
"Bukan butuh genjrot !. Makanya otak jangan selalu mesuk. Sudah tua..."
Mbah Kahpok menatap tajam kemata Tari.
"Lancang..." spontan Mbah Kahpok bergerak akan mengemplang kepala Tari. Tapi..."Aaaaa...." jerit kesakitan Mbah Kahpok dan memegang kejantanannya. Tari menatapnya dengan penuh keheranan, mengernyitkan keningnya.
Perlahan Mbah Kahpok kembali duduk ditepi ranjang dan masih menahan sakit.
"Kenapa !..." tanya Tari dengan curiga dan jahat. Beberapa saat kemudian, Tari tertawa-tawa kencang. Hingga kembali rebah dan berguling-guling diatas kasur itu, kekiri dan kekanan. Lalu kembali duduk dan menatap kearah ************ Mbah Kahpok.
"Kebanyakan main...Emangnya sampe berapa ronde dengan Fitri"
"Diam !...Sontoloyo !...Kau butuh apa !"
"Butuh pekerjaan. Gue mau jadi pegawai negri"
"Yah...kau akan dapatkan"
"Baik...Ayo...." kata Tari dan kembali merebahkan dirinya. Telentang pasrah dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Mengangkat sedikit pinggulnya dan memejamkan kedua matanya.
Seperti yang biasa dilakukan Tari, tiap kali akan digagahi Mbah Kahpok. Tari akan selelu memejamkan kedua matanya. Hanya sesekali mengintip. Saat Mbah Kahpok akan mengujamkan kejantanannya pada liang gua keramatnya.
"Berpakaian !" perintah Mbah Kahpok dengan nada suara ringan dan sudah kembali pada posisi bermeditasi.
"Mbah boleh mengabulkan permintaan saya. Tanpa harus....: spontan Tari bangun. Memeluk Mbah Kahpok dari arah belakang dan mendesah-desah ***** disatu telinga Mbah Kahpok.
"Keluar sekarang !..." perintah Mbah Kahpok. Kali ini dengan nada suara kencang dan berat. Sambil menahan rasa sakit dikejantanannya. Tiap kali Mbah Kahpok harus bersuara kencanh.
Mbah Kahpok menghirup nafas dalam-dalam dan seketika melepaskannya. Begitu berulang-ulang dilakukannya untuk mengurangi rasa sakit itu. Sampai Tari keluar dari kamarnya, tawa Tari masik kencang terdengar.
Tawa ejekan yang jahat atas rasa sakit yang diderita Mbah Kahpok pada kejantanannya. Sekaligus tawa bahagia. Karena Mbah Kahpok pasti akan mewujudkan keinginannya.
Tari akan menjadi pegawai negri dan itu akan menjadi senjata ampuhnya untuk menyerang Bintang. Kesombongannya akan sempurna.
Beberapa hari sisa tawa itu masih membentuk dibibir Tari. Menjadi senyum kesombongan yang akan kelak abadi. Maka, dadanya semakin membusung. Dagunya semakin terangkat. Jika kebetulan berpapasan dengan siapa saja.
Terutama anggota keluarga Anton. Kecuali papi dan mami mertuanya. Senyum dustanya yang manis selalu terkembang lebar buat kedua mertuanya itu.
Senyum itu semakin lebar. Tatkala melihat Bintang berada dirumah. Walaupun Bintang dilihatnya tengah berpakaian gaun pesta. Memang ada rasa iri dan dengki mengusik hatinya. Tapi...
"Aahh...Sebentar lagi aku jadi pejabat negara. Akan kubuat gaunmu itu jadi lap sepatu kerjaku" bisik Tari didalam hatinya. Menghibur dirinya sendiri. Tapi tak urung juga membuat dirinya ingin mencari tahu dari Mbak Min.
"Mau kemana tuh...si Bintang" tanya Tari sinis kepada Mbak Min.
"Undangan pernikahan temannya"
"Siapa ?"
"Fitri dan Toni"
__ADS_1
"Apa !?" Tari membatin didepan Mbak Min.
Seketika Tari kaget dan terdiam dengan mulut yang terbuka lebar. Serta mata yang terbelalak. Membuat Mbak Min ketakutan dan segera melanjutkan pekerjaannya. Memaksakan dirinya sangat berfokus pada pekerjaan rumah tangga yang sedang dikerjakakannya itu. Hingga tak melihat Tari telah berlari kencang menuju kamarnya.
Anton yang sedang duduk diatas ranjang. Memegang selembar kertas dan sedang mengkonsep sebuah usaha yanh akan dibuatnya.
Seketika kaget melihat Tari masuk, seperti seperti orang yang sesak berak. Membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan kasar pula. Lalu berjalan cepat kearah kloset. Eit...bukan kearah kloset. Tapi mendekati Anton dan wajah ditekuk. Percis seperti orang yang ngedan. Karena eeknya keras.
Tanpa basa-basi merampas kertas oret-oret Anton itu dan merobek-robeknya.
"Hei..hei..." kata Anton protes, kaget. "Itu oret-oret rencana usahaku"
"Mata kau !...Bodoh !. Tak ada otakmu untuk membuka usaha" kata Tari, kesal. Sambil membuang potongan-potongan kertas itu diwajah Anton.
Anton hanya mendengus kesal dan kecewa. Tari selalu merendahkannya.
"Hari ini Toni menikah. Kau tahu itu ?"
Cepat Anton menggeleng kecil dengan tempo lambat. Ada keraguan dihatinya untuk menjawab " Ya atau Tidak". Tari kecewa dengan jawaban Anton itu.
"Kenapa kau tidak tahu. Katamu dia teman baikmu"
Anton akan beranjak dari duduknya. Segera Tari mencakar lengan Anton.
"Aduh !...Sakit, tahu"
"Kalau kau...Apakah Fitri mengundangmu "
"Jangan alihkan pembicaraan"
"Kau tidak diundang Fitri, berarti Fitri juga kurang ajar !"
"Aku dan Fitri tidak bersahabat. Apalagi sahabat baik. Hanya kebetulan kami satu kampus, satu kamar asrama dan satu tempat PKL. Jadi...diam kau !"
Anton mematuhi Tari dan diam-diam pergi dari kamar. Membiarkan Tari yang masih uring-uringan dengan kemarahan tak menentu. Sekali membayangkan Fitri dan Toni tertawa-tawa bahagia dipelaminan. Membayangkan Bintang dkk, juga tertawa-tawa disuasana pesta pernikahan Fitri dan Tari.
Sementata dirinya...yah...Tari. Telah kehilangan tawa bahagianya yang sesaat tadi. Semua itu dirampas Fitri, Toni, Bintang dkk.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kurang ajar !...Seharusnya mereka tidak menikah. Tapi mengapa mereka menikah juga !" tanya Tari kepada Mbah Kahpok, sangat marah dan kecewa.
Setelah Anton pergi dari kamar dan entah kemana, Tari segera meluncur kerumah orang tuanya. Menggunak taksi online. Menemui Mbah Kahpok, masih dikamar belakang itu.
"Kata mbah, sudah membereskan Fitri. Kata mbah, Fitri dan Toni sudah putus. Buktinya, mereka menikah !. Mereka menikah, mbah" rengek Tari dengan nada marah.
"Keluar !"
"Apa !?...Mbah mengusirku ?. Hellooo...ini rumah ayahku. Kamar ini ada dirumah ayahku. Mbah gak berhak mengusirku. Tahu diri, dong...Hei..kau tua bangka"
"Aku bilang keluar !. Jangan pernah masuk kekamar ini lagi. Jika tidak aku minta. Mengerti !..."
__ADS_1
"Brengsek kau dukun tua !. Dukun palsu !...Dukun cabul !. Dukun tidak laku..."
"Cekrek...Brak !..."
Tari membuka pintu dengan kasar dan menutup pula dengan kasar. Pergi entah kemana. Hatinya yang panas masih membakar diubun-ubun kepalanya. Tari harus menunpahkannya dengan curhat pada seseorang dan orang itu harus mendukung curhatannya itu.
Apakah ketempat Tante Hombing ?. Iyah...Tante Hombing pasti mendukunh. Tapi hanya dengan kata-kata. Tari perlu dukungan yang lebih dari kata-kata. Misalnya aksi dramatis yang tragis.
Karena Tari ingin mencabik-cabik bibir fitri, Toni, Bintang dkk. Karena mereka telah merampas tawa Tari. Meskipun itu tawa mengejek, dendam, sirik, iri...Kecuali tawa bahagia Tari. Karena sejatinya Tari tidak memiliki tawa bahagia itu. Sejak dari kandungan ibu.
Maka ketika Tari mengintip dari balik horden jendela kamarnya, tampak Bintang dan Della tengan tersenyum-senyum bahagia. Menjurus keteratawa-tawa bahagia. Sambil berbincang-bincang, mereka melangkah keluar dari kamar Bintang. Melintas dari depan kamar Tari dan tampak Della melirik sekejab kearah kamar Tari.
"Ggggrrrr..." Tari menggeram marah dan terus mengintip kearah Bintang dan Delka. Sampai mereka hilang dibawah tangga.
Tak mengetahui kalau tadi ketika melintas dari depan kamar Tari, Della sangat ketakutan. Tapi tidak diperlihatkannya didepam Bintang.
"Menurut lo, tadi Tari melihat kita gak sih" tanya Della melepas sedekit ketakutannya.
"Lihat "
Della mendesah resah.
"Dia tidak hanya ingin harta orang tua lo, Bin. Dia juga kayaknya ingin nyingkirin lo"
Bintang tidak kaget akan hal itu. Hanya semakin resah, gelisah dan sedih. Tepat seperti apa yang dikatakan Della. Terlihat dari gelagat Tari, Tari tidak hanya ingin rumah mertuanya. Tapi juga menyingkirkan Bintang. Karena Bintang dianggap adalah penghalang untuk menguasai rumah mertuanya ini.
PROFIL
Tari
Bintang
Anton
Fitri
Mbah Kahpok
(Terimakasih sudah membaca dan likenya. Sekalian vote ya...hehehe lop u all⚘♥️
__ADS_1