PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Mencari Sekutu


__ADS_3

"Baguslah jauh jodohnya. Gua sumpahi dia jadi perawan tua" kata Tari sangat sadis. Senyuman jahat pun mengembang dibibirnya.


Tante Hombing pun hanya tersenyum-senyum kecil melihat Tari. Senyuman tanpa makna, setuju atau tidak dengan pendapat Tari itu.


Tapi bagi Tari, senyuman itu saja sudah cukup. Asalkan Tante Hombing sudah merespon keluh kesahnya tentang Bintang. Setidaknya Tante Hombing sudah mengetahui permasalahannya dengan Bintang dan selalu Bintang yang memulai permasalahan itu.


Besok kalau Tari datang lagi, pasti Tante Hombing menerimanya. Karena kisah permasalahannya dengan Bintang pasti sangat ditunggu Tante Hombing.


Dugaan Tari benar, besok dan besok dan besok lagi Tari datang kerumah Tante Hombing; selalu diterima. Keluh kesah Tari selalu didengarkan dan dikomentari Tante Hombing.


Berarti kisah permasalahan Tari dan Bintang itu sangat ditunggu oleh Tante Hombing. Tapi kali ini kisah keluh kesahnya disampaikan dengan kata-kata kotor. Jangkauannya pun sudah diperluas. Tidak melulu soal Bintang. Kini pembahasan soal Bila.


"Si Bila itu juga perempuan tidak tahu diri, tante. Sudah menikah, tapi masih tinggal dirumah orang tuanya. Bersama suaminya lagi. Sebagai orang Timur, hal itukan tidak benar, tante. Masa gua dan suaminya tinggal satu rumah. Kami kan ipar. Tabu kan, tante. Si Bila itu seharusnya pergi dari rumah. Iya kan, tante ?"


Tante Hombing manggut-manggut seakan mengerti arah pembicaraan Tari. Lalu terdiam beberapa saat. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kesempatan itu dipakai Tari untuk menyampaikan pendapatnya yang berkeluh kesah itu. Mempengaruhi fikiran Tante Hombing.


"Si Bila kan bisa cari rumah lain yang tidak jauh dari klinik papi. Jika memang ingin membantu diklinik. Tapikan...sekarang ada gua. Walaupun ijazah gua belum keluar. Kalau untuk sekedar membantu dan mendapatkan pengalaman, gua lebih berhak dong daripada si Bila. Iya kan, tante ?"


"Iya...Jadi papi mertuamu tidak harus capek lagi. Dia kan sudah tua. Sudah bolehkah istirahat"


"Horeee..." itu salah satu usul yang diinginkan Tari. Ternyata Tante Hombing sangat mendukungnya. Maka dengan riang gembira Tari menyambut hari esok penuh harapan. Tak perlu lagi pusing mendengar dengusan Bintang. Tak perlu lagi sinis terhadap Bila. Cukup berbekal sombong saja. Kedua orang itu akan tersingkirkan secara utuh.


"Sekarang lo puas-puasin deh melawan gua. Ntar akan ada waktunya, lo gak bisa lagi melawan gua. Gua akan usir lo dengan tidak hornat dari rumah ini. Lihat saja nanti" kata Tari didalam hatinya untuk menghibur dirinya sendiri.


Ternyata hanya beberapa jam saja penghiburan atas dukungan Tante Hombing itu bertahan disanubari Tari. Setelah itu, kembali lagi dia digelisahkan oleh emosinya. Tiap kali melihat Bila dan teringat akan Bintang.


Mendapati lirikan sinis Bila dan dengusan Bintang. Semua itu terekam kuat difikiran Tari. Hingga membuat Tari gelisah. Biar bagaimanapun dia menahannya, emosi itu tetap memaksa untuk keluar. Ingin segera dilampiaskan.


Tari berfikir keras untuk mendapatkan penghiburan lagi. Kalau boleh hiburannya versi lain. Sekalian mencari dukungan. Dukungan dari anak-anak eks kampusnya, ternyata tak manjur. Kampanyenya hanya bertahan satu hari saja. Selanjutnya...anak-anak eks kampusnya alias adik-adik tingkatnya, tak memberi dukungan padanya. Hanya sekedar manggut-manggut saja.


"Puih lah..."


"Aha..."


Nama Della tiba-tiba melintas difikiran Tari. Mudah-mudahan Della menjadi tempat penghiburan yang sepaham dengan dirinya. Menanamkan benih kebencian dihatinya untuk bersekutu dengan Tari, melawan Bintang.


Walaupun Della itu sohib karib Bintang. Justru itulah jurus jitu untuk melawan Bintang. Orang terdekat Bintang yang akan dipakainTari untuk menyerang Bintang.


Segera Tari meluncur kekampus, khusus mencari Della. Mudah-mudahan tanpa Bintang bersama Della.

__ADS_1


'Pucuk dicinta, Ulampun tiba'. Itu pribahasa yang cocok disandang Tari. Begitu melihat Della seorang diri, berjalan kearah kantin. Segera Tari mengejar Della dan langsung menggandeng lengan Della.


"Wah !" kata Della terperanjat tersembunyi dan langsung menutup mulutnya dengan satu tapak tangannya. Begitu melihat sosok yang menggandeng lengannya.


Della kemudian pasrah. Tak berani untuk meronta. Tari mengikuti langkah Della menuju kantin.


Untungnya mereka duduk berhadap-hadapan. Jika tiba-tiba Tari tensi tinggi, Della bisa dengan cepat kabur. Begitu kata hati Della. Sambil melirik Tari sesekali. Membaca gerak-gerik Tari. Apakah cukup aman buat Della ataukah berbahaya.


Ternyata pada lirikan selanjutnya, Della mendapat wajah Tari begitu sendu. Lalu Tari mulai berkeluh kesah. Setelah memesankan makan dan minum mereka.


"Padahal dulu gue simpati ama dia. Apalagi waktu kejadian dia nyaris diperkosa itu. Gue bela-belain titip simpati gue ke Anton"


Della hanya manggut-manggut, mulai trenyuh. Mengingat kejadian malam itu. Memang sih pelakunya tidak tertangkap. Karena tidak cukup bukti. Untungnya tembok pembatas asrama dan kampung sebelah sudah dibangun lebih tinggi lagi. Jadi amanlah untuk penghuni asrama yang kesemuanya adalah perempuan.


"Sampai sekarang Anton juga belum bekerja. Sementara gua baru saja ambil ijazah. Baru bisa mulai besok cari kerja. Jadi otomatis makan gua dan keperluan lain-lain gua dibiayai orang tua mereka. Si Bintang menghina gua terus, karena itu. Katanya gua memeras orang tua merekalah. Sungguh sakit hati gua dibuat si Bintang. Gua hanya bisa diam, Del. Gua harus gimana ya, Del"


Sesaat Della terpengaruh dengan keluh kesah Tari. Ada timbul rasa iba dihatinya pada Tari. Seakan tidak percaya bahwa Tari yang kini dihadapannya sedang berduka.


Della pun menatap sedih kearah wajah Tari yang sedang tertunduk. Hati wanitanya teriris perih. Melihat kaumnya ada yang terluka. Ternyata Tari adalah kaumnya. Seberingas apapun dulu Tari, Tari adalah seorang wanita. Bisa juga terluka.


Della masih ingat, dulu Tari pernah menerornya. Karena melindungi Bintang. Bagaimana Tari tiba-tiba menjoroki tubuhnya dan meludahi wajahnya. Bahkan menyiram teh panas kearahnya.


Tapi setelah mendengar keluh kesah Tari begini, Della jadi prihatin Ternyata Tari juga manusia. Punya sisi yang bisa terluka dan tersakiti. Lagian untuk apa menyimpan sakit hati berlama-lama. Tidak ada gunanya. Hanya ada dendam yang terus terbawa-bawa.


"Kan berat" kata hati Della dan melemparkan senyum manis pada Tari.


Sementara Tari tertawa riang didalam hatinya. Ternyata tidak sia-sia selama ini Tari ikut menonton drakor bersama Tante Hombing, dirumah Tante Hombing. Tari jadi mendekati profesional berperan sebagai orang yang tertindas dan mengekspresikan wajah sedih.


"Sabar ya, Ri. Mudah-mudahan Bang Anton cepat dapat kerja. Biar lo dan Bang Anton bisa mandiri. Ngontrak rumah sendiri..."


"Ngontrak rumah sendiri !?" spontan Tari mengulang kalimat Della, kaget dan setengah berteriak.


Sebagai ungkapan kekesalan yang mulai mengaung-ngaung. Mengusik peran sedihnya itu untuk seketika berubah menjadi amarah yang meledak. Tapi Della tidak sensitif akan perubahan Tari itu.


"Iya...Agar Bintang gak merendahkan lo lagi dan itu akan lebih baik buat lo, Anton dan Bintang"


Tari masih berusaha bernegosiasi dengan amarahnya. Jangan sampai meledak seketika dikantin ini. Karena pengunjungnya sangat ramai.


"Orang tua Anton tidak akan mengijinkan kami pindah rumah" jawab Tari untuk kembali menarik Della masuk dalam tujuan Tari berkeluh kesah padanya.

__ADS_1


"Lho...kenapa ?"


"Anton itukan anak cowok satu-satunya yang berada dekat dengan orang tuanya. Jadi kalau ada apa-apa pada orang tuany, kan harus Anton yang mewakili"


"Maksudnya ada apa-apa ?...Apa ya, Ri"


Tari sedikit gugup menjawab Della. Akibatnya garis wajah kemarahan Tari mulai terlihat Della. Dellapun jadi gugup juga. Mereka sama-sama gugup. Rasanya Della ingin cepat menghilang dari depan Tari.


Tapi untunglah, tidak kurang dari lima menit Tari beranjak pergi. Tanpa sepatah kata pamitan untuk Della. Itu tidak penting. Sudah manisiawi, jika seseorang sudah dirasuki amarah yang sangat parah; kesopanan, tatakrama dan basa-basi sudah tak dikenal lagi.


Walaupun perubahan sikap drastis Tari itu telah menyisakan ketakutan buat Della. Mengharuskan Della untuk berhati-hati.


Bukan rahasia lagi. Jika Tari tidak akan diam bila dia merasa telah dilukai oleh seseorang. Hari ini orang itu adalah Della. Itu pun tanpa disadari oleh Della telah melukai Tari. Tapi Della telah merasa melukai Tari. Hanya karena Della tidak sepaham dengan Tari.


Asumsi Della tepat. Seketika tadi Tari langsung berencana akan mengulang kejadian yang menimpa Bintang dikamar mandi, kepada Della.


Tari tampak berjalan menuju asrama. Langkah kakinya lebar. Tatapannya hanya tertuju pada pintu yang membatasi asrama dan halaman belakang kampus. Fikirannya telah dipenuhi amarah dan aksi balas dendam kepada Della.


"Tari !"


Terdengar suara memanggil Tari. Membuat Tari kaget dan menghentikan langkahnya. Mencari asal suara itu dengan tatapannya.


"Ibu Pur" bisik Tari didalam hati. Setelah menemukan si pemilik suara itu, yang adalah Ibu Pur.


Tampak Ibu Pur berjalan mendekati Tari.


"Ada apa kamu mau ke asrama"


"Mau nemuin Della, bu"


"Tapi kamu harus menunggu di ruang tamu. Lapor saja ke sekuriti yang ada didepan ruang tamu. Nantin sekuritinya yang manggilin Della. Kamu kan sudah tidak penghuni asrama ini lagi. Jadi tidak boleh sembarangan masuk. Kamu lapor ke sekuriti, ya"


"Iya, bu"


Ibu Pur pun berbalik dan melangkah menuju ke ruang kerjanya. Tari pun mengambil kesempatan untuk melanjutkan langkahnya. Karena selangkah lagi, Tari akan tiba didepan pintu masuk ke asrama.


"Ce...Ce..."


Dua kali Tari mencoba membuka pintu. Tapi tidak terbuka. Ternyata pintu pembatas ini terkunci.

__ADS_1


"Sial !...Mengapa pakai dikunci segala, sih. Padahal dulu dimasa gue...nih pintu gak ada. Brengsek !...Duk !..." karena sangat kesal, Tari menendang pintu itu. Lalu segera pergi.***


__ADS_2