
Segera Tari menarik pena itu dari paha Danu. Bersamaan dengan satu tangan Tari lagi menarik lidah Danu dan menancapkan ujung pena itu pada lidah Danu.
"Hahahaha..." Tari tertawa-tawa kencang diatas tubuh Danu.
Bersamaan juga dengan tawa Tari itu, tiba-tiba ada kabut putih yang sangat tebal dan langsung menutupi seluruh ruangan Danu itu.
Perlahan Tari bangkit dari atas tubuh Danu dan berjalan santai keluar ruangan Danu. Masih memberi senyum manis pada wanita yang tadi mengantarkannya keruangan Danu.
Ternyata wanita itu adalah sekretaris Danu. Begitu menurut Tari, saat berjalan tenang menjauhi ruangan Danu. Melihat posisi meja wanita itu yang tidak jauh dari pintu masuk ruangan Danu.
Tari juga masih memberi senyum manis pada si resepsionis. Saat keluar dari lobby kantor Danu. Sebuah taksi on line telah menunggu Tari didepan pintu masuk kantor Danu.
Lalu Tari masuk ketaksi itu dan pergi. Kemana lagi kalau tidak ke 'markas besar'nya, yaitu warung Mbak Ipeh. Menikmati aneka gorengan dan es teh manis.
Hanya kali ini Mbak Ipeh menaruh curiga pada Tari. Sambil menggoreng dan melayani pembeli, Mbak Ipeh melirik-lirik Tari. Sejak mulai masuk ke warung itu, makan gorengan dan memesan es teh manis. Tari tampak tenang. Wajahnya begitu ceria. Senyum-senyum sendiri menatap gorengan dan es teh manis itu.
Haruskah Mbak Ipeh turut bahagia melihat Tari yang tampak bahagia itu ?. Artinya warung Mbak Ipeh tidak mengalami pulusi suara dan polusi aura. Suara berisik Tari dan aura kotor yang dibawa Tari. Tapi hal itu tidak baik untuk pemasukan warungnya. Tari jadi sedikit makan gorengannya dan sedikit pula memesan es teh manis.
Ternyata keadaan Tari itu hanya sesaat. Begitu kembali pulang dan melihat Anton; Tari kembali marah-marah. Tari semakin gencar memberi perintah pada Anton untuk segera mengusir Bintang dan Bila.
Tapi Anton masih berusaha tetap mengabaikannya. Perintah Tari itu, masuk dari telinga kirinya dan keluar dari telinga kanannya.
Karena diabaikan Anton. Serta sikap Bintang dan Bila semakin 'sombong' kepadanya. Tari kembali ngoceh kencang tidak karuan diwarung Mbak Ipeh. Tidak pada pagi hari. Tidak juga pada malam hari. Tari terus saja ngoceh. Sampai Mbak Ipeh bosan mendengarnya dan gendang telinga Mbak Ipeh serasa akan pecah.
__ADS_1
"Gak apa-apa deh lo sedikit makan gorengan gua. Asal lo diam saja. Itu lebih baik. Gara-gara lo terus ngoceh didekat gua, ini gorengan gua banyak yang gosong. Gak ke jual" bisik Mbak Ipeh didalam hatinya.
Semakin seringnya siaran ulangan kalimat kemarahan Tari, Mbak Ipeh cenderung jadi hafal dengan kata-kata dan nadanya. Paling Mbak Ipeh hanya tersenyum-senyum kecil. Lalu menggoreng lagi dan ngedumel didalam hati. Melayani pembeli, tersenyum lagi dan ngedumel didalam hati lagi.
"Gua sebenarnya belum puas menjambak si kurang ajar itu !. Sayangnya, sekarang dia sudah tidak berani lagi ketemua gua. Dia sekarang sering menghindar, mbak. Pasti dia takut sama gua. Iya kan, mbak. Itulah buktinya kalau gua itu benar. Kalau gua diam saja, dia pasti sudah merajelala. Pasti dia sudah mengusir gua. Pasti dia sudah mengajak teman-temannya untuk pesta narkoba dan pesta **** dirumah itu. Tapi karena ada gua, dia jadi tidak berani berbuat macam-macam dirumah itu. Pasti sebentar lagi dia pindah dari rumah itu. Gua buat dia tidak betah. Lihat saja nanti. Sesuai kata dukun yang dikampung suami mbak itu. Dia kan bilang, setelah gua tinggal dirumah itu. Barulah dia akan diteror. Matilah dia..."
Mbak Ipeh kembali tersenyum kecil lagi. Agar terlihat manis dihadapan Tari. Sambil melirik Happy yang tadi dibawanya serta.
Happy sedang tertidur lelap diatas salah satu meja yang ada didalam warung Mbak Ipeh itu. Tanpa memakai ****** ***** dan sepatu. Karena tadi Happy sudah pipis. Tidak hanya membasahi ****** ***** dan ujung bajunya saja. Tapi juga meja Mbak Ipeh itu.
Walaupun begitu, Happy tampak tertidur sangat lelap dan Tari merasa nyaman dengan keadaan anaknya seperti itu.
Buktinya Tari masih terus ngedumel dengan ciri khasnya itu. Jika sesekali Happy tersentak bangun, Tari terus saja ngedumel. Tidak jeda sebentar. Sekedar melirik pada Happy.
Kalau Happy menangis saat Tari ngedumel, Tari semakin mengencangkan suaranya. Mengalahkan suara tangisan Happy. Hati Mbak Ipeh sebagai ibu, tersentuh. Lalu menggendong Happy dan menimang-nimangnya. Agar Happy tenang kembali.
Hal yang samapun terulang kembali pada keesokan harinya. Hanya malam ini Tari tidak sungkan-sungkan meninggalkan Happy diwarung Mbak Ipeh. Sampai beberapa jam kedepan. Tanpa kata-kata apapun pada Mbak Ipeh.
Setelah hampir menjelang tengah malam, barulah Tari kembali. Berpura-pura membawa oleh-oleh buat Mbak Ipeh. Itupun Tari tak segera membawa Happy pulang. Tari akan ngoceh lagi. Sambil menyantap makanan yang tadi dibawanya, yang sebagian telah menjadi oleh-oleh buat dibawa pulang Mbak Ipeh. Sebagian lagi mereka santap bersama.
Keesokan harinya terulang lagi dan lagi. Entah sudah beberapa kali terulang lagi.
Kalau Mbak Ipeh mau jujur, dia sebenarnya sudah capek menghadapi sikap Tari itu. Secara otomatis tanpa mandat apapun, harus menjadi pengasuh Happy.
__ADS_1
Ingin protes, tapi Mbak Ipeh masih ingat prinsip berdagang, "Jangan sekali-kali mengecewakan pedagang. Apalagi pedagang itu royal". Juga Mbak Ipeh masih membutuhkan Tari sebagai tempat meminjam uang yang aman. Tanpa bunga tinggi dan batas waktu pembayaran.
Kalau difikirkan anggaplah sepadan dengan akibat tidak nyaman yang dibuat Tari. Mbak Ipeh hanya bisa semakin melapangkan dadanya untuk bersabar dengan jangka waktu yang tidak pasti. Hanya satu yang pasti yaitu suami Mbak Ipeh marah-marah. Sampai jingkrak-jingkrak. Karena warung mereka jadi tempat penitipan Happy.
Suatu kali warung Mbak Ipeh tutup. Mbak Ipeh libur. Maka tempat pelarian Tari terpaksa rumah Tante Hombing. Jika kebetulan Tante Hombing lalai mengunci pintu pagar rumahnya.
Sama seperti yang diperbuatnya diwarung Mbak Ipeh, meninggalkan Happy dirumah Tante Hombing. Tanpa mandat apapun dan kepada siapapun. Banyak alasan Tari pada Tante Hombing, jika ditanya; yang keundanganlah keluargalah, undangan teman kantorlah, lemburlah...
Suatu kali anak perempuan Tante Hombing yang bernama Angel, sangat kesal pada Tari. Pasalnya Tari meninggalkan Happy begitu saja disofa mereka. Memang masih dalam keadaan tidur.
Ketika bangun, Happy menangis kencang. Tentu Angel kebingungan bagaimana cara mengatasi meredakan tangisan Happy. Sementara Tante Hombing belum pulang dari acara undangan pernikahan tetangga mereka. Angel kesal, bingung, kasihan pada Happy dan sedih. Angelpun menangis bersama Happy.
Ketika Tante Hombing sudah kembali pulang, Angel langsung marah-marah pada Tante Hombing. Bahkan didepan suami Tante Hombing, yaitu Pak Hombing.
"Mama, kenapa sih mama ngijinin Kak Tari ninggalin anaknya disini" kata Angel dan masih menangis.
"Mama gak ngijinin, kok"
"Tapi tuh si Happy...dari tadi nangis. Gak tahu karena apa"
"Mana Happy..." kata Tante Hombing panik.
"Mama !..."teriak Pak Hombing dengan sangat kencang, marah.
__ADS_1
"Papa sudah bilang, Tari tidak boleh kerumah ini. Tapi kenapa Tari masih datang juga. Mama membantah papa !. Kalau gitu, biar papa yang bilang ke Tari. Papa akan nunggu Tari !"***
(Loop u all ⚘)