PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Orang Ketiga Itu Penghancur


__ADS_3

Tanpa salam ataupun ketuk pintu. Tiba-tiba Anton menerobos masuk ke kamar Bintang. Berdiri diambang pintu dan menatap tajam kearah Bintang.


"Apalagi yang kau katakan ke papi dan mami !" tanya Anton dengan nada berat, menahan amarah.


Spontan Bintang tersentak kaget dan gugup. Mendapati sorot mata Anton yang sangat beringas.


"Soal apa ?" tanya Bintang, menyembunyikan kegugupan dan kekagetannya.


"Jangan pura-pura. Aku tahu kau begitu membenci Tari..."


"Bintang gak membenci Kak Tari. Bintang hanya tidak suka, dia terlalu merendahkan abang dan memperalat abang"


"Aku ingatkan ya, Bintang" kata Anton dan melangkah mendekati Bintang yang tengah duduk diatas kasurnya.


"Kau tidak usah ikut campur urusan rumah tanggaku. Bagaimana sikap Tari terhadap aku, dia adalah istriku. Kau wajib menghormati dia. Mengerti !...." lanjut Anton dengan mengahadapkan wajahnya dekat kewajah Bintang.


Lalu Anton berbalik dan melangkah keluar dari kamar Bintang.


"Brak !"


Pintu kamar Bintang dihempaskan Antong sangat kuat, hingga tertutup.


Ciut Nyali Bintang mendapati sikap kasar Anton kali ini. Terlebih melihat mimik Anton yang menyiratkan kemarahan yang luar biasa dan dibalut kebencian yang luar biasa pula.


Sampai Anton menyebut kata "Kau, Aku". Itu bukan Anton yang diketahui Bintang. Sebelumnya Anton memanggil Bintang dengan "Dek" dan menyebut dirinya sendiri dengan "Abang".


Sebelumnya juga Anton adalah sosok kakak pelindung dan penyayang buat Bintang. Kalau ada sikap Bintang yang tidak disukai Anton. Misalnya menurut Anton, Bintang terlalu manja. Mau sekehendak sendiri. Maka Anton akan menegurnya dengan lembut.


"Jangan begitu, dek. Jangan terlalu memaksa kehendak kamu ke papi dan mami. Papi dan mami pasti punya alasan. Mengapa mereka tidak mengabulkan permintaan kamu itu, adek abang sayang. Ayo, dek...Jangan kayak anak kecil gitu. Ntar jelek lho..." rayu Anton dan tidak lupa memperlihatkan wajah jeleknya kepada Bintang.


Menekuk wajahnya hingga kedua pipinya menggelembung bulat. Lalu menjulurkan lidahnya dan membelalakkan matanya, menatap keatas.


Jika sudah begitu, Bintang akan lari ketakutan. Sambil tertawa-tawa manja. Anton akan terus mengejarnya. Memperlihatkan wajah jeleknya itu.


"Sudah Bang Anton. Bintang geli melihat wajah abang. Pengen Bintang timpuk pakai tomat mami. Sudah, bang"

__ADS_1


Tapi Anton akan terus menghadapkan wajahnya ke wajah Bintang. Memaksa Bintang harus melihat wajah jeleknya itu.


"Kak Bila, tolongin Bintang" mata Bintang manja dan berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Bintang.


Bila hanya tersenyum-senyum, menyaksikan tingkah mereka yang kekanak-kanakkan itu.


Tak dapat pertolongan dari Bila, Bintang pun akan minta pertolongan pada Edhi, papi ataupun mami. Tapi sama saja, mereka juga hanya tersenyum-senyum. Bahkan papi terkadang tertawa kencang melihat tingkah kekanak-kanakkan mereka itu.


"Ampun abang ganteng. Abang Bintang tersayang" Nah...inilah kata kuncinya.


Jika Bintang sudah berkata begitu, barulah Anton berhenti dan duduk manis didepan TV. Bintang pun akan mengikuti Anton, duduk manis disamping Antong. Melingkarkan kedua tangannya di satu lengan Anton dan meletakkan kepalanya dibahu Anton.


"Abang capek...Haus...Pengen es kopi buatan adek abang tersayang dong"


"Yeeee....gombalnya lagu lama"


Pura-pura ogah-ogahan, tapi tetap Bintang akan membuatkan dua gelas es kopi. Satu buat Anton dan satu buat dirinya sendiri. Karena pasti mereka akan asyik nonton film action di TV, film kesukaan mereka berdua.


Biasanya nih, film belum selesai; Bintang sudah tertidur lelap dibahu Anton. Ketika terbangun, Bintang sudah berada didalam dikamarnya, diatas tempat tidurnya.


"Bang..." panggil Bintang didalam hatinya. Tak disadarinya, air matanya telah bergulir dari kelopak matanya. Bintang menangis didalam kamarnya. Menangisi kenangan indah yang telah sirna. Menangisi sikap Anton yang telah berubah kasar padanya. Juga menangisi fikirannya yang telah menerawang jauh. Tentang masa depan keharmonisan keluarganya. Akankah juga sirna dengan kehadiran Tari ini ?.


Tari adalah si penghancur. Bintang harus melawan Tari demi mempertahankan keharmonisan keluarga mereka yang selama ini telah terjalin indah.


Tapi demi teringat kembali wajah Anton yang sinis itu, haruskah Bintang menyerah saja ?. Menghilangkan semua kecurigaannya terhadap Tari. Jika tidak ingin berselisih pada Anton dan tidak ingin terpecahnya keluarga mereka.


Bintangpun dilanda kebingungan yang amat sangat dalam kesedihannya. Tidak hanya beberapa saat. Tapi juga beberapa hari kedepan. Bintang masih memikirkan semua itu dan mempertimbangkannya dengan kemarahan Anton. Kemurunganpun menyelimuti Bintang.


Della menyadari kemurungan Bintang itu dan dapat menduga dengan yakin. Penyebab kemurungan Bintang pastilah berkaitan dengab Tari. Karena itu Della tidak ingin menceritakan tentang kejadian diwarung Opa Chan.


Sangat berbeda dengan Tari yang sedang menikmati kebahagiaannya. Hasil pemuridannya terhadap Anton.


Mendapat sebuah mobil baru dan laporan dari Anton bahwa Anton sudah memberi peringatan kepada Bintang. Agar tidak ikut campur urusan mereka.


Lengkaplah kebahagiaan Tari atas awal kemenangannya itu. Tari merayakannya dengan memamerkan mobil barunya ke eks kampusnya, ke Tante Hombing, juga ke Mbak Ipeh.

__ADS_1


"Tahu gak, tan...si Bintang digampar Anton" kata Tari sangat bahagia.


"Digampar karena apa ?"


"Karena mulutnya kurang ajar. Makanya diajarin si Anton dengan menggamparkannya. Plak Plak...Puas hatiku. Puas hatiku...Hahahaha.. "


Hal yang sama juga dikatakannya pada Mbak Ipeh dan beberapa pelanggan warung Mbak Ipeh yang kebetulan berada diwarung itu. Pada saat Tari pameran mobil barunya dan memberitakan berita hoaksnya itu.


Sayangnya di eks kampusnya, Tari tidak dapat menyebarkan berita bohongnya itu. Karena sekuriti kampus tidak mengijinkan Tari masuk. Tanpa ada alasan jelas.


"Monyet lo !...Awas lo, ya !. Gua akan lindas kaki lo bedua dengan mobil baru gua !" kata Tari dengan suara berteriak pada kedua orang sekuriti kampus itu.


Sambil berjalan mondar-mandir di depan pos sekuriti itu. Tapi kemudian tiba-tiba Tari terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu...


"Eh...jangan !. Jangan pakai mobil baru gua. Gak selevel dengan lo bedua. Harga satu baut ban mobil baru gua itu, senilai gaji lo bedua setahun. Jadi mendingan lo bedua, gua lindas pakai mobil gua yang lama. Ngerti lo !...Puih !"


Lalu Tari pergi membawa kemarahannya. Kali ini kemarahannya cepat surut. Karena Tari langsung dapat kebahagiaan baru yaitu, bahwa dirinya lulus PNS.


"Horeeer...Prok....Prok...Prok..."


Tepuk tangan meriah bergemuruh didalam kepala Tari.


"Selamat ya...Selamat ya...Selamat ya..."


Ucapan itu mengalir deras dari pelanggan setia warung Mbak Ipeh, dari Mbak Ipeh dan dari Tante Hombing. Tari menerimanya dengan senyuman manis.


Tidak ketinggalan Anton pun memberikan ucapan "Selamat". Tapi direspon Tari dengan senyum sinis.


Juga papi dan mami mertuanya mengucapkan "Selamat" dan mengajak mereka merayakannya dengan makan malam bersama disebuah restoran mahal.


"Hhhmmm..."


Tari menyambut ajakan itu dengan lapang dada. Karena terlintas difikirannya untuk bersombong ria dihadapan Bila dan Bintang nantinya.


"Mampuslah kalian" bisik Tari didalam hatinya. Membayangkan bagaimana nanti malunya Bintang dan Bila berhadapan dengan dirinya yang telah menjadi bidan PNS.***

__ADS_1


(⚘♥️Untuk kamu yang membaca, like, komen dan dukung).


__ADS_2