PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Kerja Sama Keramat


__ADS_3

Malah senyuman Tari masih tersisa banyak. Ketika membayangkan kepanikan ibu yang kehilangan uangnya, perhiasannya dan kamarnya berantakan. Lalu ibu marah-marah, mencaci maki ayah dan pasti terjadi pertengkaran hebat, antara ibu dan ayah. Sayangnya Tari tak bisa menghadiri acara pertengkaran itu.


Hanya beberapa hari kemudian, Tari usil untuk mendapatkan infornasi tentang keadaan kedua orang tuanya itu. Bukan dengan mengunjungi orang tuanya. Tapi berkunjung kewarung tetangga mereka. Untuk sampai ke warung itu, Tari harus melintas dari depan rumah mereka.


Wah...waktu siang begini, pasti ibu masih berada dirumah. Mengapa Tari lupa hal itu ?. Pasti ini karena pengaruh kebahagiaannya yang jahat. Sehingga membodohi langkahnya. Sia-sialah perjuangannya bolos kuliah lagi. Apa diurungkan saja rencananya ?. Tapi Tari sudah ada didekat rumah.


Siang bolong begini, alamat tidak baik meintas didepan rumah. Bisa jadi bertemu pandang tanpa sengaja dengan ibu.


Sejenak Tari berhenti didepan rumah tetangga yang keberadaannya percis disamping rumah mereka. Tari bersembunyi dibalik tembok pintu gerbang rumah tetangga itu dan mengintip ke arah rumah mereka.


"Hei...Tari....ngapain ngumpet disitu" terdengar suara dari arah halaman rumah tetangga itu. Tari kaget dan menoleh.


"Eh tante...anu...hehehe..."jawab Tari gugup dan cengar-cengir menatap ke arah tante, nyonya rumah itu.


"Ayo...masuk kesini. Kalau rumah kalian dikunci. Ayo.." kata si tante.


"Iya, tan...terimakasih. Mari, tan..." jawab Tari. Lalu melanjutkan perjalanannya, akan melintas didepan rumah mereka.


Tari berjalan mengendap-endap. Selangkah...dua langkah dan ciiiiittt... Ada sesosik yang sedang berdiri diteras depan rumah mereka. Sosok itu berdiri dibalik tembok teras itu. Seperti sedang bersembunyi dengan tatapannya tajam tertuju kearah jalan depan rumah.


"Waduh !...siapa tuh. Bisa-bisa ketahuan nih" bisik Tari didalam hatinya. Tapi tak berdaya untuk mundur ataupun bersembunyi. Karena tidak ada tempat persembunyian lagi. Selangkah lagi Tari akan melintas tepat didepan pintu gerbang rumah mereka.


Sesaat Tari panik. Tapi berusaha berfikir logis. Tari pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Tidak ada pilihan, Tari harus terus melangkah. Sambil membuang mukanya ke arah sebrang jalan rumah mereja. Langkahnya lebar, melintas dari depan rumah mereka.


Yes...berhasiiilll....Tari kegirangan dan tanpa sengaja menoleh ke arah rumah mereka dan tereeeenngg... Mata Tari beradu pandang dengan sosok yang berdiri dibalik tembok teras rumah mereka itu.


"Embah ?.."kata Tari pada dirinya sendiri. Lalu segera menarik tatapannya dan berjalan cepat ke warung tetangga.


Saat di warung itulah Tari mendapatkan info, bahwa orang tuanya kemalingan. Orang tuanya tidak melapor ke polisi. Hanya menyerahkan masalah itu ke Mbah Kahpok.


"Apa ?!" Tari membatin. Menunduk dan berfikir. Pastilah itu saran Mbah Kahpok untuk melindunginya. Karena sebenarnya Mbah Kahpok tahu. jika Tarilah malingnya. Buktinya Mbah Kahpok sudah menantikannya diteras depan rumah.


Ayah tidak salah memilih Mbah Kapok. Dia memang dukun hebat. Sampai mengetahui, kalau Tari hari ini akan melintas dari depan rumah. Tari manggut-manggut mengerti, bahwa Tari harus berinisiatif menemui Mbah Kahpok. Meminta 'pengobatan' lagi. Sebagai persembahan untuk tutup mulut.

__ADS_1


Setelah mendapat keterangan yang cukup dari beberapa tetangga di warung itu, Tari pun segera menemui Mbah Kahpok dikamar belakang itu. Menyerahkan dirinya sebagai ungkapan terimakasih telah melindunginya.


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu bunyi pepatah yang tidak diketahui Tari. Satu yang dituju, beberapa kena (Itu adalah pengertian Tari).


Karena kemudian Mbah Kahpok mengajukan usul. Tapi bagi Tari itu adalah modus. Mbah Kahpok akan memenuhi semua permintaan Tari. Asalkan Tari selalu melakukan 'pengobatan' rutin kepada Mbah Kahpok.


Sesaat Tari tercenung, berfikir dalam-dalam. Dendan, amarah dan kebenciannya; akhirnya menyetujui usulan Mbah Kahpok itu. Maka jadilah Tari bekerja sama dengan Mbah Kahpok.


Kerja sama itu dimulai untuk menolong ayah dari amukan orang-orang yang pernah merasa tertipu oleh ayah. Orang-orang yang minta ayah mengurus ijin usahanya. Jika menyetor sejumlah uang kepada ayah, maka ijin usahanya akan cepat keluar.


Ternyata semua itu hanya akal-akalan ayah untuk meraup uang mereka. Telah beberapa kali orang-orang itu menyerbu ayah ke rumah dan kini mereka melaporkan ayah ke polisi. Tapi berkat kesepakatan dengan Tari, Mbah Kahpok bertindak.


Ayah pun terbebas dari laporan tuduhan orang-orang itu. Jabatan ayah dikantor tidak terusik. Bahkan usaha ayah kembali memenangkan beberapa tender.


Kerja sama Tari dan Mbah Kahpok itu, tidak diketahui ayah. Bagi ayah, semua masalah itu dapat dilaluinya karena Mbah Kahpok adalah dukun hebat. Mbah Kahpok hanya memberikan satu syarat yaitu seluruh gaji bulanan ayah, setiap bulannya harus diberikan kepada Tari.


"Kok gitu, mbah" tanya ayah kaget. Terbayang ketidaksetujuan ibu yang akan berakibat terjadi pertengkaran setiap hari. Padahal ayah sudah letih bertengkar dengan ibu.


"Kalau masih ada halangan dari anakmu itu. Karena anakmu itu sedih tidak mendapatkan hak atas penghasilan kamu, masalah kamu itu akan jebol lagi. Pertahanannya kan ada pada Tari." jawab Mbah Kahpok meyakinkan ayah.


"Satu lagi"


"Apa, mbah " tanya ayah cepat.


"Jangan larang Tari, jika datang kerumah ini untuk menemui saya"


"Oo...tidak. Tidak akan, mbah. Malas saya mendukungnya. Karena sekarang Tari sudah jadi anak baik. Patuh pada saya" jawab ayah cepat, sangat bahagia.


Tari dan Mbah Kahpok hanya menundukkan kepala. Mendapat jawaban persetujuan. Sambil menyunggingkan senyum kemenangan jahat. Karena secara tidak langsung, ayah juga merestui perjanjian kesepakatan mereka.


Sejak itu, pada malam tertentu; Tari harus pulang kerumah orang tuanya dan menemui Mbah Kahpok. Mereka akan menghabiskan tengah malam, hingga subuh dikamar Mbah Kahpok. Ayah tidak menaruh kecurigaan apapun.


Berbeda halnya dengan ibu yang terus saja uring-uringan. Jika terpergoknya Tari ada dirumah mereka. Ingin rasanya ibu menghajar dan memaki si Tari ini. Tapi ibu pun tak berdaya. Selalu ada Mbah Kahpok yang melindungi Tari.

__ADS_1


"He !...pelacur !..."teriak ibu suatu kali. Saat melihat Tari masuk ke dalam rumah.


Tampak Tari begitu santai, melintas dari depan kamar ibu. Tak memperdulikan teriakan ibu. Ibu pun marah, langsung berdiri dan akan mengejar Tari. Ciiiittt...langkah ibu terhenti melihat Mbah Kahpok yang sedang berdiri didepan pintu kamar Tari. Menatap ibu dengan tatapan tajam.


Seketika ibu tidak berdaya. Seluruh tubuhnya terasa lemah....lemah...lemah dan gedebug...ibu jatuh dilantai dengan kondisi masih sadar. Melihat Mbah Kahpok menarik tangan Tari menuju kamar belakang.


Cukup lama ibu terbaring tak berdaya dilantai. Sampai ayah datang dan menolong ibu. Tapi begitu ayah menyentuh ibu untuk menolongnya. Eeee...spontan ibu dapat bergerak, bangun berdiri dan langsung marah pada ayah.


"Si Tari dan Mbah Kahpok berada dikamar itu" kata ibu dengan suara berteriak. Sambil menunjuk ke arah kamar belakang. "Pasti mereka berbuat mesum dikamar itu. Ayo...gerebek !...Gerebek !..."lanjut ibu sambil menampar-nampar kepala ayah.


"Diam !...jaga mulutmu. Hati-hati bicara" jawab ayah kaget dan kesal pada ibu.


"Jangan-jangan kau sudah tahu !. Kau yang mengijinkan mereka berbuay mesum dikamar itu. Kau jual si Tari ke dukun mu itu !. Ayah bodoh kau !..."


"Diam kau !"


"Kau yang diam !. Kau lacurkan anakmu sendiri...dirumah ini !. Aku tidak setuju !. Suruh saja mereka dijalanan sana ng*nt**. Jangan disini !. Dengar kau !"


"Semakin kurang ajar kau !. Perempuan bodoh !"


"Kau yang bodoh !...Usir mereka dari rumah ini !. Usir !. Tolol !...usir mereka !. Cep.....aaaa...haaa....aaa...duuuhh...." kata ibu dengan suara terbata-bata dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Ibu merasakan sakit ditenggorokannya. Memegangi tenggorokannya dan masih berusaha mengeluarkan kata-katanya. Itu terlihat dari gerak bibirnya. Sepertinya ibu sedang mengaduh-aduh kesakitan.


Wajah ibu tampak sangat pucat. Sambil mengelus-elus tenggorokannya, ibu masih berusaha bersuara. Ayah hanya menatap bingung pada ibu. Tidak tahu ibu sedang apa dan tidak tahu harus berbuat apa untuk ibu.


Ibu tampak seperti sedang tercekik. Memegangi tenggorokannya, mengelusnya dan menepuk-nepuk kecil. Kemudian ibu batuk-batuk panjang. Sampai ibu terpipis. Wajahnya masih pucat. Ibu batuk-batuk lagi. Membungkukkan punggungnya, kemudian terjongkok. Tangannya masih menepuk-nepuk kecil tenggorokannya. Sampai beberepa saat kemudian, berangsur wajah ibu tampak memerah. Semakin merah, seperti sedang dipanggang api.


Tenggorokan ibu juga tampak sangat merah. Ibu tampak sangat kesakitan. Memegangi tenggorokannya, melompat-lompat, mengipas tenggorokannya dengan kedua tapak tangannya.


Tiba-tiba ibu berlari ke arah kulkas. Membuka pintu kulkas dengan kasar. Lalu mengambil air mineral botolan. Meneguknya dengan tergesa-gesa dan sebanyak-banyaknya. Berangsur-angsur tenggorokan ibu pulih. Ibu pun terduduk disatu kursi makan. Masih mengelus-elus tenggorokannya.


Ayah menghampirinya dan berdiri didepannya. Begitu melihat ayah, kemarahan ibu memuncak lagi. Ibu mengumpat, mencaci-maki ayah. Tapi suara ibu tak keluar. Ibu berteriak sekencang apapun, suaranya tak terdengar. Hanya mulut ibu yang mangap-mangap lebar didepan wajah ayah.

__ADS_1


Ayah mengibas-ibaskan satu tapak tangannya untuk menyingkirkan bau nafas ibu. Agar jangan masuk kemulutnya. Lalu ayah pergi, menjauhi ibu. Sementara dikamar belakang, Tari sedang tersenyum-senyum bahagia melihat ibu tersiksa kesakitan dari penglihatan yang diberikan Mbah Kahpok.


__ADS_2