
...🍀🍀🍀...
Melihat perubahan pada raut wajah istrinya, rasanya Rey ingin segera menutup panggilan itu. Namun setelah ia pikir-pikir lagi, tak sopan bila Rey menutup telpon dari teman baiknya begitu saja, apalagi ia menanyakan soal Cleo.
"Rey? Kamu masih ada disana kan?" tanya Chandra dari sebrang sana.
"Iya aku disini Chan," jawab Rey.
"Aku tanya kamu, kamu ada kabar gak dari Cleo? Udah 1 Minggu ini dia gak ada kabar,"
Zahwa semakin tidak nyaman, mendengar obrolan suaminya dan Chandra tentang Cleo. Hatinya jadi diliputi oleh prasangka, mengapa Cleo memilih menghubungi Rey ketimbang kakaknya sendiri? Apalagi semalam Rey bercerita bahwa Cleo pernah datang ke kantornya untuk meminta bantuan. Namun Rey menolaknya. Saat menanyakan bantuan apa yang diminta Cleo. Rey hanya menjawab bahwa Cleo meminta bantuan uang darinya tapi dia tak memberinya.
"Terakhir dia ada di rumah sakit, aku menemukannya bertengkar dengan seorang pria. Chan...maaf aku harus mengatakannya, tapi--sebagai kakaknya kamu harus tau."
"Apa?"
"Cleo hamil."
"Innalilahi! Apa kamu jujur Rey? Cleo hamil? Sama siapa? Sama kamu?" tuduh Chandra yang sontak saja membuat hati Zahwa tak nyaman.
"Chan! Kamu ngomong apa sih? Jangan ngomong sembarangan!" serka Rey seraya menatap Zahwa yang mukanya muram dan tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Si Chandra ini...dia ngomong asal jeplak aja. Nemo ku jadi diem lagi tuh. Ah baru aja baikan.
"Haha...aku cuma bercanda Rey." tawa Chandra.
"Gak lucu bercandanya!" desis Rey kesal.
"Oke...oke fine, aku minta maaf. Jadi Cleo hamil sama siapa?" suara Chandra terdengar tajam.
"Aku tidak tahu. Udah dulu ya Chan, aku mau otw ke kantor! Assalamualaikum." Rey buru-buru menekan tombol off panggilan dan kembali fokus menyetir. Zahwa menyimpan ponsel suaminya ke saku jas Rey.
Lagi-lagi Zahwa hening, padahal baru tadi malam mereka bicara, padahal baru tadi pagi mereka bercanda.
"Sayang..." pria itu memulai pembicaraan.
"Ya, mas?"
"Omongan Chandra jangan dimasukkan kedalam hati ya. Dia cuma bercanda."
__ADS_1
"Tapi bercandanya gak lucu, Mas." kata Zahwa kesal.
"Maaf ya sayang, tapi beneran aku gak ada apa-apa sama Cleo. Nomornya aja udah aku blokir di depan kamu kan?"
"Alhamdulillah mas...karena aku tidak akan membiarkan pelakor masuk ke dalam rumah tangga kita. Kamu juga jangan memberi celah," tegas Zahwa.
"Iya sayang, aku akan menjaga komitmen kita. Maafin aku ya sayang, akhir-akhir ini aku bikin kamu kesel."
"Gak apa-apa Mas, ini salah aku juga karena aku baperan, maafkan aku Mas." bukan hanya Rey yang mengakui kesalahannya, tapi Zahwa juga. Dia merasa akhir-akhir ini emosinya tak stabil.
Rey memaklumi istrinya, emosinya yang tidak stabil karena hormon kehamilan. "Gak apa-apa sayang, maaf aku sudah bohong sama kamu."
"Ssstt...mas udah ah jangan dibahas lagi. Aku gak mau kita debat." kata-kata Zahwa membuat Rey terdiam.
Mobil Rey pun berhenti di parkiran rumah sakit, tak terasa mereka sudah sampai disana. "Mas...aku--hmph--"
Rey menyandarkan tubuh Zahwa di jok mobil, lalu meraup bibirnya dengan lembut. Melumatt bagian bawah dan atas bibir istrinya, mereka saling bertukar Saliva namun tak lama. "Udah dulu ya, aku mau kerja." Rey mengurai lebih dulu ciuman itu, ia takut kebablasan.
"Iya Mas, aku berangkat ya mas. Awas diluaran sana jangan genit genit." ucap Zahwa mengingatkan suaminya.
"Kamu juga...nemoku sayang."
"Waalaikumsalam sayang...tunggu dulu!"
"Ya?"
"Saranghae dari Oppa Rey-bin!" kata Rey sambil menunjukkan jarinya seperti orang Korea yang menunjukkan cinta. Zahwa tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang menggelikan.
Zahwa pun masuk ke dalam rumah sakit, setelah memastikan istrinya masuk ke dalam lingkungan rumah sakit dengan sehat, Selamat dan sentosa, Rey pun melajukan mobilnya menuju ke kantor.
*****
Di sekolah Selina.
Ruangan kelas X-A, semua orang sedang sibuk dan fokus dengan hari terakhir ujian mereka. Termasuk Selina. Namun saat mengerjakan soal terakhir, Selina merasakan perutnya sakit seperti ditusuk-tusuk.
Ya Allah, perutku sakit...apa bayiku gak apa-apa?
"Sel, Lo gak apa-apa?" bisik Maya yang duduk disebelah Selina.
__ADS_1
"Gue baik-baik aja May." Selina kembali tersenyum di bibir pucatnya.
"Lo aneh Sel, hari ini Lo gak make up-an terus rok Lo juga panjang sampai kebawah gak biasanya Sel." celetuk Angel, salah satu teman dekat Selina juga.
"Gak apa-apa kok, lagi pengen aja...hehe." Selina berusaha tersenyum di hadapan semua orang.
Tahan Sel, tahan...bentar lagi selesai.
Selina menggigit bibir bagian bawahnya, guna menahan rasa sakit disana. Tanpa ia sadari, Attar melihatnya dari belakang dengan cemas.
Begitu bel ujian selesai berbunyi, Selina buru-buru pergi keluar dari kelas. Wajahnya semakin basah dengan keringat. "Ya Allah, aku telpon pak Seto aja ya buat jemput?"
Ketika gadis itu berjalan di lorong, ia berpapasan dengan Irfan. Selina langsung tercekat melihat pria itu tertawa tawa bersama teman-temannya yang lain tanpa merasa bersalah ataupun takut. Selina menatap Irfan penuh kebencian.
"Kebetulan Lo ada disini Sel, gue mau ngomong sama Lo!" ucap Irfan mengajak Selina bicara
"Kalau gitu kita pergi dulu ya bro." pamit dua orang teman Irfan. Mereka adalah anak-anak kelas XII.
Akhirnya Selina dan Irfan bicara di belakang sekolah yang sepi. "Lo mau ngomong apa kak?"
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Irfan yang terlihat cemas dengan keadaan Selina.
"Apa peduli Lo kak? Anak ini kan bukan bayi Lo!"
"Oke...Sel, gue minta maaf karena udah perkosa Lo. Tapi itu bukan bayi gue, jadi gak mau tanggung jawab. Saat itu gue pakai pengaman dan si kunyuk Rivano yang nanam benih."
"Kakak ngajak aku kesini cuma buat ngomong ini doang? Basi tau gak!" kata Selina sedih sambil menahan sakit dan air matanya.
"Sekali lagi gue minta maaf." ucap Irfan sambil menundukkan kepalanya didepan Selina. Dia memang kasihan pada Selina tapi dia tidak mau bila dimintai pertanggungjawaban.
Maaf? Apa semuanya cukup dengan maaf? Mau alibi seperti apa lagi? Pemerkosa tetap pemerkosa dan korban tetaplah korban. Tapi wanita lah yang tetap menanggung malu dan kerugian!
Mendengar kata maaf dari Irfan malah membuat Selina semakin sakit kepala dan sakit perut. "Cukup kak! Sampai kapanpun aku gak akan pernah maafin kakak! Gak akan kak!" ketus Selina dengan bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya, dia teringat sebagian kejadian menyakitkan itu. Lalu dia memutuskan untuk pergi dari sana.
Pikirannya saat ini ingin cepat sampai rumah, namun saat ia sampai di depan sekolah dan menunggu taksi. Seseorang membekapnya dan membawanya masuk ke dalam mobil Jeep hitam.
"Sel! SELINA!" teriak Attar yang kebetulan baru keluar dari sekolah dan melihat Selina dibawa pergi oleh dia orang di kenal itu.
...****...
__ADS_1