
Berhari-hari tatapan itu tak bisa dilupakan Tari. Hingga membekas menjadi barisan lula dihati dan fikirannya. Apalagi tatapan sindiran itu sepertinya terus berlanjut dari hari ke hari. Disertai dengan canda sindiran dan cengar-cengir mereka. Sungguh Tari tidak bisa membiarkan hal itu lagi. Mereka sengaja menciptakan keadaan yang memaksa Tari harus menyingkir dari mereka.
Hhhmmm...Tari memergoki niat busuk teman-temannya itu. Terkhusus Kabila n d gank nya. Jawabannya "Noooo !!!...". Catat ya, Tari tidak akan menyingkir. Sekencang apapun mereka menyindir Tari, sebagai jalan untuk menyingkirkan dirinya sengan tidak terhormat. Tari tidak akan menyingkir. Walau itu hanya setengah langkah.
Biarpun hati Tari terus disakiti oleh Gracia dengan mulutnya yang tidak ada rem, oleh Kabila dan nyaris semua gank nya. Tari akan tetap bertahan. Sok menjadi bagian dalam persahabatan mereka. Menumpuk rasa sakit hatinya dan menikmatinya. Sambil menunggu datang waktu yang tepat untuk membalaskan pada mereka semua.
Ayah dan ibulah yang harus bertanggung jawab atas rasa sakit hatinya itu. Lalu Kabila n d gank nya. Karena itu untuk sesaat ini, Tari hanya menerima saja perlakuan jahat mereka. Sekarang adalah waktunya diam. Menimbun rasa sakit hati. Membiarkan mereka semua mengabaikan dirinya.
Iyaahh...Kabila sudah tidak pernah lagi mengajak Tari untuk jalan ataupun ke kantin. Kabila pergi secara diam-diam dengan gank nya. Kalaupun Tari memaksakan diri bergabung dengan mereka, Tari sering diabaikan. Bahkan dilirik sebelah matapun, tidak. Buka suara pun, tidak diijinkan. Hanya boleh suara nafas dan tidak boleh mendengus dan mendesah.
Istilah kasarnya Tari sudah dianggap bagai hantu. Roh kesepian yang berkhayal punya teman. Jiwa tanpa raga. Wow...sakit sekali dirasakan Tari. Sakitnya tuh...disana sini. Tunggulah waktunya tiba, Tari akan bertindak bagai spidergirl yang berwarna hitam.
Tettereeeetttt....jreng !...bel berdentang-dentang kencang. Pertanda waktu diam usai. Sakit hati ini sudah parah. Harus diberi obat yaitu pembalasan. Dimulai dari mengambil hak Tari yang ada di dompet ayah.
Begitu ayah duduk santai diberanda depan dengan koran dan kopinya. Tari menyelinap masuk ke kamar tidur ayah. Tapi tak beruntung. Dompet ayah tak ramah pada Tari. Tak terlihat tergeletak pasrah diatas tempat tidur lagi dan Tari tidak mempunyai waktu untuk mencari-cari dompet ayah.
Terpaksa Tari harua bingung dan kecewa. Waktu telah menunjukkan kepada Tari harus segera pergi ke sekolah. Mana uang disakunya hanya cukup untuk pergi ke sekolah lagi. Kalau pulang nanti, Tari terancam harus berjalan kaki. Tak cukup uangnya untuk sekedar membeli air mineral gelas. Walau hanya satupun. Jika nanti Tari kehausan diperjalanan. Jarak sekolah ke rumah, cukup jauh. Mencapai tiga jam perjalanan jalan kaki. Tanpa pakai istirahat.
Apakah Kabila atau salah seorang dari gank nya itu mau mengantarkan Tari pulang dengan mobil mereka ?. Suatu hal yang mustahil. Jika tidak ada take an give nya.
Baiklah Tari masih tak ingin bersahabat dengan rasa kecewa. Mumpung tadi waktu mencari-cari dompet ayah, Tari menemukan tempat ibu menyembunyikan cemilan-cemilannya. Ada biskuit dan permen yang lumayan banyak. Cukup untuk dibagikan pada Kabila n d gank nya. Mudah-mudahan bisa jadi take and give. Pengganti buah mangga yang belum berbuah lagi. Agar Tari tidak tersingkir dari kelompok Kabila.
Tari menyita semua biskuit dan permen ibu. Lalu pergi ke sekolah dengan sok santai. Tidak ada masalah apa-apa. Pada jam istirahat, Tari menyusul Kabila ke kantin. Meletakkan permen dan biskuitnya dimeja, didepan Kabila n d gank nya. Penuh percaya diri, Tari bergabung dengan mereka. Menebarkan senyuman pada Kabila n d gank nya.
Ciiiiitttt....Tari diabaikan. Permen dan biskuitnya pun diabaikan. Tak ada yang melirik dan tak ada yang menyentuh. Mereka asyik bercerita dan ber hahahuhu...Tak ada seorangpun yang menganggap keberadaan Tari. Sungguh sangat keterlaluan.
Sampai bel tanda jam istirahat berbunyi.
"Eh...kita bayar masing-masing ya" kata Gracia sebelum pergi.
__ADS_1
Spontan Tari terdiam, kaget dan kecewa. Satu-satu mereka beranjak pergi. Membayar makan dan minum masing-masing. Tidak menghiraukan Tari yang tidak mempunyai uang. Membayar satu goreng pisang yang dimakannya. Itu pun belum habis. Hanya tinggal dua kali gigitan lagi.
Gara-gara omongan Gracia itu. Langsung menikam ke jantung Tari. Sakiiiitt...sekali. Membuat Tari tak sanggup lagi menghabiskan potongan goreng pisang digigi depannya itu. Puih !...Tari meludah. Membuang gorengan itu dan berdiri.
Menghampiri ibu kantin dan minta maaf. Karena uangnya ketinggalan didalam tas. Untungnya ibu kantin mengerti. Mengagguk dan tersenyum pada Tari. Lalu Tari berlari, mengejar Gracia.
Sebelum Gracia keluar dari kantin. Tari menjambak rambut Tari.
"Busyet !...Aduh !..." pekik Gracia kaget dan kesakitan. Tapi Tari semakin beringas. Menarik rambut Gracia. Gracia terjatuh, terduduk diatas lantai.
"Gila !..." kata Gracia dan menoleh keatas. Melihat tepat ke wajah Tari yang juga sedang menatapnya sangat beringas. Puih !...Tari meludahi wajah Gracia. Melepaskan tangannya dari rambut Gracia. Tari menendang punggung Gracia. Sebelum Tari melangkah pergi.
Teman-teman mereka hanya bisa menatap tercengang. Kaget dan bingung harus bagaimana. Karena kejadian itu begitu cepat. Mereka hanya bisa membantu Gracia untuk berdiri. Sementara Tari telah hilang dibalik pintu ruangan kelas mereka.
Jangankan untuk diantar pulang oleh salah seorang yang nota bene sudah menjadi teman akrabnya. Bahkan mereka hanya diam. Tak melirik sepicingpun pada Tari. Jadilah Tari hanya mengumpat mereka dengan suara kencang, terutama Gracia dan Kabila.
Membelalakkan mata pada siapa saja yang menatapnya dengan terheran-heran. Sepanjang perjalanan pulang. Menikmati sakit hatinya, kekecewaannya dan sisa kemarahannya pada Gracia. Mengutuki Gracia agar terkena penyakit kelamin.
Tiba-tiba tangan ibu sudah mencengkeram rambutnya dari arah belakangnya. Ibu menjambaknya sangat kuat.
"Aduh !...Gila !...."teriak Tari spontan. Karena kaget bercampur marah.
"Apa !?...Sudah berani kau ya !. Brengsek !...kurang ajar !..." kata ibu sangat marah dan beringas. Sambil menarik-narik rambut Tari. Ibu memaki dan ludahnya pun berlompatan keluar. Nyaris membasahi kepala Tari.
Ibu menyeretnya masuk kerumah. Tari tidak membantah. Walaupun itu hanya dalam erangan kesakitan. Tari tidak melakukannya. Tari pasrah mengikuti gerakan tarikan tangan ibu pada rambutnya.
"Bagus !....akhirnya kau tahu cepat pulang ke rumah !. Kenapa ha !....Sudah habis uang yang kau curi itu !. Brengsek kau !...b*b* !...pencuri !..."ceramah ibu pada Tari. Sambil satu tangannya bertubi-tubi dan dengan gerakan cepat menampar kepala Tari. Menjitak kepala, kening, menyetil matanya, menendang perut, kaki....
Seakan tak membiarkan Tari untuk menghindar dan menangkis. Mulut ibu sama dengan gerakan tangan dan kakinya. Mulutnya bergerak memaki Tari. Menuduh Tari memakai narkoba, melakukan **** bebas dan blablabla...
__ADS_1
Sampai seluruh tubuh dan gendang telinga Tari terasa sangat amat sakit. Tari menangkap tangan ibu yang akan menyentil matanya lagi. Mencengkeram kuat tangan ibu itu. Lalu Menjepit kedua bibir ibu dengan tangannya yang satu lagi. Jug sangat kuat.
Kini Tari tidak kecil lagi. Tingginya sudah sama dengan ibu. Lebih kuranf 155cm. Bisa saja berat badan mereka juga sama. Karena sekilas tampak sama gemuknya. Wajah mereka sama-sama jutek dan tidak pernah mengenal bedak. Apalagi perawatan wajah. Boro-boro...
Rambut mereka sama-sama keriting acak-acakkan. Jarang sisiran dan keramas. Jika mereka saling bertatapan seperti itu. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka serasa sedang bercermin. Melihat diri sendiri dan merasa mual.
"Berisik kau !..." kata Tari dengan suara tertahan. Memendam gejolak amarahnya. Menatap ibu dengan tajam sejenak. Memperlihatkan perlawanannya pada ibu. Walau jantungnya berdetak sangat kencang.
Ibu melepaskan tangannya dari rambut Tari dan akan mencolok mata Tari. Untunglah Tari sigap. Segera melepaskan tangannya dari bibir ibu dan langsung menangkap tangan ibu yang sudah terarah kematanya. Hup !...
"Semakin kurang ajar kau ya !" pekik ibu dan meronta kuat. Melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Tari. Hup hup !...seht !...Tangan Tari pun terlepas. Setelah melakukan adu kekuatan beberapa detik. Plak !...satu tangan ibu melayang ke satu pipi Tari.
"Kurang ajar !...kubunuh kau !..."teriak ibu dan langsung berlari ke arah dapur.
Insting Tari berkata, bahwa ancaman ibu tidak basa-basi. Bisa jadi ibu mencari pisau atau parang. Seperti waktu-waktu itu. Tari masih beruntung ada ayah yang mencegah.
Kini tidak ada ayah. Ayah juga sama jahatnya dengan ibu. Lebih baik segera lari. Tari pun berlari ke arah pohon mangga kesayangannya. Tampak ibu mengejarnya dengan mengacungkan sebilah pisau panjang.
"Kubunuh kau !...jangan lari kau !..b*b* !..." teriak ibu, sambil mengekar Tari.
Tari memanjat pohon mangga itu. Sebelum ibu berhasil menarik kakinya.
"Kutunggu kau sampai kau turun, b*b* !. Berapa lamalah kau bisa bertahan diatas itu !. Begitu kau turun, kucincang kau !. Kukubur kau di kandang ayam !" ancam ibu dan berjalan berkeliling dibawah pohon mangga itu. Mengelilingi pohon mangga itu. Mengamcam Tari dan memperlihatlan pisau itu kepada Tari.
Merinding juga bulu kuduk Tari melihat pisau itu yang runcing, putih berkilau terkena matahari sore dan panjang lagi. Membuat Tari tahu mengucap doa. Berharap ibu masih tidak bisa memanjat pohon. Entah doa kepada siapa. Tapi sepertinya berhasil.
Ibu tampak kecewa dan letih. Melemparkan pisau itu kearah Tari. Oopps !...nyaris saja pisau jatuh mengenai wajah ibu. Tari tertawa terbahak-bahak. Terpaksa ibu menyerah dan menanggung malu. Memang kalau sudah kemarahan memuncak, logika pun macet. Masak ibu lupa gaya gravitasi bumi ?.
Tari masih tertawa kencang. Sementara ibu sudah berjalan meninggalkan pohon mangga itu. Mengandalkan sumpah serapah dan caci maki. Meninggalkan pesan dengan teriakan,
__ADS_1
"Mudah-mudahan jatuh kau dari pohon itu !. Patah kakimu !..."***