PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Celah


__ADS_3

"...Mati sajalah kau !" suara Tari itu terdengar sampai ke semua sudut halaman depan ruang tamu asrama. Tari langsung berlalu meninggalkan Anton. Berjalan dengan langkah lebar dan sombong.


Tidak perduli pada orang-orang yang berada didepan ruang tamu asrama itu. Ada yang lagi duduk-duduk dibangku depan. Baik sendiri ataupun berkelompok. Ada pula yang berada didalam ruang tamu, bersama tamu. Baik dari keluarga ataupun teman. Ada juga yang tengah lalu-lalang.


Mereka tersentak kaget mendengar suara Tari. Seketika mereka terdiam dan menatap kepada Tari. Tapi Tari tidak memperdulikan mereka.


Salah seorang itu adalah Karina. Sejak kedatangan Anton sore itu ke asrama. Karina sudah mengambil posisi duduk tidak jauh dari ruang tamu. Selain rasa ingin tahunya, tentang apa saja yang dilakukan Tari dan Anton. Ketika mereka saling bertemu. Juga ada rasa cemburu yang sangat besar, membakar hatinya.


Betapa kagetnya Karina mendengar kalimat Tari itu. Kalimat yang menjijikkan dan pasti menjatuhkan martabat seorang pria. Karena si pria dibentak didepan orang oleh perempuan dan perempuan itu adalah yang dicintainya.


Hingga muncul seketika rasa iba Karina pada Anton. Rasa iba itu telah memadamkan api cemburunya. Karina spontan berreakai mendekati Anton. Dimana tadi Anton sempat akab mengejar Tari. Tapi didepan pintu ruang tamu itu, Karina dan Anton berpapasan.


"Ciit !" Antaon seketika menghentikan langkahnya dan Karinapun demikian. Jika keduanya tidak sigap menginjak pedal rem. Maka akan terjadi tabrakan. Mereka akan berpelukan atau mereka sama-sama terjatuh.


"Eh...Karin, maaf ya..."


"Iya...Karin juga minta maaf bang"


"Iya...hhmmm"


Sejenak Anton tertunduk. Lalu clingak-clinguk mencari Tari dengan matanya kearah belakang Karina.


"Abang baik-baik saja ?"


"Iya..." Anton menjawab dan akhirnya tertunduk.


"Karin tidak dengar kok, bang" Karina berkata asal. Karena masih gugup dan deg deg ser !, berdiri didepan Anton. Sangat dekat dan nyaris sangat rapat. Antara tubuh Anton yang atletis, Layaknya tubuh captain Amerika dan tubuh Karina.


"Ceile...kayak disinetron aja. Tabrakan...lalu jatuh cinta deh" ledek seseorang yang sedang duduk dibangku taman, depan ruang tamu itu.


Membuat Karina tertunduk dan tersipu-sipu malu. Sedang Anton hanya menatap wajah Karina. Tanpa ada ekspresi.


"Kurang ajar !...Pelakor !..." tiba-tiba terdengar teriakan lantang Tari dan tinggal dua langkah lagi, Tari tiba didekat Karina.


Tari telah memasang kuda-kudanya untuk beraksi. Satu tangannya telah terjulur kedepan. Mengarah kekepala Karina.


Ternyata Anton pun telah sigap menghalangi Tari menyentuh Karina. Anton langsung bergeser kebelakang Tari dan menghadang Tari.

__ADS_1


"Minggir kau !" Kata Tari dan mendorong tubuh Anton ke arah belakang. Karina langsung menghindar kesamping satu langkah. Sebelum tubuh Anton mengenai punggungnya.


"Perempuan murahan !...Lo mau merebut Anton dari gue ! Ha !..." teriak Tari dan akan mencengkeram satu tangan Karina. Untunglah beberapa orang teman yang melihat kejadian itu, langsung menarik Karina untuk semakin menjauh dari Tari.


"Jangan lari lo pelakor !.Tidak bakalan lo bisa merebut Anton dari gue!...Langkahi dulu mayat gue !" teriak Tari kepada Karina dengan berkacak pinggang.


"Sudah !...Berhenti !...Malu, Ri" kata Anton dengan suara kecewa berat yang tertahan.


"Tidak berapa lama kemudian, Ibu Pur muncul. Setelah mendengar teriakan-teriakan Tari tadi.


"Ada apa ini " tanya Ibu Pur, menatap Tari.


"Itu bu...si pelakor !. Dia merayu tunangan saya" kata Tari masih dengan nada tinggi.


Ibu Pur dan teman-teman yang masih bertahan menonton reality show ala Tari ini, tercengan tidak percaya. Mendengar pengakuan Tari tentang "...tunangan saya".


"Maaf bu...ini hanya salah paham" kata Anton ingin menyudahi permasalahan itu.


"Salah pahan apa !?. Salah paham k*ntr*l mu.:


"Sudah jelas gue lihat dia merayu lo" lanjut Tari. Tidak memperdulikan Ibu Pur.


"Sudah !...Jangan berisik disini Tari !. Kamu harus belajar mengendalikan amarahmu dan kontrol bahasamu."


"Maaf, bu...sayang sungguh minta maaf" kata Anton dengan garis wajah yang penuh penyesalan. Sambil menggenggam satu lengan Tari.


"Silahkan kalian selesaikan permasalahan ini dengan baik. Tapi jangan dilingkungan asrama ataupun kampus. Mengerti !..." saran Ibu Pur dengan emosi yang tertahan.


"Iya, bu. Sekali lagi maaf, telah mengganggu"


"Jika masalah pribadi ini jadi buat gaduh disini, saya akan lapor ke yayasan" ancam Ibu Pur. Sebelum berlalu meninggalkan mereka semua.


Anton mengangguk dan menunduk. Sampai Ibu Pur masuk kedalan ruang kerjanya. Antonpun segera menarik lengan Tari untuk kembali masuk keruang tamu asrama tersebut.


Sebelum masuk, terlihat Anton dari sudut matanya, sosok Bintang yang berdiri tidak jauh dibelakang Karina. Bintang tengah menatap kecewa pada Anton.


Anton berusaha mengabaikan tatapan itu. Rasa malunya lebih besar dari pada rasa bersalahnya pada Bintang yang secara tidak langsung telah mempermalukan Bintang dikampus dan di asrama.

__ADS_1


Anton segera mengajak Tari untuk berdiskusi.


Sementara Karina masih melihat kemesraan yang diperbuat Anton pada Tari. Anton mengecup tapak tangan Tari. Lalu melingkarkan tangannya dileher Tari. Mendekatkan wajahnya ke wajah Tari.


Hati Karina sangat panas melihat kemesraan itu. Api cemburu membakar seluruh hatinya. Bintangpun menghampiri Karina. Merangkul pundak sahabatnya itu dan menuntun Karina. Berjalan menuju kamar Bintang.


Tanpa disadari mereka, Gina mengikuti mereka. Lalu menghampiri mereka yang sedang duduk diatas ranjang Bintang. Tampak Karina menangis. Air matanya bergulir perlahan dari kelopak matanya. Sedang Bintang telah dirasuki rasa bersalah terhadap Karina.


"Maafin gue, Karin" kata Bintang dengan suara parau.


"Apaan sih, Bin. Kenapa lo minta maaf" jawab Karina disela tangisnya.


"Iya...Gara-gara gue yang mau jodohin lo sama Bang Anton, Jadi Tari punya fikiran seperti itu"


"Emang Karin lo jodohin sama abang lo, Bin ?" celetuk Gina, tampak sangat bersemangat mendengar issue itu.


"Gue setuju banget. Lagian, kenapa abang lo bisa-bisanya jatuh cinta sama si Tari. Jangan-jangan abang lo dipelet si Tari. Secara dia kan punya jin penjaga. Fitri pernah melihat jin penjaga si Tari" Gina masih berceloteh. Memaparkan kisah yang pernah dikisahkan Fitri kepadanya dan kepada teman-teman mereka yang lain.


"Masa iya sih, Tari punya jin penjaga" tanya Bintang, antara percaya dan tidak percaya.


"Lo tanya deh si Fitri Kasturi, pacarnya Toni Hamka Putra itu"


Tidak menunggu waktu lama, Bintang sudah terhubung dengan Fitri. Melalui video call dari hp Gina. Mereka saling berbagi info tentang Tari.


"Sejak malam itu, suer...gua takut banget lihat Tari"


"Jadi...itu jin masuk ke kamar kita ?" tanya Karina, kaget dan mendadak merinding.


"Iya...kalo sudah tengah malam. Dia masuk dari celah bawah pintu kamar kita. Berbentuk bayangan hitam. Lalu naik keatas ranjang Tari. Kemudian berubah wujud jadi kakek-kakek. Kayaknya mereka bermesum deh, dibawah selimut Tari. Iiii...merinding gue. Apalagi tuh bayangan pernah mau memperkosa gue. Untung keburu pagi. Jadi selamat deh gue. Sudah itu, gue ceritain ke Toni. Kakek Toni kan orang pintat. Jadi gue dibacain doa-doa sama kakek Toni. Biar gue gak diganggu lagi" kata Fitri menjelaskan dengan ketakutan.


"Serem banget sih tuh anak." komentar Tari.


"Bisa jadi Bang Anton lo dipelet, Bin. Lihat saja penampilan si Tari, mana ada cowok yang ***** sama dia. Kecuali abang lo" kata Gina tajam.


"Iya, Bin. Abang lo kudu diobatin orang pintar. Biar lepas pelet si Tari. Kasihan abang lo" saran Fitri dari sebrang sana.


Tampak Bintang terdiam, termenung sedih dan gusar. Memikirkan Anton dicengkeram Tari yang memelihara jin penjaga. Karina dan Gina pun tampak diam, termenung. Keduanya asyik dalam fikiran masing-masing. ***

__ADS_1


__ADS_2