PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Tari DPO


__ADS_3

Kemudian Bila mendorong tubuh Anton kehadapan photo itu.


"Berlutut !" perintah Bila pada Anton.


Anton mematuhi perintah Bila, berlutut dihadapan Photo kedua orang tua mereka itu.


"Pertanggungjawabkan perbuatanmu pada papi dan mami !. Pertanggungjawabkan !"


Bila membentak Anton. Suaranya gemetar menahan tangis dan amarah.


"Pertanggungjawabkan Anton !" kata Bila lagi dan seketika meledaklah tangisnya.


"Kau membunuh Bintang. Kau membunuh adikku. Kau tidak tahu diri !. Kau itu bukan siapa-siapa dirumah ini. Kau itu hanya anak angkat !. Ingat itu !... Jahat kau !" kata Bila disela tangisnya. Menumpahkan amarahnya pada Anton.


Tetangga yang mendengar pengakuan Bila itu terperanjat. Terlebih-lebih Mbak Ipeh. Tidak menyangka kalau Anton adalah anak angkat. Selama ini mereka tidak tahu.


Para tetangga, kolega dan keluarga jauh; tidak tahu. Bahkan keluarga terdekatpun belum ada yang tahu. Hanya almarhum papi dan mami, almarhum Theo dan istrinya. Danu sang pengacara dan almarhum pengurus panti asuhan. Tempat Anton diangkat jadi anak oleh papi dan mami.


Maka ramailah bisik-bisik tetangga yang mencibir Anton. Menyebut Anton sebagai anak yang tidak tahu balas budi.


"Anjing saja tahu balas budi, pada orang yang merawatnya" celutuk seorang tetangga. Anton mendengar jelas celetukan itu dan membenarkannya.


Hingga membuat Anton jatuh tersungkur dan tertunduk didepan photo orang tua mereka itu. Kemudian meledak jugalah tangisannya. Sampai punggungnya berguncang-guncang kuat. Terdengar suara pilunya yang memohon ampun kepada kedua orang tuanya.


Bila hanya menatap punggung Anton. Rasa iba dan marah kepada Anton, berkecamuk dihati dan fikirannya. Membuat air mata Bila menitik sangat deras.


Penghiburan dari Edhi, sang suami; tidak dapat menghentikan tangisannya. Malah tangisannya semakin kencang dan membenamkan wajahnya didada suaminya itu. Tapi hanya sesaat.


Sesaat kemudiam Bila kembali menatap marah pada Anton yang masih tertunduk dan tersungkur didepan photo papi dan mami mereka.


"Jika nyawa Bintang tidak terselamatkan. Aku akan memastikan, kau dan istrimu mendekam lama dipenjara !. Seumur hidup kalian !. Sampai kalian membusuk !. Ingat itu Anton !" kata Bila disela isak tangisnya.


Lalu Bila pergi. Setengah berlari meninggalkan Anton. Sambil meratap pilu.


***


Sementara itu dirumah orang tua Tari yang tadinya selalu sepi, kini tiba-tiba ramai oleh polisi dan tetangga-tetangga. Tidak ketinggalan Mbak Ipeh hadir dikeramaian itu. Rela datang hanya untuk mengetahui perkembangan selanjutnya.


Tapi Tante Hombing tidak ikut meramaikan keadaan yang sudah ramai itu. Ceritanya dia masih shock dan tidak ingin melihat Tari. Hanya ada Om Hombing diantara keramaian itu untuk memastikan Tari tertangkap dan tidak muncul lagi dirumah mereka.


Semua orang-orang itu dan para polisi, masih berada diluar pagar rumah orang tua Tari itu. Karena pintu pagar itu terkunci. Sudah berulang kali polisi memanggil-manggil nama ibu dan ayah untuk segera membuka pintu. Namun belum juga ada jawaban.


Kencangnya suara polisi-polisi yang memanggil-manggil itu, juga suara sirine dari mobil polisi itulah yang menyebabkan para tetangga jadi penasaran. Lalu berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Kini berkerumun didepan pagar depan rumah orang tua Tari itu.


Hampir usai tengah malam, barulah ibu muncul dari arah luar rumah. Sepertinya baru pulang entah dari mana.


Ketika melihat orang ramai didepan rumahnya, ibu tampak sedikit kaget dan lebih banyak merasa kesal. Melihat orang banyak itu mengerumuni pintu pagarnya. Menghalangi jalannya untuk masuk kerumah dan terpaksa menghentikan motornya didepan pintu pagar rumahnya itu.

__ADS_1


"Ada apa ini !?... Ha !. Ada apa !" tanya ibu dengan suara kencang dan lancang, dari atas motornya; kepada Komandan Kabila DF. Tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Uuuuuu..." sorak orang banyak itu, serentak; meneriaki ibu.


"Maaf...Ibu tinggal dirumah ini ?" tanya Komandan Kabila DF.


Karena Komandan Kabila DF tidak menjawab pertanyaannya. Tapi malah balik bertanya. Sempat membuat ibu marah dan nyaris menghardik sang komandan itu.


"Iya !...Kenapa emangnya !" tantang ibu dengan sorot mata tajam.


"Kami dari kepolisian. Membawa surat perintah untuk menggeledah rumah ibu. Jadi mohon kerjasamanya. Tolong buka pintu ini sekarang juga"


"Enak saja !. Kalau gua gak mau...lo mau apa !"


"Uuuuuuuu...." sorak orang banyak itu lagi. Mendengar penolakan ibu yang sangat lantang.


"He !...dengar ya !... Aku buka *******. Jangan seenaknya minta ijin masuk !"


"Kalau begitu, ibu batu kami. Anak ibu ada yang bernama Tari kan ?"


"Dia anak durhaka !. Tak kuanggap dia sebagai anak !" jawab ibu cuek.


Lalu membuka pintu pagar rumahnya tidak lebar. Secukup tubuh gembulnya bisa masuk saja.


Kemudian ibu masuk dan akan menutup kembali pintu pagar rumahnya itu. Tapi Komandan Kabila menahan pintu itu dengan satu tangannya.


"Kami mau mencari Tari dirumah ibu ini. Mungkin dia bersembunyi disini"


"He !...Kau budek, ya !. Aku sudah bilang, tidak kuanggap dia sebagai anakku !. Cari dia dirumah suaminya !. Jangan dirumahku !...Kucincang dia, kalau dia berani kerumahku ini !. Pergi kalian !"


"Kami harus masuk !. Kami sudah mempunyai surat perintah penggeledahan rumah ibu ini"


Komandan Kabila DF memaksa masuk dan memberi isyarat ke anak buahnya untuk segera masuk.


"Tahi kucing surat perintahmu itu !. Pergi kalian !"


"Uuuuuuu...."


"Diam kalian !" bentak ibu keorang-orang banyak itu yang selalu menyorakinya.


"Memangnya ada apa kalian mencari dia !"


"Dia menikam Bintang, adik suaminya"


"Ooo...mati si Bintang " tanya ibu dengan senyuman sinis, mengembang lebar.


Tak urung penjelasan Komandan Kabila DF itu membuat ibu jadi penasaran untuk mengikuti kelanjutannya. Seketika ibu berubah jadi bersikap ramah kepada para polisi dengan mempersilahkan polisi-polisi itu masuk dan menggeledah rumahnya.

__ADS_1


"Silahkan digeledah sepuasnya, ibu. Silahkan...silahkan..." kata ibu mempersilahkan Komandan Kabila DF untuk masuk.


Bahkan orang banyak itupun dipersilahkan ibu juga untuk masuk.


"Silahkan masuk semuanya. Kalau ada barang-barang saya yang hilang, itu tanggung jawab polisi. Ayo masuk...silahkan..."


Tapi polisi melarang orang banyak itu ikut masuk. Beberapa orang polisi diperintahkan berjaga-jaga didepan pintu pagar rumah ibu.


"Cari dia sampai dapat. Tangkap...Penjarakan dia seumur hidup. Dia memang anak yang tidak berguna. Dia pembawa sial !. Anak kurang ajar !..." teriak ibu pada para polisi yang menyebar dirumahnya untuk mencari Tari.


Ibu memberi dukungan dan semangat mencari kepada para polisi itu. Membukakan pintu setiap ruangan yang ada dirumah itu. Termasuk ruangan khusus Mbah Kahpok.


"Brak !" ibu membuka pintu ruangan Mbah Kahpok dengan kasar. Sampai mengeluarkan suara berisik. Karena tepi pintu membentur tembok ruangan itu.


Tampak Mbak Kahpok tidak kaget, tidak bergeming. Tetap fokus bersemedi.


"Angkut dia... dan buang !..." kata ibu. Ketika beberapa orang polisi membawa paksa Mbah Kahpok keluar dari ruangannya itu.


Mbah Kahpok masih tak bergeming. Masih dalam posisi bersemedi dan mata terpejam rapat.


Beberapa orang polisi lagi masih menggeledah ruangan Mbah Kahpok itu. Tapi tidak menemukan adanya keberadaan Tari.


"Siapa dia" tanya Komandan Kabila DF kepada ibu.


"Pengemis miskin !..Ngaku-ngaku sebagai dukun !. Siksa saja dia !. Pasti dia akan memberitahukan keberadaan si anak durhaka itu. Mereka berdua itu sering melakukan mesum dirumah ini. Bawa saja dia dan siksa !"lanjut ibu panjang lebar dengan suara lantang bahagia.


"Rumah ini hawanya tidak enak" kata salah seorang polisi, berbisik kepada teman yang ada disampingnya.


"Iya...menyeramkan. Membuat bulu kuduk merinding" jawab temannya itu dengan berbisik pula.


"Percis seperti yang dibilang warga tadi itu. Mereka memegang jimat. Memelihara jin"


"Bisa saja si Bintang itu tumbal"


Kedua orang polisi itu masih berbisik-bisik tidak jauh dari depan Mbah Kahpok yang duduk bersila diatas sebuah sofa, diruang keluarga.


Seketika Mbah Kahpok membuka matanya. Menatap tajam pada kedua orang polisi itu. Kedua orang polisi itu gugup. Melihat mata tajam Mbah Kahpok seperti itu.


Tubuh mereka tiba-tiba lemas. Seperti akan terjatuh lunglai diatas lantai. Untunglah kemudian seorang polisi lain datang dan berdiri didepan mereka. Menghalangi tatapan Mbah Kahpok ke mereka. Barulah keadaan pulih lagi.


Tapi ketakutan menyerant mereka secara tiba-tiba. Seperti ada suatu mahluk yang menyeramkan akan memasuki tubuh mereka, satu persatu. Membuat mereka sangat gelisah. Berusaha melawan mahluk itu dengan membaca doa-doa. Sesuai dengan agama mereka masing-masing.


Polisi yang baru datang itu membawa serta Anton dan Mbak Ipeh dengan memegang lengan Anton. Begitu Mbak Ipeh beradu pandang dengan Mbah Kahpok...


"Iiiiiiiii"***


(tolong dukung dgn 👍thank u)

__ADS_1


__ADS_2