Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 49. Bertambah satu dukungan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Rey tersenyum menyeringai, manakala ekor matanya melihat sosok Selina di balik pintu kamar tersebut. Lalu Rey mengambil kertas kecil disana, tak lupa dengan bolpoinnya juga Dia menulis sesuatu di kertas itu dan meletakkannya di atas nakas tempat tidur Zahwa. Kemudian dia pun keluar setelah memastikan Zahwa tidur pulas. Selina tampak terkejut dengan kehadiran Rey yang tiba-tiba sudah ada didepannya.


"Ka...kakak!"


"Yang kamu lihat dan yang kamu dengar itu, semuanya benar Sel."


Mata Selina melebar manakala mendengar pengakuan dari Rey, pengakuan terang-terangan bahwa ia mencintai Zahwa. Mereka pun pergi dari rumah itu setelah kedatangan bi Dewi disana.


Kini Selina dan Rey berada dalam mobil, didalam perjalanan menuju ke sekolah Selina. Gadis itu terus saja menatap kakaknya yang sedang menyetir dengan tajam.


"Kalau kamu ada pertanyaan, tanyain aja Sel. Kakak pasti akan jawab." celetuk Rey yang memecah keheningan disana, Rey yakin banyak yang akan ditanyakan oleh adiknya itu.


"Kak...apa benar kakak mencintai kak Zahwa?"


"Kamu kan udah denger sendiri tadi pas didalam kamar," kata Rey santai tanpa rasa takut sama sekali.


"Kak! Kakak gak boleh kayak gini, kakak sama kak Zahwa itu saudaraan...masa iya kalian saling cinta yang kayak gitu sih?" Selina langsung menunjukkan penolakannya terhadap hubungan Zahwa dan Rey.


"Kata siapa gak boleh? Saudara sepupu juga boleh nikah kok." Lagi-lagi pria itu bersikap santai, bukannya panik padahal Selina sudah menangkap basah dirinya, dia tidak ada takut-takutnya sama sekali.


"Ya aku tau kak, tapi--APA? Kakak ada niat menikah sama kak Zahwa?" Selina berteriak heboh.


"Ya, emang. Kamu tau kan Sel, kalau kakak itu gak pernah main-main dalam melakukan sesuatu."


Gadis itu kembali tercengang mendengar ucapan kakaknya yang dia anggap gila. Rasanya tak percaya saja, kakaknya mencintai kakak sepupunya. "Woah...ini gila kak, masa iya nanti kak Zahwa jadi kakak ipar aku? Terus gimana nanti kata mama, papa, Oma, Tante Amayra dan keluarga kita yang lain? Apa mereka akan setuju? Kak...jangan main api deh, mending kakak cari wanita lain aja kak!"


"Enak aja kamu bilang gitu! Kakak udah suka Zahwa dari umur kakak 13 tahun," sergah Rey dengan suara yang mulai meninggi.


"APA? Dari usia 13 tahun, ja-jadi udah 14 tahun kakak suka sama kak Zahwa? Serius kak?!" Selina mendongak tak percaya, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya tidak karuan.


Selina tau jika kakaknya memang tidak pernah bercanda dengan ucapannya atau main-main dengan sesuatu. Rey juga ambisius dan tidak pantang menyerah, apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tidak dalam pekerjaan saja tapi dalam hal asmara juga.


"Ja-jadi, selama ini kakak gak pernah bawa cewek ke rumah karena kakak suka sama kak Zahwa?" tanya Selina lagi pada Rey, guna mengorek informasi dari rasa penasarannya.


"Iya, selama ini aku suka sama Zahwa dan itu sebabnya aku pacaran tapi gak serius sama cewek-cewek itu." ungkapnya jujur.


"Wah...pantesan kakak cerita punya pacar tapi gak pernah bawa pacar ke rumah...wah....benar-benar deh, terus cincin itu? Masalah cincin yang kakak kasih di mall sama kak Zahwa, itu cincin lamaran?" Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Cincin itu bohongan lah! Cincin beneran nanti aku kasih didepan semua orang,"


"Kakak serius?"


"Sel, apa kakak pernah bercanda dalam hal seperti ini?" tanya Rey dengan wajah serius seperti biasa.


"Bukan kak Rey namanya kalau gak serius. Haaahh..." Selina mendesah pelan, dia memijat keningnya yang tak sakit itu.


"Kenapa kamu mendesah? Kamu gak senang kalau kakak sama Zahwa bersama?"


"Sebenarnya sih iya, aneh aja gitu dua kakakku nanti akan jadi suami-istri. Terus tanggapan semua orang gimana?" Gadis itu sudah berpikiran jauh tentang hubungan Rey Zahwa nantinya.

__ADS_1


"Kamu gak usah pikirkan itu, kakak akan memikirkan caranya. Yang perlu kamu lakukan adalah merahasiakan ini dulu." Rey mengusap pelan kepala adiknya sambil tersenyum, namun matanya fokus pada jalanan.


Ada cara A dan cara B, aku harap aku tidak pakai cara B kalau nanti semua keluarga keras kepala dan tidak mau menerima hubunganku dan Zahwa.


"Oke kak, akan aku rahasiakan. Tapi kak Zahwa gimana? Apa dia udah tau? Terus jawabannya gimana?" cecar Selina pada kakaknya.


"Dia udah tau, Zayn juga udah tau dan aku lagi tunggu jawabannya."


"Kak Zayn juga udah tau? Terus dia marah?"


"Awalnya marah, tapi sekarang sih enggak. Dia malah dukung aku jadi iparnya."


"Oh gitu ya."


"Kamu mau dukung kakak juga kan, Sel?" tanya Rey pada adiknya.


"Kalau itu yang buat kakak bahagia, aku pasti dukung kakak...tapi aku takutnya jalan kakak meminta restu itu yang susah," ucap Selina cemas.


"Kamu gak usah banyak pikiran, biar Kakak yang pikirkan itu. Lebih baik kamu bantu kakak buat Zahwa cepet kasih jawaban sama kakak."


"Jawaban apa yang bisa kakak dapat kalau kak Zahwa aja gak cinta sama kakak? Hayo..." goda Selina pada kakaknya, dia tak yakin bahwa Zahwa juga memiliki rasa yang sama dengannya.


"Zahwa cinta sama aku, hanya saja dia belum sadar."


Bukan Reyndra namanya kalau dia tidak percaya diri, pria itu orangnya memang sangat percaya diri.


"Hem...yakin banget kakak, padahal belum tentu dia udah move on dari kak Raihan. hem..tapi ya udah deh nanti aku bantu, biar kakak bisa deket sama kak Zahwa." Selina tersenyum, menandakan setuju.


"Makasih ya Sel, kamu emang adik kakak yang paling cantik, baik, manis, rajin menabung, pintar...ah pokoknya segala buat kamu deh."


"Jangan lupa juga kak! Kakak harus tambahin uang jajanku, hehe." Selina terkekeh kecil, dengan senyuman lebar dibibirnya sampai menunjukkan giginya.


"Siap! Itu mah gampang!" Seru Rey setuju. Selina tertawa bahagia.


Yes, tambah lagi satu dukungan.


Yes, nambah uang jajan!. Batin Selina bahagia.


Mereka pun sampai di depan sekolah Selina, Rey langsung memberikan uang lebih pada adiknya itu. Selina sangat berterima kasih kepada kakaknya dan dia berjanji akan membuat Zahwa semakin dekat dengannya.


"Aku menantikan itu...kamu yang benar sekolahnya ya. Udah jam pulang langsung pulang ke rumah, jangan mampir-mampir dulu keluar!" nasihat Rey.


"Iya siap kakakku yang ganteng!" Selina memberi hormat dengan patuh pada Rey. Kemudian gadis itu masuk ke dalam sekolahnya.


Setelah itu Rey segera tancap gas menuju ke kantornya untuk melakukan pekerjaan seperti biasa. Didalam perjalanan menuju ke kantor, dia menerima telepon dari Salimah dengan malas dan terpaksa dia mengangkatnya. Sebenarnya dia sempat lupa dengan gadis yang diajak kerjasama untuk menghancurkan pernikahan kakaknya sendiri dengan wanita yang ia cintai. Rey masih memiliki perjanjian dengannya yang belum usai.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." jawab Rey dingin.


"Kak katanya kakak mau bantu saya? Jangan-jangan kakak habis manis sepah dibuang." ketus Salimah pada Rey.

__ADS_1


"Haahhh....saya tidak begitu, katakan saja kamu mau apa?"


"Katanya saya bisa bekerja di perusahaan bapak, agar saya bisa dekat dengan Zayn. Tapi kenapa sampai sekarang saya belum mendapatkan panggilan juga?" oceh gadis itu


"Baiklah, besok kamu datang ke kantor saya dan serahkan lagi surat lamaran!" tegas Rey kesal.


"Kenapa saya harus menyerahkan lagi surat lamaran dan tidak langsung masuk saja?" kata Salimah sarkas.


"Kamu...apa kamu mau masuk perusahaan tanpa ada data diri? Kamu kita perusahaan besar seperti Calabria grup adalah toko kelontongan?" suara Rey meninggi menyiratkan kemarahan


"Ba-baiklah." jawab Salimah lalu dia mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan telepon itu.


Salimah tidak sabar ingin segera bekerja di perusahaan tempat Zayn bekerja dan bisa lebih dekat dengannya. Dari dulu Salimah sudah menyimpan rasa pada Zayn, tapi dia tidak punya cara untuk meluluhkan hati pria yang dingin baginya itu. Dengan semangat, Salimah menyiapkan beberapa data diri dan surat lamarannya ke perusahaan Calabria, magang pun tidak apa-apa karena dia masih kuliah juga.


Sama seperti Zahwa, tinggal menyelesaikan skripsi dan memperoleh ijazahnya. Namun Salimah mengambil jurusan manajemen, ia sengaja mengambil jurusan tersebut untuk menyelaraskan dengan pekerjaan Zayn yang nantinya mungkin akan menjadi CEO. Padahal cita-cita Salimah adalah menjadi guru.


*****


Siang itu Zahwa bangun dari tidurnya, dia memegang kepalanya yang sudah tidak pusing lagi dan sudah lebih baik. Sebab semalam dia kurang tidur karena memikirkan Rey.


"Ugh...udah jam 12, lama banget aku tidur...bentar lagi waktu Zuhur." gumam Zahwa setelah melihat jam dinding di kamarnya. Kemudian dia hendak meraih botol berisi air minum di atas nakasnya, botol minum itu sudah terisi penuh. "Loh kenapa ada airnya? Perasaan tadi kosong deh."


Ketika Zahwa menunggu air di dalam botol tersebut, dia melihat ada secarik kertas kecil berwarna kuning terjatuh ke lantai. Segera dia pungut kertas kecil itu dan membaca tulisan yang ada di sana.


Assalamualaikum Nemo, kakak bawakan cemilan kesukaan kamu ada di atas meja di dapur, jangan lupa minum obat. Kamu hati-hati ya di rumah, kalau ada apa-apa kamu telpon kakak, oh ya di rumah juga ada bi Dewi kok. Kalau kamu mau makan sesuatu kamu minta bi Dewi masakan ya, kakak sayang kamu...cepat sembuh 😍😘


Reyndra~


Hati Zahwa merasa aneh saat melihat pesan Rey padanya. "Kak...apa kakak benar-benar mencintaiku lebih dari adik?" gumam Zahwa galau. "Lalu bagaimana dengan perasaanku pada kak Rey? Apa aku cinta?"


*****


3 hari kemudian, keadaan Zahwa sudah membaik. Salimah juga sudah mulai bekerja di kantor Zayn sebagai Helper magang yang membantu Zayn mengurus ini itu, ya itu pun karena Rey yang memasukan Salimah kesana.


Dan sesuai dengan janji Selina, dia akan mendekatkan Rey dan Zahwa. Siang itu Selina sudah janjian bersama Zahwa didepan ruang sakit, Selina mau mengajak Zahwa untuk pergi ke rumahnya dan menginap.


Mungkin dengan cara menginap, Zahwa bisa semakin dekat dengan Rey.


"Aduh kak Zahwa mana sih, ini kan sudah waktunya jam makan siang...mana aku laper banget." gumam Selina sambil duduk di dekat tangga rumah sakit sambil memegang perutnya, dia masih memakai seragam.


Dia menunggu Zahwa sambil melihat pasien berlalu lalang ke ruang UGD dengan brankar. Kemudian perhatian Selina tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari mobil ambulan, seorang pria tampan dengan wajah babak belur dan tangan terluka.


"I-itu kan Deva Andara! DEVA!" teriak Selina girang melihat sosok Deva disana.


Para petugas rumah sakit itu membawa Deva ke dalam ruang UGD, tepat saat Deva di giring kesana. Zahwa sedang berjalan keluar menghampiri Selina. Kemudian tangan Deva memegang tangan Zahwa.


GREP!


"Hey Aisyah!"


Selina terdiam melihat pemandangan itu. "Aisyah?" gumamnya pelan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2