Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 52. Jadi keluarga Calabria?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Kesal dan gereget dengan hubungan antara Zahwa dan Rey yang belum mengalami kemajuan. Akhirnya muncul sebuah ide gila di kepala Selina, agar Zahwa menyadari perasaan dan sekaligus membuktikan apa yang dirasakan Zahwa pada Rey.


Ide ini gila memang, tapi harus dilakukan supaya Zahwa tak lama mengulur waktu lagi.


Malam itu Zahwa hendak pulang dari rumah sakit dan hari itu juga adalah hari terakhir Zahwa dan semua mahasiswa lainnya magang dirumah sakit. Mereka akan segera melakukan sidang dan libur untuk sementara waktu.


Zahwa terlihat sedang berjalan di lorong UGD menuju ke luar rumah sakit. Di sepanjang perjalanan dia menggerutu karena Deva yang menambah pekerjaannya. Dia diminta mengurus Deva seharian itu karena Deva hanya menurut padanya.


"Euhh...ya Allah... astagfirullahaladzim, nyebelin banget si toilet Deva! Udah narsis, sok kecakepan, nyusahin lagi. Nambahin kerjaan aja...huh...kalau bukan karena dokter Irwan, aku gak mau tuh ngurusin dia." gerutu Zahwa yang tidak memerhatikan jalanan karena kesal, hingga tak sengaja dia menabrak seseorang didepannya. "Maaf pak, saya tidak sengaja."


Begitu Zahwa melihat sosok pria yang ditabraknya, dia langsung memasang tampang cuek. Tapi lain halnya dengan pria itu, dia menatap Zahwa dengan sendu dan rindu.


"Assalamualaikum Zahwa,"


Masya Allah Zahwa, kamu semakin cantik walau dalam wajah lelah seperti ini. Aku kangen kamu.


Tentu saja kata-kata ini diucapkan Raihan dalam hatinya.


"Waalaikumsalam pak Raihan," jawab Zahwa kemudian melangkah pergi dari sana. Namun baru saja melangkah satu langkah dari sana, tangan Raihan memegang tangan Zahwa, menahannya untuk pergi. "Pak Raihan, apa-apaan ini?"


Dengan cepat Zahwa menepis tangan Raihan, status Raihan yang sekarang sudah menjadi suami orang membuat Zahwa menjaga jarak. Apalagi istri dari calon mantan suaminya ini adalah sahabat dekatnya.


"Maaf Zahwa, aku hanya ingin bicara sama kamu."


"Mau bicara apa pak? Saya pikir tidak ada pembicaraan diantara kita."


"Zahwa...aku akan to the poin saja, tolong pertimbangkan lagi untuk menerima lamaran mas."


"Istighfar mas Raihan, kamu sudah punya istri! Kamu bicara seperti ini, apa kamu tidak memikirkan perasaan istri kamu Mas?" hardik wanita itu kesal pada Raihan yang masih melamarnya, tapi dia tidak sadar diri dengan posisinya yang sudah menjadi suami orang.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau menjadi istri kedua, maka aku siap untuk menceraikan Zainab!"


"Astagfirullah mas! Kamu berpendidikan tinggi, kamu lulusan universitas di Kairo, kamu paham agama...tapi kamu tidak memahami dalamnya perasaan seorang wanita!" Zahwa menampakkan kekecewaannya pada Raihan, bukan sekali atau dua kali Zahwa mengatakan akan bercerai dari Zainab. Zahwa sangat tidak menyukai sifat Raihan yang sekarang.


"Zahwa, aku paham...bahwa didalam hatimu masih ada aku dan aku pun sama. Kita masih saling mencintai...jadi--"


"Cukup mas Raihan! Mau sampai kapan kamu berhalusinasi? Aku sudah tidak mencintaimu lagi Mas, hatiku sudah lama mati untukmu sejak kamu mengecewakanku DAN mengingkari semua janjimu." Lagi dan lagi Zahwa menumpahkan semua kekecewaannya terhadap Raihan, tapi baginya semua hal yang terjadi di antara mereka hanyalah masa lalu dan hanya kenangan. Zahwa sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada pria itu.


"Zahwa, aku minta maaf...tapi aku masih mencintaimu." Raihan menatap Zahwa dengan mata berair.


Dari kejauhan tampak Zainab melihat suaminya dan Zahwa berada di luar rumah sakit dalam posisi berdekatan. Hatinya bergemuruh hebat, berselimut cemburu dan amarah. Segera dia menghampiri suami dan sahabat baiknya.


Tanpa basa-basi, Zainab melayangkan tamparannya di pipi Zahwa dengan cukup keras dan membuat Raihan marah. Zahwa juga terkejut dengan Zainab yang memukulnya. Ada beberapa orang disana melihat adegan itu.


"Kak..." lirih Zahwa seraya menoleh ke arah Zainab dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Gak usah sok polos kamu! Sudah aku duga kamu masih mencintai mas Raihan, makanya kamu selalu berada di sekitar mas Raihan untuk menggodanya lagi!" tuduh Zainab pada Zahwa dengan bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


Cemburu telah membuat Zainab berubah.


"Zainab!" Raihan memegang tangan Zainab, dia menatap istrinya dengan murka.


"Aku tidak pernah menggoda mas Raihan, tidak kak Zainab!" Mata Zahwa mulai berair melihat tatapan marah Zainab padanya, ada rasa tidak terima juga didalam hatinya.


"Kalau kamu tidak mau menggoda mas Raihan, kenapa kamu terus berada didekat mas Raihan? Kalian bahkan berdekatan!"


"Itu gak mungkin karena Ai- nona Zahwa adalah pacar saya!" Entah darimana datangnya Deva, dia menyelematkan Zahwa dari Zainab dan Raihan.


Seketika Raihan cemburu melihat Zahwa berdekatan dengan pria tampan dan terlihat masih muda itu. "Lebih baik kalian pergi dari sini! Jangan ganggu pacar saya lagi!" Deva mengusir Raihan dan Zainab agar jauh-jauh dari sana.


Raihan pun pergi dari sana dan membawa Zainab juga. Terlihat Zahwa masih meneteskan air mata. Deva memberikan Zahwa sapu tangan untuk mengusap air matanya. Tak lupa Zahwa berterimakasih pada Deva yang sudah membantunya. Ternyata bantuannya tidak gratis, Deva minta nomor ponsel Zahwa sebagai balasannya dan Zahwa memberinya.

__ADS_1


"Nih udah kan!"


"Harusnya Lo beruntung karena gak ada cewek yang gue kasih nomor secara langsung ataupun gue mintain nomor telepon."


"Terus aku harus bilang wow gitu? Udah ya aku mau pergi. Cepat sembuh ya, assalamualaikum." ucap Zahwa berpamitan lalu pergi dari sana.


"Waalaikumsalam." Deva menyunggingkan senyumnya melihat kepergian Zahwa. Kemudian dia melihat Zahwa bersama dengan seorang dokter di rumah sakit itu yang wajahnya tak asing baginya.


"Loh? Itu kan istrinya om Bram? Dan Zahwa panggil dia Tante, jadi...dia berasal dari keluarga Calabria?" Deva tersenyum lembut melihat kepergian Zahwa dengan Diana dari rumah sakit itu.


*****


Malam itu Zahwa pulang ke rumah Calabria bersama Diana karena dia diajak menginap oleh Selina. Sesampainya di rumah Calabria, Zahwa dan Diana melihat semua orang berkumpul di ruang tamu dengan wajah bahagia dan ada seorang wanita asing disana, wanita dengan rambut panjang dan wajah cantik nan imut.


Mata Zahwa tertuju pada wanita asing yang duduk disebelah Rey itu.


"Oh...kamu sudah pulang sayang, lihat Rey bawa siapa?" sambut Bram yang ternyata sudah pulang lebih dulu daripada istrinya.


"Iya pa, memangnya Rey bawa siapa?"tanya Diana penasaran.


"Ada Zahwa juga disini, sekalian deh kenalin Cleo." ucap Nilam terlihat bahagia.


Selina dan Rey juga senyum-senyum sendiri. "Kenalin siapa Oma?"


"Ini nih...kakak kamu bawa calon istrinya, namanya Cleo." jawab Nilam sambil melihat wanita bernama Cleo itu.


Brak!


Tiba-tiba saja Zahwa menjatuhkan tas selempang yang dibawanya ke lantai. Hatinya seperti diserang sesuatu yang berat.


...****...

__ADS_1


__ADS_2