PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Turun Gunung


__ADS_3

Ternyata itupun belum selesai. Masih berlanjut sampai beberapa hari kedepan dan Tari masih tidak berdaya melakukan perlawanan. Seperti sudah terhipnotis. Pagi hari Tari sudah berada dikamarnya dengan keadaan tubuh sangat lemah dan letih. Jadi seharian hanya bisa tidur. Begitu menjelang malam, Mbah Kahpok sudah menjemputnya dari dalam kamarnya. Membawa Tari ke kemar belakang dan kembali melakukan 'pengobatan' didalam kamar khusus itu.


Sementata disekolah, Kabila n d gank nya dan teman-teman yang lain, begitu bahagia atas ketidakhadiran Tari. Beredar hoaks, bahwa Tari sudah drop out dari sekolah. Kabila n d gangk nya akan merayakan kabar itu, meskipun masih hoaks. Setidaknya sudah hampir satu minggu Tari tidak masuk sekolah. Itu adalah isyarat bahwa berita itu benar.


Tapi ketika Tari kembali muncul disekolah. Seketika ketakutan, kebencian dan was-was kembali melanda Kabila n d gank nya. Bagai dilanda angin ****** beliung yang sangat besar. Sampai mereka tidak memperhatikan kondisi Tari yang lemah dan letih. Wajahnya sangat pucat dan semangatnya hilang.


Tari hanya duduk dikesendirian didalam kelas. Tidak berminat ke kantin ataupun melirik kearah teman-teman sekelasnya. Hanya malaikatnya yang tahu, bahwa Tari mirip mahluk bawah bumi yang terkena matahari, sakit dan tak berdaya.


Bahkan untuk hanya bertanya basa-basi pada Taripun, tidak ada. Apalagi sampai memperhatikannya. Lalu menyatakan simpati. Juga Tidak ada. Tari ibarat roh yang menanti dikeramaian. Tapi yang dinantipun, tidak tahu apa.


Akhirnya tersebar kabar yang tidak hoaks. Sungguh Tari telah dikeluarkan dari sekolah. Karena sudah ketahuan terlalu sering bolos. Sering membuat kegaduhan dikantin dan dikelas. Menganiaya Kabila dan Gracia.


Tidak memberi kabar kesekolah tentang ketidakhadirannya selama satu minggu ini. Bahkan pernah mengancam guru agama. Agar tidak menasehatinya lagi. Maka wajiblah bagi Kabila n d gank nya untuk merayakan kabar sukacita itu. Itu berarti mereka benar-benar terlepas dari Tari.


Terlebih bahagia dengan kabar itu adalah ibu. Itu berarti uang ibu tidak perlu keluar untuk biaya sekolah Tari dan biaya ini-itu Tari. Cukup Tari dikawinkan saja. Lalu pergi dari rumah.


"Tidak...Aku tidak setuju" kata ayah membantah ibu. Ibu hanya tercengang heran melihat ayah. "Dia harus punya masa depan yang lebih baik. Dia harus sekolah lebih tinggi lagi" lanjut ayah mantap dan penuh percaya diri.


"Kau fikir, kalau kawin tidak ada masa depan ?!. Kalau laki-lakinya kayak kau...iya !. Tak ada masa depan laki-laki seperti kau !:


"Terus saja menghina aku. Hina terus !....Sampai kau puas. Hina !..." kata ayah marah. Lalu pergi meninggalkan ibu.

__ADS_1


Ayah sudah merencanakan, akan memasukkan Tari ke sekolah kebidanan dan tinggal diasrama kampusnya. Berhubung pendaftaran untuk itu belum dimulai, ayah menitipkan Tari pada Mbah Kahpok untuk dididik disiplin.


Jadilah Tari dibawah pengawasan Mbah Kahpok. Wajah Mbah Kahpok memperlihatkan keberatan dan tampak serasa terpaksa menerima tanggung jawab itu. Tapi didalam hatinya, dia bersorak gembira, sampai histeris.


Mendapatkan upah yang sangat luar biasa. Penyalur hasrat birahi dengan gratis. Sudah lama hasratnya terendap. Sejak nyai sesembahannya memakai tubuhnya sebagai alat penghubung kepada ayah.


"Kau memang pengikut yang bai" bisik hati Mbah Kahpok. Berterimakasih pada ayah. Menyerahkan gadis ting-tingnya untuk dididik disiplin.


"Aku akan didik dia diranjang" bisik Mbah Kahpok didalam hatinya. Mengembangkan senyum lebar pada ayah. Ayah tidak melihat senyum itu. Tidak apa-apa. Mbah Kahpok tidak mempermasalahkan itu. Bagian terpenting, Mbah Kahpok sudah mendapatkan pemuas birahinya. Eehhmmm....


Mbah Kahpok segera membawa Tari ke sebuah desa kecik dan terpencil. Sebuah desa dibalik kaki gununh. Tempat Mbah Kahpok dulu menimba ilmu. Sebenarnya desa itu adalah desa kelahiran guru spiritual Mbah Kahpok dan si nyai itu adalah adik gurunya.


Sebenarnya Mbah Kahpok juga harus seperti itu. Tapi Mbah Kahpok menolak. Rela melepas ilmu tingkat tinggi dari sang guru. Asal dirinya boleh secara langsung menggauli perempuan yang disukainya.


Berhubung sang guru sudah meninggal. Maka rumah sang guru itu diwariskan pada Mbah Kahpok. Sebuah rumah panggung yang berdindingkan kayu dan beratap rumbia.


Tidak ada kamar tidur, dapur ataupun kamar mandi. Hanya ruangan berukuran 5 x 4. Berfungsi untuk tidur de el el. Kalau mandi, pipis dan buang hajat; harus berjalan kurang lebih lima meter ke belakang rumah. Menuji mata air pegunungan. Kalau mau masak, dibelakang rumah saja.


"Kamu tidak akan capek bersih-bersih rumah. Tidak ada yang kotori rumah. Hanya ada ngotori sprei saja. Itupun kita berdua" kata Mbah Kahpom sok genit, merayu Tari. Ketika mereka sudah tiba dirumah desa itu.


"Disini kita berdua saja. Tetangga jauh. Jadi kamu bisa kencang mendesah. Biar aku semakin semangat. Mmmmmuuuah..."Mbah Kahpok masih merayu Tari. Mana pakai kiss panjang lagi dibibir Tari yang sedang monyong.

__ADS_1


"Sampai berapa lama kita disini: tanya Tari pada Mbah Kahpok dengan suara datar.


" Sampai selama-lamanya juga boleh. Biar kita bebas muah-muah" jawab Mbah Kahpok genit. Duduk disamping Tari, didalam rumah itu. Punggung mereka bersandar pada dinding kayu. Mbah Kahpok merangkul leher Tari dan matanya nakal ke arah dada Tari.


Tari hanya diam. Membiarkan Mbah Kahpok semakin nakal sesuka-sukanya. Membenamkan wajahnya di dada Tari. Melucuti pakaian mereka berdua. Mengajak Tari untuk rebah dan Mbah Kahpon langaung menggemuli Tari.


Suasana desa pada sore hari menjelang malam, membuat Mbah Kahpok sangat bergairah. Tanpa ada.penerangan listrik. Hanya mengandalkan cahaya bulan yang mulai mengintip. Pergelutan mereka semakin hebat. Berguling-guling bebas, kesana dan kesini diatas lantai kayu.


Tubuh Tari yang gempal, dipenuhi lemak. Sedangkan tubuh Mbah Kahpok hanya kulit dibalut tulang. Tidak menjadi penghalang gairah mereka yang sudah menggebu.


Nyanyian suara jengkrik, suara burung, suara air dan suara angin; bersahut-sahutan dengan desah nafas mereka yang penuh gairah. Saling mengejar, menyerang dengan membabi buta. Mbah Kahpok dengan kematangannya, membidik tepat sasaran untuk permainan yang panjang, hangat dan memuaskan.


Tari suka dan menikmatinya ?. Setan bisa tertawa mendengar pertanyaan itu. Tari tidak pernah tahu apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka. Tari hanya tidak punya pilihan menentang ayah. Juga tidak punya pilihan untuk tidak melayani Mbah Kahpok.


Sekarang ini hanya Mbah Kahpok yang bisa dijadikannya sekutu. Anggaplah sekarang ini masa untuk mengumpulkan kekuatan bersama Mbah Kahpok. Jika waktunya tiba, Tari bersama Mbah Kahpok akan menuntaskan dendamnya. Pada orang-orang yang sudah terdaftar dicatatannya.


Tibalah hari pendaftaran mahasiwa baru. Hari dimana Tari harus 'turun gunung' dari bulan madunya bersama Mbah Kahpok. Keterpencilannya beberapa hari ini sudah berakhir. Tari kembali ke kehidupan yang hiruk pikuk bersosialisasi.



Melakukan ritualnya sebagai normal. Sekolah, berteman dan bermusuhan. Terserahlah kalau begitu kata-kata umum. Tapi bagi Tari hanyalah untuk memuaskan amarah dan melampiaskan dendam.\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2