Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 27. Berita duka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Malam sebelumnya di ruang rawat ustadz Arifin, didepan kerabat dekat, penghulu dan saksi pernikahan yaitu dua kakak Zainab yang hadir juga di sana. Zainab dan Raihan duduk berdampingan, wajah keduanya tampak tegang dan enggan. Mereka berdua dalam tekanan kondisi ustad Arifin yang kritis.


"Baik, apa sudah bisa dimulai prosesi ijab kabulnya?" tanya seorang pria paruh baya dengan menggunakan setelan jas hitam rapi.


Ustad Arifin, Iqbal, Burhan, Salimah dan Annisa mengangguk setuju. Sementara Zainab dan Raihan terlihat tertekan, jelas karena mereka tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi mereka juga tak bisa melawan perintah orang tua.


Namun sebelum itu, Zainab dan Raihan sudah membuat sebuah janji. Bila mereka menikah nanti, mereka hanya dalam status saja bukan suami-istri dalam arti sebenarnya. Karena hati mereka sudah ada yang memiliki. Toh, nanti setelah menikah juga masih bisa bercerai dengan alasan tidak cocok atau apalah. Yang penting mereka sudah melaksanakan permintaan orang tua mereka dan permintaan ustadz Arifin.


Memang jalan mereka salah, tapi mereka merasa dilema dengan keadaan ini. Hingga akhirnya terpaksa pernikahan dadakan penuh tekanan itu di lakukan.


Zainab memakai kebaya warna putih dengan make up seadanya, Raihan juga hanya memakai setelan jas hitam biasa dengan peci hitam di kepalanya.


Dengan tangan gemetar, Raihan meraih tangan ustadz Burhan. Sungguh, saat ini dia ingin menangis, mengapa dia harus mengucapkan ijab kabul yang pertama kepada Zainab? Harusnya ijab kabul ini dia persembahkan untuk Zahwa seorang, kini dia mengucapkan untuk wanita lain.


Maafin aku Zahwa, aku minta maaf...kamu pasti akan kecewa padaku, tapi aku tidak punya pilihan lain.


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Siti Zainab dengan mahar 10 gram emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.” ucap Burhan tegas.


Raihan sempat terdiam sejenak, disisi lain Zainab membeku dengan mata berembun. Sungguh hatinya sedih harus memendam perasaannya demi orang tua, terutama ustad Arifin.


Zahwa, maafin aku karena menikah dengan calon suamimu. Tapi aku janji, Zahwa...aku akan berpisah dengan Raihan suatu saat nanti. Zainab merasa bersalah, teramat dalam pada Zahwa sahabatnya. Apa yang akan terjadi nanti bila Zahwa tau semua ini?


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Siti Zainab binti Burhanudin Syamsudin dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” ucap Raihan terpaksa.


Begitu semua orang mengucapkan kata sah disana, Zainab dan Raihan malah menangis. Mereka tidak bisa menahan bulir air mata lagi, tangis mereka pecah, apalagi Zainab. Tapi semua orang disana seakan tidak peduli dengan perasaan Zainab dan Raihan. Mereka tersenyum bahagia dengan pernikahan itu, terutama ustadz Arifin dan ustadz Burhan.


"Akhirnya kita menjadi besan," Burhan tersenyum, melihat sahabatnya yang masih berada di atas pembaringan itu.


"Ya Burhan, aku senang akhirnya kita bisa menjadi satu keluarga." ucap Arifin sambil meraih tangan sahabatnya itu, terlihat senyuman tipis dibibirnya.


"Selamat ya kak, alhamdulillah sekarang kakak dan kakak ipar sudah resmi jadi suami istri." celetuk Salimah dengan senyuman mengembang dibibirnya, memberikan selamat kepada pengantin baru itu.


Suami-istri? Aku dan Raihan, kami bahkan tidak memiliki perasaan satu sama lain. batin Zainab sedih, hatinya untuk Rey tapi dia menikah dengan Raihan. Pria yang sama sekali tidak dia cintai.


Zainab dan Raihan terdiam dan menyeka air mata mereka masing-masing. Berusaha menekan kesedihan di dalam diri mereka sendiri.


Tak lama setelah itu, terdengar suara mesin medis yang memiliki nada darurat. "Arifin! Kamu kenapa?!" tanya Burhan yang terkejut melihat sahabatnya kejang-kejang.


"Abah!" kata Annisa dan Iqbal panik melihat Arifin seperti itu.


Raihan, Zainab, Salimah dan juga kedua kakak laki-laki Zainab ikut panik melihatnya. Lalu Salimah pun pergi keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter guna memeriksa abahnya.


"Abah!"


"Rai--han...Zai--nab...kemarilah!" pinta ustadz Arifin dengan suara tersengal-sengal.


Pasangan yang beberapa detik baru saja menikah itu, menghampiri ustadz Arifin yang mungkin bisa dikatakan keadaannya sedang sekarat. Arifin menggenggam erat tangan Zainab dan Raihan, "Kalian...tidak boleh sam-pai berpisah...ingatlah...bah-wa.. perceraian di benci oleh Allah....kalian harus bisa bersama--sama mengarungi rumah tangga... selamanya sampai Jannah..." lirih Arifin seraya memohon kepada Zainab dan Raihan. "Jan--ji sama Abah...kalian harus--"


Keduanya tersentak kaget mendengar ucapan Arifin. Orang-orang yang berada di ruangan itu juga terkejut dengan ucapan ustad Arifin. Ucapan pria tua itu seperti serangan batin untuk Zainab dan juga Raihan.


"Abah...Abah..." ucap Iqbal panik sambil memegang tangan Arifin. Hingga akhirnya Arifin menutup matanya, diiringi dengan suara mesin medis yang mengalun panjang dengan nada datar.

__ADS_1


Tiiittt.......


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un..." ucap semua orang yang yang ada di dalam sana.


"Abah!!" teriak Raihan lalu memeluk abahnya sambil menangis.


Walaupun ustadz Arifin sering kali memaksa Raihan, marah-marah dan bersikap tegas kepada cucu laki-laki satu-satunya. Tapi Raihan sangat menyayanginya, ya namanya juga keluarga dan mereka terikat atau ikatan darah yang kental.


Semua orang disana terutama keluarga Raihan, merasa berduka atas kehilangan ustad Arifin. Sementara Zainab, menangis dia merasa dirinya akan terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak dia inginkan, setelah mendengar perkataan terakhir dari ustad Arifin, kalau mereka tak boleh bercerai.


...*****...


Pagi itu Rey datang ke rumah tantenya untuk mengajak Zahwa jalan-jalan. Niatnya ingin mempererat hubungannya dengan Zahwa, atau kalau dia beruntung mungkin dia bisa membuat Zahwa peka dengan perasaannya.


"Tuh ada Rey kesini! Rey kamu ajakin tuh adik kamu, biar dia gak rebahan terus..." ucap Amayra pada keponakannya itu.


"Ish...mama, aku mau di rumah aja ah!" Seru Zahwa menolak pergi bersama Rey.


Aku kan mau di rumah, nungguin telpon dari mas Raihan. batin Zahwa.


"Hey! Nanti kamu tambah gembul loh kaya ikan buntal, kalau rebahan terus di hari Minggu. Yuk kita jalan-jalan aja, kakak bakal ajak kamu kemanapun kamu mau." Rey berusaha melancarkan rayuan dan bujukannya kepada Zahwa.


"Astagfirullah! Enak aja ngatain aku ikan buntal, aku ini cantik tau, aku gemesin."


Tidak tahan melihat keimutan Zahwa, tangan Rey mencubit gemas kedua pipi Zahwa yang chubby itu. Ya, Zahwa memang chubby dan menggemaskan apalagi kalau dia marah. Rasanya Rey ingin sekali mencium pipinya, tapi dia tau tidak bisa melewati batasan itu untuk sekarang karena belum HALAL. Bahkan masih jauh untuk ke halal, dia harus membuat Zahwa peka dulu, meminta persetujuan kedua keluarga, lalu mengucapkan ijab kabul untuk Zahwa kelak.


Saat ini Rey hanya bisa mencubit pipi Zahwa dengan posisi sebagai seorang kakak sepupu.


"Ma! Lihat ini kak Rey." ucap Zahwa dengan bibir yang mengerucut ke depan. Rey malah terkekeh melihat Zahwa begitu.


"Mama..." adu Zahwa pada mamanya.


"Hehe," Amayra malah cengengesan melihat Zahwa yang kesal karena ulah Rey. Amayra sudah sering melihat Rey menggoda Zahwa dan dia tidak heran lagi. Pikirnya mereka kan bersaudara jadi tidak ada masalah.


Setelah itu Amayra pergi naik motor maticnya menuju ke sekolah. Dia memang selalu naik motor, meski ada mobil milik alm. suaminya di garasi. Dia lebih suka naik motor dan mobil itu dipakai oleh Zayn, kadang di pakai ketika ada acara keluarga atau kepentingan yang mendesak.


"Loh kenapa kakak masih ada disini?" tanya Zahwa yang melihat kakaknya masih duduk di kursi teras rumahnya.


"Kenapa? Aku kan nungguin kamu, cepat kamu ganti baju! Kita harus jalan-jalan," ucap Rey santai sambil duduk duduk disana.


"Aku kan udah bilang, aku gak mau!" tolaknya lagi sebal.


"Aku gak akan pergi sebelum kamu ganti baju terus ikut pergi sama aku. Udah sana cepat jangan malas!" titahnya pada Zahwa.


Zahwa terdiam sejenak, dia memperhatikan penampilan Kakak sepupunya itu. Rey terlihat mengenakan kemeja berwarna hitam 3/4 dengan celana jeans, rambutnya terlihat manly, plus wajahnya tampan.


Kak Rey tampan banget sih, gak heran kalau banyak cewek yang suka sama dia. Tapi kenapa dia terus ngajakin aku jalan? Gak ngajak pacarnya aja.


"Kenapa mo? Aku ganteng ya?" katanya dengan pede seraya melirik ke arah Zahwa.


"Ish pede banget! Ya udah kakak tunggu dulu, aku mau mandi sama ganti baju."


"Astagfirullah! Kamu belum mandi, wa?"

__ADS_1


Zahwa menggeleng dengan polosnya. "Belum, ceritanya kan aku mau rebahan hari ini habis beres-beres."


"Anak gadis gak boleh gitu lah, nanti kamu harus biasain mandi pagi apalagi kalau udah punya suami." tegur Rey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hehe biarin, bwee.." Zahwa malah menjulurkan lidahnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Masya Allah Zahwa, Kamu terlihat sangat cantik dan menggemaskan kalau kamu seperti itu.


Tentu saja hal ini hanya bisa Rey katakan dalam hatinya.


"Ya udah kak, mau tunggu di dalam aja sambil nonton tv? Takutnya aku lama," tawar Zahwa pada kakaknya itu.


"Oke, sambil mau pesan kopi sama kamu." Rey beranjak dari kursinya kemudian dia melangkah masuk ke dalam rumah bersama dengan Zahwa.


"Kok sama aku sih? Buat aja sendiri, kak."


"Kamu harus belajar dong, siapa tau nanti suami kamu minta dibikinin kopi? Kalau nanti suami kamu minta dibikinin kopi sama cewek lain karena kamu gak mau bikinin, gimana?" goda Rey lagi pada Zahwa, tapi kali ini pria itu menatap di Zahwa dengan serius.


"Hem...dia gak mungkin minta dibikinin kopi, dia gak suka kopi. Dan kalau dia mau minta bikinin ke cewek lain, aku tendang aja dia." cerocos Zahwa dengan wajah kesalnya yang malah membuat Rey semakin terpesona.


"Dia? Dia siapa Nemo?"


"Mas Raihan lah! Siapa lagi? Mas Raihan itu gak suka kopi, dia sukanya teh."


Deg!


Lagi-lagi Rey harus menelan ludah dan menahan sakit di dadanya karena perkataan Zahwa. Sungguh rasanya sesak sekali karena Zahwa masih memiliki harapan besar untuk bisa bersama Raihan. Lalu apa yang harus dia lakukan nanti? Apakah usahanya menghancurkan reputasi Zahwa akan sia-sia saja?



Zahwa menyadari bahwa kakaknya menjadi diam, bahkan wajahnya pucat. "Kak? Kakak kenapa? Ya udah deh jangan marah, aku buatin kopi ya... kopi kesukaan kakak seperti biasa..." bujuk Zahwa pada kakaknya, dia mengira Rey marah karena tiba-tiba diam.


Rey tidak bicara dan dia duduk di sofa ruang tengah. Sementara Zahwa pergi ke dapur menyiapkan kopi racikannya sendiri, dia tau benar selera kakaknya itu.


Usai menyajikan kopi untuk kakaknya, Zahwa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian dia sudah bersiap dengan setelan casualnya, dengan hijab berwarna biru dongker, celana bahan dan blouse panjang berwarna biru.


Dia tidak memakai apa-apa di wajahnya, hanya sedikit pelembab dan lip gloss saja. Dia memang biasanya tampil sederhana.


"Ayo kak, kita berangkat!"


"Nah gini dong, jadi cantik..." ucap Rey sambil tersenyum memandangi Zahwa yang sudah seperti bidadari dimatanya.


"Memangnya aku gak cantik kalau gak mandi?" gerutunya.


"Cantik kok!" puji Rey sekali lagi.


Saat mereka sudah melangkahkan kaki di luar rumah, tiba-tiba saja ponsel Zahwa bergetar. Dia mendapatkan telpon dari Zainab yang memberitahukan berita duka bahwa ustadz Arifin meninggal dunia.


"Innalilahi..."


Tapi yang membuat Zahwa heran, kenapa Zainab yang memberitahunya kabar ini?


...*****...

__ADS_1


Author mau up 1bab lagi, kasih komennya ya 😍😍😉kasih gift juga Boleh


__ADS_2