PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Disekolah


__ADS_3

Miss Cecil adalah guru TK Tari. Umurnya sekitar 24 thn, cantik, hidung mancung, rambut ikal panjang dan tubuh tinggi langsing. Tapi sayang belum menikah. Jika sedang mengajar, rambutnya selalu disanggul modern.


Entah mengapa setiap kali melihat Tari, selalu ada rasa iba dihatinya. Perasaan iba itu menghipnotis Miss Cecil untuk selalu memperhatikan Tari. Sering mengusik rasa penasarannya. Menghadirkan naluri keibuannya untuk mencari tahu tentang keadaan Tari dirumah. Tapi logikanya melarang untuk ikut campur. Tanggung jawabnya kepada Tari, hanya ketika Tari berada disekolah.


Alhasil Miss Cecil hanya bisa berspekulasi dengan fikirannya, bahwa Tari itu tidak mendapat perhatian. Tari itu terpaksa mandiri. Kata lain yang lebih kejam tapi tepat yaitu bahwa Tari itu anak yang tak terurus.


Terlihat dari penampilannya ke sekolah, cenderung acak-acakkan. Seragam tak bersetrika dan tak pernah lengkap. Sering tidak memakai dasi. Sapu tangan tidak pernah menggantung dibaju. Berpakaiannya tak pernah rapi. Kancing tidak pernah pas masuk ke lobangnya. Kancing atas masuk ke lobang ke tigalah. Sepatunya sangat kotor dan kaos kaki kotor. Itu masih dalam hal penampilan.


Hal lain seperti tidak pernah membawa bekal. Minimum membawa air minum pun jarang. Hanya beberapa kali terlihat Miss Cecil membawa beberapa lembar biskuit dan segelas air mineral. Itupun hanya beberapa kali dalam sebulan. Bila waktunya jam istirahat dan kebetulan Tari tidak membawa bekal, maka Tari akan menyendiri. Menjauh dari teman-temannya. Mencari tempat yang sepi. Kemudian hanya melirik-lirik teman-temannya itu yang sedang menikmati bekal makan mereka masing-masing.


Begitu pula dengan buku-bukunya. Tidak satupun ada yang utuh. Ada robek separuh buku lah, ada yang kotor lah dan tidak ada yang bersampul. Alat tulis sering tidak ada. Apalagi alat gambar, seperti pensil warna.


Melihat hal itu, hati Miss Cecil menjerit sedih. Ada apa dengan Tari ?. Antara tidak tahan dengan penderitaan Tari yang tidak dapat diungkapkan Tari atau jeritan hati Miss Cecil sendiri akan penderitaan Tari. Maka suatu hari Miss Cecil menghadiahi Tari peralatan menggambar yang lengkap.


Tersipu malu-malu Tari menerimanya. Tanpa ada kata terimakasih. Bukan karena lupa. Tapi Tari tidak pernah mendapat pengajaran untuk mengucapkan terimakasih. Jadi dia tidak tahu untuk mengucapkan terimakasih.


Miss Cecil tidak memarahinya. Perasaan sayangnya pada Tari menuntunnya untuk tidak boleh memarahi Tari. Lalu Miss Cecil mulai mengajarkan Tari untuk selalu mempergunakan kata-kata sakti itu. Seperti terimakasih, tolong dan maaf. Miss Cecil juga mengajarkan Tari untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan teman-teman sekolahnya. Bahkan membawakannya bekal makanan. Hasil masakan Miss Cecil sendiri.


Saat itupum Tari belum mengucapkan terimakasih. Hanya dari tatapannya yang tersipu malu-malu, menerima makanan itu dan menyanyapnya dengan posisi membelakangi Miss Cecil. Terlihat Miss Cecil ada pancaran bahagia dari mata Tari. Saat melirik Miss Cecil sebentar, lalu menyantap makanan itu dengan lahap. Itu sudah cukup mewakili ungkapan terimakasihnya. Miss Cecil tersenyum bahagia. Sambil membelarai rambut tipis Tari. Lalu mengecup rambutnya dan menemaninya makan.


Hari berikutnya masih seperti itu. Tapi kini Miss Cecil mengajak Tari berbaur dengan teman-temannya. Mengajarkan Tari berbagi bekalnya kepada teman-teman dan mengajaknya bermain bersama teman-temannya.


"Ayo, nak...kita ikut bermain" ajak Miss Cecil dengan menarik lembut satu tangan Tari.

__ADS_1


Tari hanya tertunduk-tunduk dan tidak mau bergerak dari tempatnya berdiri. Hanya melirik-lirik temannya dan Miss Cecil dari ekor matanya, silih berganti. Malah Tari sempat terlihat Miss Cecil, tampak ketakutan. Membuat hati Miss Cecil menjerit sedih.


"Gak apa-apa, nak. Ayo..." ajak Miss Cecil tak menyerah. Kali ini sambil mengelus-elus lembut kepala Tari. Memberinya senyuman dan menarik kedua tangan Tari dengan kedua tangannya Miss Cecil untuk berbaur dengan teman-temannya.


Tari masih malu-malu untuk berteman. Karena biasanya Tari hanya berdiri seorang diri dari jarak kurang lebih empat meter. Hanya memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain. Tertawa-tawa dan tersenyum-senyum sendiri. Melihat timgkah teman-temannya. Berarti Tari menikmati dan seakan sedang ikut bermain juga dengan teman-temannya.


Rasa penasaran dan iba itu, memaksa Miss Cecil semakin terus memikirkan tentang Tari. Tidak hanya pada saat disekolah, tapi juga dirumah. Ketika makan, ketika mandi; fikirannya selalu tertuku pada Tari. Seperti jadi sebuah PR utama yang harus diselesaikannya. Hingga Miss Cecil tiba pada satu kesimpulan, bahwa Tari itu mengalami gejala rendah diri.


Deg !...Miss Cecil tersentak sendiri. Kaget dengan kesimpulannya. Baginya tidak mungkin anak kecil seperti Tari sudah terkena penyakit itu. Penyakit itu bisa membunuh hasrat dan harapannya. Karena perasaan seperti itu akan terus menggiringnya ke pesimistis. Lalu berkembang menjadi apatis. Jika tidak segera dituntaskan, akan fatal buat kepribadian Tari. Bisa-bisq Tari tidak akan memiliki teman atau menganggap tidak penting berteman atau bisa jadi memusuhi teman. Intinya, Tari akan najis berteman.


Miss Cecil panik sendiri dengan pemikirannya itu. Menuntut rasa tanggung jawabnya berinisiatif menolong Tari. Mendampingi Tari dan rutin membaurkan Tari dengan teman-temannya. Melibatkan Tari dalam setiap permainan yang dilakukan teman-temannya


Usaha Miss Cecil tidak sia-sia. Tari tampak begitu bahagia bermain bersama teman-temannya. Tapi teman-temannya itu tidak. Mereka tampak merasa terganggu. Terganggu dengan penampilan Tari. Teman-temannya itu selalu mempertanyakan, apakah Tari laki-laki atau perempuan.


Kalau laki-laki, kenapa memakai rok. Kalau perempuan, kenapa kepalanya botak. Jadi kalau bermain-main, Tari akan bermain dipihak mana. Pihak laki-laki atau perempuan. Sebagai laki-laki atau perempuan.


Jika tidak turut bermain, Miss Cecil hanya duduk tidak jauh dari mereka dan memperhatikan mereka bermain. Menikmati tawa ceria Tari bersama teman-temannya.


Sesekali Tari akan menghampiri Miss Cecil dan membagi tawanya pada Miss Cecil. Menceritakan sesuatu yang membuatnya terusik untuk tertawa. Tari begitu bersemangat menceritakannya pada Miss Cecil. Sampai-sampai Tari kewalahan mengatur pernafasannya. Akibatnya pengaturan jeda kalimat tidak beraturan. Terpotong sebelum intonasi tanda titik. Pengaturan letak kata yang acak-acakkan dan pengucapan kata dengan huruf yang tidak pas.


Walaupun begitu Miss Cecil mengerti yang dimaksudkan Tari. Miss Cecil akan ikut tertawa dan sesekali memeluk Tari. Setelah letih bercerita atau sambil Tari bercerita, Miss Cecil memangku Tari. Mendengarkan cerita Tari dengan seksama. Akibatnya, pelukan dan pangkuan Miss Cecil jadi tempat yang akrab buat Tari.


Hari-hari berikutnya, Tari jadi lebih banyak menghabiskan jam istirahat untuk duduk dipangkuan Miss Cecil, daripada bermain dengan teman-temannya. Bagaikan dua orang juri, mereka memperhatikan dan memberi komentar canda tentang tingkah laku teman-teman Tari yang sedang bermain-main. Komentar Miss Cecil memakai bahasa yang dimengerti oleh Tari, bahasa sederhana seorang anak kecil. Sering menyelipkan tokoh dongeng atau tokoh kartun, tokoh animasi dan tokoh cerita rakyat. Guna membangkitkan daya fikir Tari. Komentarnya pun cenderung jadi sebuah cerita pendek yang mengasyikkan buat Tari.

__ADS_1


Tambahan lagi, Miss Cecil selalu memakai nama Tari sebagai tokoh utamanya. Dimana Tari itu adalah tokoh anak yang baik, cantik, pintar dan lain-lain yang positif. Guna menumbuhkan rasa percaya diri Tari.


Tampaknya Miss Cecil berhasil menyeselesaikan PR nya itu. Karena perlahan-lahan memang mulai tumbuh kepercayaan diri Tari. Buktinya Tari sudah menyapa dan berbaur dengan teman-temannya. Walaupun tanpa Miss Cecil. Jika teman-temannya masih bertanya, apakah Tari laki-laki atau perempuan ?. Maka dengan penuh percaya diri dan bangga, Tari mengatakan dirinya adalah perempuan cantik.


Tari juga sudah dapat bercerita kepada teman-temannya. Copas dari kisah yang diceritakan Miss Cecil kepada dirinya. Walaupun copas yang tidak utuh. Sesuai apa yang diingat Tari. Tidak lupa diakhir cerita Tari mengungkapkan kebahagian dan kebanggannya dipeluk dan dipangku Miss Cecil. Betapa semangat berapi-api Tari menceritakan hal itu. Suaranya lantang dan penuh percaya diri. Mendominasi setiap pembicaraan antar teman-temannya.


Miss Cecil sering terharu. Jika kebetulan mendengar Tari bercerita tentang pelukan dan pangkuan yang diberikannya pada Tari. Sering timbul rasa bersalah dan iba. Mengapa baru sekarang Miss Cecil gencar memeluk dan memangkunya. Setelah menjelang satu tahun, Tari jadi muridnya.


Miss Cecil kemana saja sejak awal Tari masuk sekolah. Begitu berkesannyakah pangkuan dan pelukan buat Tari ?.Apakah Tari tidak pernah dipangku atau dipeluk ibunya ?.


Untuk menebus rasa bersalah itu, Miss Cecil pun semakin royal memeluk dan memangku Tari. Alhasil pangkuan dan pelukan Miss Cecil jadi tempat teraman kedua bagi Tari. Setelah teras depan rumah orang tuanya.


Jika Tari telah letih bermain, maka Tari akan mencari Miss Cecil. Duduk dipangkuan dan menarik kedua tangan Miss Cecil dan melingkarkannya kepinggangnya sendiri. Miss Cecil pasti langsung mengecup kedua pipinya. Mulailah Tari menceritakan tingkah lucu teman-temannya. Saat bermain tadi.


Usai Tari bercerita, Miss Cecil akan kembali mengecup kedua pipinya. Membelai-belai rambut tipisnya yang pendek. Tidak lupa menyanjung Tari. Mengatakan Tari itu anak baik, pintar, cantik dan blablabla....Kata-kata pujian yang tidak lebai.


Maka jadilah Tari bertingkah seperti seorang remaja putri yang lagi kasmaran. Akibat perbuatan positif Miss Cecil. Tari begitu bahagia, bersemangat belajar dan mulai berdandan. Jika akan pergi sekolah. Menyisir rambutnya yang ala kadarnya itu. Walaupun tidak rapi. Apakah belah tengah atau belah samping. Hanya bagian depan yang disisir, bagian belakang tidak. Untung saja rambutnya pendek, ala-ala cowok.


Lalu memoles wajahnya dengan bedak putih. Walaupun juga berantakan. Ada yang terkena bedak. Ada yang tidak. Ada juga yang sangat tebal. Bulu mata dan alisnya pun terkena bedak.



Sekilas Tari jadi tampak seperti badut. Teman-temannya sering menertawakannya. Tapi Tari tidak perduli. Tetap saja percaya diri. Memperlihatkan dirinya pada Miss Cecil. Maka Miss Cecil lah yang merapikan dandanan dan penampilan Tari.

__ADS_1



Padahal dahulu, hal itu tidak pernah dilakukannya. Berhubung tidak ada yang mengajarkannya. Bagaimana cara menyisir rambut dan memakai bedak. Juga Tari sudah rajin mencuci sendiri kaos kakinya. Melihat itu, para malaikat penjaga Tari sering menangis tersedu-sedu. Tari kecil yang baru duduk dikelas kecil TK sudah harus mengurus dirinya sendiri. Tanpa jasa ibu ataupun kedua kakaknya. \*\*\*


__ADS_2