
Sambil menari-nari dan bernyanyi-nyanyi didepan cermin kamarnya, Tari menikmati kebahagiaannya. Tertawa-tawq kencang dan sesekali tersenyum pada pantulan dirinya dari dalam cermin itu.
Tampak dari cermin, tubuh tingginya yang gemuk sudah sangat mengembang. Lemak bergelantungan dimana-mana. Komedo berantakan diwajah. Sama dengan berantakan rambut pendeknya yang keriting dan jarang disisir. Tapi Tari tidak memperhatikan itu, yang dilihatnya hanya pantulan seorang nyonya kaya.
"Aku kaya sekarang. Aku kayaaaa... Rumah papi milikku, klinik papi, rumah kami ini, mobil papi, mobil keluarga, mobik yang itu lagi; semuanya milikku. Hahaha...."
Seumur hidupnya inilah kebahagiaan Tari yang pertama dan yang sesungguhnya. Nyata bisa dinikmatinya. Membayangkan banyak uang yang masuk ke rekening pribadinya. Sebagai pemasukan penghasilan.
Banyaklah rancangan usaha yang sudah tersusun difikirannya. Mulai dari membeli mobil baru untuk disewakan. Menjadikan Anton sebagai pengawas lapangan. Menyewakan klinik papi mertua kepada dokter. Lalu menjadikan rumah mereka ini menjadi klinik bersalin yang akan dikelolanya sendiri.
Tari masih tertawa-tawa, menari-nari dan bernyanyi didalam kamarnya. Meluapkan kebahagiaannya yang sangat luar biasa itu. Tidak dapat diwakilkan hanya dengan tertawa, menari atau bernyanyi. Jika ada cara lain untuk meluapkannya, Tari akan melakukannya. Agar seluruh jagat raya dan jagat tidak nyata, mengetahui kebahagiaannya itu.
"Syukuuuuuuurrr....Akhirnya mati juga. Selamat jalan mami, papi, Bang Theo, istri Bang Theo dan anak-anak kalian. Baik-baiklah kalian dialam baka, ya...Daaaaahhh...." kata Tari dengan suara berteriang nyaring, bahagia.
Beberapa jam yang lalu, Tari diberitahu Anton via telepon; bahwa mami, papi, Bang Theo dan istrinya. Beserta kedua anak laki-laki mereka, meninggal dunia dalam suatu kecelakaan beruntun.
Mami dan papi meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan Bang Theo, istri, kedua anaknya dan Pak Joko; meninggal ditempat terjadinya kecelakaan itu.
"Sayang sekali mobil itu. Mobil mewah yang jadi impian gua, hancur berantakan" gumam Tari sendirian. Masih didalam kamarnya, dirumah mereka.
"Tapi tidak mengapa. Sekarang, mampuslah kalian. Kualat kalian semua. Syukur deh kalian tidak mengajak aku. Kalian pergi liburan tidak mengajak aku sih. Sekarang, terimalah akibatnya. Mati kalian semua. Hahahah...."
Sedangkan Anton telah semalaman dirumah sakit. Mengurus kepulangan jenazah keluarganya itu. Setelah seluruh jenazah keluarganya diberangkatkan menuju rumah mereka, Anton masih harus sibuk mengurus pemakaman jenazah-jenazah itu secara agama dan adat istiadat mereka.
Kecuali jenazah sopir papi, yaitu Pak Joko; yang telah diantar kerumah istrinya. Tidak jauh dari rumah papi. Hanya berbeda RT saja.
Letih dan sedih, baik fisik dan terlebih-lebih fikiran Anton. Sampai-sampai Anton tidak merasakan perutnya lapar ataupun tenggorokannya haus. Sedikitpun tidak ada terbersit niat Tari untuk menghibur Anton.
__ADS_1
Setidaknya memberikannya makan atau sekedar memberinya air minum. Karena Tari juga tidak mau tahu, kapan Anton terakhir makan atau minum.
Fikiran Tari hanya diisi harta orang tua Anton yang kini pasti jadi miliknya. Terutama perhiasan mami, yang telah langsung diselamatkan Tari dari dalam laci meja rias mami. Berpindah tempat yang aman dalam jangkauan Tari.
Setelah merasa aman, Tari kembali duduk disebuah kursi yang khusus disediakan buat dirinya yang sedang hamil. Pada sisi peti jenazah mami mertuanya. Menampilkan wajah sedih. Menundukkan wajahnya, layaknya orang yang sedang menangisi jenazah itu. Padahal dari ekor matanya, Tari melirik sinis kepada Bintang dan Bila.
"Mampus kalian sekarang. Selesai acara ini, selesai juga kalian dari rumah ini" bisik Tari didalam hatinya.
Itupun sesaat, karena tiba-tiba Tari teringat klinik papi. Lalu bergegas menuju klinik itu. Ternyata pintunya terkunci. Ada kekecewaan besar menyelimuti hati Tari.
Taripun kembali duduk dikursinya itu. Sedang Bintang duduk didepannya, tepatnya diujung kakinya. Tapi sebelum duduk, sejenak Tari menatap sinis pada Bila yang duduk disisi satu lagi dari peti jenazah mami mereka. Tepatnya didepan Bintang.
"Seeerrr...."
Mendidih darah Tari melihat Bila. Dugaannya pasti Bila sengaja mengunci pintu klinik itu dan menyimpan kuncinya. Hati Tari emosi. Tari tidak rela jika Bila menguasai klinik itu.
Karena hal itupun, hati Tari semakin panas. Duduknya jadi gelisah dan tatapan matanya liar kepada semua pelayat. Sebentar kemudian berdiri, menggerak-gerakkan tubuhnya. Lalu duduk lagi dengan gelisah.
Menebarkan pandangannya kesekeliling. Seakan sedang menggerak-gerakkan kepalanya. Agar tengkuknya tidak tegang dan tidak mengalami stress.
Semua pelayat dan keluarga yang hadir saat itu, memaklumi kegelisahannya itu adalah karena kondisinya yang sedang hamil.
"Aha !..."
Ternyata Tari menangkap rasa maklum itu. Menumbuhkan suatu ide dikepalanya. Memakai alibi tidak sengaja. Berpura-pura tidak sengaja menyikut kuat kepala Bintang. Saat Tari kembali menggerakkan tubuhnya atau saat akan menerima jabat tangan dari pelayat.
Bintang tidak kaget ataupun marah. Hanya diam dan menganggap itu hal tidak kesengajaan. Tapi hal ketidaksengajaan itu semakin sering berlangsung. Saat Tari kembali menggerakkan tubuhnya, kekiri dan kekanan. Lalu menjulurkan kedua kakinya. Tanpa sengaja menendang pinggang, bokong.
__ADS_1
Menyikut lagi kepala Bintang. Saat menerima jabat tangan dari pelayat lagi. Sesaat Bintang menatap Tari untuk mendapat jawaban dari garis wajahnya akan perbuatannya itu.
Ternyata Tari tengah menantikan tatapan Bintang itu. Maka ketika Bintang menatap Tari, Tari telah lebih dulu menatap tajam kepada Bintang.
Bintangpun hanya dapat mendesah dan menarik tatapannya. Sambil menggeser duduknya untuk lebih jauh dari Tari. Bintang mengalah atas dasar pengertian. Memberi ruang yang lebih luas buat Tari untuk menggerakkan tubuhnya.
Walaupun demikian, kaki Tari masih saja dapat menjangkau Bintang. Tanpa sengaja menendang paha, punggung, menyikut pelipisnya.
Akhirnya Bintang sudah dapat menebak bahwa hal itu bukan unsur ketidaksengajaan lagi. Tapi apa hendak dikata. Hatinya masih sangat dirundung duka. Bintang hanya bisa mendesah, mengalah dan sedapat mungkin mengabaikan tatapan kebencian Tari.
Menitikkan air mata atas kepergian kedua orang tuanya, abangnya dan seluruh keluarga abangnya. Meratapi kesedihannya yang tak terungkapkan itu. Jadi Bintang merasa tidak tertarik untuk mempertanyakan perlakuan Tari itu.
Selesai semua acara agama, barulah mayat keluarganya itu dikuburkan. Kesemena-menaan Tari semakin sadis. Sekarang Bintang tidak memilih diam lagi. Hatinya yang hancur, semakin hancur terbakar amarah.
Ketika tadi Bintang melihat Tari masuk kekamar orang tuanya dan lama baru keluar lagi dari kamar itu. Ketika Bintang mencoba masuk untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan Tari didalam kamar itu, pintu kamar terkunci.
Padahal mayat orang tua mereka baru saja dikuburkan. Tanah kuburanyapun belum lagi kering. Tari sudah berani bertindak main segel atas kamar tidur mertuanya. Seakan-akan Tari merasa telah memegang hak waris atas kamar orang tuanya itu. Oleh ijin siapa ?...
"Toko...Tok...Tok..."
"Buka pintunya"
Bintang mengetuk-ngetuk kencang pintu kamar orang tuanya itu.
"Buka !...Hei !...Ngapain lo didalam. Buka ini !..." kata Bintang lagi.
Lama kemudian, Taripun akhirnya membuka pintu kamar itu. Berdiri didepan pintu kamar itu. Sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya dengan sorot mata tajam ke mata Bintang***
__ADS_1