
Antara kekesalannya yang sudah menumpuk. Karena belum dapat tidur. Lalu suara Tari yang bising; spontan Anton akhirnya menyetujui keinginan Tari. Berharap Tari akan segera diam.
Ooo....itu buka Tari yang mengetahui secara tersirat harapan-harapan tulus orang disekitarnya. Apalagi dengan bahasa yang panjang lebar. Tapi tidak tepat sasaran.
Karena begitu bahagianya mendapat 'lampu hijau' dari Anton, Tari sudah menimbulkan keributan yang baru.
Tari grasak-grusuk untuk berbenah dan pindah. Tidak menghiraukan Happy yang semakin kencang tangisannua. Tidak menghiraukan Anton yang gundah gulana. Tertekan perasaan, fikiran dan tubuhnya yang letih diserang kantuk. Tapi tidak bisa istirahat dan tidur.
Terpaksa Anton menghibur dirinya sendiri dan Happy. Membawa Happy keluar rumah. Berdua mereka tidur didalam mobil.
Belum lagi penuh satu jam Anton dan Happy tidur, Tari sudah membangunkan Anton dengan tidak sopan. Mengemplang kuat kepala Anton yang nongol dari salah satu pintu mobil yang sengaja kacanya dibuka.
"Aduh !"
Anton mengaduh karena kaget. Tersentak bangun dan mengakibatkan Happy pun terbangun. Lalu menangis lagi. Perhatian Anton segera teralihkan pada Happy. Tari bukannya prihatin. Malah mengguncang-guncang punggung Anton.
"Bangun cepat !...Molor aja kerjamu" tuduh Tari sangat sadis.
Membuat Anton menatap tajam pada Tari. Semua tingkah dan perkataan Tari sangat menyesakkan dada Anton. Menuduh Anton tanpa memaparkan bukti, bahwa Anton baru tidur tidak kurang dari satu jam. Lalu dibangunkan dengan kasar.
Tak ada rasa cinta pada suami dan anak. Seharusnya membangunkan suami dan anak itu dengan kecupan lembut dipipi. Yah...minimal Tari berterimakasihlah pada Anton telah mewujudkan keinginannya.
Kenyataannya, membangunkan dirinya dan anaknya dengan sangat kasar. Terpaksa Anton harus menimang-nimang Happy lebih dahulu. Itupun baru sesaat. Karena Tari telah mengambil paksa Happy dari dekapan Anton. Happy pun semakin menangis.
"Ayo...cepat !. Kita kerumah sana sekarang !" perintah Tari pada Anton. Saat mengambil Happy dari Anton.
"Apa ?!...Oohh...Jangan sekarang. Aku harus menjemput orang yang sudah menyewa jasaku dan mobil ini. Aku harus kerja"
"Lalu...kapan kerumah itu. Menunggu rumah itu dijual si Bintang !. Begitu !..."
"Ijinkan aku kerja dulu. Anakku perlu minum susu. Susu itu kubeli pakai uang. Kalau aku tidak punya uang, anakku tidak minum susu. Jadi aku harus kerja"
"Belagu lagi...Makanya ambil klinik papi itu !. Biar aku disitu dan kau tidak perlu banyak bacot lagi ke aku. Kerja...kerja...Pantat kau kerja !"
Anton tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Tari. Sungguh Tari sangat tidak bisa diberi usul dan tidak bisa diajak kerja sama.
Suami dan istri yang tidak bisa kerja sama menjadi satu tim membangun rumah tangga, akhirnya akan pecah dan berpisah. Akhir-akhir ini pemikiran itu sering muncuk difikiran Anton. Toh...Happy tidak membutuhkan Tari.
Lagi pula Anton sangat tidak ingin ke rumah orang tuanya itu. Anton masih kecewa dengan papi. Ingin rasanya Anton tidak menginjak rumah itu lagi dan ingin putus hubungan dengan keluarga orang tua angkatnya itu. Hanya Anton belum menemukan alasan yang kuat, yang akan dikatakannya pada Tari.
Terpaksalah Anton mematuhi Tari. Ibarat kuda yang kehilangan tenaga. Begitulah Anton mematuhi peritah Tari. Pagi itu juga, Anton terpaksa akan membawa keluarganya kerumah papi dan mami.
Terlebih dahulu memasukkan semua tas dan beberapa kardus yang sudah dijejal Tari didalam kamar. Entah apa isinya, Anton tidak mau tahu.
Karena tadi Anton sempat melihat didalam lemari pakaian mereka, pakaian Happy dan pakaiannya sendiri; masih rapi ada didalam lemari. Man tas dan kardus itu berat-berat lagi.
__ADS_1
Sementara Happy masih menangis kencang. Tari tidak berhasil membuat Happy tenang dan meredakan tangisannya. Alhasil Tari membawa Happy berjalan-jalan disepanjang jalan didepan rumah mereka.
Beberapa tetangga melintas dan hanya melirik kearah Tari dan Happy saja. Tak ada yang saling menyapa ataupun sekedar melemparkan senyum.
Kecuali ketika ibu RT dan beberapa ibu-ibu yang lain melintas, barulah ibu RT menyapa Tari.
"Eh...ini Ibu Tari, ya. Istrinya Pak Anton" tanya ibu RT yang memang baru satu kali bertemu dengan Tari, yaitu saat mereka mengurus KK.
"Iya" jawab Tari dengan wajah juteknya.
"Saya Ibu Sud. Istrinya Pak Sudirman. Ketua RT disini"
"Ooo..."
"Ini bayi kalian ya...siapa namanya"
"Happy...Eh...ibu-ibu pada mau kemana"
"Lha...itu lho...Istrinya Pak Tegar Bambang kan baru buka klinik bersali. Ja......"
"Klinik bersalib ?....Dimana ?" tanya Tari, kaget sangat luar biasa. Untung nada suaranya tidak meninggi.
"Itu...yang diujung lho, Bu Tari. Hari ini kita kan diundang untuk peresmiannya. Makan-makan lho..."
"Iya...pasti makannya enak-enak. Wong suaminya orang hebat" celutuk seorang ibu.
Para ibu-ibu itu masih membahas kisah bahagia tentang Mila dan suaminya.
Kali ini maaf dari pihak Tari yang tak terucap. Tari sangat tidak tertarik dengan makan-makannya dan juga tentang suami Mila yang merupakan perwira tinggi itu.
Tari hanya tertarik pada kemarahan dan kecemburuannya pada klinik bersalin itu yang telah mendahului klinik bersalinnya yang baru saja direncanakannya untuk dibuka dirumah mereka ini.
"Siapa bidannya" tanya Tari, tak ramah.
"Istri Pak Tegar Bambang, namanya Ibu Mila"
"Mila Choi ?"
"Iya...Ibu Mila Choi. Ibu Tari kenal dengan Ibu Bidan Mila Choi ?"
Tari tampak gugup dan bingung harus menjawab apa. Lalu berpura-pura menimang-nimang Happy yang sudah tidak menangis lagi. Bahkan kini tengah tertidur.
"Ibu Tari tidak diundang ke peresmian klinik Bidan Mila ?" tanya seorang ibu lagi.
"Tentu diundang, dong. Saya masih menidurkan anak saya dulu. Ntar lagi saya nyusul"
__ADS_1
"Oo...Kalau begitu, kami jalan duluan ya, bu" kata ibu RT
"Iya" jawab Tari
Ibu RT dan para ibu-ibu itupun pergi, menuju klinik bersalin Mila. Tari segera masuk ke rumahnya. Meletakkan Happy begitu saja diatas sebuah sofa tamu. Happy pun kaget dan menangis lagi.
"Cengeng !...Diam kau !..." kata Tari kesal dan memukul satu kaki kecil Happy. Percis saat Anton masuk kedalam rumah dan melihat Tari memukul kaki Happy.
"Tari..." teriak Anton dan segera menggendong Happy.
"Anak itu sangat cengeng"
"Pastilah dia cengeng. Dia kurang tidur"
"Ini semua gara-gara kau !"
"Apalagi salahku"
"Kau terlalu lamban !...Bodoh !. Kau lihat diujung jalan ini. Ada klinik bersalin yang baru buka. Padahal aku sudah berencana akan membuat rumah ini jadi klinik bersalin. Sekarang sudah didahului orang. Ini semua karena kebodohanmu !. Kalau saja kita cepat pindah kerumah sana. Sekarang ini, rumah ini pasti sudah jadi klinik. Dasar bodoh !...Nyesal aku kawin dengan kau !"
"Tuing wuing wuing...."
Kepala Anton nyut-nyutan. Tak melihat Tari yang bergegas pergi untuk melihat klinik itu dan untuk melihat, benarkah pemiliknya adalah Mila yang dikenalnya ?.
Tiba diklinik itu, orang-orang sudah ramai. Tari memperhatikan keadaan luar klinik itu. Parkiran klinik luas dan ada buah mobil ambulance yang bertuliskan nama klinik, "Klinik Bersalin Bunda Mila".
Saat ini ditempat parkiran banyak tenda-tenda mewah dan meja-meja yang menggelar banyak makanan dan minuman.
Taripun berkesempatan mengambil makanan dan minuman itu. Sambil makan dan minum, Tari berjalan akan berkeliling melihat-lihat klinik Mila ini.
Terdapat beberapa kamar beraalin, kamar pasien, kamar bayi, juga ada sebuah apotik pada sisi luar klinik. Ada juga beberapa orang yang berpakaian putih-putih.
"Pasti perawatnya. Lumayan banyak" bisik Tari didalam hatinya. Antara mengagumi dan iri.
Tari berjalan lagi dan benar...
"Itu Mila. Yah...Mila" bisik Tari lagi didalam hatinya. Ketika Tari melihat sosok Mila yang dikenalnya sedang berdiri berdampingan dengan seorang pria, mirip bule.
Mila dan pria yang disampingnya itu adalah suaminya. Karena keduanya memakai pakaian tradisional Sunda couple.
Mila dan suaminya tampak sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang memakai baju seragam pemerintahan dan beberapa orang lagi memakai baju putih-putih.
Sejenak Tari terdiam memperhatikan Mila. Ada rasa iri dan marah tergambar di garis wajahnya. Hingga tanpa disadari Tari, Mila juga telah menangkap sosok Tari dengan tatapan keterkejutannya.
"Tari " bisik Mila didalam hatinya.
__ADS_1
(Like and komen ya...thank u)