
Belum satu menit duduk berdua dengan Tari, Della langsung merasakan aura negatif menghantam kepalanya. Seakan ada sesuatu yang memaksa masuk ketubuhnya untuk menguasai fikirannya. Kepalanya serasa seperti bengkak, membesar dan berat. Bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya serasa kedinginan.
Tari menatap Della dengan amat sangat tajam.
"Bagaimana kabar kalian setelah pindah" tanya Della spontan dan asal. Sekedar memecah kebekuan diantara mereka dan mengusir aura negatif yang terus menghantam fikirannya.
Syukur masih ada sisa kekuatan doanya tadi pagi. Jadi Della masih bisa berfikir dan mempunyai kekuatan untuk bersuara. Walaupun itu asal. Agar aura negatif itu hanya berjuang didalam kepalanya. Mencari-cari celah untuk masuk ke fikirannya dan tidak boleh menguasai fikirannya.
Ternyata aura negatifnya tidak tertepis. Bahkan semakin tebal dan sepertinya telah menemukan celah untuk masuk. Buktinya, fikiran Della serasa macet.
Aura negatif itu teraliri dari sorot mata tajam Tari kepadanya. Sorot mata yang membiaskan kemarahan yang sangat besar.
"Ooo...ternyata mulut si Bintang sudah memanjang, ya. Sampe lo tahu kami sudah pindahan. Bilang apa lagi dia tentang ke gue ke elo"
"Gak bilang apa-apa. Dia hanya bilang, lo dan Bang Anton sudah menempati rumah kalian sendiri. Itu saja kok" kata Della gugup, ketakutan dan nyaris memelas.
"Gak mungkin...dia pasti meluapkan kebahagiaannya ke elo. Kalau dia sudah berhasil menyingkirkan gua. Iya kan ?!...Ooo...dia salah besar. Lihat saja nanti. Tunggu tanggal mainnya. Gua yang akan singkirkan dia. Sekaligus dari dunia ini" jawab Tari sangat marah.
"Masya Allah, Ri"
"Dia itu menghasut orang tuanya untuk mengusir gua. Dia fikir, gua akan kelaparan. Oooohhh....No" lanjut Tari dengan kemarahan yang semakin besar. Suaranya pun semakin kencang. Sekencang suara musik diwarung ini dan diantara suara riuh bercakap-cakap, bercanda dan tertawa para pengunjung warung ini.
"Kalau si Anton...iya. Pasti dia kelaparan. Tapi gua...gua masih bisa makan. Masih bisa shoping-shoping. Gua masih banyak tabungan dari hasil mencu...Eh...dari uang bulanan yang dikasih bokap gua. Bokap gua tidak miskin dan bokap gua masih punya hati. Tidak seperti si Bintang itu. Sok cantik, sok kaya...Tapi gak punya hati !" kata Tari sangat berapi-api. Tanpa sadar diujung kata-katanya, Tari menggebrak meja, sangat kuat.
Syukurlah suara musik masih lebih kencang dibanding suara gebrakan meja tadi. Jadi para pengunjung tidak terganggu dengan suara gebrakan meja itu.
Para pengunjung itu masih asyik dengan kegiatan mereka. Bercengkerama atau memelototi hp mereka masing-masing. Tak seorangpun dari mereka yang memperhatikan Della yang kini sangat diserang ketakutan.
Tubuh Della pun sudah menggigil ditengah Tari masih terus mengumpat. Mencaci maki Bintang. Namun tiba-tiba Tari berdiri dan membungkuk kearah Della dan...
"Plak !...Plak !..."
Tari mengemplang kuat kepala Della.
"Lo membantu Bintang untuk menghasut orangtuanya, kan !?"
"Srep..."
Tari menjambak kuat rambut Della dan menghentakkan kuat kepala Della ke meja.
"Buk !.."
__ADS_1
Kening Della pun membentur meja. Della kesakitan dan belum sempat untuk mengaduh. Apalagi meringis, karena...
"Brak !..."
Tari mendorong kuat tubuh Della kearah belakang. Hingga Della terjatuh dari kursinya, terjungkal kebelakang.
Seorang pelayan pria yang kebetulan melihat Della terjatuh, segera bertindak menghampiri Della.
"Kak...Kak...Aduh...Maaf..." kata si pelayan panik dan gugup. Sambil menolong Della untuk bangun duduk.
Sementara Tari hanya memperhatikan dan menyeringai. Si pelayan tidak memperhatikan wajah Tari yang sedang menatap marah pada si pelayan. Fikiran si pelayan hanya fokus segera membantu Della untuk bangun dan segera duduk kembali.
Sebelum ada pengunjung yang memperhatikan Della terjatuh dari kursi itu. Bisa merusak citra warung ini, bahwa kursi-kursi diwarung ini sudah pada rewot, lapuk. Korbannya sudah satu orang pengunjung yang bernama Della.
"Ayo, kak. Pelan-pelan...Hup...Yah" kata si Pelayan. Agak kewalahan si pelayan membantu Della untuk kembali duduk. Karena Della masih dilanda ketakutan. Tatapannya hanya tertuji pada Tari, tatapan was-was. Tidak perduli pada bantuan dan kepedulian si pelayan.
"Kakak duduk dikursi yang satu lagi yah..." masih kata si pelayang dengan suara lembut dan manis.
Tapi belum lagi Della meletakkan pantatnya pada kursi yang dimaksudkan si pelayan, Tari meraih paksa sebuah nampan dari seorang pelayan pria yang kebetulan melintas dari sebelah sisinya.
Nampan itu berisikan sebuah mangkok, gelas yang berisi minuman dan satu piring yang berisi nasi.
"Srep !...Byur !...Trang !....Treng...Kres !...Kleteng...kleteng..teng...teng..."
Juga beberapa pengunjung yang mendengar dan terusik mendengar keramaian yang diakibatkan isi nampan yang berjatuhan. Serentak mereka menoleh kearah Tari, Della dan kedua pelayan itu.
Tapi belum lagi kekagetan mereka usai, Tari telah melayangkan nampan itu kearah Della.
"Srep !..."
"Awas !" teriak kencang seorang pengunjung perempuan, spontan dan kaget. Melihat nampan itu melayang, tapi telat. Gerakan tangan Tari lebih cepat dari suara si pengunjung perempuan itu.
"Plak !..."
"Aaa !!!!...Brengsek !..." pekik si pelayan yang menolong Della itu.
"Aaaa !!!..." teriak pengunjung perempuan itu lagi, masih kencang.
"Ada apa sih..."
"Ada apa ?..."
__ADS_1
"Ada apa ?..."
"Ada apa ?..."
Maka ramailah tanya-tanya kekagetan para pengunjung.
Ternyata pukulan Tari meleset. Tampak nampan itu mengenai kepala si pelayan yang menolong Della. Sementara Della telah lebih dulu menghindar. Karena tatapan was-was Della tidak lepas ke arah Tari.
Maka ketika nampan itu dilayangkan Tari ke arahnya, Della langsung menghindar. Naas bagi si pelayan yang masih menopang Della untuk duduk dikursi yang satunya lagi. Sebuah kursi yang tepat berada disebelah kursi yang tadi diduduki Della dan telah terjungkal bersama Della tadi. Anggapan si pelayan kursi itu rewot. Makanya Della terjatuh. Si pelayan tidak melihat bahwa penyebab Della jatuh adalah akibat didorong oleh Tari.
"Aaaa !!!!..." teriak beberapa pengunjung perempuan yang lain, yang melihat nampan itu mengenai kepala si pelayan itu.
"Srep !...Hup !..."
Si pelayan yang membawa nampan, menangkap dan merampas nampan yang masih ditangan Tari. Mencegah terjadinya aksi pemukulan selanjutnya. Lalu mencengkeram satu tangan Tari.
"Plak !...Plak !..."
Tak diduga sang pelayan yang mencengkeram satu tangan Tari itu, dihujani Tari dengan tamparan dua kali pada kedua pipinya. Mempergunakan tangan Tari yang satunya lagi.
Membuat si pelayan kaget, kesakitan dan cengkeramannya terlepas dari tangan Tari. Tari pun segera menarik tangannya dan akan melangkah pergi.
"Gggrrr...:
Tari menggeram pada pengunjung yang telah mengerumuni mereka.
"Pinggir !...atau gua cakar wajah lo pada" kata Tari mengancam pengunjung yang berdiri percis didepannya dengan wajahnya yang sangar, menyeramkan.
Membuat ciut nyali mereka dan segera minggir selangkah kekiri dan kekanan. Membuka jalan buat Tari melangkah pergi, tanpa hambatan.
"Hei !..Jangan lari lo !" teriak si pelayan yang menolong Della. Sambil memegangi pelipisnya yang tadi ternyata kena hantaman nampan tersebut.
Kini Della yang menolong si pelayan itu. Mengelap dengan tissue tetesan darah yang mengalir dari pelipisnya itu ke matanya.
"Pelipis kamu harus segera diobati" kata Della dengan suara lembut.
"Berhenti lo....Hei !...Hentikan dia !" kata pelayan sipembawa nampan tadi pada orang-orang yang memperhatikan mereka untuk mencegah Tari pergi.
Tapi tak seorangpun dari mereka yang berani mencegah Tari. Karena mereka adalah teman dan adik-adik tingkat Della yang sudah mengetahui, kalau Tari memiliki jin pelindung. Jadi mereka semua takut mencegah Tari.
Taripun terbebas lagi kali dari kekacauan yang dilakukannya.***
__ADS_1
(Yg sdh baca thank ya...yg like dan komen lop u pull♥️)