
...🍀🍀🍀...
Tangan Zahwa tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Reyndra tanpa sehelai benang yang menghalangi. Satu tangan Rey yang lain memegang perut Zahwa dari belakang.
Ya Allah, apaan yang dag dig dug ini?. Batin Zahwa bingung dengan yang kini dirasakannya saat kedua tangan Rey menyentuh tubuhnya.
Rey juga kesulitan menelan ludah kasarnya, dia tak tahu bahwa rasanya akan sesulit ini berdekatan bersama dengan orang yang dia cintai. Hasrat di dalam dirinya terus bergejolak, ia ingin memeluk bahkan mencium tubuh Zahwa. Ini memang gila! Dan katakanlah dia mesum, tapi ia yakin bahwa ini adalah reaksi normal seorang pria yang mencintai seorang wanita. Pastilah ada rasa ingin menyentuh dan posesif pada wanita itu.
"Kak...kakak...lepasin aku kak." terdengar suara Zahwa yang gugup dengan sentuhan. dari kakak sepupunya itu.
Buru-buru Rey menyeimbangkan tubuh Zahwa agar ia bisa kembali tegak seperti biasa. Mereka pun berhadapan setelah sempat bertemu pandang. "Kamu gak apa-apa? Lagian sih kamu...tembok jalan pakai ditendang tendang." canda Rey pada Zahwa.
"Ish...apaan sih kak. Btw makasih loh udah nangkap aku."
"Aku akan menangkapmu sampai kapanpun juga," ucapnya sambil tersenyum.
Kok...rasanya aneh ya saat aku mengucapkannya?
"Ish...kakak, kenapa kakak jadi lebay dan aneh gini sih dari tadi? Kakak kayak habis nonton drama aja," celetuk Zahwa yang sontak saja membuat Rey tercekat.
Dalam hati ia membenarkan bahwa tebakan Zahwa itu benar, semalam dia memang habis menonton film drama Korea yang tidak ia suka dan belajar sebagian dari kata dan kalimat-kalimat disana.
"Kamu malah bilang aku lebay, aku ini lagi nyoba buat jadi romantis." jawabnya jujur dengan wajah dingin. Dia merasa ditertawakan oleh Zahwa.
"Apa? Kenapa kakak coba romantis sama aku? Sama gebetan kakak aja sana...ah atau kakak mau latihan dulu?" tebak Zahwa lagi, kali ini tebakannya salah.
"Ah...kamu ini emang dasar ckckck." gemas sekali Rey dengan sikap Zahwa yang polosnya minta ampun, atau mungkin minta di hajar.
Ya Allah, aku harus bagaimana.... haruskah aku gunakan cara si Niko?
"Aku kenapa sih kak? Kakak tuh yang aneh ah..."
"Udah sana cepat, ambil barang-barang kamu. Aku tunggu disini, kita pergi belanja!" titah Rey sambil memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Sakit karena siapa? Karena ulah Zahwa dan sikapnya itu.
"Oke deh, kakak tunggu disini ya."
Zahwa berlari masuk ke dalam rumah sakit, sementara Rey menunggu di dekat tempat parkir di depan mobilnya. Tangannya memegang kening yang gusar itu, memikirkan cara agar Zahwa cepat peka. Dengan kata-kata dan kode saja rupanya tak cukup untuk menyadarkannya.
"Astagfirullah...ya Allah, Niko...apakah aku harus melakukan saranmu? Tapi itu kan ekstrim dan--" gumam Rey bingung. "Ah menyebalkan!"
Beberapa menit kemudian, Zahwa sudah keluar membawa tas selempangnya. Dia tersenyum ceria seperti biasanya. "Lho? Kok kamu tumben pakai tas selempang? Tas gendong mu mana?" tanya Rey keheranan begitu melihat perbedaan dalam diri Zahwa, ia tak pernah melewatkan melihat apapun pada diri gadis itu. Termasuk gayanya saat ini.
__ADS_1
"Oh tas gendongku? Patah dan sobek kak sama si Doris." jelasnya lalu naik ke dalam mobil Rey mengikuti Rey yang juga masuk ke dalam mobil.
Doris adalah kucing peliharaan di rumah Zahwa, kucing itu memiliki warna putih dan bulu yang halus. Dia galak dan masih single
"Kok bisa sih?"
"Biasalah, aku mau gendong dia...tapi dia nyakar tas aku, terus nyakar aku!"
"Nyakar kamu juga? Ada luka gak?"
"Ada di tangan, dikit sih."
"Mana?"
Zahwa menunjukkan tangannya yang terkena cakaran si Doris. Ada 3 bekas cakaran kukus
di punggung tangan kiri Zahwa. "Sakit gak? Udah diobatin?"
"Udah kak, gak apa-apa kok cuma luka kecil."
"Ih dasar kucing galak! Awas aja kalau ketemu, beraninya dia melukai kamu!" dengus Rey sambil mengusap-usap tangan Zahwa yang terkena cakaran itu.
Sesaat Zahwa terdiam melihat kakaknya, begitu perhatian dan selalu saja begitu padanya juga semua orang di keluarga Calabria.
"Hem?" sahut Rey yang sudah bersiap memegang setir mobilnya.
"Gebetan kakak--eungh maksud ku istri kakak nanti, dia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini."
"Kenapa?"
"Karena dia punya suami seperti kakak, Sholeh, baik penyayang, tapi gak baik sama semua cewek, setia juga...wanita itu pasti pernah menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya, makanya dia bisa mendapatkan cinta kakak!"
Hatinya terenyuh mendengar ucapan Zahwa. Lalu dia memberanikan diri untuk bertanya ."Benarkah dia akan merasa bahagia kalau bersamaku? Benarkah dia tidak akan menolakku?"
"Lagi-lagi kakak gak percaya diri, kakak tuh idaman cewek banget kak!" Zahwa mengacungkan jari jempolnya.
"Oke, kalau kamu...misal kalau aku nyatain cinta sama kamu, apa kamu akan menerimaku? Apa aku juga idaman kamu?"
"Kalau kita bukan sepupu, mungkin aku bakal jatuh cinta sama kakak! Mungkin ya...haha." Zahwa tertawa kecil.
Rey terdiam, dia terlihat terluka dengan kata sepupu itu. Ternyata Zahwa masih menganggapnya sepupu, oh ya Allah apa perjuangan Rey masih panjang.
__ADS_1
*
.
.
Di sebuah mall kota Jakarta, Zahwa dan Rey masuk ke dalam mall. Zahwa tertarik membeli beberapa barang-barang yang ada disana, ya termasuk perlengkapan kemah.
"Kamu mau beli apa?"
"Emangnya kakak mau beliin?" tanyanya balik.
"Iya dong, uangku uang kamu juga." Rey tersenyum melihat raut wajah gadis itu yang sedikit berbeda, kali ini menampakkan kebingungan.
Bagus, wajah Zahwa ada perubahan.
"Kak, udah aku bilang kan...kalau kakak gak boleh sembarangan ngomong."
Kak Rey kenapa sih dari tadi aneh?
"Memangnya aku ngomong apa? Aku cuma mau kasih tau kalau uangku juga yang kamu juga," Rey tersenyum lalu dia menunjukkan kartu kredit black card pada Zahwa. "Belanja apapun yang kamu mau, dengan kartu ini. Kartu ini punya kamu sekarang,"
"Hah? Apa kakak bercanda?"
Kini kartu itu sudah tergeletak di telapak tangan Zahwa. Gadis itu jadi bingung dengan sikap Rey.
"Serius."
"Kalau uangnya abis gimana? Aku kan mau belanja banyak,"
"Belanja aja, uangku uang kamu juga."
Yang artinya uang suami uang istri, uang istri ya uang istri. Itu yang sering kamu bilang sama aku Zahwa.
Zahwa mulai merasakan ada yang aneh dengan sikap kakaknya, lalu dia pun melangkah pergi pamit ke toilet dulu. "Kak.. aku ke toilet dulu ya, kakak tunggu aja di depan rumah makan donut itu." tunjuk Zahwa pada Rey.
"Iya, aku masuk saja ke dalam...sekalian pesenin kamu makanan yang manis-manis."
Zahwa melihat kepergian Rey masuk ke dalam rumah donat. Dia terheran-heran, "Kak Rey kenapa sih? Ya Allah...."
...****...
__ADS_1
Maaf satu bab kalau lama, masih tertahan di review 🤧🤧🤧 padahal ngetik udah dari tadi siang.