PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Nyala Api Disekam


__ADS_3

Perasaan itu yang semakin membuat Bintang sangat bersedih. Seakan Bintang dipaksa untuk segera mengakui statusnya sebagai anak yatim piatu.


Belum selesai juga dengan itu, Bintang sudah dipaksa lagi harus mengakui kekuasaan rezim baru, yaitu Tari dan ambisinya. Harus tunduk dan patuh pada rezim itu. Jika tidak, akan dideportasi secara tidak hormat.


Seandainya Bintang tidak minta cuti kuliah, dia akan bisa tinggal diasrama. Berhibernasi dikamar asrama. Sampai kuliahnya selesai. Tapi kenyataannya, Bintang baru saja mengajukan untuk cuti kuliah. Lebih memilih mencari kerja untuk belajar menopang sendiri kebutuhannya sehari-hari. Tidak ingin mengusik tabungannya yang sudah dipersiapkan papi dan mami.


Karena Bintang memandang kedepan, harus belajar mencari uang sendiri. Itu dimulai dari sekarang. Makanya Bintang memilih untuk bekerja. Mempunyai penghasilan sendiri. Karena itulah Bintang harus pulang kerumah orang tuanya. Tidak pernah melintas difikirannya akan hidup satu rumah dengan Tari.


Tari yang terlalu berambisi untuk segera menjadi 'tuan' dirumah orang tua mereka itu. Mengatasnamakan tradisi, Tari merasa sebagai pewaris tunggal. Karena kini Anton anak laki-laki satu-satunya. Pembawa nama papi. Anggota keluarga yang lain, yang bernama perempuan harus disingkirkan.


Bagaimana kalau Bintang berbalik menantang Anton. Mengatasnamakan hukum, bahwa Anton hanya anak pungut. Tidak memiliki hak waris penuh. Kecuali pemberian dari mereka, yaitu Bila dan Bintang. Jadi Tari jangan terlalu memaksakan diri untuk langsung mengambil alih.


"Hush !...Jangan pernah kamu katakan hal itu. Itu sepenuhnya hak Anton" kata Bila mengingatkan Bintang.


Ketika itu Bintang tengah berkeluh kesah kepada Bila, dikamar Bila. Yah...kini mereka lebih banyak berdiskusi didalam kamar. Ruang makan dan ruang keluarga, kini seakan tiada fungsi lagi.


Saat papi dan mami masih ada, ruang keluarga dan ruang makan adalah tempat mereka berkumpul, setiap pagi dan malam. Ruangan itu menjadi ruangan favorit mereka Karena dipenuhi aura kehangatan dan keharmonisan mereka. Tapi kini ruangan itu sepi, dingin dan gelap.


"Maksud Bintang, apa Bang Anton gak bilang ke Tari. Kalau dia itu anak pungut papi dan mami. Suami istrikan harus saling jujur, kak"


"Iya...Tapi untuk mengungkapkan hal itu, adalah hak Anton"


"Ke Bintang aja, papi dan mami jujur. Bikang ke Bintang, kalau Bang Anton itu dipungut"


"Iya...Karena papi dan mami merasa bertanggung jawab untuk mengatakannya ke kamu. Bagaimanapun nanti sikap kamu terhadap Anton, papi dan mami akan tetap bertanggung jawab atas komitmen mereka yang telah mengangkat Anton sebagai anak. Jadi kita berdua, jangan ungkit hal itu didepan siapapun. Terkhusus didepan Tari, Happy atau anak-anak Anton kelak. Jangan, ya"


Bintang merenungi kata-kata Bila itu. Jika Bintang menentang Anton sebagai bagian dari mereka, hanya karena Tari. Itiu sama artinya Bintang melawan Happy.


Pasti Happy tersingkir dari warisan papi. Kasihan Happy yang tidak tahu apa-apa. Apalagi Bintang lebih sering bersama Happy. Ketimbang Happy dengan Tari.


Bintang tidak boleh sejahat itu dengan Happy. Biar bagaimanapun Happy adalah keponakannya dan akan tetap menjadi keponakannya. Anak dari Anton yang telah syah secara hukum, sebagai anak papi dan mami.


Tapi harus hidup satu rumah dengan Tari ?. Sampai kapan ?. Membayangkan hari esok berganti saja, Bintang terasa enggan. Apalagi membayangkan banyaklah hari esok yang harus di lalui Bintang bersama Tari dirumah ini.


Semoga saja Tari tidak mengusik kamarnya juga. Karena hanya kamarnya ini saja jadi tempat yang aman untuk berdiam diri. Bisa berdoa, berfikir jernih dan bersembunyi dari jahatnya niat Tari.


Saat dalam perjalanan perenungan akan hari esok, sayup-sayup Bintang mendengar suara tangisan Happy. Hati kecilnya memanggil untuk segera melihat keadaan Happy.


Ternyata Happy ada dalam gendongan Mbak Min yang semakin menangis kencang.

__ADS_1


"Kenapa Happy, Mbak Min" tanya Bintang. Sambil mengambil Happy dari Mbak Min.


"ASI botolannya habis, mbak"


"Susu formula aja yang kemarin dibellin Bang Anton"


"Sudah habis juga"


"Ooo...ya udah. Ntar aku telpon Karina"


"Neng Karina ?...Teman Mbak Bintang ?"


"Iya...Dia kan sekarang bidan diklinik bersalin 24 jam yang ada diujung jalan rumah kita ini"


"Oooo...Neng Karina disitu toh"


"Iya...Mudah-mudahan dia ada stock susu formula bayi"


Bintangpun menelepon Karina.


"Oke...Thank ya, Karin"


"Ada, mbak" kata Bintang.


"Syukur, deh. Kalau gitu, saya mau meneruskan pekerjaan saya ya, mbak"


"Iya"


Sambil menunggu kiriman susu dari Karina, Bintang mencandai Happy. Bernyanyi-nyanyi untuk Happy dan menimang-nimangnya. Barulah tangisan Happy reda. Berganti dengan tawa kecilnya yang merdu.


Bersama Happy, Bintang merasakan kedamaian. Semua kesedihan dan permasalahannya sirna. Sering tak terasa hari-hari telah berlalu, saat bersama Happy.


Bintang juga tidak merasa keletihan merawat dan menjagai Happy. Memandikannya, memberinya susu, menimang-nimang. Lalu bercanda lagi dengan Happy. Hal itu memberikan makna kebahagiaan tersendiri buat Bintang.


Suatu kali ketika Bintang sedang menggendong Happy diruang keluarga, dari ekor matanya; Bintang melihat Tari melangkah masuk kerumah dengan langkah lebar.


Memang begitulah Tari. Selalu berkalan dengan langkah cepat. Bagai orang yang sesak berat. Langkahnya juga berisik. Sama seperti mulutnya. Karena kakinya diseret. Seakan kakinya enggan membawa tubuhnya yang gemuk.


Tari tersentak kaget. Melihat Bintang menggendong Happy. Taripun kehabisan gaya, malu sendiri dan tanggung sendiri ******** itu. Tari tak mempunyai perbendaharaan kata-kata untuk mengungkapkan situasi yang baik seperti ini, yaiti kedekatan Bintang dan Happy.

__ADS_1


Perbendaharaan kata-kata Tari hanyalah cacian, makian dan sumpah serapah. Makanya Tari kaget, melihat Happy lelap dalam dekapan Bintang. Lalu spontan berteriak.


"Bibiiiiiii !!!!....Bi Minah !. Baju seragam olah raga saya buat besok, sudah disetrika belum gak sih ?!"


"Sudah, bu"


"Tarok dimana !"


"Dimeja setrikaan"


"Sudah disetrika atau belum !?"


"Sudah, bu"


"Kenapa masih dimeja setrikaan !. Bawa kekamar !:


"Ya, bu"


Happy juga tergaget. Mendengar suara kencang ibunya. Tapi bagi Bintang, sikap Tari itu menimbulkan kecemasan didalam hatinya. Karena bisa saja hal menggendong Happy ini menjadi permasalahan buat Tari dan terimbas pada para asisten dirumah ini.


Contohnya hari ini. Belum pernah Tari mempermasalahkan tentang pakaiannya.Apakah sudah dicuci atau belum. Sudah disetrika atau belum. Tapi hari ini Tari mempermasalahkan itu didepan Bintang. Saat Bintang menggendong Happy.


Hal seperti ini bisa berujung terjadi pertengkaran sengit. Antara Bintang dan Tari.


Demi menghindari hal itu. Segera Bintang membawa Happy ke kamar eks papi dan mami mereka. Membaringkan Happy diatas tempat tidur orang tuanya dahulu. Lalu diam berdiri sejenak. Menatap sekeliling kamar itu dengan kerinduannya pada papi dan mami.


Bintang tidak menghiraukan Tari yang sedang menatap tajam kepadanya. Tari sudah gelisah dan mulai uring-uringan. Menghimpun keberaniannya untuk segera mengusir Bintang dari kamar itu. Sampai tubuhnya menggigil. Memaksa nyalinya untuk tumbuh besar. Berani bertindak seperti apa yang diperintahkan emosinya.


Sebelum nyali Tari itu semakin besar dan emosinya meledak, untunglah Bintang sudah keluar dari kamar itu. Tari bernafas lega. Meskipun emosinya masih membakar ubun-ubun kepalanya.


Begitu Bintang keluar, bergegas Tari menutup pintu kamar dengan menghempaskannya kuat. Bunyi keras yang dihasilkannya, pastilah mewakili kemarahan Tari terhadap Bintang. Bintang menyadari hal itu dan menyimpannya di dalam hatinya.


Namun Happy tidak. Karena beberapa detik kemudian, terdengar suara tangisan Happy. Ingin Bintang segera berbalik kekamar itu untuk menggendong Happy. Tapi niatnya itupun harus disimpannya juga.


Itu sikap orang yang dewasa pemikiran. Hal jelek yang masih bisa diabaikan, harus diabaikan. Sayangnya Tari bukanlah orang dewasa itu.


Saat Anton baru pulang kerja, Tari menyambutnya dengan berdiri berkacak pinggang didepan pintu kamar papi dan mami dahulu yang kini sudah diklain mereka, jadi kamar mereka. Lalu membombardir Anton dengan kemarahan. Membuat laporan tuduhan dengan suara berteriak.


"Kau tahu, si Bintang itu masuk ke kamar ini. Melihat-lihat barang-barang kita. Pasti dia mau mencuri !"***

__ADS_1


__ADS_2