PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Tumbal


__ADS_3

Hal itu bisa membuat Tari lalai. Padahal Tari sangat tahu, ibu tidak akan rela melihat Tari tak dihukum ayah. Pasti ibu akan terus bertindak. Menceramahi ayah dengan kemarahan dan sumpah serapahnya. Tidak hanya pada ayah, juga pada Tari. Bisa jadi satu buku ceramah ibu itu. Buku horor yang banyak pustaka caci maki.


Bila itu juga tidak digubris ayah, ibu akan bertindak. Mengejar Tari sampai ke ujung dunia sekalipun. Menghukum Tari dengan hukuman yang menggenaskan. Apalagi ini permasalahan uang.


Tari sudah dapat membaca semua yang difikirkan ibu. Maka sebelum itu terjadi, Tari harus bersembunyi, menyelamatkan diri. Tidak perlu ke ujung dunia. Tidur diatas dahan pohon mangga kesayangannya saja. Esok pagi akan cepat ke sekolah. Setelah ibu pergi ke pasar dan ayah belum bangun.


Hanya berbekal sisa uang ayah yang diambilnya beberapa hari yang lalu. Masih cukup untuk ongkos ke sekolah hari ini dan beberapa hari ke depan. Persetanlah jika tak membeli kado buat Kabila. Nantilah hal itu difikirkan lebih lanjut, yang penting sampai dulu di sekolah. Karena pada siang hari, sekolah merupakan tempat teraman yang kini dimiliki Tari.


Tidak mungkin ibu atau ayah mendatanginya ke sekolah, hanya untuk memarahinya. Sejak dari TK, ayah dan ibu tidak pernah menjejakkan kakinya di sekolah Tari. Entah untuk alasan apapun.


Dulu Tari sering sedih akan hal itu. Cemburu pada teman-temannya yang diantar dan dijemput. Bahkan ditungguin di sekolah oleh tua mereka. Sekarang Tari malah bersyukur. Ayah dan ibu tidak pernah terpanggil untuk mengantar, menjemput dan menungguinya di sekolah. Apalagi harus mengunjunginya ke sekolah.


Ternyata setan benar. Miss Cecil itu hanya tokoh jahat yang menyamar jadi tokoh baik. Seperti srigala berbulu domba. Mempermasalahkan ayah dan ibu yang tidak pernah datang ke sekolah. Terkhusus menghadiri acara pertemuan guru dan orang tua. Ternyata semua itu hanya upaya mencuci otak Tari. Agar Tari rendah diri dan cemburu pada teman-temannya.


Jika waktu boleh terulang, Tari akan langsung berlari mendapatkan Miss Cecil dan meludahi pangkuannya. Karena dipangkuannya itulah, proses Miss Cecil mencuci otak Tari. Tapi walaupun waktu tidak mungkin terulang lagi, Tari tak mau tertipu dua kali. Buktinya tanpa Miss Cecil pun, Tari dapat bersosialisasi dan dapat teman. Langsung satu gank. Gank terkenal disekolah lagi.


Maka dengan percaya diri yang dibangunnya sendiri dari jumlah sisa uang ayah yang diambilnya adalah masih cukup untuk nilai kepercayaan dirinya. Taripun berbaur dengan Kabila n d gank nya. Larut dengan ketawa-ketiwi bersama mereka. Membuat Tari merasa jauh dari ketakutannya akan hukuman ayah dan kemarahan ibu. Ketakutan itu cukuplah ditinggalkannya dteras depan rumah. Hanya melambai-lambaikan tangannya, saat dirinya naik angkot ke sekolah.

__ADS_1


Usai sekolah pun, Tari tak ingin segera pulang kerumah. Disongsong kerinduan rasa takutnya yang tadi ditinggalkannya. Akan lebih baik kalau Tari membuat rasa takut itu bosan menungguinnya dengan bersembunyi lebih jauh lagi. Mengikuti langkah rencana Kabila n d gank nya. Menghabiskan sisa waktu terang yang tinggal beberapa jam lagi ke depan. Sebelum malam tiba. Magrib menjelang itulah waktu yang tepat untuk pulang kerumah. Seperti waktu-waktu biasanya, pasti ibu sudah pergi lagi.


Sisa waktu yang ada itu dihabiskan Tari bersama Kabila n d gank nya, dengan melakukan ritual remaja putri pada umumnya. Yaahh...apalagi kalau tidak bermain di mall. Tari hanya bisa cuci mata. Melihat baju indah, sepatu keren...Sementara Kabila n d gank nya, membeli beberapa potong baju. Baju diskon sih.


Lalu photo-photo, up date status, buat video-video lucu dan de el el. Menayangkan siaran langsung. Saat makan dan minum. Menanyakan IG Tari, nmr WA Tari, alamat blognya dan blabkabla...yang sangat membuat Tari bingung.


Tari tidak mengerti arti pembicaraan mereka. Padahal mereka memakai bahasa Indonesia. Kok...Tari tidak mengerti. Tari terlihat sangat bodoh didepan mereka. Mengembalikan Tari pada posisi semula, pendengar dan tim hore-hore.


Desissan setan bising ditelinga Tari. Menuduhnya sebagai remaja ketinggalan jaman, tidak gaul. Dijaman tehnologi canggih ini, remaja itu harus rajin up date perkembangan tehnologi. Bergaul dengan teman-teman di dunia nyata, juga dunia maya. Memperbaharui kata-kata, penampilan dan juga hp.


Hp itu harus tembus ruang dan waktu. Bisa berhahahihi dengan teman dimana saja dan kapan saja. Saling bertatapan muka. Tidak hanya bisa teleponan dari telinga dan kirim pesan teks. Tuh...lihat Kabila n d gank nya. Bisa videoan, bisa dengar lagu, nonton dan de el el. Tidak membahas pulsa. Tapi membahas kuota dan wifi.


Taripun semakin merasa dicampakkan, diabaikan dan ditertawakan. Traktirannya yang dahulu-dahulu, sama sekali tak dianggap mereka. Seenaknya mereka tertawa-tawa dikesendirian Tari. Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama.


Ayah dan ibulah yang menyebabkan semua penderitaan Tari ini. Tidak pernah mengalokasikan dana tambahan kepadanya. Agar Tari tidak ketinggalan jaman. Hanya nangkring diatas pohon. Seperti seekor monyet. Sudah itu sendirian lagi.


Setan sangat tahu kegelisahan Tari itu. Para setan menyuguhkan daftar kebutuhan Tari sebagai remaja. Remaja yang hidup dimasa kini. Suatu daftar yang sangat panjang dan banyak. Jika Tari ingin diterima kembali di gank nya Kabila dan harus dihormati. Daftar itu harus dipenuhi.

__ADS_1


Ayah harus bertanggung jawab untuk memenuhinya. Jadi ayah tidak boleh marah pada Tari yang telah mengambil uang ayah. Tari hanya mengambil haknya. Menikmati hasil jerih payah ayah. Bahkan ayah dilarang marah.


Kalaupun ayah sudah marah, Tari akan memaafkan ayah. Sekalian Tari akan membantu ayah. Agar tidak dihantui rasa bersalah. Karena telah berniat akan menghukum Tari. Tari akan berpura-pura merasa bersalah pada ayah dan minta maaf. Agar ayah mendapat predikat sebagai ayah yang baik.


Okelah...Tari akan memberi waktu pada ayah untuk layak menyandang predikat itu. Memenuhi semua daftar kebutuhan Tari. Mulailah Tari beraksi. Memperlihatkan wajahnya pada ayah. Menunggu ayah memberinya uang untuk ongkos PP ke sekolah dan rumah, uang saku, uang ini dan uang itu.


Hingga beberapa hari ditunggu, belum terjadi. Setiap pagi ayah hanya memberinya ongkos PP sekolah-rumah dan sedikit uang tambahan. Paling hanya cukup beli es sirup dan dua bakwan di kantin sekolah. Ketika Tari meminta tambahan lagi, ayah menyuruh Tari memintanya dari ibu.


Wow...itu artinya, ayah menyuruh Tari berperang dengan ibu setiap detik. Sungguh...ayah bukanlah ayah yang baik. Secara terang-terangan mengabaikan Tari. Tidak berempati pada Tari. Tidak merasakan betapa terintimidasinya Tari.


Tak punya uang membeli kado buat Kabila. Menghadiri pesta Kabila dengan tangan kosong. Tapi turut menikmati makanan yang terhidang dipesta itu.


Bahkan menurut Gracia yaitu salah seorang dari gank nya Kabila, kepada teman-teman mereka dikantin. Tari adalah orang yang paling rakus menyantap hidangan ulang tahun Kabila. Sampai setengah kue ulang tahun Kabila, habis dilahap Tari. Bahkan hidangan makanan dan minuman, banyak yang dibawa pulang oleh Tari.



Pendapat Gracia itu terdengar oleh Tari tanpa sengaja. Suatu pendapat yang sesuai dengan fakta. Namun sangat membuat Tari marah dan merasa sangat dilecehkan. Tapi harus pasrah mengabaikan.

__ADS_1



Berpura-pura tidak tahu dengan berita dari Gracia itu yang sudah viral dilingkungan sekolah mereka. Cukuplah tatapan teman-teman mereka itu saja yang dirasakan Tari bagai sindiran yang merendahkan dirinya. Semua itu salah ayah !\*\*\*


__ADS_2