PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Pertikaian Tanpa Akhir


__ADS_3

Saat Anton baru pulang kerja, Tari menyambutnya dengan kemarahan. Berdiri berkacak pinggang didepan pintu kamar. Membuat laporan tuduhan dengan suara berteriak.


"Si Bintang itu tadi masuk ke kamar ini !. Melihat-lihat barang-barang kita !. Pasti dia mau mencuri !. Secara dia pasti iri denganku !. Aku ini pegawai negri..."


Anton tidak perduli. Malah berbalik badan. Urung untuk masuk ke kamar. Lalu melangkah ke arah ruang keluarga.


"Hei !...*nj*ng !...Kau dengar aku !. Si Bintang itu mencari gara-gara dengan aku...."


Anton masih tidak perduli. Lalu duduk disofa depan TV dan akan menyalakan TV.


"Plak !....Praaaakk...."


Tari menampar tangan Anton yang sedang memegang remote TV. Remote itupun jatuh keatas lantai dan pecah.


"Seeeerrr...."


Darah Bila dan Bintang yang mendengar keributan itu, langsung mendidik dengan suhu sangat panas. Keduanya spontan keluar dari kamar masing-masing.


Awalnya Bila hanya berdiri didepan pintu kamarnya. Mencari celah melihat kebawah untuk bisa melihat wajah Tari.


Lalu Bintang, juga berdiri didepan pintu kamarnya. Clingak-clinguk melihat kebawah.


"Ada apa, kak" tanya Bintang akhirnya pada Bila, penasaran. Tapi Bila hanya mengangkat bahunya saja.


"Bilang ke si Bintang itu !. Dia gak berhak masuk kekamarku itu !. Dia gak punya kepentingan masuk kekamar itu. Jangan lancang dia masuk kekamarku. Dengar kau, Anton !. Bilang ke si Bintang !. Ayo !...Bilang sekarang !...."


Mendengar namanya disebut-sebut dengan lantang, Bintang segera berjalan cepat akan menghampiri Tari. Menuruni anak tangga dengan emosi yang tertahan didadanya.


Tapi kemudian naluri Bila memerintahkannya untuk menyusul Bintang.


"Hei !..." kata Bintang dengan suara lantang. Setelah menuruni semua anak tangga.


"Bisa tidak, kau tutup mulutmu !" lanjut Bintang dan selangkah lagi berada tepat didepan Tari.


"Tidak !...Emang kenapa ?!" jawab Tari menantang.


Kini Bintang dan Tari sudah berdiri berhadapan muka dengan pancaran mata yang sangat tajam, melotot. Garis wajah sangat keras. Menyiratkan emosi masing-masing yang telah memuncak.


Sesaat mereka saling menatap. Beradu sorot mata yang sangat tajam. Segera Bila menarik satu tangan Bintang untuk menjauhi Tari.


"Dasar perempuan setan !" kata Bintang sangat marah, mengabaikan Bila.


"Kau b*b* !..." balas Tari


"Kurang ajar !"

__ADS_1


Bintang akan menampar Tari. Tari telah menduga akan hal itu dan Tari pun sudah bersiap-siao akan melakukan pembalasan, yaitu menjambak rambut Bintang.


Tapi sebelum hal-hal itu terjadi, Bila bergerak lebih cepat. Sekali lagi menarik lengan Bintang untuk menjauhi Tari. Kali kedua ini lebih kencang dari yang pertama. Hingga Bintang nyaris terjatuh.


"Aduh !...Kak..."teriak Bintang


Saat itulah Tari berkesempatan menjambak rambut Bintang.


"Krek !"


"Aduh !..." Bintang mengaduh kesakitan dan gelagapan. Antara melepaskan tangan Bila dari lenganya, atau melepaskan tangan Tari dari rambutnya.


"Kurang ajar !...Lepaskan, kak" teriak Bintang. Membuat Bila sempat salah sangka pada Bintang yang telah lancang mengumpat kepadanya. Tetapi ketika Bila berbalik dan bersamaan dengan tawa kencang Tari. Barulah Bila mengerti dan langsung melepas tangannnya dari lengan Bintang.


"Mati kau !" teriak Tari disela tawanya. Hatinya sangat bahagia melihat Bintang panik dan kesakitan.


Setelah Bila melepaskan tangannya, Bintang berusaha melakukan perlawanan. Menggapai-gapai rambut Tari.


"Hup....Hup...Krek"


Bintang berhasil menjambak Tari. Aksi saling menjambak pun terjadi.


"Kurang ajar !...B*b* !...L*nt* !..." maki Tari diaksi jambak-menjambak itu.


"Hei !...Lepaskan !..."


Antonpun segera turun tangan. Saat aksi menjambak itu dimulai.


"Ada apa ini" tanya Edhi. Entah pada siapa. Ketika mendengar suara gaduh dilantai bawah dan Edhie segera turun, berlari.


"Oeeeee...Ooeee...." Happy pun menangis kencang. Tidurnya terganggu oleh keributan dikeluarganya.


Mbak Min yang sedari tadi masih bersih-bersih didapur, hanya bisa melirik Tari marah-marah pada Anton. Tapi ketika keributan mulai memuncak dan Happy menangis, segera Mbak Min masuk masuk kekamar eks papi dan mami dan menggendong Happy.


Anton dan Edhi menghampiri mereka. Lalu membantu Bila, melepaskan tangan Tari dari rambut Bintang. Sedangkan Anton berusaha mekepaskan tangan Bintang dari rambut Tari.


Begitu tangan Tari terlepas dari rambut Bintang dan tangan Bintang terlepas dari rambut Tari. Spontan Bintang menampar kuat kedua pipi Tari, kiri dan kanan.


"Plak !...Plak !"


"Kurang ajar !" umpat Tari yang tidak rela ditampar dan akan menyerang Bintang lagi.


Tapi Anton telah berhasil merangkul pinggang Tari dan menariknya untuk masuk ke kamar.


"B*b* kau, Anton !. Lepaskan aku !...Biar kubunuh adikmu itu !"

__ADS_1


Tari meronta dan mencakar lengan Anton. Anton hanya meringis menahan sakit dan.tetap menarik Tari masuk ke kamar.


Begitu Anton berhasil membawa Tari masuk kamar. Segera Tari mengunci pintu kamar.


"Ceklek"


Tari pun dikurung didalam kamar.


Bila pun demikian. Menarik paksa lengan Bintang untuk kembali masuk kekamarnya.


"Keluarkan aku !...Antooonnn !!!...B*b* kau !. " teriak Tari dari dalam kamat.


"Brak !...Trang !...Treng !...Trang !... Treng !...Gedebrum !...Praaang "


Sambil berteriak memaki dari dalam kamar, Tari juga menendang pintu. Memecahkan barang-barang yang ada didalam kamar. Melemparkan kursi, meja dan entah barang apa lagi yang ada didalam kamar itu.


"Kulapor kalian semua ke polisi !. Kekerasan dalam rumah tangga !. Kalian semua menyerangku !. Kalian menyekapku !...Kuviralkan ini di medsos !. Biar tahu rasa kalian semua !..." ancam Tari dari dalam kamar.


Tapi Anton tidak perduli. Membiarkan Tari didalam kamar. Menenangkan dirinya sendiri dan berfikir sendiri.


Anton hanya duduk tertunduk, masih disofa yang ada diruang keluarga. Tidak memperdulikan teriakan dan ancaman Tari. Tidak terusik dengan kebisingan suara Tari. Juga dengan kebisingan barang-barang yang ada didalam kamar, yang dihancurkan Tari. Anton tidak bisa berfikir lagi. Kecuali hanya diam dan tertunduk.


Tapi tiba-tiba Anton tampak gelisah. Walaupun matanya terpejam rapat. Serangan rasa bersalah menyerangnya.


Rasa bersalah pada Bintang. Karena surat wasiat itu. Terutama rasa bersalah pada almarhum papi dan mami. Anton merasa jadi anak yang tidak tahu diri. Tidak tahu berterimakasih. Tidak bisa menjaga keharmonisan keluarga. Tidak bisa menciptakan rasa aman dirumah ini.


Haruskan mereka masih tinggal bersama dalam rumah ini ?. Itu artinya mereka hidup didalam sekam.


Tari sangat berkeras hati akan haknya mewarisi semua harta mertuanya. Teruma rumah papi ini dan kliniknya. Padahal Anton sangat sadar, itu bukan hak mereka.


Tapi Anton tidak punya keberanian untuk mengatakannya pada Tari. Karena memang Anton tidak pernah mempersiapkan dirinya akan kenyataan ini.


Kini Anton sangat menyesal tidak mendengarkan pendapat Bintang tentang Tari. Anton sangat menyesal tidak mengkuti permintaan Bintang untuk coba mendekati Karina. Padahal tidak ada salahnya membuat pilihan.


Ternyata Bintang benar. Tari hanya menginginkan harta papi mami mereka. Tari tidak pernah mencintai dirinya. Lalu mengapa dirinya mencintai Tari. Karina jauh lebih cantik, lebih sopan, lebih lembut, lebih segala-galanya dari Tari.


"Ooohhh...papi...mami...Maafkan Anton" bisik Anton didalam hatinya.


Anton juga sangat menyesal, pernah marah pada Bintang. Menuduh Bintang sangat membenci Tari. Kebencian yang tidak beralasan. Ternyata kebencian itu beralasan. Kini Anton sangay menyesali semua itu. Belum lagi akan surat wasiat itu.


Cepat atau lambat pengacara papi dan mami yang telah mengaktekan surat wasiat itu, pasti akan datang. Membacakannya didepan seluruh keluarga mereka. Berarti ada pihak papi dan ada juga pihak mami.


Sedangkan posisi Anton, diluar dari keluarga Bintang dan Bila. Bagaimana sikap Tari nantinya. Setelah tahu bahwa dirinya hanyalah anak angkat ?.***


(Mau tahu ?...ikutin terus ya novel aku ini. Loop u all♥️)

__ADS_1


__ADS_2