
Polisi yang baru datang itu membawa serta Anton dan Mbak Ipeh dengan memegang lengan Anton. Begitu Mbak Ipeh beradu pandang dengan Mbah Kahpok...
"Iiiiiii"
Seketika Mbak Ipeh merasa kedinginan. Tubuhnya menggigil, tapi tidak bergetar. Seluruh tubuhnya seperti ditutupi es tebal.
Mbah Kahpok menatap lama pada Mbak Ipeh dengan tatapan tajam dan mata tidak berkedip. Mbak Ipeh ingin mengalihkan tatapannya. Tapi bola matanyapun seperti tidak dapat digerakkannya.
Hanya hatinya yang mengyakinkan penglihatannya, bahwa itulah sosok dukun itu yang bernama Mbak Kahpok. Bertubuh kurus, tinggi, mata sipit, rambut putih panjang, umur sekitar 60-an. Saat itu hanya mengenakan baju hitam besar dan celana gantung. Juga berwarna hitam. Tidak memelihara kumis dan janggutnya. Sepertinya baru dicukur. Hanya itu yang dapat direkam Mbak Ipeh.
Lalu tanpa sengaja Anton menyenggol lengan Mbak Ipeh. Barulah Mbak Ipeh dapat mengalihkan tatapannya pada Anton dan dapat menggerakkan seluruh tubuhnya. Walaupun masih merasa sangat kedinginan.
Mbak Ipeh berusaha mendekatkan bibirnya kearah telinga Anton dengan bersusah payah untuk berbisik ditelinga Anton.
"Hap...Hap...py...ituuuuhhh...an...nak...duk...kun in...ni dahn si Tar....rihhhh.." bisik Mbak Ipeh ditelinga Anton.
"Apa ????..." Anton kaget. Membelalakkan matanya kearah Mbak Ipeh. Tapi seketika Mbak Ipeh roboh. Jatuh keatas lantai.
"Buk !"
Beberapa orang polisi jadi sibuk menolong Mbak Ipeh. Mengangkat tubuhnya dan merebahkannya diatas sofa panjang yang ada didepan Mbah Kahpok. Mbak Ipeh pingsah. Mbah Kahpok memperhatikan Mbak Ipeh, masih dengan sorot mata tajam.
Beberapa orang polisi jadi sibuk menolong Mbak Ipeh. Beruaaha membuat Mbak Ipeh siuman. Sementara Anton, tatapannya hanya tertuju pada ibu yang masih mengikuti Komandan Kabila. Kemanapun sang komandan pergi.
Ketika tadi Mbak Ipeh jatuh, Komandan Kabila DF pun segera berlari mendapatkan Mbak Ipeh. Ibupun berlari mendapatkan sang komandan dan Anton berdiri menantikan ibu.
"Dimana Tari, bu" tanya Anton dengan suara bergetar.
"Mana kutahu...Lagipula itu bukan urusanku. Anak kurang ajar tak akan ku urusi. Itu istrimu. Seharusnya kau yang tahu dimana dia"
Perkataan ibu yang terkesan tidak mau terbuka itu, membuat Komandan Kabila mencurigai ibu. Apakah benar-benar tidak perduli pada Tari atau berpura-pura tidak perduli. Sebagai cara untuk melindungi Tari.
Karena itu Komandan Kabila turut turun lansung mengeledah rumah orang tua Tari itu. Sampai kebekas kandang ayam yang gelap, bau dan jorok. Tidak terlepas ke sebuah gudang yang ada didekat kandang ayam itu.
Gudang yang juga gelap, bau dan kotor. Pasti membuat orang-orang yang masuk akan merinding ketakutan. Tapi karena tugas, Komandan Kabila DF dan beberapa orang anak buahnya dapat mengabaikan semuanya itu.
Terkesan gudang itu tidak pernah dimasuki orang lagi. Tampak dari barang-barang usang dan lapuk berantakan. Jaring laba-laba membentak lebar dari ujung ke ujung, dari mulai pintu masuk. Hingga ke bagian dalam. Membuat penglihatan sebagai buram saja.
Suara tikus yang berlarian panik dan kecoa yang terdiam kaget. Mendapati sinar sinar senter menangkap basah tubuh kecil mereka.
"Dan !... Ada sebuah lemari !" lapor seorang polisi yang bernama Rudi.
"Geledah !" perintah sang komandan.
"Siap !"
__ADS_1
Rudi dan seorang temannya yang bernama Kris, mendekati lemari itu. Satu-satunya lemari yang berada didalam gudang ini yang masih bisa berdiri kokoh. Sebuah lemari besar dengan warna cat yang sudah kusam. Posisinya ada disudut gudang ini. Tersembunyi dari tumpukan-tumpukan kayu, tumpukan kursi dan dua buah bekas tempat tidur.
Sesuai dengan perintah sang komandan, Rudi dan Kris harus menggeledah lemari itu. Terlebih dahulu dengan menggeser beberapa barang-barang rusak yang menutupi pintu lemari itu. Agar mereka dapat menjangkau pintunya dan membukanya.
"Kresek !...Krak...Kresek-kresek...kraaakkk...krak..."
Kris bertugas menggeser barang-barang itu dan Rudi yang berjalan mendekati pintu lemari itu dan yang akan membukanya. Begitu tiba didekat pintu lemari itu, Rudi menarik tepi pintu lemari itu. Karena handlenya sudah tidak ada lagi.
"Kreek...Kreeeekkk..." terdengar suara pintu lemari itu yang berusaha dibuka Rudi.
Baru saja pintu itu baru terbuka sedikit. Tiba-tiba pintu itu didorong seseorang dari dalam lemari itu.
"Kreeeekkkk !!...Braaakkk !..."
Pintu itu terbuka lebar. Kemudian pintunya jatuh roboh ke arah Rudi.
"Awaass !" teriak sang komandan.
"Hup"
Rudi cekatan dapat menghindar. Tak urung teriakan peringatan sang komandan membuat Kris dan seorang polisi lagi, yang bernama Hans; segera menghampiri Rudi.
"Krak....Bruk..."
Akibat melompat menghindar, kaki Rudi menginjak sebuah kayu yang lapuk. Lalu patah dan Rudi terjatuh, terduduk. Kris dan Hans seketika sangat sigap mengulurkan tangan. Membanti Rudi untuk kembali berdiri.
Rudi masih kaget. Ibarat kata orang nyawanya belum kembali ke jiwanya. Masih terpelongo menatap kearah pintu lemari itu. Tiba-tiba dikagetkan lagi dengan munculnya sebuah bayangan. Berdiri persis didepan mereka bertiga. Rambut dan bajunya acak-acakkan.
Mereka semakin kaget. Mata mereka terbelalak lebar dan mulut juga terbuka lebar.
"Han...han..." kata Rudi, gugup ketakutan.
Untungnya Kris masih ingat untuk mengarahkan sinar senternya kearah wajah sosok hantu itu.
"Anda yang bernama Tari" tanya Hans. Setelah menyadari bahwa itu bukanlah hantu. Melainkan sosok manusia.
Sebelum Tari menjawab, Rudi langsung menangkap Tari. Mencengkeramnya kuat dan menggiringnya untuk keluar dari gudang itu. Tapi Tari melakukan perlawanan dengan meronta-ronta.
"Lepaskan !...Brengsek !...Lepaskan !... B*b* kau !... *nj*ng !... M*ny*t !.. Lepaskan !..."
Sambil mencaci maki para polisi itu yang menarik tangannya untuk keluar dari gudang.
"Jalan !..." kata Rudi.
"Krauukkhhh"
__ADS_1
Tari menggigit satu bahu Rudi.
"Aaaaa !!!..." teriak Rudi spontan.
Seketika Tari menghempaskan tangannya dengan kuat. Sambil menendang ************ Rudi, juga dengan sangat kuat. Hingga satu tangan Tari sempat terlepas dan langsung menampar pipi
Rudi.
Rudi menahan rasa sakitnya dan berusaha menangkap kembali satu tangan Tari itu. Tari memberikan perlawanan. Menyundul dengan lututnya ************ Rudi lagi. Rudi meringis dan masih berusaha menangkap tangan Tari itu. Menggapai-gapai dan meringis.
Melihat Rudi sudah kewalahan. Antara melakukan tugasnya atau meringis kesakitan, kembali Tari menampar beberapa kali pipi Rudi.
Kris dan Hans yang kemudian mendengar suara rintih kesakitan Rudi, akhirnya menoleh dan segera membantu Rudi. Kris menangkap tangan Tari yang sedari tadi bebas menampar Rudi. Sedangkan Hans langsung mencengkeram tengkuk leher Tari dari belakang.
Barulah Tari dapat dikendalikan. Walaupun kakinya masih berusaha menendang-nendang kaki Kris dan Hans.
"Diam !... Ikut jalan !..."perintah Kris. Karena sangat kesal menghadapi tingkah Tari yang brutal. Tambahan lagi kekuatan Tari melebihi kekuatan para wanita pada umumnya.
"Kau yang diam !. Memperlakukan perempuan dengan tidak sopan !. Kutuntut kalian semua !"
Sangat menguras energi phisik dan batin, bisa berhasil membawa Tari akan menghadap Komandan Kabila. Pada saat itu Kabila sedang berbicara pada Mbak Ipeh yang baru siuman. Anton masih berdiri disamping Kabila.
Begitu Tari melihat Anton, caci maki Taripun beralih kepada Anton.
"Bangsat kau Anton !. Kau yang melapor pada polisi-polisi gila ini !. Suami macam apa kau ini !. Tidak berguna kau !. K*nt*l kau !..."
Tari masih mencaci maki Anton dan tidak meronta lagi. Rudi, Kris dan Hans; mulai tidak kencang lagi mencengkeram Tari. Bahkan Hans sudah melepaskan cengkeramannya dari tengkuk Tari.
Menyadari itu seketika Tari menyetakkan kedua tangan dan tubuhnya. Hingga tangan-tangan ketiga orang polisi itu, terlepas dari kedua tangannya. Lalu Tari mengejar Anton. Menampar pipi, menendang selangkangannya dan mencakar wajah Anton.
Anton tidak dapat mengelak, karena kaget dan gerakan Tari sangat cepat. Berlari menghampirinya dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan handalan Tari.
Termasuk semua orang yang ada disekitar mereka itu. Mereka kaget dan terpelongo melihat aksi brutal Tari. Kecuali Komandan Kabila DF yang tidak terpaku dengan kekagetannya.
Kabila segera menarik tangan Tari untuk menjauh dari Anton. Mencengkeram kuat tangan dan bahu Tari. Lalu menyerahkannya kembali kepada Rudi, Kris dan Hans.
"Jangan banyak terpelongo !. Borgol !" kata Komandan Kabila kepada ketiga orang itu.
Merekapun kembali memegang tangan Tari dan mencengkeram tengkuknya.
"Bawa ke mobil !" perintah Komandan Kabila.
"Siap !" jawab Rudi, Kris dan Hans, secara serentak dan langsung membawa Tari dengan paksa.
"Iti semua kulakukan untukmu, Anton !. *nj*ng kau !. Si Bintang itu menghinamu !. Dia tidak menghormatimu. Kau dengar itu bangsat !...." teriak Tari dan masih giat meronta dan menendang siapa saja yang ada didekatnya. Termasuk akan menendang Komandan Kabila DF. Tapi seketika urung.
__ADS_1
Spontan Tari terdiam dan menatap Kabila. Demikian pula Kabila, kini terpelongo menatap Tari.***
(Beri komen dan jika suka beri likenya ya...thanks. Love u all⚘)