PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Berkunjung Jahat


__ADS_3

"To...."


Martha akan berteriak minta tolong.


"Berisik !" kata Tari. Sambil seketika membenturkan kepala Martha ke tembok.


"Buk !... Buk !.... Buk !..."


Sebanyak tiga kali dan sangat kencang. Kali pertama benturan saja, Martha masih bergerak menggelepar. Apalagi sampai tiga kali. Martha sudah diam, tak berdaya.


Darah bercucuran deras dari kepalanya. Barulah Tari melepaskan tangannya dari rambut Martha. Menatap Martha dengan senyum puas, bahagia.


"Maaf gua berubah fikiran. Tadinya gua mau bilang ke lo, kalau Bintang sudah takluk dibawah kaki gua. Biar lo mikir untuk segera berhenti berpura-pura jadi dokter. Percuma kan ?...lo masih main dokter-dokteran. Padahal Bintang gak bisa bayar lo lagi. Tapi entah mengapa, sesaat tadi yang gua inginkan adalah kebalikannya. Bagaimana kalau lo aja yang gua taklukkan. Gua mau lihat reaksi ketakutan Bintang. Kedoknya udah gua bongkar. Lalu si l*nt* kurang ajar itu, ketakutan melihat gua. Sampai nyembah-nyembah gua. Biar dia gua maafin. No lah !...Pret !..." kata Tari berbicara pada Martha yang sudah diam, tak bergerak.


"Ops !..."


Tari menutup mulutnya sendiri dengan kedua tapak tangannya, tapi sesaat saja. Beberapa detik kemudian Tari sudah memperlihatkan senyuman manis nan lebar pada Martha.


Padahal Martha tak mungkin lagi menikmati senyuman itu. Karena mata Martha sudah tertutup rapat dan Martha sudah tergeletak bersimbah darah diatas lantai ruang kerjanya. Mengucur dari kepalanya, membasahi lantai disekitarnya.


"Lo bukan gua taklukkan. Tapi gua bunuh. Maaf ya dokter Martha"


"Puih !"


Tari meludahi wajah Martha. Lalu melangkahi tubuh Martha yang bermandikan darah itu. Tari berjalan dengan tenang menuju pintu ruangan Martha dan keluar dari ruangan itu.


Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Tari masih santai menyusuri koridor puskesmas dan berjalan menuju pintu keluar. Suasana puskesmas yang sudah mulai sepi, sangat membantu untuk Tari dapat pergi menjauh dengan bebas dari puskesmas itu.


Hari baru saja meninggalkan sore dan sebentar lagi malam menjelang. Saat Tari meninggal puskesmas dengan sebuah taksi on line. Pulang kerumah mereka yaitu rumah yang diberikan almarhum orang tua Anton kepada Anton.


Begitu tiba didepan rumah mereka itu, Tari keluar dari dalam taksi tersebut. Sejenak menatap kearah rumah mereka. Lampu-lampu teras depan menyala. Begitu pula lampu balkon. Demikian pula lampu-lampu dibagian samping kiri-kanan rumah, semua menyala. Baik yang dilantai satu. Maupun yang dilantai dua.


Berarti Anton datang kerumah mereka ini. Itu adalah tugas Anton. Memperhatikan rumah mereka ini. Lalu Tari melangkah menjauhi rumah mereka itu. Berjalan menuju klinik bersalin Mila yang berjarak sepuluh rumah dari rumah mereka ini.


Langkah lebar Tari membuat Tari bisa cepat tiba didepan klinik bersalin Mila itu. Tari berdiri disebrang jalan klinik itu. Memperhatikan dan mengamati klinik itu.

__ADS_1


Ada seorang sekuriti. Beberapa orang berada diruang tunggu, dikoridor depan dan entah apa lagi itu. Tari tidak ingin memperhatikan orang-orang itu. Karena semuanya pasti pasien.


Tari tidak ingin membuang waktu hanya untuk melihat pasien klinik itu dari kejauhan. Karena itu Tari berlari-lari kecil menyebrang jalan dan berjalan masuk keklinik bersalin Mila itu. Menyusup masuk diantara beberapa orang yang juga tengah berjalan masuk kedalam klinik.


Sekuriti melihat Tari. Tapi tidak memanggilnya untuk menyakan kepentingannya. Mungkin karena Tari masih mengenakan seragam PNSnya. Lengkap dengan atribut-atribut dinas kesehatannya yang memenuhi baju dinasnya itu.


Tidak hanya lolos dari sekuriti dan dapat melangkas bebas masuk keklinik. Tapi bebas juga berkeliaran didalam klinik. Menjelajahi tiap ruangan dan tiap sudut klinik. Bahkan dapat hormat lagi dari perawat ataupun pasien yang kebetulan berpapasan dengan Tari.


"Selamat malam,bu"


"Selamat malam, bu"


"Huh !" keluh Tari didalam hati dan tidak merespon seorangpun yang telah menyapa dirinya dengan hormat.


Hanya memberi lirikan sinis dan sombong. Lalu Tari melanjutkan 'tour'nya di klinik bersalin Mila itu dan berhenti didepan ruang bayi. Memperhatikan para bayi dari balik pembatas yaitu sebuah kaca bening yang lebar.


Saat memperhatiian bayi-bayi itu, terbersit sesuatu yang jahat dibenak Tari.


"...atau gua culik aja satu bayi ini. Hhhmmm... Pasti klinik Mila ini langsung geger dan akan cepat ditinggal orang-orang. Lalu...tutup deh. Setelah tutup, barulah gua buka klinik dirumah gua itu" Tari berbicara sendiri didalam hatinya. Mereka-reka rencana yang akan diperbuatnya. Sebagai tanda mata dirinya untuk Mila dan Ruli.


"...atau gua culik aja bayi orang kaya. Lalu gua minta tebusan. Tapi jangan gua yang culik. Orang lain saja. Hhhmmm... Siapa ya...yang gua suruh untuk menculik bayi"


Sejenak Tari berhenti berbicara didalam hatinya dan kini sedang mencari-cari satu nama dimemory otaknya.


"Aha...Mbah Kahpok. Yah...Mbah Kahpok gua suruh menculik bayi kaya dari klinik ini. Terus gua minta tebusan. Lalu gua rekayasa, kalau penculikan itu dilakukan atas perintah Mila atau Tari, atau keduanya. Hhhmmm... Ide yang brilian" bisik Tari bahagia, memuji ide cemerlangnya itu.


Sambil tersenyum-senyum bahagia, Tari masih mengitari ruangan-ruangam diklinik itu, entah sudah berapa kali. Tapi Tari masih belum menemukan ruangan Mila atau Ruli, atau berpapasan dengan Mila ataupun Ruli. Padahal Tari sudah sangat ingin bertemu keduanya, atau salah seorang dari antara mereka berdua.


Tari ingin mengabarkan kabar bahagianya yang telah berhasil menaklukkan Bintang dengan mengusir Bila dan mengambil klinik almarhum papi mereka. Setelah itu Tari akan memberi mereka atau salah seorang dari mereka, cinderamata. Sedikit miriplah dengan cinderamata yang telah diterima Martha yaitu kepalanya dibenturkan ke tembok dan mengeluarkan banyak darah.


Beberapa orang perawat sudah ditanyain Tari, tapi jawaban mereka intinya sama.


"Tidak tahu.."


"Tidak lihat..."

__ADS_1


"Mungkin sudah pulang"


"Mungkin tadi tidak datang"


"Pret !"


Tari kesal dan mencibir pada perawat terakhir yang ditanyain Tari. Lalu Tari pergi, akan meninggalkan klinik.


Sisekuriti masih melayangkan senyum hormat pada Tari. Karena baju dinas PNS dan atribut-atribut dinas kesehatannya itu. Tapi Tari cuek. Melirik sinis sajapun pada sisekuriti, tidak dilakukan Tari.


Malah mata Tari jelalatan kesekeliling halaman klinik. Memperhatikan mobil-mobil yang terparkir dipelataran parkiran. Kemudian mendekati mobil-mobil itu dengan penuh semangat.


Tapi tiba-tiba Tari berhenti, menyadari sesuatu. Sedikit menundukkan kepalanya dan matanya menatap tajam lurus kedepan.


"Kok gua kesini sih. Gua kan gak tahu mobil mereka. Brengsek !" Tari berbicara lagi pada didirinya sendiri, didalam hatinya.


Kemudian melangkah lagi. Meninggalkan pelataran parkir dan akhirnya menjauhi klinik. Tari berjalan kembali kerumahnya. Tanpa disadarinya ada beberapa orang yang mengikutinya dari belakang.


Suasana jalan yang masih dilalui beberapa kenderaan, membuat Tari tidak mendengar suara langkah orang-orang yang mengikutinya itu. Terhalang suara klakson dan suara deru mesin kenderaan.


Juga suara amarah dikepalanya yang tidak dapat memuaskan emosinya hari ini, yaitu meneror Mila dan Ruli.


Berkali-kali Tari mendengus dan mendesah marah. Hingga Tari berada tepat didepan pintu pagar rumahnya. Membuka pintu pagar itu dan masuk kehalaman rumahnya. Lupa menutup kembali pintu pagarnya itu, apalagi menguncinya. Kebiasaan itu adalah warisan dari ibunya untuk Tari.


Beberapa orang yang menguntitnya itupun bebas masuk, mengikuti Tari. Sejenak mereka mengintai. Kemudian berjalan mengendap-endap dihalaman Tari itu, mencari dan mempertahankan posisi aman.


Halaman rumah Tari yang tidak rapi. Lebih banyak ditumbuhi ilalang yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Membuat nyaman orang-orang itu untuk bersembunyi dengan berjongkok dan membungkukkan punggung mereka. Saat Tari menoleh kebelakang. Sebelum membuka pintu rumahnya.


Lalu Tari masuk kedalam rumahnya. Segera orang-orang itu menyerbu masuk juga. Sebelum Tari menutup pintu rumahnya itu.


"Tap tap tap tap....."


"Ceklek..."***


(maaf ya tdk bisa up setiap hari. Tapi tetap thanks buat yg baca dan masih setia.⚘Ini untukmu. Loop u)

__ADS_1


__ADS_2