PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Sang Pengacara


__ADS_3

"Persetanlah !..Kalau.dia membantah gua, gua akan potong lidahnya" kata Tari dan segera berjalan masuk kelokasi rukan.


Setelah melihat pintu pagar lokasi itu telah terbuka dan ternyata sudah terbuka beberapa jam yang lalu. Saat itu Tari masih menyusun rencana apa yany akan dilakukannya terhadap Pak Danu Anggara itu.


Tidak memerlukan waktu lama, Tari telah berdiri di depan pintu masuk kantor Danu. Seorang resepsionis menyambutnya dengan ramah.


"Selamat pagi, bu. Ada yang bisa saya bantu ?"


"Iya, saya mau bertemu dengan Danu Anggara"


"Ada keperluan apa anda mencari suami saya" tanya sebuah suara yang berasal tidak jauh dari arah salah satu sisi meja resepsionis, dengan nada tidak ramah.


Seketika Tari berbalik kearah suara itu dan kaget. Mengenali sipemilik suara.


"Ruli ?"


"Iya, gua Ruli dan Danu Anggara adalah suami gue"


"Ooo..."


Tari manggut-manggut kecil. Sinar matanya menyiratkan kecurigaan, bahwa ada sesuatu tipu muslihat.


"Apa kabar Tari" kata Ruli dan mengulurkan tangannya kehadapan Tari. Hal itu sudah cukup dari sopan. Tidak perlulah cipika-cipiki. Mengingat hubungan persahabatan mereka tidaklah baik.


"Baik" jawab Tari dan menyambut uluran tangan Ruli.


Sesaat mereka berjabat tangan dan saling menatap dengan makna yang saling tidak menyukai. Tapi berpura-pura ramah didepan si resepsionis dan beberapa tamu yang sedang duduk di lobby kantor Danu ini.


"Sudah lama lo menikah dengan Danu" tanya Tari langsung akan menyelidiki. Memuaskan hasrat kecurigaannya.


"Ayo kita bicara disana"


Ruli langsung mengajak Tari menju sebuah ruangan untuk berbicara diruangan itu. Biar bagaimanapun Tari pernah jadi sahabatnya dan kini berada dikantor suaminya. Berniat untuk menemui suaminya. Jadi Ruli tetap memperlakukan Tari sebagai klien suaminya.


"Kami menikah sudah setahun. Anak kami cowok dan masih berumur tujuh bulan" jawab Ruli "Anak lo sudah umur berapa ?" Ruli balik bertanya.


"Lima bulan"


"Cowok atau cewek"


"Cewek"


Kali ini Ruli yang manggut-manggut dan memperhatikan tubuh Tari yang berkembang pesat. Tari juga tidak mau kalah, memperhatikan tubuh Ruli yang masih menyusut. Tapi tampak sedikit berisi, alias montok.


"Oh ya...Tadi lo mau ketemu suami gue ya"


"Iya"


"Gue aja yang atur. Biar lo bisa cepat ketemu sama suami gue. Nepotisme gak apa-apalah. Ntar ya..."


Ruli beranjak meninggalkan Tari dengan maksud baik. Tanpa diketahui Ruli, Tari akan menemui suami Ruli dengan maksud tidak baik, yaitu kerja sama atau celaka. Karena Tari hanya menatap sinis kepada Ruli.


"Sekalian ucapkan selamat tinggal" bisik Tari didalam hatinya. Hanya menatap Ruli yang berjalan dengan anggunnya, menuju ruangan suaminya.

__ADS_1


Tari sendirian diruangan itu menunggu kelanjutan nepotisme ini. Kesempatan itu dipergunakan Tari untuk mereka-reka rencananya kepada Danu.


Hingga tidak berapa kemudian seorang wanita yang lain datang menemui Tari.


"Mari, bu. Saya antar ke ruangan Pak Danu"


"Rulinya mana ?"


"Ibu Ruli pergi kerja, bu"


"Dimana ?"


"Klinik Bersalin Bunda Mila"


"Bangsat !...Mereka kerja sama menjatuhkan gue. Tidak akan !" bisik Tari didalam hatinya sangat marah. Hingga mendengus kencang. Wanita mendengar dengusan Tari. Tapi berpura-pura cuek. Malah tersenyum ramah kepada Tari.


"Mari, bu" ulang wanita itu untuk mengantar Tari menemui Danu. Kemudian Tari melangkah mengikuti wanita itu. Menuju ruangan Pak Danu Anggara.


"Tok...Tok...Tok...Tok..."


Wanita itu mengetuk sebuah pintu ruangan, beberapa kali. Sebelum ada sahutan dari dalam ruangan itu, wanita itu langsung membuka pintu itu lebar-lebar dan tampaklah seorang pria yang tinggi besar. Bertubuh atletis dan wajah sebelas dua belas dengan Tom Cruise. Berdiri didepan mejanya. Menatap ramah kepada Tari.


"Silahkan, bu" kata wanita itu kepada Tari.


Taripun masuk beberapa langkah dan wanita itu langsung menutupkan pintu itu kembali. Seakan memberi ruang kebebasan untuk Tari dan suami Ruli ini. Melakukan apapun di ruangan ini.


"Halo, Ibu Tari. Selamat pagi..." suara tenor Danu ini, menyambut Tari dengan sangat ramah pula.


Sampai Tari tercengang dengan keramahan itu dan tidak sempat menjawab Danu. Danu sudah mengulurkan tangannya kepada Tari untuk berjabat tangan.


Taripun menyambutnya dan Danu menarik lembut tangan Tari untuk menuntunnya duduk pada sebuah sofa diruangan Danu ini. Menarik sedikit sofa kebelakang untuk mempersilahkan Tari duduk. Setelah Tari duduk, Danu pun duduk pada sebuah sofa yang tidak jauh dari satu sisi Tari.


"Apa yang bisa saya bantu, Ibu Tari"


"Hhhmmm...anda pengacara mertua saya ?"


"Ya, Ibu Tari"


"Anda kenal dengan Bintang ?"


"Ya...tentu. Bahkan dengan semua anak-anak mendiang mertua anda"


"Ternyata dunia ini mirip sinetron, sempit"


Tari mulai memperlihatkan kesinisan yang kental. Membuat wajah ramah Danu berkurang 1%.


"Maksud, Ibu Tari..."


"Seberapa dekat anda mengenal Bintang"


Danu mengernyitkan keningnya. Menatap lekat wajah Tari. Mencari sendiri jawaban atas maksud interogasi Tari kepadanya.


"Sebelum anda mengenal Bintang. Saya sudah mengenal Bintang"

__ADS_1


"Lalu Ruli ?"


"Papanya Ruli teman akrab papa saya. Papa saya sering mengajak kami kerumah orang tua Ruli. Disitulah saya berkenalan dengan Ruli"


"Skenario yang bagus. Tapi kuno, tidak kreatif"


"Sebenarnya tujuan Ibu Tari ini apa ?"


"Anda mengenal Bintang dan keluarganya. Anda juga suami dari Ruli, teman saya satu kamar diasrama. Ruli bekerja dengan Mila. Mila juga teman satu kamar saya di asrama"


"Oh ya ?" kembali wajah ramah Danu 100% pulih. Plus tulus dan senyuman manis yang terkembang lebar.


"Anda benar, dunia ini sempit. Tapi bukan mirip sinetron. Tepatnya mirip panggung sandiwara. Seperti lagu yang terkenal itu. Bahkan sempitnya banget. Hahahaha..."


Danu tertawa lebar. Tapi Tari tidak. Hal itu menganggu durasi tawa Danu. Hingga harus di crop sangat banyak. Danu pun akhirnya terdiam menatap Tari dengan sisa-sisa tawa dibibirnya. Membentuk segaris senyum ramah dan menunggu Tari untuk memulai percakapan sessi kedua ini.


"Saya benar-benar jadi curiga. Apalagi tawa anda tadi itu, Pak Danu:


"Curiga tentang apa, bu" tanya Danu masih dengan sisa tawanya itu.


"Ada persekongkolan anda dengan Bintang membuat surat wasiat palsu itu"


Danu kaget dan spontan duduk tegak, menatap Tari. Masih dengan sisa tawanya. Memperlihatkan kedewasaannya yang profesional.


"Anda kaget saya tahu tentang surat wasiat itu ?. Saya sudah baca salinannya. Asal anda tahu, ya...Mami mertua saya sudah jelas mengatakan langsung kepada saya, bahwa rumah itu milik saya. Lalu mengapa disurat wasiat, rumah itu jadi milik Bintang !. Itu pasti persekongkolan anda dengan Bintang"


"Kenapa anda tidak lapor polisi. Kalau anda curiga"


"Nanti saya lapor polisi, jangan-jangan polisinya masih ada hubungan lagi dengan orang-orang disekitar Bintang. Percuma !..."


"Lalu...anda maunya apa ?"


"Saya mau anda jangan membacakan surat wasiat palsu itu didepan keluarga mertua saya ataupun didepan kami !" kata Tari sangat marah dan langsung berdiri berkacak pinggang.


"Lho...kenapa ?"


"Karena itu palsu, bodoh !"


"Sret !...Prak !....Buk !...Gedebuk !... **** !..."


Karena begitu sangat marah. Hingga kalap akan menyakiti Danu. Setelah meraih penanya dari dalam tasnya. Tari akan segera menusuk leher Danu dengan ujung penanya.


Saat akan melangkah, kaki Tari kesandung kaki sofa yang didudukinya. Tari terjatuh kearah Danu dan tersungkur dipangkuan Danu.


Pena yang masih ditangan Tari, menusuk Paha Danu. Ujung pena itupun tertancap dalam diselangkangan Danu.


"Aaaaa !!!!..." teriak Danu.


Bukannya Tari kaget ataupun panik. Malah segera mencabut pena itu dari ************ Danu. Bersamaan dengan satu tangan Tari lagi, menarik lidah Danu dan menancapkan ujung pena itu pada lidah Danu.


"Hahahaha....."***


(😈)

__ADS_1


__ADS_2