
...🍀🍀🍀...
Erin melihat Zahwa tersenyum sendiri, seperti matahari yang baru saja terbit setelah pagi itu Zahwa terus cemberut entah kenapa. Rupanya sebuket bunga dan kartu ucapan dari sang suami adalah obatnya.
Namun baru saja tersenyum sebentar, senyuman Zahwa kembali terbenam. Hingga membuat Erin bertanya-tanya apa yang membuat Zahwa begini.
"Dokter Zahwa gak apa-apa kan? Kok cemberut lagi sih dok?" tanya Erin penasaran dengan raut wajah Zahwa yang berubah-ubah alias mood swing mungkin disebutnya begitu.
"Gak apa-apa suster Erin, kita istirahat makan siang dulu yuk sus!" ajak Zahwa pada bawahannya itu.
"Tapi dok nanti kalau kita barengan istirahatnya, kalau ada pasien gimana dok?" tanya Erin pada Zahwa.
"Oh ya benar juga,ya udah kamu makan sama shalat duluan nanti baru saya nyusul."
"Eh bukannya kebalik ya? Dokter aja yang duluan..." tolak Erin yang melihat Zahwa tampak lelah.
"Gak apa-apa sus, suster aja yang duluan. Saya juga mau lihat-lihat data pasien dulu." ucap Zahwa sambil tersenyum lebar.
Akhirnya Erin pergi lebih dulu untuk shalat dhuhur dan makan siang. Sementara Zahwa masih ada di ruangannya, karena masih marah dan ada tiga orang yang meminta maaf, tadi pagi Zahwa tidak sempat membuatkan makanan untuk suaminya. Dia ingin mengirimkan pesan pada suaminya agar tidak lupa makan siang, tapi dia gengsi karena masih marah.
Dia hanya memegang ponselnya sambil memandang nama yang tertera di ponselnya, si kulkas 15 pintu ❤️. Sungguh nama yang romantis atau mungkin sebaliknya.
"Pasti dia udah makan siang sama pak Niko," gumam Zahwa sambil menatap layar ponselnya seperti menunggu sesuatu. Ya, dia menunggu pesan atau telepon dari suaminya.
Tak lama kemudian, pucuk dicinta Rey pun tiba. Ponsel Zahwa berbunyi dan panggilan telepon itu dari suaminya. Zahwa tersenyum lebar dan di langsung mengangkat panggilan itu dengan semangat.
"Assalamualaikum sayang," sapa Rey dengan lembut.
"Waalaikumsalam mas." jawab Zahwa dengan cepat.
"Semangat banget balas teleponnya sayang, kamu udah nunggu telepon dari bang Rey-bin ya?" goda Rey pada istrinya, bibirnya senyum-senyum tapi sayangnya Zahwa tak bisa melihat itu. Dia senang sekali Zahwa langsung mengangkat telponnya. Seperti apa yang dikatakan Nilam, Zahwa mungkin kesal tapi tidak sampai membenci dan pastinya akan memberi maaf.
Tebakannya memang benar, Zahwa memang menunggu telpon dari kekasih hatinya itu. Tapi mana mungkin Zahwa mengaku? Dia kan masih dalam mode marah berselimut jaga image.
__ADS_1
Di seberang sana Zahwa tersipu, menyembunyikan tawanya mendengar kata Rey-bin keluar dari bibir suaminya yang terdengar menggelikan. "Mas nelepon aku cuma buat ngomong gini doang?"
"Nggak sih, cuma aku kangen kamu sekalian mau nanyain Suzy nya aku udah makan belum?" tanya Rey dengan suara yang lembut.
"Ih...apaan sih Suzy! Namaku Zahwa, Zahwa..." gerutu Zahwa yang geli mendengar suaminya menyebut dirinya dengan Suzy.
Kenapa kak Rey sekarang banyak bicara ya? Banyak bercanda juga, padahal dulu dia kan juteknya minta ampun...kok sama aku beda?. Batin Zahwa merasa ada yang berbeda dengan Rey setelah menikah jadi makin manis dan hangat.
"Hehe...aku bercanda sayang, jadi kamu udah makan belum?" tanya Rey pada istrinya perhatian. Rey tidak bertanya tentang shalat istrinya karena dia percaya Zahwa tidak akan melalaikan kewajibannya sebagai orang muslim.
"Belum,"
"Kenapa belum? Nanti maag kamu kambuh lagi loh...ya udah kalau gitu, makan siang sama aku yuk?"
"Gak usah Mas, aku sibuk di rumah sakit. Bentar lagi aku juga makan kok, aku nunggu suster Erin." tolaknya sopan.
"Makan sekarang sayang, Oppa tidak mau kamu sakit...Oppa kan sarangeyo sama kamu sayang."
"Ya udah kamu makan, mas juga mau makan sama Niko...bentar lagi mas ada rapat. Sekalian mas mau ngabarin kalau mas tidak pulang nanti sore tapi agak malam."
"Ya udah mas," jawab Zahwa singkat tanpa bertanya apapun pada suaminya. Ya suaminya pasti sibuk setelah meninggalkan pekerjaan selama 3 hari di kantornya. Zahwa paham itu karena Rey masih menjadi Presdir Calabria grup.
"Iya sayang, marahnya jangan lama-lama...aku tau kamu kecewa, tapi aku harap ini tidak berlarut-larut sayang. Kita baru menikah dan aku pengen kita saling menyalurkan cinta yang terpendam selama ini."
Tidak ada respon dari Zahwa, hanya hening yang terasa. Memang mereka baru menikah selama beberapa hari, tidak mungkin mereka terus seperti ini. Pengantin baru seharusnya sedang hangat-hangatnya
Tok,tok,tok!
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu dan membuat Zahwa menoleh ke arahnya.
"Permisi dokter," ucap seorang wanita tua pada yang berdiri diambang pintu itu kepada Zahwa. Zahwa tersenyum menyahuti wanita tua itu.
"Maaf mas, aku tutup dulu teleponnya. Ada pasien yang datang,"
__ADS_1
"Iya sayang, jangan lupa makan ya. I love you..." ucap Rey lembut penuh kasih.
"Mas juga jangan lupa makan," sahut Zahwa. "Assalamualaikum Mas." ucapnya kemudian.
"Waalaikumsalam bidadari surgaku." jawab Rey seraya tersenyum. Ia lega setidaknya Zahwa tidak diam seperti semalam, ini pasti karena serangan Rey-binnya tadi pagi. Ternyata tingkah konyolnya sedikit membuahkan hasil.
Rey berharap bahwa Zahwa bisa cepat-cepat memaafkannya.
****
2 hari kemudian....
Setelah permintaan maaf kepada Zahwa, Salimah Raihan dan Zainab sama-sama merenungi kesalahan mereka dan mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Salimah yang paling merasa bersalah, dia langsung berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan sesuatu untuk masa depannya. "Jadi gimana keputusanmu Salimah?"
"Iya Abi, Imah akan memperbaiki dan Imah juga akan menuruti permintaan Abi untuk menikah dengan ustad Fahri." ucap Salimah patuh.
Annisa, Raihan dan Zainab tercengang mendengar ucapan Salimah yang pasrah dengan keputusan Iqbal. "Salimah, kamu bisa memikirkan ini baik-baik...Abi tidak akan memaksa kamu,"
"Ustad Fahri adalah pria yang baik, mungkin beliau bisa membimbing Imah ke jalan yang lebih baik lagi. Itupun bila istri pertamanya merestui Imah untuk menjadi istri kedua ustadz Fahri." tutur Salimah dengan mantap.
"Imah..." lirih Annisa yang tidak rela anaknya mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua. Entah apa yang ada di pikiran Salimah kenapa dia bisa memutuskan hal seperti ini.
"Umi, semua ini Imah lakukan untuk menguji kesabaran Imah dan juga meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT...umi tolong terima keputusan Imah." kata Salimah sambil melirik ke arah Annisa yang sudah berkaca-kaca.
"Haahh...ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Abi akan menerima lamaran ustadz Fahri, istri pertamanya juga sudah setuju." jelas Iqbal sambil menghela nafas panjang.
...****...
Hai Readers sambil nunggu up novelku mari mampir sini karya kak RINI SYA ❤️🙈🙈😉
__ADS_1