
Tari hanya bisa menangis. Sambil menatap ibunya dengan tatapan sangat sendu. Wajahnya memelas, bingung dan mohon dikasihani. Jika ibunya itu sedang memarahinya. Karena kemarahan ibu selalu bias kekerasan. Tak cukup hanya kata-kata kasar. Tapi pasti selalu disertai dengan pukulan-pukulan ke tubuh kurus Tari.
Terkadang ibu memukulnya dengan hanya memakai tangan ibu sendiri. Menampar pipi, mulut. Mencubit lengan, paha, perut. Menjewer telinga, menjambak rambut...Tentu saja Tari akan menangis lebih kencang lagi. Meluapkan rasa sakit ditubuhnya dengan bahasa seorang anak-anak pada umumnya.
Berharap ibu akan berhenti menyakitinya. Lalu...kalau boleh...ibu memeluknya, menciumnya dan menasehatinya dengan bahasa kasih. Jika ibu menganggap Tari nakal. Bukankah begitu tradisinya ?. Demi meredakan tangisan anak kecil atau menegur kenakalannya ?. Hal itu pasti cukup dimengerti oleh anak-anak seusia Tari. Termasuk Tari itu sendiri.
Tapi semakin Tari menangis kencang, semakin kencang pulalah ibu memukul dan memakinya. Seperti seorang perempuan yang sedang kerasukan arwah perempuan penasaran yang mendendam. Suara tangisan Tari bagai membangunkan arwah penasaran yang didalam ibu itu. Mengingatkan akan dendam yang harus dibalaskan. Secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.
Amarah ibupun meluap. Menggulung-gulunh dipuncak ubun-ubunnya. Tiap kali mendengar suara tangisan Tari. Ibu tak memiliki hati untuk berperasaan. Menangkap sinyal tersirat dari tangisan si kecil Tari, bahwa Tari kesakitan. Tapi ibu semakin kalap dan bernafsu menyakiti Tari dengan kekerasan demi kekerasan.
Jika belum terpuaskan, ibu tidak sungkan-sungkan mempergunakan benda-benda kecil yang keras untuk di pukulkan ke tubuh kecil Tari. Secara spontan dan kuat. Karena kencangnya suara tangisan Tari itu dan ibu menyayangkan tangannya untuk memukuli Tari.
Seperti gagang sapulah, kemocenglah, sendok gorenglah. Terkadang melemparkan sisirlah, sendok makanlah, remote...Pokoknya benda apa saja yang terjangkau tangan ibu dan bisa dilemparkannya dengan cepat kearah Tari.
Pernah suatu kali ibu memukulkan gayung ke kepala Tari. Hingga gayung itu pecah. Hanya karena masalah kecil. Saat itu Tari disuruh ibu mandi. Sebagai anak kecil yang disuruh mandi oleh ibunya. Maka begitu melihat air, tentu saja naluri kanak-kanak Tari berimprovisasi.
Tari kecilpun mengambil sebuah ember yang lebarnya cukuplah buat Tari berendam dan tiduran. Tari mengisi ember itu dengan air, hingga penuh. Lalu menuangkan sebotol shampo kedalam ember itu. Kemudia mengobok-oboknya. Sehingga mengeluarkan banyak busa dan gelembung. Meluap hingga nyaris menutupi kamar mandi.
Tari kecil kegirangan melihat busa dan gelembung itu. Lalu bermain-main dengan busa dan gelembung itu di lantai. Berbaring, berguling-guling dan bergelut. Meraup busa-busa itu dan melumurinya keatas perutnya. Hingga busa-busa itu menutupi seluruh tubuh kurusnya yang sedang telanjang.
Sejenak Tari kecil berbaring santai di atas lantai itu. Berselimutkan busa-busa. Kemudian meniup-niup busa yang ada di atas perutnya itu. Lalu Tari berguling-guling lagi. Tidur telengkup, seperti berenang gaya kodok. Tari meraup gelembung-gelembung busa itu lagi dan meniupnya ke udara.
Bosan telengkup, kembali Tari tidur telentang dan meniup-niup busa itu lagi. Melihat gelembung-gelembung busa beterbangan di udara, Tari tertawa-tawa nan bahagia. Lalu Tari bangun berdiri dan menepuk-nepuk gelembung busa yang beterbangan itu.
Begitu ada yang pecah, Tari tertawa-tawa lebih kencang lagi. Lalu menepuk gelembung busa yang lain, yang sedang beterbangan. Sesekali juga meniupnya. Gelembung busa itu terbang lebih tinggi, lalu pecah. Tari tertawa-tawa, sambil melompat-melompat kecil.
Tari melakukan itu berulang kali. Hingga ia merasa bosan. Barulah Tari masuk ke dalam ember itu dan berendam. Sambil bernyanyi-nyanyi riang, kencang. Menepuk-nepuk air busa yang didalam ember. Bagai memukul gendang. Air busa pun berlompatan ke wajahnya dan nyaris mengenai matanya. Tapi Tari tidak perduli. Malah tertawa-tawa bahagia dan mengucek sebentar matanya. Lalu menepuk-nepuk air busa itu kembali.
Suara kecilnya yang nyaring, menyanyikan refrain lagi Judika. Nadanya pas, tapi kata-katanya belepotan.
__ADS_1
"Cinca kalma cinca. Cak pelu cau canyacan. Cinta catang can belsaca. Cinca kalma cinca. Cak pelu mu kanyacan. Kalena haci ini cucah ciasa...."
Entah apa yang diucapkannya. Namun cukuplah untuk mendekati kata-kata yang sebenarnya.Jadi malaikat-malaikat yang sedari tadi ikut menikmati kegembiraan yang di ciptakan Tari, tahu; bahwa itu adalah lagu Judika.
Malaikat-malaikat itupun menari-nari mengelilingi Tari. Melambai-lambaikan ke dua sayap mereka di atas kepala mereka. Tampaknya para malaikat itu lebih bahagia dari Tari yang menciptakan kebahagiaan itu, kecuali ibu. Karena begitu ibu melihat ke arah kamar mandi, banyak busa memenuhi lantai kamar mandi. Seeerrr....darah ibu langsung mendidih di ubun-ubun kepalanya.
"Tariiii !!!!...." teriak ibu sangat kencang. Sambil setengah berlari menuju kamar mandi.
Garis wajahnya seperti sedang memaksakan kentuk harus keluar. Juga rambut keriting ibu yang acak-acakkan dan tubuh gemuknya berdaster motif kembang-kembang besar. Ibu mendekati Tari. Percis nenek sihir yang terbang dengan sapunya. Hup !...ibu tiba di depan pintu kamar mandi. Berdiri berkacak pinggang dengan mata melotot marah, menatap Tari.
Dasternya yang berukuran besar itu, melambai-lambai di lengan kiri-kanannya. Bagai sayap burung elang yang siap mencekik leher Tari. Seketika Tari pun seperti terhipnotis. Hanya diam terpelongo menatap ibu. Bentuk kekagetan yang menyihir Tari jadi patung. Sukacitanya seketika hilang. Seperti baru saja di abrakadabra !. Jangankan melihat ibu ada di depan pintu kamar mandi. Saat mendengar teriakan ibu tadi saja, Tari sudah diam terpaku. Kini Tari hanya bisa diam menyerah. Menantikan oleh-oleh seperti biasa dari ibu, yaitu kemarahan.
"Anak kurang ajaaaaarrrr !!!!..." teriak ibu lagi. Sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Fikiran kanak-kanak Tari tidak menuntunnya untuk cepat berlari menghindar, mencari perlindungan. Maka tidak sempatlah Tari untuk keluar dari ember itu. Bahkan untuk melonjak berdiri pun, seperti ekspresi kaget; tidak dilakukannya. Tari hanya duduk diam didalam ember. Menatap ibu dengan wajah kepasrahan sedih mencekam.
Malaikat-malaikat hanya bisa mengintip Tari di balik ilusi. Lebih dulu menitikkan air mata. Iba melihat Tari disakiti ibunya. Tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Sebelum ada perintah dari Tuhan.
"Diam !...Diam kubilang !. Diaaammm !!!" teriak ibu dengan menghadapkan mukanya percis di depan mata sendu Tari.
Tari tidak mungkin diam. Karena tangan ibu masih menarik rambutnya. Tidak hanya itu, mata ibu membelalak lebar dan tajam ke mata Tari. Saat menyuruh Tari untuk diam. Tentu saja Tari tak kunjung diam. Meluapkan rasa sakit yang dirasakannya dengan tangisan yang semakin kencang pula.
Ibu pun semakin panik dalam meluapkan amarahnya. Spontan ibu meraih gayung yang ada didekatnya dan langsung memukulkannya ke kepala Tari. Plak !....gayung itu pecah. Tangisan Tari terhenti seketika. Bersamaan dengan rasa sakit dan kekagetan yang tak terungkap. Hanya menatap ibu dengan tatapan memelas.
Bahkan untuk meringispun, tak terlakukan lagi. Malah ibu masih belum puas dalam kemarahannya. Tak berbelas kasihan, ibu mencengkeram kuat satu pundak kecil Tari dengan satu tangannya. Kuku ibu yang panjang, tidak rapi dan kotor; melukai kulit lembut pundak Tari.
__ADS_1
"Ayo keluar !...Keluar kau !..."
Ibu menarik Tari keluar dari ember. Sedang satu tangannya lagi berkesempatan mencubit lengan dan menampar pipi Tari. Tangisan Tari pum kembali meledak dengan sangat kuat, nyaris meraung. Karena menahan rasa sakit diselujur tubuhnya. Ibu semakin marah dan berteriak berulang kali. Memerintahkan Tari untuk diam.
"Diaaaaammm !!!...B\*b\* !...Kurang ajar !...\*nj\*ng !...bodoh !..." dan lain-lain sumpah serapah yang melintas di otak ibu.
Tangisan Tari itu semakin membuat kemarahan ibu tak terkendali. Ibu semakin gencar mencubit, menampar...Maksud ibu, agar Tari diam. Tentu saja Tari tidak mengerti. Tari merasa kesakitan dan melampiaskannya dengan tangisan. Mohon belas kasihan ibu dengan bahasanya Tari, yaitu bahasa anak-anak. Agar ibulah yang berhenti menyakitinya.
"Mau kupukul lagi dengan gayung ini !" ancam ibu dengan memperlihatkan gayun pecah itu. Barulah tangisan Tari reda. Sisanya adalah sesunggukan dengan memegangi kepalanya. Terasa sangat nyeri. Sambil menatap ibu dan gayung itu, silih berganti.
"Kau ibu suruh mandi !. Bukan bermain-main. Membuang-buang airm Membuang-buang shampo. Shampo itu baru kubeli, tahu kau !. Anak bodoh !. Kubeli pakai uang ku. Bapakmu tidak pernah kasih uang untuk beli shampi, tahu kau !. Anak brengsek !..."
Ibu berkicau terus, sambil memandikan Tari. Mengguyur Tari memakai ember yang tadi dipergunakan Tari untuk berendam. Tari pun jadi gelagapan. Masih berkesempatan lagi mencubit perut Tari beberapa kali. Tatkali menyabuni dan mengeringkan tubuh Tari dengan handuk.
Tari berusaha untuk tidak menangis. Hanya meringis kecil. Menahan sakitnya cubitan ibu. Memicingkan sebelah matanya atau mengangkat sedikit bibir atasnya. Mengekspresikan rasa sakitnya secara sembunyi-sembunyi.
"Berpakaian !...lalu tidur !. Kalau tidak, kucubit pantatmu pakai tang !." itulah kata penutup untuk beberapa adegan kemarahan ibu satu hari itu. \*\*\*
__ADS_1