PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Undangan Pertama


__ADS_3

Mengapa tidak ?!, Setalah wisuda TK Tari tidak pernah lagi menerima kata-kata pujian. Jadi begitu Kabila memperdengarkannya lagi, jantung Tari tersentak. Otaknya langsung cepat mengirim sinyal ke memori otaknya. Mencari-cari kata pujian yang pernah diucapkan Miss Cecil. Membongkar kenangannya yang menumpuk. Tertimbun dalam rongsokan makian dan sumpah serapah ibu.


Begiti antusiasnya otak Tari mencari kata pujian itu. Hingga memacu jantungnya berdetak sangat kencang. Lalu memperlihatkan kata pujian itu pada kata pujian Kabila. Barulah jantungnya berdetak normal kembali. Keesokan harinya Tari menyodorkan lagi beberapa buah mangga kepada Kabila plus anggota-anggota kelompaknya. Besoknya juga begitu. Besok dan besoknya pun, masih dibawakan Tari untuk mereka.


"Kena kau !" terdengar suara itu ditelinga Tari. Seperti suara angin yang sedang berbisik. Bersamaan dengan tempik sorak bahagia di dalam hati Tari. Melihat Kabila n d gank nya sangat menikmati buah mangga itu dan sangat bahagia atas kebaikan Tari. Memberi mereka buah mangga gratis, manis, montok dan banyak lagi.


"Ri...nih...Lo datang ya ke pesta ultah gue" kata Kabila ramah.


Pada suatu siang yang cerah. Saat jam istirahat kedua. Kabila menyerahkan satu undangan ulang tahunnya pada Tari. Tari kaget dan gugup. Namun hati kecilnya sangat bahagia. Ternyata perjuanganya memerankan tokoh baik berhasil. Melalui buah mangga dari teman pohonnya itu, Kabila n d gank menjadi akrab pada Tari.


Kabila selalu mengajak Tari ke kantin. Duduk bersama dengan ganknya. Bercerita dan tertawa. Walaupun Tari lebih memilih jadi pendengar dan tim hore-hore saja. Mereka tertawa...yah...Tari tertawa juga. Biar semakin rame dan teman-teman lain menduga, kalau Tari sudah jadi anggota gank Kabila.


Makan dan minuk Tari, dibayarin Kabila. Katakanlah imbalan dari buah mangga pemberiannya. Setidaknya mereka kini dapat dikatakan berteman. Tari memiliki teman tanpa bantuan Miss Cecil. Walaupun tekniknya copi paste dari saran Miss Cecil, yaitu berbagi. Tari membagi buag mangganya dan Kabila membagi traktiran. Cocokkan ?...


Sudah nyaris 17 tahun Tari berada di dunia ini. Baru satu kali ini menerima penghargaan seperti ini. Sebuah undangan ulang tahun dari orang yang disebut teman. Tari berkali-kali menatap dan membaca undangan dari Kabila itu. Betapa penghargaan yang sangat luar biasa bagi Tari. Ternyata berteman itu sangat indah. Tari tidak dapat mengungkapkan kebahagiaanya itu. Kecuali hanya dengan tersenyum-senyum kecil, sepanjang hari. Sejak menerima undangan itu.


Teriakan ibu pun dapat diabaikannua. Malah memberi ibu senyuman. Meski ibu memakinya, menjambak rambutnya. Kalau ibu masih belum puas dan akan bertindak lebih jauh lagi. Tari hanya berlari. Memanjat pohon mangga kesayangannya yang telah memberinya buah-buah yang menghasilkan teman.


Tidak lupa membawa serta undangan itu. Sambil rebahan didahan kesayangannya, Tari menatap undangan itu. Tiupan angin sepoi-sepoi tak digubrisnya. Menceritakan kembali kejadian dan mimpi-mimpi buruk yang sering dialaminya. Segera Tari menepiskannya. Mengkhayalkan suasana pesta ulang tahun Kabila yang pasti sangat meriah.


Setan yang selalu disisi Tari, mulai uring-uringan. Telah terbuang tidak sopan. Keluar dari kehidupan Tari. Tergantikan oleh sosok tokoh yang baru. Sekaligus banyak, yaitu Kabila n d gank. Setan mulai kasak-kusuk. Menuntut untuk kembali ke kehidupan Tari. Sambil menebarkan bisikan tipu muslihat dan intimidasi. Walau tanpa tiupan angin lagi. Karena saat itu pun. angin sepertinya tak singgah lagi ke telinga Tari.

__ADS_1


Jadi dengan hanya berbisik-bisik difikiran Tari. Seolah-olah bisikan itu adalah suara hati Tari, bahwa kebaikan Kabila n d gank nya adalah basa-basi. Sebenarnya mereka hanya menginginkan buah mangga Tari. Setelah buah mangga itu habis, pasti mereka tidak akan mau lagi berteman dengan Tari.


Kemana lagi bisa mendapatkan buah mangga yang manis, besar dan banyak; yang murah. Hanya diberi air sirup dingin dan bakwan dua. Terkadang juga hanya diberi air mineral gelas yang dingin dan kerupuk. Ayo...kemana lagi. Kalau tidak hanya ada pada Tari.


Sepertinya Tari tidak menghiraukan bisikan itu. Pertemanan yang baru akrab terjalin itu, membuat Tari sangat sibuk mengulang kembali canda tawa bersama Kabila n d gank nya. Tari tersenyum-senyum sendiri. Sambil memilih-milih buah mangga yang sudah ranum untuk diberikannya pada Kabila. Besok hari disekolah.


"Wah...seperti bayar upeti nih" tiba-tiba Tari terbersit fikiran itu. Spontan membuatnya terdiam. Setanpun ikut terdiam dari kasak-kusuknya. Melihat Tari terdian, setan merasa mendapat kesempatan untuk masuk lagi dikehidupan Tari. Bergerilya dihati dan fikiran Tari. Mencari tahu, apa gerangan yang membuat Tari tiba-tiba mematung ?.


Aha !...Tari merasa sedang diperalat Kabila. Mau mendapatkan buah mangganya dan kini melalui undangannya, Kabila menuntutnya untuk memberi kado. Ini seperti double upeti untuk masuk ke kelompoknya. Ini namanya pemerasan.


Seketika para setan tertawa bahagia, kencang. Tawa kemenangan atas kehidupan Tari kembali. Maka setan pun berlagak tokoh baik. Menghibur Tari dengan hasutan. Seakan telah bekerja untuk Tari. Mencari bentuk asli Kabila n d gank nya. Kini setan tengah memperlihatkannya pada Tari.


Tidak gratis untuk menjadi teman Kabila nd gank nya. Ada harga yang harus dibayar dibalik kata-kata pujian mereka yang sangat ramah dan manis. Harga itu harus dibayar Tari lagi lewat kado ulang tahun. Padahal Tari tak punya uang. Selain dari ongkos ke sekolah pulang-pergi. Mau dipakai untuk beli kado ?. Ooo...mahal.sekali harga yang harus dibayar Tari.


Lama Tari mempertimbangkannya diatas dahan pohon mangganya itu. Lalu Tari menyimpulkan, lebih baik mengambil uang ayah secara diam-diam. Untungnya kini ayah sudah banyak uang. Jabatannya naik, pasti gajinya juga naik. Ayah juga sudah punya usaha dan usahanya selalu menang tender di pemerintahan. Berarti uang ayah sangat buanyak.


Menurut setan, Tari hanya mengambil uang ayah. Bukan mencuri uang ayah. Seperti.pendapat yang pernah diberikan pada Erika dahulu. Saat Erika.mengambil uang ibu. Karena tugas orang tua, terutama ayah adalah memenuhi keperluan anak-anaknya. Membeli kado buat teman, juga merupakan keperluan. Jadi kalau Tari mengambil uang ayah untuk beli kado, artinya Tari mengambil haknya. Itu tidak salah. Seharusnya ayah yang disalahkan. Karena menahan hak Tari.


Mengapa ayah hanya memberi Tari ongkos ke sekolah ala kadarnya. Tidak pakai uang saku dan biaya tak terduga. Tak terduga Tari mengenggol sepeda pedagang kerupuk. Lalu jatuh dan kerupuknya ada yang pecah. Hal-hal seperti harusnya terfikirkan ayah. Jadi ambil sajalah beberapa lembar uang ayah. Pasti ayah tidak akan tahu atau tidak merasa kehilangan.


Sekarang kan uang ayah banyak. Apalah artinya buat ayah kehilangan uang beberapa lembar dari sekian lembar uang ayah. "Ayolah...Tari, jangan pengecut" bisikan setan itu begitu mendesak, namun desahannya sangat menggoda.

__ADS_1



Jadilah Tari menetapkan bisikan itu jadi niat. Kesempatan selalu ada. Karena sesuai dengan rutinitas didalam rumah, sejak.dahulu kala yang dipelajari Tari. Sebeluk Tari bangun pagi, ibu sudah berangkat ke pasar. Sedang ayah akan duduk diteras depan. Membaca koran dan menikmati kopinya. Sebelum berangkat ke kantor. Kesempatan itulah yang dipergunakan Tari.



Tari masuk ke kamar ayah dan aha...haiii...dompet ayah manis banget. Tergeletak pasrah diatas tempat tidur. Tak ada degup jantung yang berdetak kencang. Saat Tari meraih dompet ayah. Bahkan mengelusnya sejenak, sebelum membukanya dengan tenang. Memilih-milih dan menghitung jumlahnya. Lebih banyak warna merah.



Oke lah...Tari menghitung ongkosnya minggu lalu, untuk satu minggu ke depan, untuk makan bakso dikantin sekolah, uang saku dan biaya tunggakan uang sakunya. Mulai dari TK sampai hari kemarin yang tidak pernah diberikan ayah padanya. Lalu biaya tak terduga, biaya beli kado dll...



Setelah itu Tari masih dapat melangkah santai. Keluat dari kamar ayah. Melirik sebentar ke arah ayah yang masih asyik membaca koran. Sesaat Tari tersenyum ke arah ayah. Walaupun ayah tak melihatnya. Tidak apa-apa, yang penting Tari sudah mengatakan "terimakasih" dan berpamitan pada ayah via senyumannya itu. Kemudian Tari bersiul-siul. Sambil berjalan keluar rumah. Pergi ke sekolah dengan hati gembira.



Mentraktir Kabila n d gangk nya di kantin sekolah. Bahkan usai sekolah pun Tari masih mentraktir mereka di warung gaul. Tidak jauh dari sekolah mereka. Tari tidak lagi jadi tim hore-hore. Bahkan tawa Tari sangat kencang dan lepas, disela jeda tarikan nafasnya. Sebab Tari sedang bercerita tentang apa saja yang ingin diceritakannya. Baik yang melintas difikiran dan dihatinya. Semua disampaikannya dengan suara kencang.


__ADS_1


Hal itupun berlanjut lagi di keesokan harinya. Mumpung uang Tari masih bisa mentraktir Kabila n d gank nya. Apakah dikantin sekolah, diwaruny gaul dekat sekolah ataupun di kafe mall. Tari oke-oke saja. Bahkan sangat memaksa Kabila n d gank nya untuk ditraktirnya. Karena inilah masanya untuk Tari unjuk gigi. Langsung gigi taring yang siap ditancapkan ke tekuk Kabila n d gank nya.\*\*\*


__ADS_2