
"Bintang nyaris korban perkosaan"
Kata-kata itu masih menggema dikepala Tari, dalam perjalanannya pulang kerumah orang tuanya.
Saat tiba dirumah orang tuanya, Tari mendapati ibu sedang duduk dikursi makan, sambil makan. Wow...ini adalah sebuah kebetulan. Moment yang pas. Saat makan adalah saat ketengan jiwa muncul, termasuk jiwa ibu. Pasti cocok menerapkan cara skenario yang sudah disusun Tari.
Perlahan-lahan Tari mendekati ibu dan berdiri tenang didepan ibu. Tidak memperlihatkan sedikitpun kegugupannya menghadapi ibu yang ahli peran antagonis itu.
"Mau apa kau !, berdiri situ !. Minggir kau !" kata ibu dengan ciri khas bahasanya, yaitu kasar dan kencang.
"Aku akan menikah dengan Anton" kata Tari langsung pada intinya, dengan vokal yang jelas dan mantap. Serta penyampaian yang penuh percaya diri.
Sejenak ibu terdiam, makannya berhenti. Seperti baru saja ditekan tombol "Stop". Tatapannya tertuju pada sisa makanannya yang ada didalam piringnya itu. Entah sedang memikirkan kata-kata Tari atau kaget mendengar perkataan Tari.
Lama ibu terdiam mematung. Membuat Tari mulai was-was. Jangan sampai ada benda-benda yang tiba-tiba melayang ke arah wajahnya, yang dengan sengaja dilemparkan ibu kearahnya.
"Play" ibu mulai bergerak.
"Baguslah...kawin saja cepat-cepat. Aku sudah muak melihatmu" jawab ibu. Tanpa ekspresi dan tanpa melihat kepada Tari. Tatapannya hanya tertuju pada piring yang ada didepannya dan makanan yang ada didalamnya.
"Hap....Hap..." ibu menyantap lagi makanannya. Lebih lahap dari sebelumnya.
Sedang Tari masih berdiri menatap ibu. Tidak menyangka akan semudah ini mengatakan ke ibu. Tanpa protes yang berujung pada pertengkaran. Mengenai uang dan biaya.
Begitu lahapnya ibu menghabiskan makanannya. Tapi tidak mengundang ***** makan Tari. Walaupun sebenarnya Tari sangat lapar.
Apakah karena tidak biasa makan bersama ibu kandungnya itu ?. Bodo lah...Tari tidak pernah tahu, apa enaknya makan bersama dengan ibu kandunh. Tidak ada !, kecuali yang terjadi hanya pertengkaran.
"Kenapa kau masih berdiri disitu !. Minggir kau !. Jangan harap ada biaya untuk kawinm itu !. Mati saja kau, kalau tidak punya uang untuk kawin"
Nah...inilah percakapan yang tadi dikhawatirkan Tari. Akhirnya terkatakan juga oleh ibu, diantara kegiatan mulut ibu yang sedang mengunyah makanannya.
Untunglah Tari sudah mempersiapkan jawabannya. Jawaban yang diberikannya pasti akan menaklukkan, bahwa Tari akan jadi nyonya kaya.
"Tidak perlu !. Anton orang kaya. Semua biaya dia yang tanggung. Jangan takut !. Tidak akan aku minta uangmu !" Jawab Tari sangat sombong.
__ADS_1
"Baguslah...Lalu....kenapa masih disitu. Pergi sana kau !. Aku sedang makan !. Aku jijik melihatmu !. Pergi kau !"
"Aku juga sudah lama jijik melihatmu"
"Kurang ajar !. Sudah berani kau melawan aku !. Karena calonmu orang kaya !. Bangsat ! Anak kurang ajar !" kata ibu. Sambil menggebrak meja.
Spontan ibu berdiri dan akan menghampiri Tari. Tapi Tari tidak berniat untuk lari menghindar, ketakutan. Seperti dulu sering dilakukan Tari. Malah Tari semakin menantang ibu dengan tatapan yang sangat tajam. Membuat ibu jadi mengurungkan niatnya untuk membantai Tari, seperti dulu.
Setelah menyadari tubuh Tari yang besar, akan lebih kuat dari tubuhnya. Bisa saja saat ibu akan menarik rambut Tari, maka Tari akan terlebih dahulu menarik rambutnya. Akhirnya ibu hanya berdiri mematung dan menatap Tari dengan tajam pula.
"Aku hanya mau bilang, Anton masih menghormatimu. Dia akan menemui kalian untuk meminta restu. Bersyukurlah karena itu"
"Apa !?..aku bersyukur !?. Seharusnya kau yang bersyukur !. Bilang sama si Anton itu, tidak perlu menemui aku. Langsung kalian kawin. Itu lebih baik"
Tiba-tiba ibu tertawa kencang. Tari tersentak kaget. Seumur hidup Tari, baru kali inilah Tari melihat dan mendengar ibu tertawa.
Ternyata wajah ibu, semakin jelek saat tertawa. Lebih jelek saat ibu tersenyum. Bahkan teramat jelek, kalau ibu sedang diam mematung. Mengatupkan rapat-rapat kedua bibirnya. Jika ibu sejelek itu, mengapa ayah jatuh cinta pada ibu.
Tari terdiam mematung. Sibuk berspekulasi dengan fikirannya sendiri tentang ayah yang mencintai perempuan bernama Siti Aryatum. Tidak disadari Tari, tawa ibu sudah reda beberapa menit yang lalu. Saat itulah ibu mempergunakan kesempatan. Melemparkan sebuah gelas kaca yang ada didekat tangan kanannya dan masih berisi air, kearah wajah Tari.
Gelas itu tidak mengenai Tari. Karena dari sudut matanya, Tari melihat gelas itu melayang kearah wajahnya. Tari pun mengelak dan gelas itu jatuh keatas lantai.
Untunglah Tari dan seluruh anggota tubuhnya sudah berpengalaman. Langsung dapat menangkap setiap gerakan ibu yang akan mencelakai Tari. Itulah salah satu manfaat Tari rutin mendapat 'pengobatan' dari Mbah Kahpok.
"Apa-apaan ini !" teriak Tari, protes kaget.
"Makanya sopan kau sama aku. Sekarang kau sadarkan ?, kau membutuhkan aku ?!. Kau butuh restu dari aku !" kata ibu sangat sombong.
Kemudian ibu pergi menuju kamarnya. Masih tertawa-tawa kencang lagi. Menutup pintu kamarnya dengan menghempaskannya sangat keras.
Tari hanya bisa melampiaskan marahnya pada ibu, dengan menatap daun pintu itu dengan tajam. Berharap ada sinar tajam dan panas keluar dari bola matanya. Menembus pintu itu hingga mengenai punggung ibu. Lalu ibu akan menjerit-jerit kesakitan. Karena terkena sinar panas itu.
Ternyata itu hanya khayalan Tari saja. Faktanya tawa ibu telah memenuhi kepalanya. Tawa ejekan yang panjang dan bising itu. Tapi telah mengungkapkan sesuatu yang baru, yang membuatnya sangat menyesali kebodohannya.
Kalau hanya sekedar minta restu, seharusnya Tari berbicara hanga pada ayah. Tidak perlu ke ibu. Selanjutnya akan menjadi urusan ayah untuk memberitahu ke ibu. Toh...akhirnya semua akan menjadi urusan ayah.
__ADS_1
Tari hanya bisa mengutuli kebodohannya. Sampai berhari-hari. Terlupa untuk memberi jawab pada Anton. Padahal Tari harus mempersiapkan dirinya untuk berperan cengeng. Sebelum menjawab Anton. Karena Tari harus mengisahkan keoriginallannya. Sesuai dengan skenario yang telah dibuatnya. Sebelum memasuki babak pernikahan.
Memainkan peran cengeng bukanlah hal yang mudah bagi seorang Tari. Pada perjalanan hidupnya, Tari tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi cengeng. Cengeng hanyalah milik orang-orang lemah dan bodoh.
Apakah Tari mau disebut orang bodoh ?. Padahal baru saja dia mengutuki kebodohan yang baru diperbuatnya. Maka masih sangat lamalah Tari menjawab Anton.
Anton semakin gelisah dan uring-uringan. Seharusnya Bintang semakin bersorak gembira, dan berdoa dengan khusuk. Agat Anton tidak berjodoh dengan Tari dan Anton dijauhkan dari Tari.
Namun sayang, Bintang masih dalam pemulihan. Tidak begitu mengetahui perkembangan yang diluar dari kamar tidurnya.
Walaupun beberapa teman-temannya datang membezuknya. Tak ada yang menceritakan tentang perkembangan hubungan Tari dan Anton. Mereka hanya bercerita, lebih tepatnya melaporkan perkembangan kejadian yang menimpa Bintang ini. Karena kejadian yang menimpa Bintang menjadi BERITA PERINGKAT ATAS DIKAMPUS.
Juga Karina dan Gina yang pernah datang membezuk Bintangpun, tidak menceritakan tentang Anton dan Tari. Perhatian mereka semua terluput dari hubungan Anton dan Tari.
Padahal Anton hampir setiap hari datang ke asrama untuk menemui Tari, pun tak diketahui mereka. Bagaimana Anton pergi dari asrama dengan sia-sia. Karena Tari tidak berada diasrama.
Setiap hari juga Anton berusaha menemui Tari di tempat PKL, pun sia-sia. Anton menjemput Tari pulang dari PKL, Tari menghindar. Bahkan pernah suatu kali mengusir Anton dari tempat PKL. Barulah itu diketahui oleh Fitri.
Ketika Fitri mengkonfirmasi perihal hubungan Tari dan Anton kepada teman-temannya, tidak ada jawaban mereka yang memuaskan.
"Gak tahu, Fit. Udah lama gua gak ketemu Tari" jawab Desi. Ketika Fitri mengkonfirmasi kepada Desi.
"Gak tahu, Fit"
"Gak tahu, Fit"
"Gak tahu, Fit"
"Gak tahu, Fit. Coba tanya Karina. Karina kan teman akrab Bintang, adiknya Anton" jawab Gina pada Fitri via telepon.
"Masa sih, Fit. Kok gua gak tahu, ya" jawab Karina. Ketika ditanya Fitri, juga via telepon.
Berhubung banyak yang tidak tahu, akhirnya Fitri menyerah untuk mengurusi hubungan Tari dan Anton. Tapi jauh dilubuk hatinya, Fitri berdoa dengan khusuk.
"Semoga Tari putus dari Anton. Semoga Anton sudah sadar dan bertobat. Amin"***
__ADS_1