainab dari belakang. Zahwa juga melihat pria itu yang kini begitu romantis pada Zainab.


"Assalamualaikum istriku, maaf ya tadi mas habis jemput Salimah dulu." kata Raihan dengan tatapan cinta pada Zainab.


"Kamu kenapa Zainab? Apa Zahwa mengatakan sesuatu padamu?" tanya Raihan langsung menuduh Zahwa yang masih berada disana. Sebenarnya dia sudah mau pergi tapi menunggu mengucap salam.


"Tolong ya pak Raihan jangan asal tuduh." ketus Zahwa pada mantan calon suaminya itu.


Ya Allah kak Zainab, kenapa kamu harus melakukan semua kebohongan ini? Padahal aku lihat kalau mas Raihan sudah mulai mencintaimu, lalu kenapa kamu tak sabar?


"Gak mas, aku gak apa-apa dan ini bukan salah Zahwa. Aku cuma kelilipan aja, mas cepat minta maaf sama Zahwa."


"Zahwa, aku minta--"


"Tidak usah. Assalamualaikum," ucap Zahwa ketus, lalu pergi dari sana begitu saja. Dia benar-benar tidak mau terlibat dengan Zainab ataupun Raihan lagi setelah ia menyadari bahwa sifat mereka berdua sama. Asal menuduh dalam sekali lihat.


Ya, bukankah dulu Raihan juga sempat meragukan kesucian Zahwa?


Salimah tersenyum licik mendengar pembicaraan mereka tadi dan fakta yang dia ketahui bahwa Zainab pura-pura hamil. "Haha, sekarang aku punya cara agar aku bisa membongkar rahasia si Reyndra tanpa harus aku yang bicara."


****


2 hari kemudian, Rey yang meminta merengek-rengek mempercepat pernikahan pada semua keluarga. Akhirnya di setujui juga, beruntung setengah persiapan dari pernikahan itu telah selesai dan rencana pernikahan mereka akan di lakukan besok.

__ADS_1


Selama itu Rey dan Zahwa tidak bertemu terlebih dahulu dan mereka berdiam diri di rumah untuk mempersiapkan mental di hari pernikahan mereka. Sengaja tidak saling menghubungi, agar momen pernikahan dan malam pertama mereka menjadi lebih bermakna. Rey juga membatalkan niatnya untuk membongkar kejahatan Zainab, dia takut akan hukum karma.


🌹🌹🌹


Zahwa terdiam melihat gaun pengantin berciri khas muslim itu terpajang di rumahnya, dia tersenyum senang membayangkan akan memakai gaun itu pada hari esok. "Besok aku akan memakai gaun yang di berikan kak Rey untukku...gaun yang indah ini."


Dulu Zahwa menikah memakai kebaya, tapi sekarang dia tidak mau memakai kebaya. Kebaya hanya akan mengingatkannya pada pahitnya tentang pernikahan yang batal dan dia ingin memulai kisah baru dengan Rey dan suasana yang baru tentunya.



Zayn dan Aini yang berada di dekat dapur, melihat Zahwa termenung sambil cengar-cengir disana.


"Sepertinya ada yang gak sabar buat hari besok," celetuk Aini sambil tersenyum.


"Iya, kamu bener woman Hulk. Aku juga gak sabar buat nunggu jawabannya,"


"Huh? Jawaban apa?" tanya Aini seraya menoleh pada Zayn.


"Ungkapan cintaku," jawab Zayn.


"Besok,"


"Apa?" Zayn terdekat dengan jawaban singkat dari Aini.


"Di hari pernikahan Zahwa dan kak Rey besok, aku akan kasih jawabannya."


Aku akan berikan kamu jawab Zayn.


Zayn memalingkan wajahnya kemudian dia tersenyum bahagia. Walau belum mendapatkan jawaban, tapi dia jadi tak sabar menunggu hari esok.


****


Sementara itu di rumah Raihan.


Saat selesai makan malam, Raihan melihat pesan di ponselnya. Wajahnya langsung terlihat marah melihat isi pesan itu.


"Mas, apa kamu mau tidur sekarang?"


"Zainab! Jelaskan apa maksudnya semua ini?" Raihan yang emosi langsung melempar ponselnya ke atas ranjang yang ada Zainab disana.


Awalnya Zainab merasa heran kenapa Raihan terlihat begitu marah setelah membaca isi pesan di ponselnya, akhirnya dia membuka isi ponsel Raihan dan dia melihat video di mana saat dia memberikan uang kepada dokter kandungan. Tentu saja video itu lengkap dengan suara percakapan antara Zainab dan dokter tersebut.


Mata Raihan terlihat murka menatap Zainab, kini wajah Zainab sangat pucat dan ketakutan. "Mas...aku bisa jelaskan semua ini!"


"Jelaskan apa? Kalau kamu pura-pura HAMIL?!" bentak Raihan marah.

__ADS_1


Kacau semua, rahasia Zainab telah terbongkar. Dan apa yang akan terjadi setelah ini?


...****...


__ADS_2