PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Usulan Mami Gawat


__ADS_3

Mau Keundangan saja menemani mertuanya, Tari meminjam perhiasan milik mami untuk dipamerkan ke para undangan lain. Padahal ke undanganpun sengaja memakai baji seragam PNSnya itu. Maksudnya mau pameran bahwa dia PNS kaya, gitu.


"Dituduh korupsi, nyaho lo" Bintang bergumam sendiri.


"Jangan lupa dikembalikan, ya" bisik Bintang sinis didepan telinga Tari. Ketika mereka berpapasan didepan pintu kamar tidur papi dan mami.


Tanpa berdosa Bintang terus saja melangkah masuk kedalam rumah. Sementara Tari telah dirasuki amarah. Serasa kepala dan dadanya terbakar, sangat panas.


Ingin sekali Tari membalas dengan menjambak rambut Bintang. Menyeretnya hingga kejalan depan rumah. Lalu menggunting habis rambutnya.


Syukurlah Tari masih bersabar. Karena ketika mengelus dadanya, Tati menyentuh kalung berlian yang sedang menggantung dilehernya. Berlian itu bisa menentram hatinya. Walaupun itu hasil minjam dari mami mertuanya. Tapi Tari yakin, suatu saat akan jadi miliknya.


Tari menikmati kemilau berlian asli itu dan melupakan sindiran Bintang tadi, dalam sehari. Keesokan harinya, setelah kalung itu dikembalikannya ke mami, sindiran Bintang itu menjadi memperbesar kebenciannya kepada Bintang. Meluapkannya didepan Tante Hombing.


"Kalau kau selalu bertengkar dengan Bintang, lebih baik kau dirumahmu saja. Kalaupun kau ingin main kerumah mertuamu, yah...sesekali saja" masihat Tante Hombing kepada Bintang.


"Kok usulan tante gitu, sih" tanya Tari spontan meluapkan rasa ketidaksukaannya terhadap nasehat Tante Hombing


"Daripada kau marah-marah terus. Hanya karena si Bintang. Lebih baik menghindar, kan ?. Itu juga demi kandunganmu. Juga demi keharmonisan hubunganmu dan keluarga Anton. Terutama mertuamu"


"Seharusnya si Bintang itu yang diajarkan sopan santun. Anak gadis kalau bicaranya kurang ajar seperti itu, pasti jadi perawan tua"


Tante Hombing hanya mengangkat bahunya. Tidak ingin berdebat dengan Tari dipagi hari, dirumahnya lagi. Apalagi suara Tari sangat maksimal volumenya. Bisa disangka orang-orang, Tari dan keluarga Tante Hombing sedang bertengkar.


Itu sungguh bukan awal hari yang baik. Makanya Tante Hombing diam. Memilih membuka hp. Membaca pesan-pesan di group WA para istri dari kantor suaminya. Tersenyum-senyum sendiri membaca pesan-pesan itu.


Kekesalan Tari seketika berpindah kepada Tante Hombing. Lalu Tari pergi. Setelah mendengus kencang. Tante Hombing hanya melirik kearah kaki Tari yang melangkah lebar. Keluar dari rumahnya.


"Horeeee...Jangan datang lagi, ya"


Tante Hombing bersorak bahagia. Melihat Tari membuka pintu pagar rumahnya dan menutupnya dengan cara menghempaskannya.


"Bodo lah" kata Tante Hombing pada dirinya sendiri. Lalu lanjut membaca pesan-pesan WA itu.


Sudah dapat dipastikan, Tari membawa kekesalannya itu ke warung Mbak Ipeh. Masuk kewarung itu, sambil ngedumel mencaci maki Tante Hombing.


"Ada apa kamu dengan si tante ?. Bukannya dia sohibmu" tanya Mbak Ipeh sedikit penasaran.

__ADS_1


"Dia sudah membela si Bintang. Masa dia bilang, gua jangan sering-sering datang kerumah mertua gua. Coba...perkataan apa itu. Kalau bukan karena disuruh si Bintang. Pasti dia sudah disogok si Bintang untuk bilang itu ke gua...."


Mbak Ipeh tetap memposisikan dirinya sebagai pendengar budiman. Tak perduli kalau kata-kata Tari semakin ganas. Sampai menyebut alat kelamin Anton.


Menuduh alat kelamin Anton itu sebagai biang kerok dari permasalahan yang kini dihadapinya, yaitu menikah dengan Anton dan selalu dirundung Bintang. Bahkan dipermalukan Bintang.


Kepada semua orang yang datang dan pergi diwarung itu, diceritakan Tari kemarahannya yang ganas itu. Terangkai rapi dalam jalinan caci, maki dan sumpah serapah.


Boleh dikata semua tetangga mertuanya telah mengetahui keluh kesah Tari itu. Bagi yang mendengar akan bercerita kepada yang belum mendengar. Menyebar dari mulut ke mulut di ajang gosip.


Lalu merebak ke kerabat, sanak saudara, kolega, teman-teman dan pasien-pasien papi. Keluh kesah yang penuh amarah dan kebencian, disampaikan dengan kata-kata jahat dan kotor.


Tari sangat gencar menebarkannya. Setiap hari, usai pulang kerja. Pasti Tari nangkring di warung Mbak Ipeh. Menebarkan teror kebencian dan amarah itu terhadap keluarga Anton. Terkhusus kepada Bintang. Hingga suatu hari sampai ketelinga mami dan papi.


Tidak hanya itu, papi dan mami juga sudah mengetahui apa saja yang diperbuat Tari dirumah Tante Hombing ataupun diwarung Mbak Ipeh.


Sering pada siang hari Tari sudah berada diwarung Mbak Ipeh. Masih mengenakan seragam kerjanya. Setelah larut malam, baru kembali kerumahnya.


Mamipun kemudian menegur Anton. Meminta Anton untuk segera menjemput Tari dari tempat kerjanya. Lalu mengantarkannya pulang kerumah mereka.


Akibatnya, Anton dan Tari bertengkar. Karena Tari belum mau pulang, sebelum larut malam.


Mami pun mematuhi usulan papi. Mami lanhsung turun tangan. Menantikan Tari melintas didepan rumah. Mami tahu, Anton tidak menjemput Tari lagi. Karena mereka bertengkar lagi.


Mami sengaja berdiri didepan pintu pagar rumah mereka untuk menunggu Tari. Tidak melebihi setengah jam, kemudian tampaklah Tari. Tari kaget melihat mami mertuanya ada didepan pintu pagar rumah mertuanya.


Ragu Tari meneruskan langkah kakinya, melintasi mami mertuanya. Menuju warung Mbak Ipeh. Tapi percuma, sepertinya mami sudah melihatnya dan kini tengah melambaikan tangannya pada Tari, memanggil Tari. Sungguh sangat terpaksa Tari mendekati mami.


"Kita kerumah yok" ajak mami yang langsung menggandeng lengan Tari. Menuntun Tari masuk kehalaman rumah.


"Apa kabar cucu oma yang didalam ini" kata mami dengan suara sangat lembut. Sambil mengelus perut Tari yang memang buncit. Jadi antara hamil dan tidak, saat ini hanya Tari dan Tuhan yang tahu.


"Nanti kita makan malam dirumah ya. Tadi mami masak rendang, capcai, ikan panggang dan keripik balado. Mami pengen makan malam bersama kamu dan cucu oma ini" kata mami sangat bersemangat.


Kini mereka sudah duduk berdua diteras rumah. Mbak Min baru saja menghidangkan pisang goreng krispi dan teh manis.


"Ayo, sayang..makan pisang gorengnya. Ini juga tadi mami yang masak"

__ADS_1


Tidak malu-malu Tari melahap pisang goreng itu. Mami hanya tersenyum manis melihatnya.


"Kamu tidak dijemput Anton ?"


"Tidak, mi. Anton masih kerja"


"Ooo..."


Mami pun ikut makan pisang goreng itu. Tapi tidak melahapnya. Hanya mengambil satu potong. Lalu dimakan sedikit demi sedikit. Mulut mami jadi tidak penuh. Mengunyahnya beberapa kali.


Tidak seperti Tari, diambil sepotong. Lalu memasukkannya semua kemulutnya. Mulutnya jadi penuh. Mengunyahnya tidak sampai lima kali. Lalu ditelan dan dimasukkan sepotong lagi kemulutnya. Belum lagi ditelan yang ada dimulutnya, tangannya sudah mengambil sepotong lagi.


"Kalau nunggu dijemput Anton, lebih baik kamu menunggu dirumah ini. Kamar kalian dulu kan bisa kamu pakai untuk istirahat. Kalian pindah kerumah Anton, bukan berarti kamu tidak boleh kerumah ini. Rumah ini tetap rumah kalian juga, sayang"


"What !...Gue gak salah dengar ?. Ini rumah gue juga ?.Yuhuiiiiii..." bisik Tari didalam hatinya dengan sangat sukacita.


Seketika wajah Tari tampak ramah cerah kepada mami. Tari tidak bisa hanya berbisik didalam hati saja. Gejolak dihatinya ingin sekali diteriakkan dengan sorak bahagia yang lantang.


"Iya, mi..Iya.."


"Gitu, dong...Jadi mami dan papi tenang. Cucu oma dan opa gak harus diluaran sana lagi..."


Tari mengangguk-angguk bahagia. Sambil terus menyantap pisang goreng itu sampai habis. Mami pun minta Mbak Min membawakan lagi. Setelah dibawakan Mbak Min, segera Tari menyantap lagi dengan rakus.


Sebenarnya mami malu melihat cara Tari melahap pisang goreng itu. Tapi begitu melihat kearah perut Tari, mami berusaha memakluminya.


Demikian pula dikatakan mami kepada Bintang untuk memaklumi tingkah, sikap dan nada bicara Tari.


"Jadi Tari akan tinggal dirumah ini lagi ?!. Ya, ampun mamiii..."


"Masa kita tega membiarkan Tari di warung Mbak Ipeh nungguin Bang Anton menjemputnya pulang"


"Itu modus, mami"


"Bintang, biarlah Tari dirumah ini nungguin Anton. Dia sedang hamil. Hamil cucu mami papi. Keponakan kamu..."


Bintangpun diam menyerah. Haruskah berputus asa ?. Menerima saja jika Tari masuk kembali kerumah mereka ini. Lalu mengobrak-abrik keharmonisan rumah mereka.

__ADS_1


Setelah mendengar pendapat mami yang sangat antusias, Bintang gusar. Ketakutan akan bayangan ketidaktentraman dirumah akibat tingkah Tari; sangat mengganggunya.***


(Thanks banget...masih setia disini. Loop u alll)


__ADS_2