
...🍀🍀🍀...
Ketika dua wanita berhati hasad itu akan memasuki area pernikahan. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang tangan Zainab dengan erat.
"Mau apa kamu disini Zainab? Beraninya kamu pergi tanpa izin dari suamimu?"
Pertanyaan dan tatapan Raihan seakan membuat Zainab terhenyak, sungguh sakit melihat sikap Raihan saat ini. Padahal selama beberapa hari ini Raihan selalu bersikap baik padanya dan sekarang Raihan berubah dalam semalam karena video itu.
"Lepaskan aku MAS!" Pinta Zainab sambil berusaha menyingkirkan tangannya dari Raihan.
"Tidak! Mari kita pulang dan selesaikan masalah kita di rumah." titah Raihan sambil mempererat cekalan tangannya pada Zainab. Tatapan Raihan begitu murka pada Zainab dan entah apa yang terjadi pada Raihan kenapa dia begitu.
"Mas, aku harus bertemu dengan wanita ular itu dulu!" Zainab masih fokus menatap Zahwa dan Rey di pelaminan itu. Salimah juga terlihat bingung kenapa kakaknya bisa ada di sana dan terlihat marah pada Zainab dan juga dirinya.
"Cukup Zainab! Sebelum aku mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dalam ikatan PERNIKAHAN KITA!" Ancam Raihan yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Aku tidak bisa membiarkan pernikahan Zahwa gagal lagi, dia harus bahagia dan tidak seperti aku yang hanya bisa menyakitinya dulu.
"Mas..."
"Ikut aku pulang atau kamu mau tetap disini dan RUMAH tangga kita berakhir!" suara Raihan meninggi dengan mata yang melotot pada istrinya. Dia tak hanya marah pada istrinya tapi juga pada Salimah. "Salimah, kamu juga! Kalau kamu masih tetap berada disini, aku tidak akan mengakui kamu sebagai adikku dan aku akan laporkan semua PERBUATANMU pada Abi dan Ummi!"
"Kak..."
Perbuatan apa?
Kedua wanita itu pun ketakutan dengan ancaman Raihan, akhirnya mereka bertiga pergi dari hotel yang menjadi saksi pernikahan Zahwa dan Rey.
Sementara itu Rey dan Zahwa masih menjadi Raja Ratu sehari. Meski banyak berdiri dan lelah, namun dalam lelah itu mereka masih bisa tersenyum bahagia.
"Nemo, kamu duduk aja!" kata Rey sambil menepuk nepuk kursi pelaminan Raja dan Ratu sehari itu seraya meminta Zahwa untuk duduk saja.
"Gak apa-apa kak, masa kakak sendiri yang berdiri sih? Pengantinnya kan bukan cuma kakak doang."
Rey menyunggingkan senyuman manisnya. "Kamu bisa saja jawabnya," tangan Rey membelai pipi Zahwa dengan lembut. Zahwa tersenyum dan menatap Rey penuh cinta dengan mata berbinar.
"Ehem ehem! Ini masih banyak tamu kali! Nanti mesra-mesraannya di kamar aja!" Celetuk Deva sambil berdehem melihat pasangan mesra itu.
Ya, Deva sudah berdiri didepan pasangan pengantin itu bersama papanya untuk memberikan ucapan selamat. Tak lupa Deva juga membawa kotak kado berwarna biru yang cukup besar ditangannya.
Rey dan Zahwa pun saling menjauh dan melihat Deva bersama papanya di sana. "Maaf ya Zahwa, Deva orangnya memang suka nyeletuk gitu hehe." Kata Damar sambil tersenyum.
"Gak apa-apa om, udah biasa kok. Selain tukang nyeletuk, dia juga sering kepedean Om." Sahut Zahwa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Itu kamu tau haha.." Damar terkekeh mendengar ucapan Zahwa, dia sangat menyukai Zahwa sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu. Walaupun ada rumor yang beredar tentang kesuciannya yang ternoda dan pernikahan gagal. Tapi Damar tidak terpengaruh dengan semua itu.
Sayang banget cewek Sholehah limited edition gini udah nikah, padahal wanita pertama yang membuat Deva ingin berubah menjadi lebih baik. Ya...mungkin ini yang namanya takdir dan bukan jodoh.
Sementara sang suami menatap Zahwa dan Deva dengan tajam. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan obrolan Papa Deva dan juga istrinya.
"Jangan tatap aku seperti itu kakak, tenang saja aku tidak akan menganggu hubungan kalian!" Deva tersenyum hingga memperlihatkan gigi putihnya yang bertengger itu, dia juga memegang tangan Rey.
Kakak? Kau pikir aku kakakmu?
Rey tersenyum kecut melihat tingkah SKSD Deva padanya dengan memanggilnya kakak. "Selamat ya atas pernikahan kalian semoga samawa, oh ya... spesial buat Aisyah dan kakak Rey aku akan nyanyikan sebuah lagu gratis!" kata Deva sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zahwa terkekeh geli melihat tingkah percaya diri Deva tersebut. Rey langsung menatap istrinya dengan tajam lalu berbisik padanya. "Jangan ketawa gitu Nemo, aku cemburu."
"Hehe gitu aja cemburu kak," Zahwa menoleh ke arah suaminya yang tampak kesal itu.
"Aku gak suka ya kamu ketawa dan senyum-senyum gitu sama cowok lain." Tegur Rey dengan bibir yang mengerucut.
"Hehe udah ah jangan kayak gitu mukanya, serem tau!" Seru Zahwa sambil mencubit pipi sang suami dengan gemas.
Pria itu langsung tersenyum kembali karena cubitan cinta dari Zahwa. Tak lama kemudian terdengar sorak Sorai dari semua tamu, begitu Deva dan bandnya naik ke atas panggung yang jaraknya lumayan jauh dari pelaminan itu.
"Hai para tamu semua... assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh...sehat semuanya pada hari yang berbahagia ini, yang sedang sakit semoga segera disembuhkan ya." Kata Deva yang bicara memakai mic pada semua orang yang ada disana.
"Deva! Deva! Kyaaakk!!"
"Dion Sean!"
"Deva I LOVE YOU!"
Suasana pernikahan Zahwa dan Rey menjadi ramai karena banyak para tamu yang antusias menyaksikan penampilan Deva. Bahkan tamu hotel yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan Rey Zahwa juga ikut menonton.
"Pertama-tama band langit terutama AKU, menyampaikan selamat pada pasangan berbahagia kakak Reyndra dan nona Ais--ah maaf nona Zahwa, selamat atas pernikahan kalian ya semoga SAMAWA, sayang sekali aku terlambat untuk mencuri mempelai wanitanya hahaha..."
Sontak saja Rey langsung mendengus marah ketika mendengar kata-kata Deva. Ia menghentakkan kakinya dan berjalan turun dari pelaminan. Dengan cepat Zahwa menahannya. "Kak! Kakak mau kemana?"
"Dia bercandanya gak lucu banget!" Wajah Rey begitu semrawut, tatapannya begitu tajam pada Deva yang berdiri diatas panggung sana.
"Wah ada bau gosong disini," ucap Selina seraya mendekat ke arah Rey dan Zahwa.
"Iya kak Selina, baunya menyengat sekali!" kata Alisa menyahuti Selina si tukang kompor.
"Ada bau gosong tapi gak ada yang kebakar tuh..." Kata Viona sambil menatap Rey yang wajahnya sudah bersemi merah.
__ADS_1
"Eh...ini anak-anak malah godain kakak kalian! Sana sana!" usir Diana pada anak-anak remaja yang senang mengusili kakak kakaknya itu.
Semua anggota keluarga Calabria terkekeh sambil tertawa melihat Rey menahan amarah dan cemburunya pada Deva. Tidak terbayang akan jadi seperti apa nantinya jika mereka sudah tidak serumah dan Rey pasti akan sangat mencintai Zahwa, posesifnya saja sudah kelihatan.
"Kak...tenang dong," lirih gadis itu seraya menenangkannya.
"Kamu jangan lihat dia Nemo, kamu lihat aku saja!" Tangan Rey memegang dagu Zahwa dengan begitu posesif.
"Tapi aku mau lihat Deva nyanyi,"
"Nyanyi tuh didengar bukan dilihat, aku gak mau kamu lihat dia." Ucap Rey sambil menghalangi pandangan Zahwa dari Deva yang sedang menyanyi diatas panggung. Sungguh Rey bucin sekali.
Deva menyanyikan sebuah lagu dari Virgoun surat cinta untuk Starla yang membuat semua orang di sana menjadi baper.
Akhirnya malam itu acara resepsi pernikahan Zahwa dan Rey selesai juga. Padahal tadinya Rey ingin mengadakan resepsi lagi, tapi Zahwa menolak karena sehari saja sudah melelahkan.
"Kalian cepatlah beristirahat, kasihan Zahwa tuh dia pasti capek banget." Kata Bram seraya menoleh ke arah Zahwa yang sedari tadi terlihat lelah. Gadis itu juga masih mengenakan gaun pengantinnya.
"Iya pa,"
"Rey, Mama titip anak Mama ya....Zahwa memiliki banyak kekurangan, tapi insya Allah, Zahwa akan menjadi istri yang baik buat kamu. Kalau dia berbuat kesalahan, tolong ditegur dan jangan dibiarkan, tegurlah istrimu dengan lembut, jangan pakai kekerasan. Kalau kamu sampai melakukan kekerasan kepada putri mama, maka pulangkanlah saja Zahwa pada mama. Kamu Ingat itu nak?"
Rey menghampiri Amayra lalu memegang kedua tangan ibu mertuanya itu."Ma, seujung kuku pun Rey tidak akan bisa menyakiti Zahwa. Rey tidak tega menyakiti putri mama, walau hanya dengan kata-kata, apalagi kekerasan! Tidak akan terjadi hal seperti itu, Ma! Dan tolong mama jangan petang mengatakan bahwa Rey akan memulangkan putri mama karena hal itu tidak akan pernah terjadi, Ma. Putri mama akan selalu menjadi makmum Rey selamanya...insya Allah."
Sungguh kata-kata Rey bagaikan puisi yang indah bermakna janji, bahwa dia akan selalu mencintai istrinya. Belum lagi dia memegang janji pada Alm Satria, yang sudah menganggapnya sebagai putranya. Dia tidak akan mampu untuk menyakiti Zahwa, putri dari orang-orang tersayangnya. Terlebih lagi Rey sangat mencintainya.
Setelah semua keluarga Calabria berpamitan pulang dan meninggalkan pasangan pengantin itu di hotel. Rey dan Zahwa saling berpandangan satu sama lain. Rey menatap sang istri dengan begitu dalam.
"Kak, kakak apaan sih? Jangan liatin aku terus!" Kata Zahwa dengan tatapan memprotes.
Tanpa bicara sepatah katapun, tangan kekar pria itu langsung menggendong sang istri ala bridal. "AKHHH! Kakak!" pekik Zahwa terkejut karena tiba-tiba saja suaminya menggendongnya.
"Kita ke kamar ya sayang," lirih Rey dengan senyuman manis dibibirnya. Dia sudah tidak sabar untuk berduaan bersama istrinya.
"Kak turunkan aku, aku malu kak...ada banyak orang." Bisiknya pada sang suami.
Rey mungkin bodoh amat dengan keadaan sekitar tapi tidak dengan Zahwa yang malu-malu kucing. "Kalau kamu malu, peluk kakak aja yang erat, sembunyi disana."
"Kak!" Zahwa menepuk pundak suaminya.
"Kita ke kamar kita yuk? Aku sudah tidak sabar," ucap Rey dengan tatapan mata nanar pada sang istri.
Zahwa tidak bicara dan dia membenamkan wajahnya dalam dekapan sang suami, menyembunyikan senyuman malunya. Rey pun membawa istrinya memasuki lift menuju ke kamar mereka menginap malam ini, ia tak peduli dengan tatapan semua orang padanya.
__ADS_1
...****...
Mau ngapain tuh Rey ngajakin ke kamar?🤭🙈