
Baru beberapa hari tidak ada pertengkaran diantara mereka berdua. Kemudian terpecahkan lagi secara membabi buta. Ketika Tari, tidak mendapati satu mobil mereka terparkir didalam garasi mereka. Tensi Tari langsung naik, panik dan segera menelpon Anton. Menanyakan mobil mereka.
"Hei !, b*b* !...Dimana mobil yang satu lagi !"
"Aku bawa nariklah"
"Kenapa gak laporan sama aku, ha !"
"Aku lupa...Karena tergesa-gesa. Ini mendadak..."
"Jangan banyak alasan kau, b*b* !. Awas kau !...Kalau pulangnya gak bawa uang !. Kuiris k*nt*lmu !...Dengar kau !..."
"Hhmmm..."
"Sama saja kau dengan keluargamu !. Gak ada so...."
Anton meletakkan hpnya didashboard mobil. Membiarkan Tari ngoceh pada angin. Anton memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Menyetir dimalam hari keluar kota.
Kebetulan ada seseorang yang menyewa mobil plus sopirnya, yaitu Anton untuk perjalanan ke luar kota. Saking girangnya mendapat pelanggan pertama yang pembayarannya besar. Anton lupa memberitahu Tari. Jadilah Anton dapat omelan Tari.
Sementara Tari bukannya bernafas lega, begitu Tahu mobil mereka ternyata dibawa Anton untuk bekerja. Malah terus ngomel gak pakai rem. Tidak pula mengenal lelah. Anton yang mendengar, yang kelelahan. Tapi malas pulang kerumah.
Anton lebih memilih tidur dimalam mobilnya yang dia parkirkan didepan sebuah warung nasi yang sudah tutup. Berharap besok pagi, ketika bangun warung itu sudah buka kembali.
Anton akan cepat dapat sarapan dan minun kopi. Menikmati hidup yang bebas, tanpa ocehan dan pertengkaran dengan Tari.
Selesai sarapan, barulah Anton kembali kerumahnya. Demi merayu Tari. Agar tidak marah-marah lagi. Anton akan menyerahkan hasil uang sewa mobil itu dari pelanggan mereka tadi. Lalu mengantarkan Tari bekerja.
"Pasti dia senang, gua antar kerja pakai mobil baru" bisik Anton didalam hatinya.
Yah...benar. Ada senyum dibibir Tari. Saat menerima uang dari Anton.
"Mau aku antar kerja ?" tanya Anton mesra dan akan merangkul pundak Tari.
"Minggir kau !" Tari menepiskan tangan Anton yang akan menyentuh pundaknya.
"Keluarkan mobil !...antar aku kerja !"
Antonpun dengan patuh melaksanakan perintah Tari.
Hari besok dan sampai beberapa hari kedepan, mudah-mudahan tidak terjadi lagi pertengkaran diantara merekam Karena jumlah uang yang sama akan diterima Tari lagi. Pelangan itu telah memesan jasa Anton untuk beberapa hari kedepan. Setiap sore mangatar beliau keluar kota. Menunggui beliau dan subuh kembali. Sore diantar lagi, ditunggui dan subuh kembali lagi.
Jika tenang seperti ini hubungannya dengan Tari, Anton dapat bekerja dengan tenang pula. Tari pun pasti bahagia. Tidak perlu lagi datang kerumah papi dan mami. Tidak bertemu Bintang dan Bila. Berarti akan semakin sedikit alasan untuk terjadi pertengkaran.
Belum sempat Anton tersenyum didalam ketenangan itu. Sore itu Tari berkunjung kerumah papi dan mami. Niatnya akan memamerkan baju seragam PNS nya kepada keluarga Anton dan seluruh asisten rumah tangga papi dan mami. Mudah-mudahan ada Bintang.
"Cihuiiii..."
Tari memang bernasib mujur. Begitu akan melangkah masuk kedalam rumah, Tari berpapasan dengan Bintang. Segera Tari mengakat dagunya dan melirik sinis pada Bintang.
Lirikan Tari dan tatapan Bintang beradu beberapa saat. Sambil mereka terus melangkah ke arah depan masing-masing. Tari kearah kedalam rumah dan Bintang arah keluar rumah.
Baru beberapa langkah mereka saling membelakangi, Tari seperti mendengar Bintang mendengus. Padahal Bintang hanya menhhela nafas kencang. Mendapatai sikap Tari yang tampak sombong arogan.
__ADS_1
Segera Tari berbalik dan menatap tajam kepada Bintang.
"Hei !...Lo !..." kata Tari dengan suara berteriak. Mengakibatkan Bintang kaget dan berbalik menatap bingung pada Tari.
"Jangan menghina gua lo, ya !" teriak Tari dengan berkacak pinggang, menantang Bintang.
"Menghina apaan " tanya Bintang, bingung dan degup jantungnya mulai berdebar tidak karuan.
"Gua ini pejabat negara, tahu !"
"Apa ?!..."
Tiba-tiba Bintang tertawa-tawa kencang. Membuat Tari semakin emosi dan rasanya ingin merobek mulut Bintang.
"Oh, ya..." kata Bintang mulai santai, bercanda. Degup jantungnya mulai normal kembali.
"Lo kan udah pejabat negara, ya. Selamat sore pejabat negara"
"Kurang ajar !. Berani menghina gua lo !. Gua laporin..."
Seketika Tari tampak kebingungan melanjutkan kata-katanya. Memikirkan sesuatu, akan dilaporkan kepihak mana perkataan Bintang tadi. Sementara tawa Bintang sudah mulai terdengar. Awalnya pelan, seperti meringis mengejek. Semakin lama semakin kencang.
"Laporin soni !...Laporin kesiapa aja kek. Ke Mbak Ipeh juga boleh" kata Bintang disela tawanya yang semakin kencang.
Hingga tak menyadari, kalau Tari telah memasang kuda-kuda ingin menampar mulutnya. Bintang masih tertawa dan seketika
"Plak"
Bintang menjerit kencang. Karena Taru menjambak rambutnya. Setelah menampar mulutnya.
Jeritan Bintang mengejutkan papi dan mami yang segera berlari kearah mereka yaitu diruang tamu.
"Krek...Krek..."
Bintang tak mau kalah, juga mejambak rambut Tari. Langsung dengan kedua tangannya.
"Ada apa ini !. Hei...Hei...Kalian berdua. Stop !..." teriak mami. Setelah melihat perkelahian mereka dan langsung melerai mereka.
"Bintang !..." teriak papi.
Bintangpun melepaskan tangannya. Tapi Tari masih enggan melepaskan tangannya dari rambut Bintang.
"Tari !..." teriak papi lagi.
"Apa !" jawab Tari dengan berteriak pula. Membuat emosi Bintang bangkit lagi ditengah kesakitan yang dideritanya. Terutama pada kepalanya yang rambutnya masih dihentak-hentakkan Tari.
"Plak...Kres..."
Bintang menampar tangan Tari yang masih menjambak rambutnya itu. Lalu mencakar tangannya itu. Hingga tangan Tari terlepas dari rambutnya.
"Aaaaa !!!...Kurang ajar !..."
Tari menjerit dan akan kembali menyerang Bintang.
__ADS_1
"Plak !..."
Bintang menampar satu pipi Tari. Ketika Tari kembali mengarahkan satu tangannya kearah rambut Bintang
"Sudah !...Cukup !..."
Teriak papi dan langsung berdiri dianyatara mereka berdua.
"Ada apa ini !. Sore-sore gaduh !. Buat malu !" kata papi dan menatap mereka, silih berganti dengan tatapan tajam.
"Tolong papi ajarin anak papi ini !. Biar dia tahu sopan santun !. Biar dia tidak buat malu keluarga !"
"Ha !...Lo yang seharusnya belajar sopan santun. Bicara sama papi gue pake mata melotot. Sopan lo !...Dia orang tua, tau !"
"Emang gue fikirin. Gila !...Puih !"
Tari meludahi wajah Bintang. Tapi tidak kena. Tari langsung nyosor pergi, keluar dari rumah.
Kesombongannya yang bahagia, spontas sirna. Rencananya memang berhasil, memamerkan baju seragamnya. Tapi respon dari Bintang tidak seperti yang diharapkannya.
Bukan Tari namanya, jika menyimpan atau menganggap sudah selesai rencana pameran baju seragamnya itu yang digagalkan oleh Bintang. Tari langsung menuju rumah Tante Hombing. Membawa amarahnya dalam bentuk caci-maki dengan suara kencang.
Tak ada sopan santun berlaku bagi Tari. Suara Tari yang kencang itu, lebih dulu masuk dan memenuhi rumah Tante Hombing. Tidak perduli kalau saat itu Tante Hombing sedang duduk berdua dengan suaminya. Menonton TV acara kesukaan mereka berdua. Tidak perduli juga, kalau kehadirannya telah mengganggu Tante Hombing dan suaminya, yaitu Om Hombing.
Tari bahkan duduk disamping Tante Hombing dengan ocehannya yang panjang dan tidak memakai satupun tanda baca. Tante Hombing tampak gugup dengan sikap Tari itu. Sesaat meliriknya pada Om Hombing. Tapi Om Hombing sudah langsung berdiri dan pergi masuk kekamar. Barulah Tante Hombing memandang Tari dengan kesal.
"Kau bertengkar lagi dengan si Bintang" tanya Tante Hombing dengan tebakan tepat.
"Ya...si kurang ajar itu !. Sudah mau kurobek tadi mulutnya !. Sayangnya, ada mami dan papinya. Kalau tidak, sudah dirumah sakit dia sekarang !"
"Iya...dia dirumah sakit. Kau dikantor polisi"
"Bodo !"
"Lagian...kenapa kau masih datang kerumah mertuamu itu lagi. Lebih enak berada dirumah sendiri. Lebih tentram dan nyaman"
"Tante, aku ini baru pulang kerja. Gak tante lihat aku masih pakai seragamku. Si Anton belum menjemputku. Makanya aku singgah kerumah mertuaku itu. Lagian aku sudah lama tidak kerumah itu. Wajarkan aku datang kerumah itu"
"Tapi setiap hari kau ke warung Mbak Ipeh dan Kerumah ini. Apa gak singgah kerumah mertuamu itu"
"Sekali singgah saja sudah berantem, tan. Gimana kalai setiap hari"
Tante Hombing terdiam, membenarkan kata-kata Tari. Tapi tidak ingin mencari tahu lebih lanjut. Agar Tari segera diam dan menonton TV saja. Lalu mengantuk dan disarankan untuk segera pulang.
Ternyata Tari terus mengoceh. Terkadang tentang Bintang. Terkadang lagi tentang acara TV yang sedang ditonton Tante Hombing. Silih berganti, tanpa titik. Walaupun itu untuk menarik nafas.
Tante Hombing kelelahan mendengarnya dan semakin kesal. Apalagi entah sudah berapa kali Om Hombinh keluar dari kamar. Lewat dari belakang mereka. Melirik marah pada Tari dan melotot tajam pada Tante Hombing.
"Sekolahnya saja belum selesai. Sudah berani menghina gue. Selesai kuliah saja masih tidak jelas. Masih mencari-cari kerja. Capek deh...Iya gak, tan. Kalau gua sudah jelas. Pejabat negara sekarang. Iya kan, tan" kata Tari lagi memuji dirinya sendiri.
Tante Hombing sudah semakin tidak nyaman Ingin rasanya segera mengusir Tari, keluar dari rumahnya. Om Hombing sudah kembali keluar dari kamar. Berdiri berkacak pinggang diambang pintu ruangan keluarga mereka itu. ***
(Thanks tetap setia dinovel aku ini. Ini buat kalian ⚘loop u)
__ADS_1