
Semua menajamkan pendengarannya. Menantikan bunyi nada panggil hp Desi, termasuk Tari. Tidak berapa lama kemudian terdengar ringtone hp Desi. Awalnya kecil, halus dan samar-samar. Kemudian semakin jelas...nyata...dan....wuaaaaa....
Suara itu berasal dari dalam lemari Ruli. Sejenak mereka saling pandang. Memastikan bahwa apa yang mereka dengar adalah sama dan apa yang mereka fikirkan juga, sama.
Kecuali Ruli yang beberapa detik kemudian gugup. Lalu bergegas membuka lemarinya. Semua mata teman-teman tertuju kearah lemarinya yang akan dibukanya. Cekrek...kunci lemari terlepas. Ruli menarik handle pintunya untuk membuka pintu lemarinya.
Begitu pintu lemarinya terbuka, suara ringtone hp Desi semakin jelas terdengar. Berasal dari balik susunan pakaiannya yang terlipat rapi. Ruli merogoh bagian belakang susunan pakaiannya itu dan...benar tangan Ruli menyentuh benda yang bergetar dan disamping hp itu ada...
Ruli mengambilnya....dan...
"Hp gue !...tas gue !" teriak Desi. Sambil meraih paksa hp dan tasnya dari tangan Ruli. "Brengsek !...ternyata lu !...klepto lu ya !" tuduh Desi sangat kesal pada Ruli.
Ruli tidak dapat berkata apa-apa lagi. Kecuali hanya pasrah dituduh pencuri oleh Desi. Bukan hanya Desi, yang lain juga ikut-ikutan menuduh dan menuding-nuding Ruli.
"Eh...jangan-jangan benar ya...lu ambil duit gue. Ngaku lu !" tuduh Fitri
"Eh...gue juga pernah kehilangan duit, tau !" jawab Ruli, mencoba membela diri dan diberi kesempatan untuk menjawab.
"Alasan lu..."bantah Desi sangat menantang.
"Apa duit gue juga, lu yang ambil !"tuduh Suryati dengan wajah curiga dan marah. "Ngaku lu, Li !. Tega lu, ya !" tiba-tiba tangis Suryati meledak.
Seiring dengan itu, 'nyanyian' bising teman-temannya terhenti. Prihatin pada Suryati. Berusaha menghiburnya dengan memeluknya. Awalnya hanya Neneng, menyusul Mila, menyusul lagi...menyusul lagi...Kecuali Tari. Hanya diam menatap iba pada Ruli.
Makanya Ruli mendekati Tari. Seakan meminta dukungan perlindungan dari Tari. Tak ayal lagi, Tari langsung memberi respon pada Ruli. Memperdulikan Ruli dengan membawanya menghindar dari tudingan-tudingan selanjutnya. Juga menghindari terjadinya pertengkaran lagi dikamar mereka itu.
Tari membimbing Ruli keluar kamar. Duduk berdua disebuah bangku taman asrama. Memandang bintang-bintang. Sambil menangis, Ruli mengungkapkan kesedihan dan kebingungannya hanya pada Tari.
"Sungguh, Ri...gue gak tau. Mengapa tas Desi ada didalam lemari gue" rengek Ruli.
"Seharusnya lo jangan diam aja. Lo kasih argumen dong untuk membela diri"
"Gue gak kepikiran, Ri. Gue bingung, gue shock...Jadi otak gue buntu. Otak gue langsung dipenuhi hukuman lagi dari Ibu Pur. Gue takut dikeluarin dari kampus, Ri. Kasihan bokap nyokap gue. Padahal mereka sudah bangga banget karena gue. Gue bakalan jadi bidan. Gimana dong, Ri" Ruli menangis terisak-isak. Tari mengelus-elus punggungnya. "Beneran, Ri...Sumpah !. Gue gak mengambil tas Desi. Sumpah..." lanjut Ruli disela tangisnya.
__ADS_1
"Iya...iya...gue percaua lo kok"
"Terus...gimana dong, Ri"
"Lo gak tau tas Desi dilemari lo. Berarti isi tas Desi gak ada yang hilang" kata Tari percaya diri. Seakan-akan memberi solusi pada Ruli.
"Gue gak tau. Apakah ada yang hilang isinya atau tidak. Gue gak tau, Ri"
Ops !..Tari kaget. Apakah tertangkap basah oleh Ruli ?.
"Iya..ya. Maksud gue..." lanjut Tari menghindar. Sebelum tertangkap basah ataupun dilarang tertangkap basah. Untuk otak Tari bekerja cepat.
"Kali aja ada yang sengaja memasukkan tas Desi kedalam lemari lo. Seseorang yang membenci lo...."
"Nah !...tuh dia..." kata Ruli spontan. Secara mendapat pencerahan. Karena itu langsung memotong perkataan Tari.
"Jangan-jangan Desi sendiri yang melakukannya" kata Tari lebih bersemangat lagi. 'Umpan' nya dilahap Ruli.
"Kok Desi ?"
"Apa !?...brengsek...Gue harus balas perbuatan mereka itu"
"Hei...hei...itu masih dugaan gue lho" kata Tari berpura-pura masih menjadi tokoh baik. Tidak ingin menuduh sembarangan.
Tapi Ruli sudah cenderung mempercayai begitu saja kata-kata Tari. Hatinya panas, duduknya gelisah dan ngedumel tidak karuan. Mengikuti emosinya yang meledak-ledak. Merasa telah dipencundangi Mila.
Sementara Tari tersenyum puas didalam hatinya dengan berkata, "Done !". Tari telah merekam kemarahan Ruli itu dan berniat akan mewujudkannya. Katakanlah upaya membantu Ruli👹.
Mereka-reka rencana apa yang akan diperbuatnya untuk menuntaskan harapan Ruli itu. Sambil menikmati suasana tidak nyaman diantara teman-temannya itu. Tapi sangat nyaman untuk Tari.
Sejak kejadian tas Desi itu, Ruli semakin dicurigai teman-temannya dan nyaris dipinggirkan. Kalau saja Tari tidak menjadi teman Ruli satu-satunya. Teman-teman yang lain sudah semakin berhati-hati terhadap uang dan barang-barang berharga mereka. Tidak ada lagi yang namanya pro Ruli. Semua pro Desi.
Bahkan Desi sudah melaporkan perihal Ruli kepada Ibu Pur. Mengusulkan agar Ruli dipindah kamarkan atau Desi yang minta pindah kamar. Ibu Pur belum menyetujui satupun permintaan Desi. Sebelum ada keputusan dari pihak yayasan mengrnai Ruli.
__ADS_1
Sekali lagi, Tari bernafas lega. Menganggap masalah itu pasti menggantung lagi. Sama seperti masalah-masalah sebelumnya. Berarti Tari masih memiliki banyak waktu untuk ketidaknyamanan teman-temannya. Semakin lebih tidak nyaman lagi.
Maka dikesunyian asrama pada sore hari itu, Tari beraksi lagi. Membongkar sopan pintu lemari pakaian Yunita. Tidak mengacak-acak susunan pakaiannya yang rapi. Tari dapat dengan tenang mencari-cari dimana gerangan Yunita menyimpan uangnya.
Karena tadi tanpa sengaja diwarung mie ayam yang berada disebrang depan kampus mereka, Yunita meminjam uang Desi untuk membayar mie ayam dan es teh manisnya.
"Dompet gue ketinggalan di kamar" kata Yunita cemas.
"Busyet deh lo, Yun" jawab Desi kaget. "Beneran tinggalkan ?...bukan hilang" lanjut Desi mulai cemas. Membuat Yunita semakin ketakutan.
"Tolong bayar ya, Des" kata Yunita lagi dan langsung pergi dengan langkag lebar. Tidak lagi mendengar jawaban Desi yang berkata:
"Iya...iya...Moga-moga isi dompet lo selamat"
Sedangkan Tari sudah lebih dulu pergi, menuju kamar mereka. Sebelum Yunita pergi dengan langkah lebar.
Tari sangat percaya diri, bahwa dirinyalah yang akan lebih dahulu mendapatkan dompet Yunita. Ketimbang Yunita itu sendiri. Lihat saja, Tari tampak tenang dan percaya diri, bahwa dia akan berhasil. Aksinya ini sangat aman dan clear. Sehingga tak selirikpun berniat menoleh kekiri, kanan ataupun belakang.
Padahal tanpa sengaja ada Martha yang melihat perbuatannya itu. Saat itu Martha akan masuk ke kamar. Tapi seketika langkahnya terhenti didepan ambang pintu, kaget. Melihat Tari sedang berdiri didepan lemari Yunita.
Martha penasaran dan menaruh curiga. Lalu mengintip Tari dari jendela kamar. Memperhatikan aksi Tari. Seketika Martha akan berteriak kaget. Begitu menyadari pintu lemari Yunita terbuka dan Tari memeganga beberapa lembar uang berwarna merah dan biru. Mengibas-ngibaskan uang itu didepan wajahnya sendiri.
Tapi spontan Martha menahan suara kekagetannya. Kemudian pergi dengan langkah lebar.
Kejadian itu tidak semerta diceritakan Martha kepada siapapun. Martha menunggu Yunita menyadari kalau uangnya hilang. Lalu Yunita melapor pada Ibu Pur. Nah...saat itulah Martha akan memberi kesaksiannya.
Nyaris saja kecurigaan Martha pupus. Karena beberapa hari kedepannya, Yunita tampak baik-baik saja. Tidak ada kabar berita kalau dia kehilangan uang. Tentu saja, karena Yunita sedang kasmaran.
Masalahnya, dihari Yunita tergesa-gesa menuju kamarnya. Setelah mengingat dompetnya ketinggalan dilemari. Seorang pria yang akhir-akhir ini pedekate padanya, menghadangnya. Lalu mengajak Yunita bicara empat mata dicafe, samping kampus. Tentu saja Yunita mau dan ternyata...tuh pria mengungkapkan perasaannya secara gentle dan romantis.
Jadilah mereka jadian. Sebagai pasangan yang baru jadi, hari-hari mereka isi dengan pertemuan-pertemuan rutin yang manis dan mesra. Itulah ceritanya, mengapa Yunita lupa pada dompetnya. Karena dia lagi tidak butuh uang buat pengeluaran. Kan ada sikanda beibeh !.
Tapi sebenarnya Martha masih sangat penasaran. Apa yang diperbuat Tari terhadap isi lemari pakaian dan uang Yunita waktu itu. Rasa penasaran Martha itu tidak turut pupus bersama kecurigaannya. Hal itu selalu terbersit dari tatapan matanya kepada Tari.
__ADS_1
Hhssshhh....Tari menangkap tatapan Martha itu. Menggerakkan gelombang amarah di ubun-ubunnya yang membuat jantungnya berdegup tidak beraturan. Kalau begitu Martha harus membayar rasa gelisah jantung Tari itu. Tunggunya saja...slow diantrian berikutnya.
"Mata lo !" pekik Tari berbisik didalam hatinya. Saat beradu tatapan lagi dengan Martha.***