Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 116. Pertolongan Attar


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Berkali-kali Attar mencoba mengubungi Bram, Zayn dan Rey. Namun tak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilannya. Akhirnya Attar bergerak sendiri dan menelpon polisi, dia mengatakan plat mobil yang telah menculik Selina agar polisi itu membantunya melacak lokasi Selina.


Attar begitu panik, dia takut terjadi sesuatu kepada Selina dan firasatnya saat ini tidak baik. Attar juga tidak diam saja, dia tetap melajukan motornya dan menyusuri sekitar jalan persimpangan di sana. Hingga akhirnya dia tiba di persimpangan jalan buntu di dekat hutan.


"I-itu kan mobil yang bawa Selina!" gumam Attar terkejut saat melihat mobil Jeep hitam terparkir di depan sebuah gedung terbengkalai.


Pria itu pun memarkirkan motornya di sembarang tempat. Dia turun dari motornya untuk melihat apa yang ada di dalam gedung tersebut. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti mana kala ia menangkap dua sosok pria remaja yang baru saja keluar dari gedung itu.


Satunya wajah yang dia kenal dan satunya lagi entah siapa. Ya, itu adalah Rivano dan sepupunya Bagas.


Buru-buru Attar mengambil gambar mereka yang keluar dari gedung itu dan tentunya secara diam-diam. Lalu dia menyalakan rekaman videonya.


"Van, Lo gila ya? Lo apain cewek itu sampai dia gak sadar dan kejang-kejang hah!" tegur Bagas suara yang meninggi kepada Rivano sepupunya.


Rivano malah merokok dan santai saja salat tidak ada masalah yang terjadi, setelah dia mencekoki Selina dengan sebuah cairan.


"Lo tenang aja, kenapa panik kayak gitu? Lagian gak ada yang lihat juga. Lebih baik kita sekarang pergi ke deket sekolah, buat hapus cctv." ucapnya dengan santai.


"Stop! Gue nggak mau terlibat sama lo lagi, udah kriminal Van. Ini udah di luar batas dan gue nggak mau terlibat aksi kriminal lagi sama lo." Bagas panik karena Rivano berani melukai Selina.


"Gas! Ini terakhir kalinya Lo bantu gue, bawa gue pergi sejauh mungkin dari sini!" kata Rivano pada sepupunya itu


"Van! Gue lebih baik nolong cewek hamil itu daripada Lo!" jujur, Bagas merasa kasihan pada Selina yang tadi kejang-kejang saat ditinggalkan olehnya dan Rivano.


Selina hamil?. Attar tercengang mendengarkan fakta ini.


"Gak usah pedulikan dia gas, Lo mending peduliin gue! Please gas, gue mohon...bantuin gue sekali lagi."


Bagas pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju, dia pun segera pergi dari sana bersama Rivano meninggalkan Selina seorang diri di ruangan itu. Mereka tidak tahu konsekuensinya berhadapan dengan keluarga Calabria, apalagi Bima yang memiliki banyak anak buah.

__ADS_1


Attar buru-buru masuk ke dalam gedung itu setelah merekam semua obrolan Bagas dan Rivano. Attar berlari dan mencari-cari Selina disana. "Sel! Sel, Lo dimana? Ya Allah...semoga gak terjadi apa-apa sama Selina." gumam Attar panik.


Kemudian dia pun melihat pintu kayu yang terbuka dan dia yakin bahwa Selina berada disana. Insting menuntunnya ke dalam ruangan itu.


Dan benar saja, dia melihat Selina dalam keadaan mengkhawatirkan terduduk di kursi. Tubuhnya kejang-kejang, matanya terpejam dan terbuka beberapa kali.


"Sel!" Attar membuka tali yang mengikat tubuh Selina dengan cepat. Dia panik melihat teman baiknya dalam keadaan kacau. Begitu tali itu terbuka, Attar mendekap tubuh Selina dan menggendongnya. "Sel...Lo pasti baik-baik aja! Lo pasti baik-baik aja sel..."


Attar merasakan ada yang basah ditangannya dan ia melihat ada darah disana. "Sel..." Attar menangis melihat kondisi Selina, sungguh perih hatinya melihat Selina terluka.


Bersamaan dengan rasa perih, Attar juga marah pada Rivano dan Bagas yang sudah membuat Selina seperti ini. "Lo tenang aja Sel, gue bakal nolongin Lo...please Lo bertahan ya...please..."


Pria itu menangis sambil menggendong Selina, menuju ke jalan raya yang ramai menjauhi hutan. Dia meninggalkan motornya begitu saja disana karena tidak mungkin membawa Selina dengan motornya.


"Ah...kenapa gue gak bawa mobil? Kenapa gue nolak tawaran papa buat ngasih gue mobil? Kalau aja gue bawa mobil, pasti Selina bisa dibawa ke rumah sakit dengan cepat!" gerutu Attar menyesal, saat papanya menawarkan mobil tapi ia menolak.


Peluh keringat telah membasahi wajah Attar, dia berlari sambil menggendong Selina menuju ke jalan raya yang cukup jauh dari sana. Rasa sakit, pegal, dia tahan semuanya demi Selina.


Segeralah Attar membawa Selina masuk ke dalam taksi menuju ke rumah sakit. "Pak! Rumah sakit xxx! Cepat ya pak!"


Supir taksi itu manggut-manggut saja, dia melihat keadaan Selina yang gawat dan tidak sadarkan diri dan membuat instingnya untuk tancap gas ke rumah sakit.


"Sel...sadar dong! Sel jangan buat gue cemas, Selina..." Attar melihat kulit Selina semakin memucat, belum lagi darah yang keluar dari bagian bawah tubuhnya. Bahkan seragam sekolah Attar terkena darahnya. "Sel...."


Tak lama kemudian, ponsel Attar berdering. Dia segera mengambil ponselnya dengan satu tangan yang masih memeluk Selina. Dia melihat Bram menelponnya.


"Assalamualaikum om." ucap Attar dengan bibir gemetar dan menahan air matanya.


"Waalaikumsalam! Attar kamu dimana? Om baru menerima pesan kamu! Selina...gimana?" suara Bram terdengar cemas di seberang sana, dia bersama dengan Rey di mobil.


"Sa-saya akan jelaskan di rumah sakit om, sekarang...saya dan Selina dalam perjalanan kesana." jelas Attar terisak seraya menatap Selina tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"APA? Rumah sakit mana??!"


"Rumah sakit..."


Belum tempat Attar menyelesaikan kata-katanya, dia terkejut saat melihat mulut Selina mengeluarkan busa dan kembali kejang-kejang. "Sel! Astaghfirullah...Selina!" teriak Attar sambil terisak melihat Selina.


"Pak cepetan pak! Cepat!" ujar Attar pada supir taksi. "Pak tolong pak cepat!" kata Attar tak sabar.


"Ya dek!"


Supir taksi juga semakin panik melihat mulut Selina mengeluarkan busa dan lama kelamaan busa itu mengeluarkan darah.


"Attar! Apa yang terjadi pada Selina?!" teriak Rey dari seberang sana. Attar sempat lupa bahwa panggilan telepon tadi masih terhubung. Pastinya Rey dan Bram mendengar kepanikan Attar, mereka juga ikut panik mendengar suara Attar.


"Selina...dia...cepatlah datang ke rumah sakit xxx kak Rey, nanti saya akan jelaskan semuanya." kata Attar lalu mengakhiri panggilan teleponnya dengan salam.


Rey dan Bram terlihat panik begitu mendengar suara Attar tadi. Pikiran mereka jadi ke mana-mana, takut terjadi sesuatu kepada Selina. Rey semakin tancap gas menuju ke rumah sakit yang dikatakan oleh Attar. Kedua pria itu berdoa agar Selina baik-baik saja.


*****


Rumah sakit tempat Zahwa bekerja.


Selina dibawa kesana oleh Attar dan langsung mendapatkan penanganan oleh petugas UGD. Zahwa dan Diana juga ada disana menyambut Selina, setelah mereka mendapatkan telepon dari Rey bahwa Selina akan datang ke rumah sakit itu bersama Attar.


Diana dan Zahwa cemas melihat keadaan Selina, mulutnya berbusa darah. Belum lagi wajahnya membiru dan bagian bawah tubuh Selina juga berdarah-darah. "Selina sayang...Selina..." Diana mengikuti Selina beberapa petugas medis masuk ke ruang UGD.


Miris dan sakit hatinya, melihat Selina terbaring tak berdaya entah kenapa. Boro-boro bertanya, saat ini Diana hanya merasakan panik dan cemas di saat bersamaan. Padahal tadi pagi anaknya baik-baik saja, tapi sekarang lihat apa yang terjadi. Selina seperti keracunan, itulah asumsi orang-orang saat melihat keadaan Selena untuk pertama kali.


"Attar, sebenarnya apa yang terjadi? Kamu bisa jelaskan pada kakak, kenapa Selina bisa seperti ini?" tanya Zahwa yang berada di luar ruang UGD.


Attar pun lemah, dia jatuh terduduk sambil menangis. Zahwa melihat ada rasa panik, cemas dan takut di wajah Attar. Pria itu terlihat sangat mencemaskan Selina.

__ADS_1


...****...


__ADS_2