Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 70. Zayn cemburu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


1 Minggu kemudian, setelah pertunangan Zahwa dan Rey. Kedua pasangan yang telah terikat dengan tali pertunangan itu menjadi jarang bertemu karena kesibukan Rey sebelum dia menikah nanti.


Sebagai pimpinan dari perusahaan Calabria group dan wakil dari papanya Bram, tentu pekerjaannya tidak mudah dan tidak santai. Bebannya sebagai pemimpin perusahaan yang menaungi ribuan karyawan, tentulah membuat Rey sibuk.


"Rey jangan lupa, kalau kamu ada pertemuan dengan klien di Bali " kata Bram pada Rey setelah selesai rapat dewan direksi di kantor pusat Calabria grup. Tempat dimana Bram bekerja, sedangkan Rey bekerja di kantor cabang.


"Pa...apa tidak sebaiknya kalau Zayn juga ikut denganku?" tanya Rey yang tidak mau sendirian pergi ke Bali. Pastinya disana dia tidak sebentar.


"Rey, Zayn harus mengurus perusahaan yang ada di sini selama kamu tidak ada dan dia masih belum siap untuk mengatur perusahaan. Ijazahnya saja belum keluar, nanti setelah Papa yakin kalau dia siap untuk menjaga perusahaan ini, barulah papa akan melepaskan kamu." Jelas Bram seraya tersenyum kepada putranya yang akan segera menikah 3 minggu lagi.


"Pa...tolong jangan siksa aku seperti ini, aku tidak bisa jauh-jauh dari Zahwa." rengek pria itu kepada papanya. Sudah beberapa hari dia tidak bisa bertemu dengan Zahwa karena kesibukannya.


"Hahaha...sabar dong Rey, anggap saja ini ujian antara kamu dan Zahwa sebelum menikah. Setelah semua pekerjaanmu selesai, papa akan berikan hadiah untuk kamu dan Zahwa."


"Hadiah? Apa itu pa?"


"Ya, nanti saja papa beritahu...soalnya ini kejutan!" Seru Bram sambil tersenyum lebar.


Rey terdiam dan berpikir untuk menemui Zahwa malam ini di rumahnya. Dia akan pamitan pada tunangannya itu sebelum pergi ke Bali.


Setelah rapat, Rey berjalan bersama Niko ke ruangannya. Di dalam perjalanan, Rey melihat Salimah seperti biasanya mencoba mendekati Zayn tapi pria itu menolaknya mentah-mentah. Malah dia mendekati Aini yang berada di tempat lain di perusahaan itu


Rey tau sekeras apapun dia membantu Salima untuk mendapatkan cinta Zayn, semua itu tidak berguna karena hati Zayn sudah terpaut pada Aini. Dan seringkali Rey mendapatkan pesan ancaman dari Salimah karena penolakan Zayn.


Presdir Calabria grup itu mengabaikan Salimah dan Zayn, lalu masuk ke ruangannya dengan cuek.


"Zayn, kita makan siang bareng yuk?" ajak Salimah pada Zayn yang sedang mencoba menelpon seseorang.


"Maaf, aku gak bisa Salimah." Zayn menolak Salimah dengan ketus.


"Zayn, aku mohon...aku gak ada temen disini yang bisa aku ajak makan bareng."


"Haaahh...ya udah, ikut sama aku makan siang sama Aini juga!" seru Zayn setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Salimah tersenyum tipis, walaupun ada kata Aini disana. Tapi Salimah senang karena Zayn menerima ajakannya untuk makan siang bersama. Mereka pun turun untuk makan siang bersama di kantin kantor.


Ting!


Ketika Salimah dan Zayn juga seorang karyawan lain keluar dari lift. Tiba-tiba saja mata Zayn berubah menjadi tajam ketika melihat Aini sedang berdekatan dengan seorang pria dalam satu meja yang sama.


Hatinya bergemuruh, ada api yang membakar dirinya. Api itu bernama cemburu. Dia tidak dapat menahan rasa cemburunya lagi saat melihat pria itu memegang tangan Aini.


Zayn pun bergegas menghampiri Aini dan pria itu dengan marah dan meninggalkan Salimah sendirian di sana. Dia pun duduk didepan tempat Aini duduk bersama karyawan pria tersebut. Salimah juga ikut duduk disamping Zayn.


Mata Zayn melotot pada Aini, seperti akan menerkamnya. "Kenapa si piktor menatapku seperti itu? Apa dia kelaparan?"


Dasar woman Hulk keganjenan! Mau-maunya dia dipegang-pegang gitu sama cowok ditempat umum? Gak inget sama hijabnya apa? Astagfirullah...

__ADS_1


Sedari tadi Zayn mendengus kesal melihat pria itu dan Aini duduk bersampingan bahkan terlihat sangat dekat.


Aini segera melepaskan tangannya dari pria itu. "Makasih ya kak Rian." ucap Aini sambil tersenyum ramah.


"Kamu gak usah sungkan, aku senang bisa bantu kamu dek..." Rian mengusap kepala Aini dengan lembut dan menatapnya hangat. Aini balas tersenyum ramah lalu memakan makanannya dengan lahap tanpa menyapa Zayn.


Sebenarnya Aini juga merasa keki karena kemana-mana Zayn selalu bersama dengan Salimah. "Huh, tadi kamu bilang mau makan siang denganku. Tapi...rupanya kamu datang lagi bersama Salimah? Dasar piktor pembohong!"


Zayn mengangkat alisnya, tatapan matanya semakin tajam melihat Aini terlihat mesra di matanya bersama pria itu.


"Eh...pak Zayn, maaf saya belum menyapa pak Zayn hehe." Rian nyengir, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia lupa ada Zayn dan Salimah disana dan baru menyapa.


Zayn cuek saja dan tidak menjawab Rian karena kesal.


"Zayn, kamu mau pesan apa? Biar aku ambilkan ke tempat cateringnya." ucap Salimah perhatian.


"Apa aja YANG PEDES." jawab Zayn dengan intonasi suara yang meninggi.


Salimah menatap Aini dengan kesal, dia kesal karena Zayn tetap memperhatikan Aini meskipun dia ada disisinya.


****


Sore itu saat semua karyawan sudah pulang, terlihat Aini jalan bersama dengan Rian di depan kantor dan Zayn melihatnya terasa panas.


"Aduh... ternyata Aini sudah dekat sama pak Rian ya? Mereka cocok banget kan?" Kata Salimah memanasi Zayn seraya tersenyum manis.


Seperti biasanya Zayn selalu dingin pada Salimah, apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh Salimah, Zayn sama sekali tidak peduli.


Astagfirullah, aku tidak bisa menahan ini lagi.


Pria itu bergegas mendekati Aini, lalu dia menarik tangannya. "Zayn!" pekik gadis itu terkejut manakala tangannya di tarik-tarik oleh Zayn.


"Kita harus bicara, Ai!" ajaknya tegas.


"Maaf, tolong lepaskan dek Aini..." Rian mengerutkan keningnya, melihat sikap kasar Zayn pada Aini. Rian menarik tangan Aini dan tak sengaja mendekap tubuh gadis itu.


Zayn terperangah melihatnya, kemudian dia memukul Rian hingga pria itu tersungkur. Aini pun menjadi marah karena Zayn memukul Rian.


"Zayn, kamu apa-apaan sih!" Aini mendorong tubuh Zayn dengan kesal. Sementara itu Salimah menonton semuanya dengan senyum menyeringai.


"Kamu yang apa-apaan! Apa pantes kamu dekat-dekat sama dia? Pegang-pegangan tangan, hah?" bentak Zayn pada Aini kesal, sedari tadi dia menahan amarahnya itu.


"Aku dekat-dekat sama kak Rian kenapa kamu marah? Aku juga gak marah kamu dekat-dekat sama Salimah."


"Oh jadi kamu cemburu!" Serka Zayn marah.


"Cemburu? Siapa yang cemburu?" sangkal Aini sambil membantu Rian untuk berdiri.


"Udahlah ngaku aja, Ai!"

__ADS_1


"Hah...kamu kepedean banget ya piktor!" tandas Aini semakin kesal dengan sikap Zayn yang menurutnya tidak kelas itu. "Kak ayo kita pulang!" ajaknya pada Rian yang sudut bibirnya terluka akibat bogem mentah dari Zayn.


"Kamu mau pulang sama dia, hah?!" suara Zayn kembali meninggi.


"Apa aku gak boleh pulang sama sepupu aku sendiri?"


Zayn langsung tercengang mendengar pengakuan Aini bahwa Rian adalah sepupunya. "Se-sepupu?"


"Ya, saya kakak sepupunya Aini." balas Rian menjawab kebingungan Zayn.


Mendengar jawaban Rian, Zayn pun tersenyum malu. Dia telah salah menilai orang, dia pikir pria itu adalah saingan cintanya. Padahal ternyata Rian adalah orang yang harus ia ambil hatinya.


Bodoh kamu Zayn, bodoh banget!


"Ehm..."


"Minta maaf sama Kak Rian!" tegas Aini dengan atensi tajam pada Zayn. Namun melihat Aini yang galak itu, Rian malah tersenyum.


Zayn pun meminta maaf pada Rian dan sikapnya berubah 180 derajat pada pria itu. Bahkan Zayn sampai menawarkan biaya rumah sakit pada Rian, tentunya Rian menolak karena lukanya hanya luka kecil tak perlu sampai dibawa ke rumah sakit.


Rian pun sengaja pulang duluan dan meninggalkan Aini dengan Zayn, sebab arah kosan mereka berbeda dan berkebalikan. Jangan lupakan disana masih ada Salimah yang menonton semuanya.


"Maaf ya woman Hulk, aku udah marah-marah..."


"Jadi kamu sadar, kamu salah?" Aini menatap tajam pada Zayn.


"Iya maaf." Sekali lagi Zayn meminta maaf.


"Kenapa kamu marah sama kak Rian?"


"Ehm...itu..."


...Zayn, kakak sarankan agar kamu jujur saja. Cewek macam Aini itu sama seperti Zahwa, mereka gak akan peka sebelum kita bicara dengan jelas. Jadi jangan ragu untuk menyatakan perasaanmu....


Kata-kata Rey masih terngiang jelas di kepalanya. Sebenarnya dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya dalam keadaan seperti ini, tapi...


"Zayn?"


Tidak ada jawaban dari pria itu, Aini pun mendengus kesal dan melangkah pergi dari sana. Namun tangan Zayn menahan tangannya.


"Gimana kalau aku bilang kalau aku marah karena aku cemburu."


"Apa ada alasan buat kamu cemburu?" tanya Aini retoris.


"Karena aku suka kamu Ai." ucap Zayn sambil menatap Aini dengan serius. Aini terdiam dan balas menatap Zayn dengan bingung.


Remuk sudah hati Salimah mendengar kata cinta keluar dari bibir Zayn, bukan untuk dirinya tapi untuk Aini. Salimah menangis, tangannya mengepal penuh amarah.


...****...

__ADS_1


__ADS_2