PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Ancaman Hukuman Ayah


__ADS_3

Tari tidak mau lagi dengan perannya yang dulu, yaitu tim hore-hore atau si pendengar budiman. Peran itu diserahkan Tari kepasa Kabila n d gank nya dan kalau memungkinkab kepada semua orang yang menyebut dirinya teman. Tari akan menjadi tokoh baik buat mereka. Royal mentraktir sampai muntah.


Walaupun pembicaraan Tari tidak gaul bagi mereka. Bahkan terdengar sangat receh. Tidak tentang tik-tok an, gosip artis, drakor, cowok-cowok, fashion, promo....Tari hanya bercerita tentang ibu yang jahat, teman-teman TK nya yang tidak polos dan satu lagi. Tentang hantu, dukun dan kisah misteri. Para teman dan Kabila n d ganknya, hanya pasrah mendengar. Mengangguk-angguk, cengar-cengir ataupun gelisah dengan melirik sana-sini.


Hal itu terjadi bukan karena Tari telah merasa menjadi Kabila. Pemimpin kelompok yang baik dan royal. Sebenarnya Tari lebih maju selangkah dari Kabila. Kabila jarang mentraktir anggotanya. Mereka biasanya patungan. Karena mereka semua anak orang-orang kaya. Hanya Tari yang ditraktir Kabila. Kini Tari yang mentraktir Kabila plus dengan bonus-bonusnya. Mentraktir semua anggota kelompoknya. Jadi bagi Tari, yaah...wajarlah dia merasa telah menggantilan Kabila.


Sikap arogan Tari mulai tampak jelas. Beberapa kali membooking kantin sekolah. Melarang teman-teman yang diluar kelompok Kabila masuk. Terus kalau pulang sekolah, langsung menyambar tas sekolah Kabila. Membawakannya hingga ke tempat parkiran mobil Kabila. Menunggu Kabila membuka pintu mobilnya. Setelah terbuka, Tari langsung masuk ke jok depan. Duduk sombong disamping Kabila, yang akan mengemudikan mobilnya.


Bagaimana coba untuk melarang Tari ataupun menghindari Tari. Kabila dan beberapa orang anggota kelompoknya yang biasa pulang bareng Kabila, hanya mengelus dada. Menahan kekesalan yang setiap hari berubah. Menjadi noktah-noktah kebencian. Manyun dan sinis menatap Tari. Ingin mereka menghindar. Tapi tidak tega membiarkan Kabila berdua dengan Tari. Terpaksalah mereka dirundung kekesalan dan kebosanan bersama Tari. Berharap didalam hati, agar matahari cepat terbenam. Lalu mereka cepat pulang dan bebas dari cengkeraman Tari.


Sayangnya Tari tidak memiliki kesensitifan akan penderitaan orang lain. Seperti penderitaan Kabila n d gank nya yang merasa tertekan akan sikap arogan Tari itu. Tari juga tidak perduli. Betapa bosan dan ingin muntahnya mereka mendengar Tari terus berkotek-kotek receh. Mendominasi suasana dengan suaranya yang kencang dan cempreng. Bahasanya yang kasar, nafasnya yang bau dan giginya yang kuning.


Tari sedang mabok di era baru kehidupannya. Berlagak anak gaul yang disenangi teman-teman. Menjalani tradisi keremajaan dengan jalan mall ke mall, berkumpul dan bergosip. Menghabiskan sisa hari ini dengan berbagi cerita versi Tari kepada sekelompok orang yang bernama teman.


Selanjutnya, sisa hari ini yang tinggal sedikit dihabiskannya dengan rasa ketakutan dan was-was. Berdiam diri di dalam kamarnya. Melewati hari malam dengan kegeliasahan. Terasa hari malampun sangat panjang. Tidak ada tempat pelarian yang aman. Teras depan rumah, tidak. Pohon mangga kesayangan, pun tidak. Apalagi sekolah, lebih tidak mungkin lagi lari bersembunyi ke sekolah di hari malam. Melepaskan beban yang dideritanya dirumah dengan tertawa dan bercerita kencang. Beban tekanan dari ibu yang jahat. Lebih jahat dari ibukota. Serta rasa ketakutan. Karena telah mengambil uang ayah.


Lagi malam ini Tari sangat gelisah. Tidak bisa tidur. Walau itu sepicing pun. Apalagi untuk mengerjakan PR. Tari tidak bisa konsentrasi. Ketakutan akan kemarahan ayah, sudah menuduhnya, "BERSALAH !" dan harus dihukum.


Hukuman apakah yang akan diterimanya dari ayah ?. Tamparan kah ?, dijewerkah ?...Sampai telinga putus, kedua-duanya. Pukulan di kaki, punggunng atau lengan dengan gagang sapu ?, kemoceng ?....atau hukuman-hukuman yang lebih kejam dari ibu. Apakah dipenjara ?...Ooo...jantung Tari berdebar sangat kencang. Nafasnya jadi sesak. Menantikan hukuman dari ayah.


Pasalnya tadi Tari mendengar ibu meminta uang dari ayah. Meminta bagi ibu adalah harus diberi saat itu juga. Pakai suara kencang dan diujungnya ada kata makian. Ayah menjawab dengan gugup, kalau uangnya tidak ada.


"Binatang kau !...minta uang itu !. Uang yang dari Pak Asep !. Aku melihatnya ngasih amplop ke kau !. Pasti isinya uang !. Dia kan minta kau urusi supaya ijin usahanya cepat keluar, iya kan ?:


"Uangnya hilang"


"Binatang kau !...b*b* kaaauuuu !!!" ibu histeris. Sambik menampar kepala ayah berkali-kali. "Jangan kau tipu aku !. Minta uangnya, b*b* !"

__ADS_1


"Hilang !...Sudah hilang !..." kata ayah. Sambil menangkis dan mengelak dari kelincahan tangan ibu.


"Diam kau !" teriak ibu sangat kesal dan berhenti memukuli kepala ayah. Mungkin ibu letih. Tenaganya banyak terkuras. Tapi tatapan mata ibu masih sangat tajam ke arah mata ayah. Nafasnya pun ngos-ngossan. Antara letih dan masih bernafsu ingin memaki ayah lagi dan lagi.


"Aku tidak mau tahu !. Pokoknya uang itu harus sudah ada dimeja kamar !. Saat aku pulang nanti !. Dengar kau, binatang !" pesan ibu, lalu pergi. Setelah meninju kuat perut ayah.



Ayah hanya meringis sedikit. Menyandarkan punggungnya pada sofa yang sedari tadi didudukinya. Saat mendapat kekerasan dan makian dari ibu. Sekali-kali ayah menggaruk kepalanya dan beberapa kali menatap kr arah kamar Tari. Apakah ayah tahu, kalau uangnya itu diambil Tari ?.



Sekujur tubuh Tari sepertinya sudah mulai dingin membeku. Ketika mendapati sinar tatapan ayah itu. Kegelisahan membuat mata Tari tak mau dipejamkan. Malas fokus memperhatikan ke arah pintu kamarnya. Kalau-kalau ayah masuk.



Deg deg deg deg...jantung Tari berdetak tak karuan. Baru saja terfikirkan, sepertinya akan terwujud. Tari mendengar suara langkah kaki ayah, mendekat ke kamarnya. Mata Tari melihat kearah bawah pintu kamarnya. Ada bayangan yang bergerak !. "Mampus..."bisik Tari di dalam hatinya.




Brak !...terdengar hempasan pintu kamar. Tampaklah ayah berdiri diambang pintu dan...."ada ibu !" pekik Tari didalam hati. Begitu pintu kamar terbuka, ibu langsung menyerbu untuk masuk. Tapi ayah menghalanginya dengan memegang kuat tangan ibu.



"Apa kau !" kata ibu marah dan menatap ayah sangat tajam.

__ADS_1


"Biar aku saja" kata ayah dengan suara pelan, memohon.


"Awas kau !...kalau tidak ada uang itu. Kubunuh dia didepan mu !. Dengar kau, binatang !." ancam ibu sangat sadis. Tidak pasrah menyerahkan permasalahan kepada ayah.



Walaupun begitu, ibu tetap melangkah keluar. Setelah lebih dulu meninju kuat perut ayah. Ayah hanya pasrah. Kemudian ayah masuk kamar Tari. Berdiri disamping ranjang Tari. Memperhatikan Tari yang sedang pura-pura tidur. Bolak-balik menarik nafas kuat dan menghelanya dengan kuat pula.



Tari memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya pun diusahakannya untuk tidak melakukan pergerakan sedikitpun. Bahkan bernafaspun, Tari melakukannya dengan hati-hati. Tari sedang menjiwai lakon pura-pura tidurnya.



Ayah memperhatikannya dan mengetahui lakonnya itu. Menimbang-nimbang dengan bijak. Haruskah ayah memergoki lakon palsunya itu ?. Jika ayah tidak menghukum Tari. Maka ibu akan menghukumnya dengan lebih berat lagi. Tapi ayah tidak tega menghukum Tari. Anak yang tidak pernah dapat perhatian ibu. Masakan harus dihukum ?. Ayah masih menimbang-nimbang.



Sementara Tari sudah gelisah dengan ketidakpasrahan. Sudah merencanakan akan segera mendorong kuat tubuh ayah. Jika ayah membuka selimutnya. Lalu Tari akan berlari kencang. Tanpa satupun tujuan persinggahan.



Brak !...terdengar suara pintu lagi yang dihempaskan kuat. Tari kaget, tapi berusaha tidak panik. Padahal fikirannya sudah lari ke arah negatif. Jangan-jangan ayah tahu rencana Tari. Lalu menutup pintu. Agar Tari tidak lari. Wah !...gaswat ini.



Tari mulai menggigil ketakutan dan menanti tindakan ayah sudah dengan kepasrahan. Degdegdeg....satu detik berlalu. Dua detik juga berlalu. Semenit, dua menit....sepi. Sepuluh....Rasa penasaran Tari mengalahkan ketakutannya. Taripun mengintip dibawah selimut. Mengamati sekitarnya dan iyaaaahhhh...ayah tidak ada.

__ADS_1



Spontan Tari menyibakkan selimutnya. Bangun dan duduk diatas ranjangnya. Tapi tak ingin bernafas lega. Apalagi langsung bercengkerama dengan dugaannya, bahwa dia sudah terbebas dari hukuman ayah.\*\*\*


__ADS_2