
...πππ...
Dengan perasaan malu, Zahwa bersembunyi dibalik dekapan Rey. Terdengar bisik-bisik beberapa orang disekitarnya yang membicarakan pasangan pengantin baru itu yang membuat Zahwa semakin malu dan rasanya ingin menggali lubang saja lalu bersembunyi disana.
"Mas, si mas bucin banget ya sama istrinya hehe sampai digendong kayak gitu." Celetuk seorang wanita paruh baya yang naik lift bersama dengan Rey dan Zahwa. Disebelahnya ada pria paruh baya yang menemaninya.
"Mau gimana lagi mbak? Saya udah nunggu istri saya 14 tahun dan dia baru terima cinta saya, saya langsung aja ajakin nikah!" Pria itu sedikit curhat pada si ibu yang bahkan tidak dikenalnya.
"Oh ya? 14 tahun? Lama banget ya Mas, luar biasa banget...cinta selama itu bisa bertahan sampai sekarang ya Mas?" Wanita paruh baya itu terkejut dengan pengakuan Rey, dia tidak menyangka bahwa pria muda yang bucin ini telah mencintai istrinya selama 14 tahun.
"Iya Bu, insya Allah sampai selamanya." Jawab Rey tanpa keraguan sedikitpun dalam bicara maupun dari bahasa tubuhnya. Ya, dia memang sangat mencintai Zahwa dan tentunya ingin bersama dengan gadis itu selamanya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Zahwa saat ini ketika mendengar ucapan Rey. Hatinya seperti dipenuhi oleh ribuan bunga, jantungnya berdegup begitu kencang.
Haru.
Bahagia.
Bagaikan di bawa terbang ke atas awan.
Zahwa masih dalam posisi digendong oleh Rey namun dia tidak berani untuk memalingkan wajahnya dan masih sembunyi.
"Aamiin, saya doakan ya Mas...semoga pernikahan mas dan istri Mas langgeng," ucap si ibu itu sambil mengatupkan kedua tangannya dan mendoakan mereka dengan tulus.
"Aamiin Bu, terimakasih."
"Tuh Pih, jangan kalah sama yang muda...gendong mami juga dong pah?" wanita paruh baya itu mengulurkan kedua tangannya dan meminta digendong oleh suaminya.
"Ah si mimih mah, malu atuh mih udah tua ah!" Cetus suami si ibu dengan wajah malu-malu meong.
"Bukannya kita kesini biar gak kalah sama yang muda pih?" Wanita paruh baya itu bergelayut manja pada lengan suaminya yang memiliki kumis tipis dibawah hidungnya.
"Si mimih ah..."
"Apa sih pih? Ini sudah 20 tahun kita berumah tangga loh pih," ucap si wanita itu sambil mengecup suaminya tanpa peduli berada dimana. Kemudian Zahwa pun melihat pasangan suami istri itu karena penasaran.
Wanita paruh baya itu kemudian mendekat kepada Zahwa dan berbisik di telinganya. "Nak...kamu harus ingat ya untuk selalu menyenangkan suamimu, biar suamimu betah di rumah dan belajar juga soal goyangan. Sekarang kamu memang malu-malu tapi nanti kamu pasti mau-mau..hahaha.."
Zahwa tidak paham apa yang dikatakan oleh si wanita paruh baya itu tentang goyangan, dia malah tersipu malu dengan wajah yang bersemu merah.
Ting!
Pintu lift pun terbuka dan ternyata Rey Zahwa juga satu lantai dengan wanita dan pria paruh baya itu. Mereka masih terlihat romantis meski sudah berusia 50 Han.
"Kak turunkan aku..."
"Bentar lagi sampe sayang, aku gak mau kamu capek." Rey masih setia menggendong Zahwa menuju ke kamar mereka yang ada di ujung.
"Tapi kakak yang capek, aku kan berat kak!"
__ADS_1
"Ini bukan apa-apa, lebih berat kalau kamu gak peka peka." Celetuk Rey sambil tersenyum.
"Ih apaan sih kak!" Dengus wanita cantik itu dengan kening berkerut menatap Rey.
Mereka pun sampai di dalam kamar hotel dan disitulah tempat yang akan menjadi Rey dan Zahwa. Rey merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati. Tadinya Rey berniat untuk pergi ke kamar mandi, namun melihat istrinya yang cantik dan masih dalam balutan gaun pengantin, membuat Rey sayang untuk meninggalkannya.
Pelan-pelan dia mendekati Zahwa dan duduk disampingnya, kedua netra pasangan pengantin baru bertemu dan saling pandang dalam keadaan yang menggebu.
Zahwa semakin malu dibuatnya, ia pun membalikkan wajahnya dari Rey.
"Kak...kakak keringetan tuh, apa kakak gak mau--hmph--"
Rey membelai wajah Zahwa, dia memagut bibir gadis itu pelan-pelan dengan ritme yang standar menurutnya. Zahwa yang belum bisa mengimbangi ciuman itu, hanya bisa terdiam dan menutup mulutnya.
"Zahwa buka mulutmu," ucap Rey di sela-sela ciuman mereka.
"Oh...harus buka ya kak?" tanyanya polos. Kepolosan yang membuat Rey semakin tergila-gila padanya.
"Iya sayang," jawab Rey sambil tersenyum tipis.
Zahwa menurut pada suaminya dan membuka bibirnya, memberikan akses untuk Rey menjelajah di dalam sana. Kemudian mereka berdua menikmati ciuman itu, menyesap manisnya bibir dan cinta didalam hati mereka yang kini tersalurkan.
Ciuman itu terpaksa harus berakhir karena Zahwa mendorong pelan tubuh suaminya.
"Kak....udah ya, kakak ke kamar bersihkan dulu sana."
Kata mama sama mama Diana, aku harus buka dulu isi koper warna merah sebelum malam pertama dan jangan biarkan kak Rey sampai tahu.
"Aku gak mau cium kakak kalau kakak keringetan dan bau acem."
"Aku bau acem?" Rey mengendus tubuhnya sendiri, memang bau asem seperti apa yang dikatakan Zahwa.
"Iya, jadi kakak harus bersihkan diri Kakak di kamar mandi dan berganti baju! Aku tunggu disini kak," ucapnya tegas.
"Haaahh...ya udah deh Nemo ku sayang, kakak ke kamar mandi dulu mau mandi bentar walau nanti juga mandi lagi." Rey beranjak dari ranjang itu kemudian dia meninggalkan Zahwa sendiri di sana.
Setelah yakin pintu kamar mandi telah tertutup rapat, Zahwa buru-buru membuka koper warna merah yang ada di atas sofa. Sebelumnya Amayra dan Diana berpesan bahwa dia harus membuka koper itu sebelum akan melakukan malam pertama dan memakai yang ada didalamnya.
"A-APA ini? Apa aku harus pakai yang kayak gini? Idih!" Zahwa bergidik ngeri saat melihat segitiga pengaman berenda dan juga penyangga dua benda sintal milik wanita yang terlihat seksi, bahkan ada pakaian tidur yang sangat tipis di sana. "Gak, aku mau pakai pakaian yang lain. Malu dong aku pakai pakaian kayak gini!"
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak memakai pakaian yang ada di sana. Ia pun mencari-cari pakaian lain yang ada di dalam koper itu, pakaian yang lebih tertutup, namun tidak ada juga dan hanya ada pakaian itu.
"Ah....gimana ini? Bajunya gak ada lagi," gerutu Zahwa dengan bibir yang mengerucut.
Tanpa Zahwa sadari, seseorang melihatnya sambil tersenyum dari balik pintu kamar mandi. "Mama Amayra sama mama Diana paling bisa ngerjain orang, pasti ada bumbu bumbu dari Selina juga."
Tiba-tiba saja Rey sudah memeluk istrinya dari belakang.
"Kakak..."
__ADS_1
"Lagi apa sayang?"
Seketika Zahwa langsung panik, dia hendak melepaskan pelukannya dari Rey namun sekuat tenaga Rey menahannya.
Astagfirullahaladzim! Kakak pasti sudah lihat barang-barang ini.
"Kak lepasin! Aku mau--"
"Wah...kakak gak nyangka ternyata kamu sudah mempersiapkan malam pertama kita? Pakaian ini, lalu..." Rey dengan sengaja mengacak-acak isi koper itu dengan satu tangannya dan satu tangannya yang lain memeluk erat tubuh Zahwa agar tidak bisa bergerak. Sungguh Zahwa sangat malu dengan Rey yang mengacak-acak dan menunjukkan baju itu satu persatu. "Kayaknya kamu cantik kalau pakai ini,"
"Kakak..." gumam gadis itu malu, matanya mulai berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Hey...kamu kenapa sayang?" Diraihnya dagu Zahwa hingga mereka duduk berhadapan. "Jangan nangis sayang, aku tidak akan memaksa kamu memakainya kok." Bujuk Rey pada istrinya yang hampir menangis itu.
"Kata kakak aku cantik pakai pakaian itu, kakak mau aku pakai itu?" Tunjuk Zahwa pada pakaian terbuka yang kini sudah berceceran di lantai.
"Tidak sayang, tidak! Sebenarnya gak pakai apapun juga kamu tetap cantik," Rey menggelengkan kepalanya, dia bicara asal ceplos agar istrinya tidak sedih lagi.
Sontak mata Zahwa melotot mendengar ucapan suaminya. "Jadi maksudnya aku cantik kalau telanjang gitu?! Ih dasar MESUM!" Zahwa memukul-mukul dada bidang suaminya dengan kesal.
"Ampun sayang! Maksudku bukan gitu!" Teriak Rey pada istrinya.
"Ah kakak mesum!"
"Kyaakk!!"
Tak lama kemudian terdengar teriakan Zahwa, gadis itu oleng karena menginjak gaun pengantinnya yang panjang. Akhirnya dia terjatuh bersama Rey ke atas ranjang dengan posisi Zahwa berada di bawah tubuh suaminya.
"Kak..."
"Mas, aku mau dipanggil Mas atau sayang, aku bukan hanya kakakmu, aku suamimu sekarang." Kata Rey sambil membuka satu persatu hiasan yang masih terpasang di kerudung Zahwa.
"Hem...harus ya panggil Mas?" tanya gadis itu polos.
"Latihan dulu sayang, coba panggil Mas." titah Rey sambil membantu Zahwa melepas kerudungnya.
"Ehm...Mas," gumam Zahwa pelan.
Rey tersenyum, lalu dia kembali memagut bibir istrinya telah menjadi candu itu. Zahwa balas memagutnya. "Akhirnya mimpiku jadi nyata juga,"
"Mimpi apa Mas?"
"Memeluk dan mencium bibirmu seperti ini, akhirnya langit mengizinkannya dan sekarang aku juga memilikimu Zahwa." Pria itu membelai rambut panjang Zahwa yang kini sudah tanpa hijabnya.
Zahwa tersenyum, kemudian tangannya meraih wajah Rey. "Terima kasih Mas, mas sudah menungguku selama ini dengan sabar."
"Zahwa, apa--kamu sudah siap untuk malam ini?" Tanya Rey dengan tatapan nanar kepada istrinya.
"Aku siap Mas, untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dan bersatu denganmu, Mas."
__ADS_1
...*****...
Tahan tahan...sampai sini dulu ya βΊοΈβΊοΈπ