PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Menjodohkan Karina dan Anton


__ADS_3

Mbak Min masih menemani Tari melakukan tournya dirumah orang tua Bintang itu. Tapi Mbak Min jadi seorang pemimpin tour yang buruk. Karena tidak memberikan keterangan apapun pada Tari. Untunglah hati Tari masih diliputi kegembiraan. Jadi dapat menyimpan kekecewaannya pada Mbak Min didalam memorinya dengan nota bene berhuruf tebal,


"Tunggu saja nanti. Gua akan langsung pecat lo" begiti bunyi nota benenya.


Tari pun melanjutkan tournya. Melihat pada lantai bawah. Ada empat kamar tidur. Salah satunya milik papi dan mami Bintang. Satunnya lagi kamar Theo dan istri. Jika datang berkunjung. Selebihnya kamar tidur tamu. Jika banyak keluarga yang datang berkunjung.


Ada juga ruang makan, dapur, ruang keluarga, ruang baca. Karena mami suka membaca. Ada juga ruang tamu.


Sedangkan halaman belakang, banyak ditanami bunga-bunga dan beberapa kursi taman. Suasana taman belakang sangat indah dan asri.


Karena papi mereka seorang dokter, maka papi juga mempunyai klinik 24 jam. Bila membantu papi diklinik untuk menangani pasien-pasien yang datang ke klinik. Posisi klinik papi ada disamping rumah mereka itu.


Tari pernah tour ke klinik itu. Sayangnya saat itu papi dan Bila tidak ada. Hanya ada beberapa perawat dan dokter koas. Ketika berada diklinik, Tari membayangkan suatu saat nanti dia juga akan berada diklinik ini. Sebagai ahli waris.


Seperti halnya ketika Tari menatap lagi ke dalam garasi. Ada mobil dan dua motor didalam garasi. Pun Tari pernah membayangkan berada didalam salah satu mobil mewah itu. Sedang duduk dijok belakang, sebagai nyonya pengusaha muda yaitu Anton.


Tapi ditengah lamunannya, Tari terusik untuk mengintip kamar papi-mami Bintang. Lalu Tari mengikuti usikan tersebut. Apalagi menurut keterangan Mbak Min, orang tua Bintang itu sedang pergi keluar. Menghadiri undangan pernikahan seorang tetangga mereka.


"Perasaan keluar mulu, undangan mulu. Tiap kali gue kerumah ini" bisik Tari di dalam hatinya. "Sebodo lah" kata Tari lagi pada dirinya sendiri. Lalu melancarkan keusilannya itu.


Kini Tari sudah berada didepan pintu kamar orang tua Bintang. Tangannya sudah bergerak kearah handle pintu dan "Ce...."


"Ngapain lo ke kamar orang tua gue !" tiba-tiba Bintang berteriak dari arah belakang Tari.


Tari tersentak kaget dan buru-buru melepaskan tangannya dari handle pintu. Lalu segera berbalik kearah Bintang dan menatap Bintang. Memberi senyuman lebar pada Bintang.


"Ngapain lo mengintip ke kamar orang tua gue !" tanya Bintang, sangat kesal dan curiga.


Bintang berdiri berkacak pinggang dihadapan Tari. Wajahnya memancarkan kemarahan yang amat sangat. Seperti singa kelaparan, ingin melahap Tari.


"Siapa yang ngintip. Gue hanya menutup pintuny saja kok. Tadi gue lihat terbuka"


"Alasan lo"

__ADS_1


"Ya udah kalo gak percaya" kata Tari sangat santai. Lalu berjalan kearah pintu depan rumah.


Bintang menyusulnya dengan masih menatap tajam kearah punggung Tari. Banyak kekesalan menumpuk dihatinya. Tentang Tari yang nyaris setiap minggu, ada dua atau tiga kali tour kerumah orang tuanya ini.


Seketika Bintang menghadang Tari yang sedang berjalan menuju pintu pagar.


"He...ngapain sih lo bolak-balik kerumah orang tua gue ini." tanya Bintang dengan berdiri berkacak pinggang.


"Itu bukan urusan lo"


"Apa ?!....Bukan urusan gue ?!. He...gue ini anak pemilik rumah ini. Segala sesuatu yang terjadi rumah dirumah ini, adalah hak gue untuk mengetahuinya. Ngerti lo !..."


"Anton juga penghuni rumah ini. Jadi gak harus gue bilang ke elo, kalo gue kerumah ini. Minggir lo !..."


Tari mendorong kasar lengan Bintang yang menghalanginya. Bintang pun terpaksa mengalah dan menyingkir sedikit. Membiarkan Tari pergi keluar dengan segera. Tapi Bintang masih menatap marah pada Tari. Tampak Tari berjalan keluar pintu pagar dengan sombongnya.


Mengangkat dagunya dan membusungkan dadanya. Hingga sangat menantang pria untuk meremasnya. Untung tidak ada yang selera.


Sikap tak bersahabat Bintang itu menoreh-noreh dada Tari. Terasa sangat perih. Sebenarnya sudah ingin meluapkannya pada Bintang seketika itu juga. Untunglah Tari masih memiliki sisa kewarasan dan benih kedewasaan.


Juga Tari tidak lagi bersikap sok akrab pada Bintang. Malah sudah memperlihatkan sikap permusuhan yang amat sangat penuh dendam kesumat.


Ternyata Karina memperhatikan adanya perubahan sok akrab Tari pada Bintang. Bahkan Karina pernah memergoki tatapan sinis Tari pada Bintang.


Hal itupun langsung ditanyakan Karina pada Bintang. Pada suatu sore dikantin kampus. Karena Karina mulai was-was akan sikap sinis Tari itu. Jangan-jangan Bintang telah melukai hati Tari.


Jika seseorang telah sengaja atau tanpa sengaja, melukai hati Tari; maka Tari pasti menjauhi orang itu. Lalu merencanakan yang jahat pada orang itu.


Sebagai sahabat Bintang, Karina tidak ingin Bintang menjadi korban kesadisan Tari.


"Baguslah...Gue sebel sama dia" jawab Bintang santai.


"Lo gak ngerasa, telah nyakitin Tari, kan ?" selidik Karina lagi. Kali ini pada suatu malan diasrama. Saat Karina dengan sengaja mengunjungi Bintang dikamarnya.

__ADS_1


"Karin, udahlah. Kenapa lo perduli banget sih sama si Tari. Gue gak simpati melihat dia. Lo bayangin aja, baru kenal sama gue. dia udah berani nyamperin gue kerumah orang tua gue. Malah langsung maen masuk ke kamar gue lagi. Udah itu minta diajak berkeliling rumah orang tua gue lagi. Trus, cara dia menatap rumah orang tua gue, kayak...hhmmm....apa ya...kayak bajak laut nemu tempat harta karun. Nanya ini-itu tentang keluarga gue. Membuat gue jadi eneg liat dia. Secara kami kan tidak berteman. Hanya antara kakak dan adik tingkat saja. Baru kenalan lagi. Apa dia sudah merasa yakin kali ye, akan jadi istri Bang Anton. Lalu dapat harta orang tua gue. Secara dia kan bari pacaran doang ama abang gue. Belum tentu jadi istri"


Sesaat Bintang termenung berfikirm Demikian juga Karina. Berfikir jika Tari jadi kakak ipar Bintang. Wah...kekacauan pasti akan terjadi.


"Jangan sampe deh si Tari jadi istri abang gue. Jangan...gue tidak rela"


"Gue gak ikutan, ya"


"Gak ikutan apa"


"Gak ikutan mempengaruhi lo untuk gak suka sama si Tari"


"Ah !...tipis hati lo ke teman. Payah lo, Rin"


Sesaat mereka terdiam lagi. Kemudian Bintang berbisik ke telinga Karina, "Padahal gue harap lo yang jadi sama Bang Anton"


"Jadi apa ?!" Karina tersentak kaget dan langsung menjauhkan telinganya dari Tari. "Gila lo" kata Karina lagi. Tapi ada sumringah manja menghiasi wajahnya yang tampak memerah, malu.


Sikap Karina pun jadi gugup. Tertunduk malu didepan Tari dan sesekali menyibakkan rambutnya yang panjang lurus, tebal dan hitam. Ketika rambutnya itu jatuh menutupi wajahnya.


Saat menyibakkan rambutnya, Karina melirik malu pada Tari. Taripun tersenyum lucu. Melihat sikap Tari itu.


"He...jangan gitu. Gua jadi mirip lesbi yang sedang merayu"


Spontan keduanya tertawa-tawa kencang. Membuat teman-teman satu kamar Bintang memperhatikan mereka dengan tersenyum-senyum bahagia.


"Suer, Karin. Secara gue dan keluarga gue, udah kenal lo. Suer...gue ngarap lo jadi istri Bang Anton"


"Bang Anton udah gue anggap kayak abang gue sendiri"


"Iya...abang sayanglah" Bintang masih merayu Karina. Percis seperti lesbi yang sedang merayu pacarnya.


Tapi bodo lah. Memang sebenarnya Karina ada rasa "deg deg seer...". Ketika melihat Anton.

__ADS_1


Apalagi kayaknya kini Bintang jadi makcomblang Karina dan Anton. Sebongkah harapan yang dulu pernah ada dihati Karina, muncul kembali. Jauh sebelum Tari menikung Anton. Karina telah menaruh hatinya pada Anton.


Harapan yang masih berbentuk putik itu pun, langsung layu. Sebelum bermertafora jadi bunga. Tapi kini putik itu diraih Karina lagi. Menaruhnya rapi diharapan hatinya. Semoga niat Bintang dan Karina, terwujud. Mereka bersatu menjadi....***


__ADS_2