
Padahal Tari sangat benci beradegan sebagai tokoh baik. Apalagi harus merelakan uang Ruli dipindah tangankan ke Mila. Padahal Tari sudah menargetkan uang Ruli itu diambil besok. Ternyata hanya tinggal rencana. Karena itu tadi Tari sempat menunjukkan sikap kaget yang tidak rela.
Ternyata sikap itu tertangkap, berbekas dan terakam oleh Ruli. Terbiaskan dari lirikan Ruli ke Tari. Lirikan yang mengandung kecurigaan. Tidak tuntas hanya dengan copypaste kata-kata Miss Cecil.
Tari menyadari hal itu. Karena telah beberapa kali Tari mendapati tatapan kecurigaan Ruli. Padahal Tari telah tersenyum manis pada Ruli. Tiap kali beradu pandang dengan lirikan kecurigaan Ruli.
Hati dan kepala Tari mulai panas. Mengingat tak ada respon balik berupa senyuman manis dari Ruli. Mana Ruli pakai mendesak Mila lagi untuk melaporkan kejadian kehilangan uangnya itu ke Ibu Pur. Ruli bersedia mendapingi Mila untuk menghadap Ibu Pur.
Belum usai kasak-kusuk mengenai Mila, telah terdengar lagi teriakan tangis Neneng dan Suryati yang juga kehilangan uang. Merekapun melaporkannya ke Ibu Pur.
Ibu Pur sangat kaget. Sampai menggebrak meja kerjanya. Mendapat laporan dari Ruli, Mila, Neneng dan Suryati. Juga ada Tari yang menyertai mereka, sebagai pendengar budiman.
"Sudah 25 thn saya sebagai kepala asrama disini, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Keterlaluan !...Jika tertangkap nanti, pelakunya harus dipolisikan. Ini tidak bisa dibiarkan. Bermain-main dia dengan Purwati. Janda dari seorang jenderal bintang dua. Awas dia ! "kata Ibu Pur menumpahkan kekagetan dan kemarahannya.
Peristiwa ini bagai menginjak-injak harga diri dan wibawa Ibu Pur. Ibu Pur pun bergerak cepat. Menyidak ke kamar mereka pada hari itu juga. Bersama dua orang petugas keamanan kampus. Menginterogasi, memeriksa lemari pakaian, laci meja belajar dan semua tas mereka.
Satu per satu di interogasi dan diperiksa. Crosschek keberadaan mereka pada dua minggu sebelum Neneng, Suryati dan Mila; kehilangan uangnya. Secara maraton hal itu dilakukan Ibu Pur dan kedua petugas keamanan. Tiada henti, dari pagi sampai pagi besoknya.
Teman-teman yang lain juga, yang berbeda kamar dengan mereka, juga diinterogasi, diperiksa dan di crosschek keberadaannya. Tapi masih belum menemukan titik penjelasan pelaku pencurian uang Mila dan Suryati tersebut.
Tentang uang Neneng, Ibu Pur menyarankan lapor polisi saja. Karena Neneng kehilangan uang bukan diasrama. Melainkan dari bank nya sendiri.
Sepertinya Tari akan menarik nafas lega. Melihat masalah kehilangan uang itu, pasti berakhir sampai disitu saja. Jadi tidak perlu melakukan 'pengobatan' pada Mbah Kahpok.
Tapi teman-teman satu kamarnya, tidak bernafas lega. Suasana kamar mereka jadi begitu menegangkan. Mereka jadi gelisah dan bingung. Merasa tidak tenang dan nyaman untuk menyimpan uang dan barang-barang berharga mereka didalam lemari ataupun laci meja belajar mereka masing-masing. Satu dengan yang lainnya mulai saling mencurigai.
Terutama Ruli yang sangat mencurigai Tari. Setelah kekagetannya waktu itu. Tatapannya selalu awas melihat gerak-gerik Tari. Hanya saja Ruli tidak mempunyai bukti yang kuat untuk disampaikan pada Ibu Pur. Kalau hanya berdasarkan perasaan, hal itu tidak kuat untuk dijadikan bukti dalam hukum.
Sedangkan Tari tahu kecurigaan Ruli itu. Tari juga sebenarnya sudah merasa gerah dengan tatapan kecurigaan Ruli itu. Tapi Tari berusahan untuk tidak bertindak arogan.Langsung melabrak Ruli. Ohh...itu tindakan dizaman SMU dulu. Sekarang Tari sudah mahasiswi. Jadi tindakan arogannya juga harus maha arogan. Harus tenang, santai dan halus. Tapi mematikan kehidupan sosialnya.
Tari sudah punya rencana untuk itu. Cukuplah untuk tahap pertama mengadu domba Ruli dan Mila saja.
Pada satu kesempatan, disaat Mila sedang duduk sendiri ditaman asrama; Tari menghampiri Mila.
__ADS_1
"Hai, Mil. Kok menyendiri, sih. Mana Ruli..." kata Tari dengan nada ramah. Lalu duduk disamping Mila.
"Gak tahu...dari pulang kuliah tadi, gue belom melihat dia"
"Ooo...dia shopping kali. Eh, ada yang mau gue omongin ke lo soal Ruli."
"Ada apa dengab Ruli, Ri" tanya Mila sedikit kaget dan was-was.
"Sebenarnya ya...gue..."kata Tari ragu-ragu. Menatap mata Mila. Ternyata Mila sangat menantikan Tari melanjutkan kata-katanya. "Gue curiga ke Ruli, bahwa dialah yang mengambil duit lo" aku Tari dengan berbisik ke telinga Mila.
"Apa ?!...gile lo. Kenapa lo nuduh Ruli"
"Sebenarnya dia pernah kepergok gue, saat melihat-lihat isi tas gue"
"Masa sih ?...kapan ?..."
"Sebelum Suryati kehilangan uangnya. Mungkin karena tidak berhasil mengambil duit gue. Lalu dia mengambil duit Suryati"
"Kenapa lo ngak laporin ke Ibu Pur"
"Iya juga, sih:
"Bisa jadi dia berpura-pura menolong lo. Agar tidak ketahuan. Iya, kan ?"
Makjleb !...pendapat Tari itu sangat mempengaruhi Mila. Tampak dari sikap Mila yang selalu menatap curiga dan marah pada Ruli. Sementara Ruli sangat ramah pada Mila dan sangat kocak didepan teman-teman mereka yang lain. Membuat cerita-cerita lucu yang sangat meramaikan.suasana kamar mereka. Sikap Ruli itu semakin menambah kecurigaan Mila pada Ruli.
Ketidaksensitifan Ruli akan sikap Mila terhadapnya, membuat emosi Mila memuncak. Maka pada suati malam, selesai makan malam. Mila mengumbar amarahnya pada Ruli. Mila menyambangi Ruli yang lagi belajar, dimeja belajarnya. Langsung menuding Ruli yang telah mengambil uangnya.
"Apa-apaan sih lo, Mil. Segitunya prasangka lo ke gue. Ada apa sih " tantang Ruli dengan langsung berdiri didepan Mika, berkacak pinggang.
"Jangan banyak bacot lo. Ngaku aja lo." kata Mila tak mau kalah. Menghunjuk dada Ruli dengan satu jari telunjuknya.
"Masya Allah...Mil. Kerasukan lo, Mil. Sana baca..." Ruli mendorong tubuh Mila, tidak kuat. Tapi bagi Mila itu isyarat Ruli untuk menantangnya.
__ADS_1
Pertengkaran adu suara kencang dan memaki diantara mereka, semakin memuncak. Nyaris adu phisik yaitu saling menjambak. Tari yang sedari tadi jadi penonton budiman. Senyam-senyum kemenangan menyaksikan acara kesukaannya. Harus segera..."Berubah !"...treng !...jadi tokoh.
Cekatan Tari melerai mereka. Mengingatkan pada mereka bahwa hari sudah malam. Kesunyiannya yang tenang bisa terusak oleh pertengkaran mereka.
"Bisa-bisa Ibu Pur mendengar kalian. Lalu datang ke kamar ini. Kalian bisa dihukum dan bukan hanya kalian. Kami juga pasti kena imbasnya. Jadi...tolong...tolong selesaikan dengan tidak emosi" kata Tari sangat bijaksana. Membuat suasana kembali tenang.
Para teman yang tadi juga sudah terpancing emosinya, ikut-ikutan bersuara bising. Kini sudah pada diam. Kembali ke tempat tidurnya masing-masing.
"Sudah...kalian selesaikan dengan baik-baik. Bersikap dewasalah" begitu nasehat Tari. Tak urung melirik sinis ke arah Ruli.
Kembali Ruli menangkapkan lirikan itu. Mengartikannya bahwa ada kepentingan busuk Tari didalam pertengkaran mereka tadi. Dugaan dihati Ruli semakin kuat. Melihat Tari dan Mila semakin akrab. Tambahan lagi dimalam berikutnya, Mila mengrmbalikan uang Ruli dengan cara tidak sopan.
Melemparkan uang itu ke wajah Ruli. Tepat mengenai wajah Ruli. Uang itupun berhamburan jatuh ketubuh dan kesekitar Ruli.
"Maksud lo...apa, Mil ?" kata Ruli dengan nada suara memendam marah dan juga kecewa. Belum memungut uang itu.
"Terimakasih...Lo udah minjamin gue duit lo. Sekarang gue kembalikan"
"Begini cara lo ngembaliin ke gue !?" Ruli menatap tajam pada Mila. Sementara Mila hanya cuek. Duduk di kursi meja belarnya. Membuka-buka bukunya dan sesekali memperhatikan ke layar hpnya. Hpnya tergeletak pastah diatas meja belajarnya.
"Oke...gue terima duitnya. Terimakasih" kata Ruli sangat kecewa bercampur kesal. Memungut uang itu.
Sejak itu Ruli dan Mila tidak saling bertegur sapa lagi. Keduanya salin memendam amarh. Ehem !...ini juga Tari suka. Perlahan Taripun menyusup diantara mereka. Masih sebagai tokoh baik yang menawarkan diri sebagai mediator Ruli dan Mila.
Eit !...bukan untuk mendamaikan mereka. Tapi memediasi agar semakin runcing perselihan diantara mereka. Didepan Mila, Tari mendukung Mila. Tapi di depan Ruli, Tari mendukung Ruli.
Berusaha memadamkan kecurigaan Ruli terhadap dirinya dengan memainkan tokoh baik buat Ruli. Mengabaikan tatapan curiga Ruli, Tari bersikap ramah dan manis terhadap Ruli. Berawal dari sikap humble Tari terlebih dahulu meminta maaf. Tehnik tembak langsung akan tatapan curiga Ruli.
"Gue hanya gak nyangka. Lo ternyata berhati mulia, Li" kata Tari dengan wajah tertunduk. Saat Tari menggelontarkan rayuat mautnya. Ruli kelimpungan tersipu-sipu. Ruli masuk perangkap Tari. Tari tersenyum lebar.
"Makanya gue kaget waktu itu. Soalnya gue udah lama gak dapat teman berhati mulia, kayak lo" kata Tari lagi dengan senyum manis mengembang kepada Ruli.
"Aahh...masa sih..." jawab Ruli dengan wajah berseri-seri.
__ADS_1
Awal yang indahkan ?. Tari langsung bisa membunuh kecurigaan Ruli dan bahkan bisa mencengkeram kembali kepercayaan Ruli. Selangkah kemudian Tari yang berbaik hati memediasi Ruli dan Mila. Karena Tari tahu, itulah yang diinginkan Ruli.
Tari tahu, Ruli tidak ingin menaruh amarah dihati Mila kepadanya. Mila adalah teman Ruli yang pertama diasrama ini. Jadi kesan yang pertama ini yang tidak ingin ternodai oleh apapun. Demikian pengakuan Ruli kepada Tari.\*\*\*