
...🍀🍀🍀...
Kedudukan cinta yang paling tinggi bagi manusia adalah cinta kepada Allah. Jika kita cinta kepada Allah maka Allah akan mendekatkan kita dengan seseorang yang kita cintai.
Umat Muslim yang mencintai Allah akan selalu berusaha untuk mengikuti segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT pada Surat Al Baqarah ayat 165.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat mencintai Allah."
Ada pula cinta kepada manusia, dalam Islam, cinta kepada manusia juga merupakan perwujudan dari cinta kepada Allah. Jika seseorang mencintai Allah, ia juga akan mencintai manusia lainnya. Hal inilah yang mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesamanya.
Alquran menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia agar saling mengenal dan mengasihi. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya “Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Seperti kisah nabi Yusuf as dan Zulaikha, ketika Zulaikha mengejar cinta manusia, maka Allah menjauhkan cinta itu darinya, akan tetapi ketika dia mengejar cinta Allah, maka Allah mendekatkan dirinya dengan nabi Yusuf. Kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwasannya jodoh tidak akan tertukar dan tak akan kemana-kemana. Sebab, jika Allah SWT sudah menakdirkan sepasang manusia untuk berjodoh, maka ia akan senantiasa memberikan jalan sebagaimana Nabi Yusuf dan Zulaikha yang dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan yang sah.
Jadi mungkin Zahwa harus belajar lebih berlapang dada dengan semua fakta menyakitkan ini. Setelah mendengar kabar bahwa Raihan sudah menikah dengan sahabatnya sendiri, sungguh membuat hatinya terluka. Karena dia punya hati, dia punya cinta untuk Raihan, cinta pada manusia ia persembahkan pada Raihan, itu sebabnya ia terluka dan merasakan sakit.
"Zahwa, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rey serius, begitu melihat raut wajah Zahwa yang memutih dan matanya mulai berembun.
Entah aku harus senang atau bagaimana, tapi aku tidak suka melihatmu menangis.
"A-aku gak apa-apa kak." Zahwa segera menghapus air matanya yang akan menetes.
Kenapa Mas? Kenapa kamu jadi menikah dengan kak Zainab? Kenapa juga kamu memberikan harapan palsu padaku? Kenapa semalam kamu mengatakan kalau kamu akan melamarku hari ini? Tapi kamu malah menikah dengan orang lain...mas Raihan. Kata Zahwa sedih dalam hatinya.
"Kita pulang aja ya,"
Gadis berhijab biru dongker itu menggelengkan kepalanya, dia menahan air matanya, berusaha tersenyum walau senyum itu getir. "Kita kesini untuk melayat Alm. ustadz Arifin...masa kita mau pulang lagi?"
"Tapi kamu--"
"Ayo kita masuk kak, pelayatnya sudah sedikit tuh!" Zahwa mengajak kakaknya masuk ke dalam rumah yang lokasinya sama dengan pesantren itu.
Sekarang aku paham kenapa kak Zainab yang menghubungiku. Ternyata sekarang dia adalah istri mas Raihan. Tidak heran.
Dengan langkah tegar, dia berusaha mengesampingkan masalah Raihan dan Zainab.Tujuannya adalah melayat ustadz Arifin.
Zahwa disambut oleh Annisa, ibu tiri Raihan karena semua orang sedang sibuk dan tidak fokus. Bahkan Raihan dan Zainab sampai tidak menyadari kehadiran Zahwa disana.
"Silahkan masuk," ucap Annisa pada Zahwa dan Rey.
Gadis ini cantik sekali, terlihat modis.. tapi rasanya aku pernah melihat dia sebelumnya.
Annisa mengernyitkan kening begitu melihat sosok Zahwa, dia merasa sudah pernah melihat Zahwa sebelumnya. Annisa tidak pernah bertemu Zahwa, lantaran Annisa berada di luar kota dan tak sempat datang ke keluarga Calabria saat lamaran Raihan yang mendadak itu. Jadi dia belum sempat melihat Zahwa dan hanya melihatnya dari foto saja.
Kini Zahwa dan Rey sudah masuk ke dalam rumah itu, mereka duduk berdampingan. Sekuat mungkin Zahwa menahan air matanya, ia dan Rey mendekati ustadz Iqbal lalu mengucapkan belasungkawa, tak lupa Rey memberikan amplop putih pada ustadz Iqbal.
"Kami turut berduka ya, pak ustadz." ucap Rey dengan tatapan sendu pada ustadz Iqbal, saya menunjukkan belasungkawanya.
"Ya, terima kasih nak Reyndra sudah datang kemari dan Zahwa juga..." ucap Iqbal seraya menatap Zahwa yang sedari tadi diam saja.
__ADS_1
"Iya pak ustadz, kalau begitu saya dan Zahwa pamit dulu. Assalamualaikum,"
"Assalamualaikum ustadz," suara Zahwa terdengar begitu parau dan bergetar seperti akan menangis.
"Waalaikumsalam," jawab Iqbal dan Annisa bersamaan.
Begitu Zahwa dan Rey keluar dari rumah itu, mereka berpapasan dengan Zainab yang sedang membawa sekeresek yang entah apa isinya. Zainab terpaku melihat Zahwa dan Rey berada disana. Wajahnya memucat, tangannya gemetar, gerak-gerik misterius seperti ketahuan melakukan kesalahan.
Sedangkan Rey terlihat tidak suka dengan kehadiran Zainab disana. Entah kenapa.
"Assalamualaikum kak Zainab," sapa Zahwa dengan mata berembun.
"Wa-waalaikum salam Zahwa..."
"Kak, selamat ya atas pernikahan kakak dan mas--maksudku pak Raihan. Maaf aku belum menyiapkan kado pernikahan untuk kalian dan seperti yang kakak tau, keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Semoga kalian sakinah mawadah warahmah dan bersama-sama sampai Jannah." Doa Zahwa tulus, seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. Terlihat ada rasa sakit di raut wajah gadis itu saat mengucapkannya.
Astagfirullahaladzim! Jadi Zahwa udah tau semuanya?
Mendapatkan ucapan selamat dari Zahwa, malah membuat Zainab menangis. Tangannya memegang tangan Zahwa , ditatapnya sahabat baik itu dengan sendu.
"Zahwa, sebenarnya aku dan Raihan--"
Pelan-pelan Zahwa menepis tangan Zainab. Perih hatinya dan semua campur aduk di dalam sana. Sesak, sakit, kecewa,sedih.
"Pokoknya selamat untuk kalian. Maaf ya kak, aku harus pulang sekarang."
"Zahwa tunggu!" Teriak Zainab pada Zahwa.
"Dimana Zahwa?" Rey celingukan mencari keberadaan Zahwa di tempat mobil Rey terparkir. Tidak ada Zahwa disana. Rey pun mencari Zahwa ke sekitar pesantren itu, di mobil juga tak ada, Zahwa seperti menghilang tanpa jejak.
"Kamu dimana sih Nemo?" gumam Rey resah, dia mengambil ponselnya di saku kemudian menekan tombol panggilan pada nomor "My nemo"
Tut....Tut...
Hanya nada dering tersambung yang bisa didengar Rey, tapi tak ada jawaban dari Zahwa. Sampai dia masuk ke dalam mobil dan menemukan tas, juga ponsel Zahwa ada disana. "Pantas saja dia tidak mengangkat telpon dariku, ya Allah...kamu kemana Zahwa?" resah Rey cemas pada Zahwa.
Rey pun pergi dari sana saat ia sudah yakin bahwa Zahwa tak ada disana. Dia berhusnudzan mungkin Zahwa pulang sendiri ke rumahnya.
*****
Dugaan Rey benar, Zahwa memang pulang sendiri tapi dia tidak pulang ke rumah. Dia menaiki taksi dan tak tahu mau kemana, rasanya kalau pulang ke rumah dia malah akan membuat keluarganya sedih karena tak bisa menahan tangis. Perasaan sedih dan kecewa Zahwa saat ini tidak bisa dikendalikan.
Wajar kan jika seorang manusia mengalami kecewa? Bersedih? Asalkan tidak berlarut-larut di dalam kesedihan itu. Kini Zahwa sedang mengalami fase yang namanya sakit hati.
Gadis itu menangis tanpa suara, tanpa sadar si supir taksi melirik Zahwa yang menangis dan terlihat sekali dia sedang galau.
"Neng, jangan sedih neng...bapak gak tau neng ada masalah apa...tapi jangan nangis ya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya."
"Ma-makasih pak," buru-buru gadis itu menyeka air matanya, rasanya dia sedikit malu karena ketahuan menangis oleh orang asing yang baru pertama kali bertemu dengannya.
"Semangat ya neng!" kata pria paruh baya itu seraya tersenyum.
__ADS_1
"Hehe, iya pak...saya jadi malu nih ketahuan nangis sama bapak." Gadis itu tersenyum, sembari terisak.
"Gak apa-apa neng, bapak gak larang neng nangis kok...bapak cuma mau bilang, sedih boleh tapi jangan berlalu terlarut dalam kesedihan." nasehat pak supir pada Zahwa.
"Insya Allah pak, makasih pak." Zahwa membenarkan apa yang dikatakan oleh supir itu.
Kemudian Zahwa memutuskan untuk pergi ke kosan temannya yang bernama Aini. Dia akan menenangkan dirinya disana sekaligus curhat pada salah satu sahabat baiknya itu.
Nuraini Asiyah, adalah sahabat Zahwa saat kuliah. Namun mereka berbeda jurusan, Aini mengambil jurusan manajemen sedangkan Zahwa fakultas kedokteran, bagian dokter gigi. Aini berasal dari Padang dan mengharuskannya untuk kos di Jakarta demi menempuh pendidikan.
Aini terkejut sekaligus bahagia melihat sahabatnya berkunjung, tapi senyumnya hilang begitu melihat Zahwa menangis."Zahwa? Kamu--"
"Ai..." Zahwa memeluk sahabatnya sambil menangis. Aini bisa merasakan ada yang basah di bajunya.
"Zahwa, kamu kenapa?" tanya Aini heran.
"Huahhh...hiks...hiks..." gadis itu terisak.
"Masuk ke dalam dulu yuk!" ajak Aini pada sahabatnya. Gadis yang memiliki mata belo itu mempersilahkan Zahwa untuk masuk ke kosannya.
Aini menjamu Zahwa, dia membawakan segelas teh yang hangat untuk sahabatnya itu. Mereka duduk di atas karpet, karena disana tak ada sofa. Hanya ada kasur, kamar mandi kecil dan dapur kecil saja. Tidak ada ruang tengah, ya namanya juga kosan.
Dilihatnya wajah Zahwa yang merah dan manganya yang sembab. "Kamu kenapa nangis? Aku heran loh lihat kamu nangis, biasanya kamu gak nangis kayak gini?" Aini keheranan sebab Zahwa yang dia kenal tidak akan menangis seperti ini.
"Aku gak apa-apa," jawab Zahwa seraya menggelengkan kepalanya, dia menyimpan cangkir yang ada di atas meja.
"Apa ini gara-gara Raihan lagi?" tanya Aini ketus, kalau mengingat pria bernama Raihan. "Tidak ada jawaban berarti bener gara-gara dia?" tanya Aini lagi.
"Beraninya dia nyakitin hati kamu lagi dan lagi! Lelaki yang terlihat baik tidak selalu membuat bahagia, aku kan sudah pernah bilang sama kamu."
"Aku tau tapi aku cinta sama mas Raihan," lirih Zahwa sedih.
"Terus sekarang masalahnya apa?"
"Aku...bakalan move on dari mas Raihan,"
"Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu sama Raihan udah sepakat mau berjuang?" kata Aini tanpa sensor menyebutkan kata kak di depan nama Raihan, padahal Raihan lebih tua darinya. Itu karena dia kesal pada Raihan yang malu mengecewakan sahabatnya, Zahwa.
Dengan berat hati Zahwa mengatakan bahwa Raihan sudah menikah, Aini terkejut bukan main saat mendengarnya sekaligus tak menyangka dengan semudah itu Raihan berpaling. Ketika Aini mengoceh, mengutuk, merutuki Raihan, Zahwa membaringkan tubuhnya di atas karpet hingga ia jatuh tertidur.
*****
Ketika Zahwa tertidur, semua orang sedang panik mencarinya. Mereka tau Zahwa tidak mungkin melakukan hal yang bodoh, tapi cemas ya tetap saja cemas. Apalagi Zayn si brother complex.
Bahkan hari sudah menjelang sore, kedua pria itu masih mencari Zahwa. Mereka menutupi Zahwa yang pergi tanpa kabar dari Amayra. Zayn bahkan sampai berbohong tentang Zahwa yang sedang mengerjakan tugas di rumah temannya.
"Gimana kak? Zahwa udah ketemu?" tanya Zayn cemas pada Rey.
"Belum Zayn, kamu tau gak nama teman-temannya atau kontaknya?" tanya Rey pada Zayn.
"Ehm....mungkin gak sih, kalau Zahwa pergi ke rumahnya?" gumam Zayn bingung.
__ADS_1
...****...